Dokter Jenius Pertama

Dokter Jenius Pertama
Bab 54. Serangan Balik Lagi


__ADS_3

“Um, um, um”


Setelah berlalu sekitar lima menit, George sudah tidak sanggup dan mengangguk sekuat tenaga sesuai dengan dugaan Kelvin.


Kali ini, George ingin mengatakannya.


Kelvin langsung melepaskan semua kertas kraft di wajah George hingga wajah George akhirnya bisa terlihat semua. Kedua matanya merah dan wajahnya pucat, dia tampak seperti selembar kertas.


George terengah-engah dan berusaha untuk menarik napas dalam-dalam. Setelah berlalu cukup lama, wajah George baru mulai memerah. George yang mulai kembali pulih berteriak dengan panik.


“Aku katakan, aku katakan, aku katakan semuanya.”


George benar-benar sudah ketakutan. Dia tidak ingin merasakan lagi pengalaman di ambang kematian barusan. Pengalaman merasakan diri sendiri yang perlahan akan mati benar-benar sangat mengerikan.


George sudah berpikir jernih, dibandingkan dengan pengalaman mengerikan barusan, apa yang perlu ditakuti dari menjadi seorang pengkhianat?


Kelvin sama sekali tidak terkejut dengan respons George, sejak awal dia sudah menduganya. Dia menganggukkan kepala dan menyalakan perekam suara di ponsel.


Setengah jam berlalu, Kelvin merasa sangat terkejut begitu selesai mendengar penjelasan George. Ternyata Rumah Sakit Jakarta memiliki begitu banyak rahasia busuk.


Rumah Sakit Jakarta membeli obat generik dari perusahaan farmasi asing. Kemudian, menjualnya kepada pasien sesuai dengan harga obat paten yang tinggi dan mendapat keuntungan yang sangat besar.


Tak hanya itu, Rumah Sakit Jakarta juga menjual pasien yang sudah meninggal kepada orang lain tanpa persetujuan keluarga pasien. Bahkan, semua dokter asing di Rumah Sakit Jakarta masuk melalui jalur belakang dan tidak berpartisipasi dalam pemeriksaan formal sama sekali.


Rahasia busuk semacam ini masih ada banyak lagi.


Yang membuat Kelvin marah bukan hanya Rumah Sakit Jakarta saja, tetapi juga sekelompok dokter asing di Rumah Sakit Jakarta dibawah naungan George.


George baru datang ke Jakarta selama setengah tahun, tetapi sudah ada seratus gadis muda yang dibunuhnya secara brutal.


Seratus gadis muda ini diancam ataupun ditipu untuk berhubungan seks dengannya. Bahkan ada beberapa gadis yang hamil dan bunuh diri karena hal ini.


Akan tetapi, George sama sekali tidak peduli. Seratus gadis yang hidupnya dihancurkan oleh George hanyalah target awal, karena dia memiliki target yang lebih tinggi lagi.


Ribuan wanita, itu berarti dia ingin tidur dengan seribu gadis di Jakarta baru dia bersedia berhenti.


Berengsek, bajingan.


Ini adalah komentar Kelvin terhadap para dokter asing di Rumah Sakit Jakarta yang berada dibawah naungan George setelah dia mendengar cerita dari George.


“Biarkan aku yang membunuh bajingan ini.” Demon yang berdiri di samping juga sangat emosi mendengar cerita George. Dia sama sekali tidak menyangka ternyata ada orang berengsek seperti itu.

__ADS_1


Sial! Jika George tidak disambar petir, Demon tidak bisa mengekspresikan kebencian yang ada di hatinya.


Demon ingin membunuh George, tetapi malah ditahan oleh Shendy. Shendy menggelengkan kepala ke arah Demon. Lalu, dia memberi isyarat pada Demon dengan melihat ke arah Kelvin.


Demon pun akhirnya paham bahwa untuk menangani George, mereka harus mendengarkan perintah Kelvin.


Akhirnya Demon mencoba menahan diri dengan tidak senang.


Pada saat ini, Kelvin menyerahkan ponsel yang digunakan untuk merekam kepada Shendy dan berkata, “Buat bukti ini menjadi dua salinan. Bawa George berserta salah satu salinannya ke kantor istana dan serahkan ke


pemerintah.”


“Lalu, bagaimana dengan salinan yang lainnya?” tanya Shendy.


Kelvin tidak menjawab, tetapi dia tersenyum dengan misterius.



Rumah Sakit Jakarta, kantor Presdir.


Plak!


Patricia melempar sebuah berkas di atas meja dengan keras. Setelah itu, dia menoleh dan sepasang mata yang cantik memelototi Jaka. Dia mengamuk berkata, “Apa-apaan ini?”


“Sekarang seluruh orang di Jakarta tahu bahwa Kelvin yang menyelamatkan gadis kecelakaan itu dan dokter kita memaksa Kelvin mengakui bahwa dialah yang menyelamatkan gadis kecelakaan itu.”


“Kali ini, nama baik Rumah Sakit Jakarta benar-benar sudah hancur.”


Jaka kesal mendengar omelan dari Patricia, tetapi tidak berani berbicara apa-apa. Rumah Sakit Jakarta milik Keluarga Pasetrio dan mereka juga yang memberikan posisi Presdir ini untuknya. Oleh karena itu, dia tidak berani menyinggung nona dari Keluarga Pasetrio yang ada di hadapannya ini.


“Nona, apa yang Anda katakan benar. Aku sudah mengingat pelajaran kali ini.”


Jaka buru-buru mengangguk dan tidak berani membantah. Setelah melihat sikap Jaka yang penurut ini, emosi Patricia sedikti mereda.


“Tunggu!” Patricia tiba-tiba seperti teringat sesuatu dengan laporan yang barusan disampaikan oleh Jaka dan ekspresinya berubah.


“Barusan kamu bilang, kamu memilih untuk melindungi George ketika semua orang mengepung dan menyerang George?” tanya Patricia kembali memastikan.


“Be … benar.” Melihat Patricia yang tiba-tiba bertanya seperti itu, Jaka pun seketika menjadi panik dan berkata, “Apakah ada masalah?”


“Bodoh, kamu menunjukkan sesuatu yang tidak beres.” Patricia memakinya dan lanjut bertanya, “Apakah George tahu masalah yang ada di rumah sakit?”

__ADS_1


Dahi Jaka berkeringat dingin dan merasa gelisah.


“Ada beberapa hal yang dia ikut berpartisipasi. Jadi, dia kurang lebih tahu sedikit hal-hal yang ada di rumah sakit.”


“Bodoh, cepat telepon George. Semoga tebakanku salah,” ujar Patricia seperti mengetahui sesuatu hal.


Meskipun Jaka merasa bingung, dia tetap menelepon George sesuai perintah Patricia. Akan tetapi, panggilan tetap tidak bisa terhubung meski dia sudah meneleponnya belasan kali.


Ketika Jaka masih ingin lanjut menelepon, Patricia menyela dengan melambaikan tangan dan berkata, “Tidak perlu telepon lagi. Sekalipun kamu telepon seratus kali juga tidak akan tersambung.”


"Bisa jadi George sudah berada di tangan Kelvin dan sudah mengatakan semua yang dia ketahui.”


Raut wajah Jaka berubah drastis, tetapi masih tidak mengerti.


Patricia berkata, “Kelvin adalah lawan paling hebat yang pernah aku temui.”


“Kala itu, ketika semua orang mengepung dan menyerang George, kamu memilih untuk melindungi George, bukannya memutuskan hubungan dengannya. Kamu justru melepaskan  yang penting dan malah mempertahankan yang tidak penting di saat darurat seperti itu.”


“Orang normal kalau bertemu masalah seperti ini pasti akan lepas dari tanggung jawab dan membersihkan nama baik sendiri. Sedangkan kamu tidak, kamu memilih berpihak pada George. Perilakumu ini sangat aneh.”


“Kelvin pasti melihat perilakumu yang aneh, jadi dia berpikir bahwa George pasti mengetahui rahasia rumah sakit kita. Maka sebab itu, dia terlebih dahulu sudah menangkap George.”


“Itulah kenapa kamu tidak bisa menghubungi dia. Sekalipun terhubung, orang yang akan mengangkat telepon pasti Kelvin.”


Mendengar penjelasan Patricia, Jaka pun menarik napas dalam-dalam. Apakah Kelvin benar-benar sehebat itu?


Hanya dengan hal kecil ini, dia langsung tahu bahwa George mengetahui rahasia rumah sakit?


Ketika Jaka sedang berpikir, ada seseorang yang mengetuk pintu dan masuk.


“Nona, Presdir, tadi ada orang yang memintaku untuk memberikan alat perekam ini pada kalian.”


Patricia menerima alat perekam tersebut, dia merasakan firasat buruk. Dia melambaikan tangan kepada pria itu untuk pergi. Ketika di dalam ruangan kantor Presdir hanya tersisa dia dan Jaka, dia memutar rekaman tersebut.


Raut wajah Patricia berubah jelek selesai mendengarkan rekaman tersebut.


Seandainya salah satu isi dari rekaman tersebut tersebar, sekalipun latar belakang Keluarga Pasetrio sangat tinggi pun juga akan dalam masalah yang besar. Setidaknya hal ini bisa membuat rumah sakit berhenti


beroperasi selama beberapa hari.


Berengsek! Kelvin pasti sengaja mengutus orang untuk mengirim alat perekam ini padanya.

__ADS_1


Pada saat ini, ponsel Patricia berdering. Ketika dia mengangkatnya, suara Kelvin terdengar.


“Bagaimana? Apakah kamu sudah menerima barang yang aku berikan?”


__ADS_2