
Dimas terkejut. Akan tetapi, dengan cepat dia sudah sadar kembali. Lalu, dia memelototi Kelvin dengan kejam dan menelepon.
"Naik ke atas, di sini ada orang yang membuat onar."
Bak!
Tak lama setelah Dimas memutuskan panggilan telepon, belasan pria berpakaian hitam masuk ke dalam kantor dan berdiri dengan rapi di belakang Dimas.
Dimas melihat ke arah Kelvin ingin melihat reaksinya. Akan tetapi, dia menyadari Kelvin tampak santai.
Brengsek!
Dimas marah besar. Saat ini Kelvin bahkan berdiri dengan sikap yang jelas-jelas tidak menganggap keberadaannya.
"Maju! Bunuh dia dan aku akan bertanggung jawab!" perintah Dimas pada belasan pria berpakaian hitam tersebut setelah berjalan mundur.
Belasan pria yang berpakaian hitam tersebut langsung mengepung Kelvin.
Para pria yang berpakaian hitam itu memiliki tubuh yang tinggi dan badan yang besar dengan pinggang yang bulat. Begitu melihat mereka, orang akan tahu bahwa mereka pasti sudah pernah mengikuti pelatihan dan dari tubuh mereka terpancar aura mendesak.
Seandainya orang biasa yang harus menghadapi sekelompok orang seperti pasti akan berlutut ketakutan.
Akan tetapi, Kelvin malah memperhatikan sekelompok orang ini satu per satu dan tersenyum. Lalu, melihat ke arah Dimas yang bersembunyi di balik sekelompok pria berpakaian hitam ini dan berkata, "Kamu yakin hanya segini saja?"
Selesai berbicara, belasan pria berpakaian hitam tersebut langsung mengamuk karena merasa dihina, padahal Dimas saja belum berkata apa-apa.
"Bajingan!"
"Cari mati!"
" ... "
Kelvin sama sekali tidak mempedulikan kemarahan mereka semua, melainkan memperhatikan belasan pria berpakaian hitam tersebut satu per satu dan tersenyum dingin berkata, "Karena hanya sedikit ini saja, aku juga tidak akan banyak basa-basi lagi dengan kalian."
__ADS_1
Bayangan tubuh Kelvin secepat kilat melawan mereka.
Satu menit kemudian, belasan pria berpakaian hitam ini semua jatuh tersungkur di lantai dan merengek kesakitan.
"Keluar!"
Kelvin mendengus dingin. Lalu, belasan pria berpakaian hitam yang terbaring sakit di lantai pun mulai berdiri dan kabur meninggalkan ruangan kantor.
Pada saat ini, Dimas menoleh dan tatapannya jatuh pada Dimas yang terkejut ketakutan, lalu bertanya, "Sekarang, sudah bisa membicarakan hal penting, 'kan?"
Perkataan Kelvin langsung membawa Dimas pada kenyataan hingga membuatnya tersadar.
Ketika belasan pria berpakaian hitam mengepung Kelvin, Dimas sudah memikirkan nasib Kelvin. Dia sudah membayangkan akan membuat kedua tangan dan kedua kaki Kelvin patah dan membuangnya ke jalanan. Ini adalah sesuatu yang perlu dibayar oleh Kelvin karena sudah berani menghajarnya. Dia bahkan sudah memikirkan gambaran tangan dan kaki Kelvin yang patah dibuang.
Akan tetapi, apa yang dia bayangkan tidak terjadi. Justru, malah adegan yang membuatnya tercengang terjadi.
Dia tidak menyangka Kelvin akan berhasil mengalahkan belasan pria berpakaian hitam tersebut seorang diri.
Ilmu bela dirinya terlalu menyeramkan.
Pada saat ini, Dimas menatap Kelvin dengan ketakutan yang mendalam.
Dimas tiba-tiba merasa pukulan Kelvin di wajahnya tadi semakin sakit.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? Masalah bahan obat, aku tidak bisa menyetujuinya. Bahan obat tersebut memang ada di tanganku. Tapi, sebenarnya di bawah kendali orang-orang dari keluarga kaya tersebut. Mereka bilang hanya mereka yang bisa menentukan harus dijual ke siapa. Aku tidak punya hak apapun," ujar Dimas pada Kelvin sambil memegang wajahnya yang terluka.
Perkataan Dimas sudah sangat jelas, saat ini dia hanyalah seekor anjingnya Faisal. Dia tidak bisa mengambil keputusan apapun. Jika Kelvin ingin membeli bahan obat, dia harus mendapatkan persetujuan dari Faisal.
Tentu saja, Kelvin sudah tidak dapat berbuat apa-apa.
Inilah yang disebut mundur untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
"Sepertinya kamu sudah menikah, tapi kamu malah berselingkuh di luar sana. Ckckck, berbakat sekali kamu," ujar Kelvin tiba-tiba sambil kembali duduk ke kursinya.
__ADS_1
Sebelumnya, dia sudah mencari tahu tentang Dimas dari Candra. Sebagai menantu laki-laki yang sudah menikah, malah berselingkuh di luar sana. Ckckck!
Mendengar perkataan tersebut, Dimas terkejut sejenak. Kemudian, dia menenangkan diri dan mengerti apa yang Kelvin maksud.
Kelvin sedang menggunakan masalah selingkuhan untuk mengancam dia. Hanya saja, dia salah sasaran.
"Tidak berguna kamu menggunakan hal ini untuk mengancamku. Masalah aku berselingkuh di luar sana, mertuaku sudah tahu," ujar Dimas dengan eskpresi wajah dingin.
"Oh? Benarkah?" Mendengar perkataan itu, Kelvin malah tidak terkejut atau panik, dia masih terlihat sangat yakin.
"Atau mungkin, mertuamu akan benar-benar sangat marah," ujar Kelvin tiba-tiba sambil tersenyum. Nada bicaranya pun terdengar tenang di telinga Dimas.
Akan tetapi, Dimas malah tersenyum dingin di hatinya.
Mertuanya sejak awal sudah tahu bahwa dia berselingkuh di luar sana. Jika mertuanya benar-benar akan marah, sejak awal dia pasti sudah mengusirnya keluar. Dia juga tidak mungkin akan membiarkannya mengurus perusahaan.
Oleh karena itu, apabila Kelvin ingin menggunakan hal ini untuk mengancamnya, maka dia adalah orang bodoh yang sedang bermimpi!
Klik!
Tepat ketika Dimas sedang melamun, pintu ruangan kantor tiba-tiba terbuka. Lalu, seorang lelaki tua berpakaian tradisional masuk ke dalam dengan penuh emosi.
Plak!
Lelaki tua itu langsung menampar wajah Dimas dan memaki, "Bajingan! Beraninya kamu di belakangku berkelahi dan berselingkuh! Kubunuh kau!"
Dimas tercengang sambil memegang wajahnya yang terluka.
Pertama, dia tercengang karena tiba-tiba dipukul.
Kedua, dia merasa bingung karena mertuanya sejak awal sudah mengetahui masalah dia berselingkuh. Kala itu, dia tidak berbicara apapun, kenapa dia malah mempermasalahkan hal ini?
Perkataan Kelvin barusan tiba-tiba terngiang-ngiang lagi di benaknya.
__ADS_1
Dimas tiba-tiba menoleh dan menatap Kelvin dengan lekat. Pasti dia yang sudah merencanakan semuanya. Hanya saja dia tidak mengerti, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Kelvin?
Pada saat ini, Kelvin perlahan-lahan berdiri, lalu menatap Dimas dengan tatapan mata dingin dan berkata, "Sepertinya kamu salah paham akan satu hal. Aku ke sini bukan untuk berdiskusi dengan kamu, tapi aku datang untuk memerintah kamu melakukan sesuatu. Karena kamu tidak bersedia, aku hanya bisa meminta mertuamu untuk datang memberimu pelajaran."