
Jalanan yang ramai di Jakarta, sebuah klinik medis bobrok yang tampak tidak cocok dengan jalanan.
Klinik tersebut tidak terlalu besar tapi bersih.
Kelvin menatap Kelly yang tidur di atas kasur pasien, lalu pelan-pelan menutupinya dengan selimut.
Kelvin mengangkat kepalanya dan melihat sekeliling. Untungnya, klinik ini masih menjadi miliknya, jika tidak, dia tidak akan ada tempat tinggal.
Selama bertahun-tahun, semua uang yang dihasilkannya sudah dia serahkan kepada Gita. Dia sudah tidak bisa mendapatkan kembali uangnya, bahkan rumahnya saja sudah menjadi milik Gita. Jika sampai klinik ini juga menjadi milik Gita, maka dia dan adiknya benar-benar tidak ada tempat untuk pulang.
Klinik ini turun temurun dari nenek moyangnya makanya terlihat bobrok dan kecil, tetapi karena itulah klinik ini dapat dilestarikan.
Gita hanya tertarik pada rumah, dia sama sekali tidak tertarik pada kliniknya ini.
Kelvin memukul dinding dengan rasa frustasi yang bercampur marah. Di dalam benaknya terlintas sosok bayangan Gita. Selain kemarahan, ada rasa bersalah yang mendalam di balik matanya.
Semua ini hanya bisa menyalahkan dirinya yang buta karena sudah salah menilai orang. Dia sudah memberi makan anjing itu dengan tulus selama bertahun-tahun dan malah berakhir seperti ini. Dia bahkan sudah membuat adiknya ikut menderita bersamanya.
"Permisi, apakah ada orang?"
Pada saat ini, terdengar suara orang yang sangat lemah.
Kelvin kedatangan pasien.
Meskipun kliniknya bobrok dan kecil, setiap hari selalu ada orang yang datang untuk berobat beberapa penyakit ringan seperti flu.
Kelvin mengenyampingkan emosinya, dia berjalan keluar ruangan dan melihat seorang wanita muda cantik berdiri di dekat konter.
Melihatnya sekilas, dia terlihat seperti putri keluarga kaya.
Hanya saja wajahnya pucat dan terlihat sangat lemah, seolah-olah dia bisa pingsan kapan saja.
“Permisi, apakah ada arsenik di sini?” Wanita itu berbicara lagi sambil batuk-batuk.
Dia menutupi mulutnya dengan sapu tangan. Namun, Kelvin bisa melihat dengan jelas bahwa wanita tersebut batuk hingga mengeluarkan darah.
Kelvin mempunyai firasat buruk begitu mengingat bahwa barusan wanita ini mengatakan dia ingin membeli arsenik.
“Kamu membutuhkan arsenik untuk apa?” tanya Kelvin dengan sabar. Arsenik adalah racun, jadi tidak boleh sembarangan dijual.
“Gue, gue ada kebutuhan ….” ujar wanita itu dengan lemah, tapi dia malah menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Kelvin.
Jelas sekali, pasti ada sesuatu yang menjadi beban pikirannya.
Mengenai hal apa, Kelvin kurang lebih sudah bisa menebaknya.
Di dalam pikiran Kelvin terlintas informasi mengenai teknik terapi akupuntur yang diwarisi oleh leluhurnya. Melalui pengamatan energi vital pasien, dia sudah mampu mendiagnosis penyakit yang ada dalam tubuh pasien.
Wanita cantik di depannya ini tidak sakit, tetapi dia diracuni. Racun tersebut sudah memasuki lima organ internal tubuh dan seluruh tubuhnya sudah terkontaminasi oleh energi hitam. Seluruh energi vital dalam tubuh hampir menghilang. Ini menunjukkan bahwa wanita tersebut sudah sekarat.
Dia pasti sudah mengetahui kondisi fisiknya sendiri, maka dari itu dia datang ke sini untuk membeli arsenik karena dia ingin menghentikan sisa hidupnya dan mengakhiri rasa sakit dari penyakit yang menggerogotinya.
__ADS_1
"Tidak ada arsenik di sini." Kelvin menggelengkan kepalanya.
Wanita itu tampak kecewa, lalu dia terbatuk-batuk dan hendak berbalik badan untuk pergi.
"Tapi aku bisa menyembuhkanmu."
Kelvin kembali membuka suara, membuat wanita yang sudah putus asa itu kembali membuka pintu harapan. Tapi, begitu memikirkan kondisi fisiknya saat ini dan juga berbagai pengalaman perawatan medis yang pernah dilalui, harapannya kembali pupus.
Selama bertahun-tahun, sudah banyak dokter terkenal di negaranya yang diundang oleh ayahnya untuk mengobatinya, baik pengobatan China maupun Barat. Tapi, mereka sama sekali tidak berhasil mengobatinya, bahkan mereka tidak tahu apa penyakitnya.
Oleh karena itu, dia sudah sangat putus asa dan tidak menaruh harapan apapun lagi.
Wanita itu hanya mengangguk lembut ke Kelvin dan berkata terima kasih.
Dia mengira Kelvin hanya menghiburnya saja.
"Tunggu, apa yang aku katakan itu benar." Kelvin menggelengkan kepalanya, "Tidak butuh makan obat dan tidak membutuhkan waktu yang lama.”
Sebagai seorang dokter, dia tidak bisa membiarkan sebuah nyawa menghilang begitu saja.
Wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap Kelvin diam-diam, tampaknya sedang berpikir. Setelah waktu yang lama, dia akhirnya mengangguk berat dan setuju.
Kelvin tahu bahwa dia masih belum sepenuhnya percaya. Meskipun wanita itu tahu ini sudah tidak dapat disembuhkan, dia masih menaruh sedikit harapan.
Kelvin menyuruh wanita itu untuk masuk ke klinik. Di dalam klinik ada dua tempat tidur, Kelly tidur di salah satu tempat tidurnya. Lalu, Kelvin menyuruh wanita itu berbaring di tempat tidur satunya lagi.
"Apakah gadis kecil ini juga pasien lo?"
"Oh!"
"Maaf, gue nggak tahu."
Kelvin mengangkat pakaian wanita itu hingga memperlihatkan punggung putih tanpa cacat, seputih batu giok putih yang dapat memicu lamunan pria.
Kelvin menenangkan dirinya dan dengan cepat mengetukkan jarinya berkali-kali pada titik akupuntur di punggung wanita itu. Perlahan, wanita itu merasa napasnya jauh lebih lancar dan perasaan ingin batuk juga hilang.
Selanjutnya, Kelvin mengambil sebuah gelas kaca kecil dan sebuah gunting medis di meja sebelahnya. Kemudian, dia menyalakan api ke kapas dengan alkohol untuk menyeka sekitaran mulut gelas kaca. Lalu, begitu tangannya dibalikkan, dia langsung menyalakan api di atas punggung putih wanita itu.
Dia menggunakan terapi bekam ini untuk menarik racun yang ada di dalam tubuh wanita ini ke dalam gelas kaca.
“Setelah ini akan sedikit sakit, kamu harus sedikit menahannya.”
Kelvin meletakkan tangannya di bagian bawah gelas dan menekannya dengan keras.
Dalam sekejap, energi hitam muncul di gelas dan dia menggunakan teknik mengontrol darah untuk menyedot racun di tubuh wanita itu.
Raut wajah wanita itu berubah, alisnya berkerut, seolah-olah dia merasakan penderitaan yang sangat luar biasa. Tapi, dia tetap menahan untuk tidak bersuara.
Tak lama, raut wajahnya yang pucat sudah kembali normal seperti semula dan mulai memerah kembali.
Setelah sekitar tiga menit, Kelvin baru berhenti. Saat ini, energi hitam di dalam gelas kaca tersebut sangat kuat sehingga bisa terlihat dengan mata telanjang.
__ADS_1
Semua racun dalam tubuh wanita sudah tersedot keluar dan langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah merawatnya.
Setelah menangkupkan gelas dan menyingkirkannya, Kelvin menurunkan kembali pakaian wanita itu dan membantunya merapikannya lagi.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Kelvin begitu melihat wanita tersebut sudah bisa bangun sendiri untuk duduk.
"Gue sudah merasa jauh lebih baik. Gue sudah pergi berobat ke begitu banyak dokter dan lo satu-satunya orang yang berhasil menyembuhkanku. Lo sangat luar biasa." Wanita itu menatap Kelvin dengan matanya yang indah dan penuh dengan rasa kagum.
Kelvin dapat melihat dengan jelas bahwa wanita ini jauh lebih percaya diri saat ini, dia juga lebih energik dan bahkan lebih kuat daripada dirinya yang tadi terlihat lemah.
Tepat ketika Kelvin ingin memberi tahu wanita itu beberapa hal yang perlu diperhatikan, tiba-tiba terdengar deru mobil di luar.
“Cepat, cepat, cepat.”
“Nona ada di sini.”
Setelah itu, derapan langkah kaki terdengar dan sekelompok pria berpakaian hitam mendorong pintu masuk ke dalam.
Orang-orang berpakaian hitam ini memiliki aura dingin di tubuh mereka sehingga membuat orang takut untuk mendekat.
Tetapi di depan wanita itu, mereka membungkuk dan memberi hormat. Kemudian, seorang lelaki tua muncul dan berkata dengan hormat, "Nona, Tuan khawatir begitu mendengar Anda keluar. Oleh karena itu, beliau meminta saya untuk menjemput Anda pulang.”
Wanita itu mengabaikan lelaki tua itu dan malah menatap Kelvin. Tatapan matanya sangat agresif.
"Perkenalkan, nama gue, Kiara Wijaya, Nona besar keluarga Wijaya di Jakarta.”
Kelvin sejak awal sudah dapat menebak bahwa identitas wanita itu pasti tidak biasa, tetapi dia tidak menyangka bahwa wanita itu adalah nona besar dari keluarga Wijaya di Jakarta.
Keluarga Wijaya adalah orang kaya kedua setelah keluarga Pasetrio di Jakarta. Setelah melalui perkembangan beberapa tahun ini, kekuatannya sudah berhasil menyusul keluarga Pasetrio yang terkaya itu dan sepertinya akan menggantikan posisi terkaya keluarga Pasetrio.
Kiara melirik lelaki tua berpakaian hitam itu. Kemudian, lelaki tua berpakaian hitam itu seperti biasanya langsung mengeluarkan kartu dan menyerahkannya kepada Kiara.
Buk!
Kiara tiba-tiba memukul kartu itu di tempat tidur sambil menatap Kelvin, setelah itu dengan arogan berkata, “Di dalam kartu ini ada dua puluh miliar, ini buat lo.”
Kelvin tahu, nona besar seperti Kiara ini memang sangat royal untuk membayar biaya konsultasi, tetapi tetap saja dia terkejut.
Biaya sekali konsultasi dua puluh miliar, bukankah itu terlalu banyak?
Ketika Kelvin sedang tercengang, Kiara menggelengkan kepalanya dengan senyuman penuh arti dan berkata, “Lo salah paham, ini bukan biaya konsultasi.”
“Anggap saja gue berjudi. Lo oke juga, gue suka sama lo. Ayo ikut gue.”
“Dua puluh miliar ini anggap saja gue beli lo satu malam.”
Apa?
Kelvin terkejut, bercandaan macam apa itu?
Tiba-tiba, terdengar suara manis. Kelvin berbalik dan melihat Kelly sedang duduk di sana entah sejak kapan. Dia mengucek matanya yang baru bangun dari tidur dan bertanya pada Kelvin, “Kak, apa itu membeli satu malam?”
__ADS_1