
Di luar ruang gawat darurat, sudah ramai dengan orang-orang yang sebagian besar adalah wartawan yang baru saja datang karena mereka mencium berita besar.
Pada saat ini, Jaka, Presdir Rumah Sakit Jakarta dikelilingi oleh sekelompok wartawan dan wajahnya tampak berseri-seri.
“Presdir Jaka, saya mendengar bahwa Dokter George dari rumah sakit kalian menyembuhkan seorang gadis yang mengalami kecelakaan mobil dan hampir meninggal karena pendarahan. Apakah itu benar?” tanya seorang wartawan wanita yang berada di dekat Jaka.
Jaka mengambil mikrofon dari wartawan wanita itu dan berkata dengan bangga, “Tentu saja, Dokter George adalah dokter muda paling hebat di rumah sakit kami. Justru karena adanya orang yang berkompeten dan bertanggung jawab seperti dia, rumah sakit kami tak henti membuat keajaiban dalam dunia kedokteran.”
"Presdir Jaka, saya mendengar bahwa rumah sakit kalian pernah memberi pernyataan bahwa orang bule akan diprioritaskan terlebih dahulu ketika berobat. Bahkan, orang bule juga lebih diprioritaskan selama proses merekrut. Oleh karena itu, semua orang sangat kontroversial terhadap hal ini. Bagaimana menurut Anda?" tanya wartawan lain.
Mendengar pertanyaan ini, Jaka menghela napas dan tampak sedih.
“Aku tahu bahwa ada orang yang memakiku mengkhianati bangsa sendiri dan malah mendukung negara lain.”
“Aku terima apabila aku memang salah. Tapi, apakah aku salah? Tidak.”
“Kalau tidak ada prioritas bagi orang asing, apakah rumah sakit kami bisa merekrut dokter asing yang sangat hebat seperti Dokter George? Apakah bisa gadis yang mengalami kecelakaan mobil tersebut bisa diselamatkan? Tidak bisa.”
“Oleh karena itu, kita harus melihat sesuatu dari kedua sisi.”
Hanya dengan pernyataan singkat itu, dia menjadikan syarat prioritas bagi orang asing di Rumah Sakit Jakarta sebagai suatu hal yang baik.
“Kalau begitu, kapan kami bisa bertemu dengan Dokter George dan juga gadis yang berhasil diselamatkan oleh Dokter George?” tanya seseorang lagi.
Jaka tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Sebentar lagi kalian sudah bisa bertemu.”
Baru selesai dia berbicara, pintu ruang gawat darurat terbuka. Sebaris orang berjalan keluar.
Orang tersebut ada Kelvin, Kiara, Reno dan Leni yang berada di punggung Kelvin, serta George. Ketika para wartawan melihat satu-satunya orang bule tersebut, mereka langsung mengelilinginya.
“Saya ingin bertanya, apakah Anda Dokter George yang menyembuhkan gadis kecelakaan mobil tersebut?”
__ADS_1
George seperti sudah tahu sejak awal. Dia langsung mengambil mikrofon dan berkata dengan serius, “Ya, saya menghabiskan banyak energi untuk menyelamatkan gadis ini dari ambang kematian karena kecelakaan mobil.”
“Oh, ini tak hanya karena jasaku saja, tapi juga berkat dari yang di Atas.”
George menggunakan jasa orang lain yang menyelamatkan orang untuk memuji dirinya sendiri dengan begitu alami. Sedangkan Kiara yang berada di samping justru tampak menggebu-gebu. Seandainya bukan karena Reno yang terus menahannya, mungkin Kiara sudah maju untuk menghajar orang.
“Apa Leni benar-benar diselamatkan oleh dokter bule itu? Kenapa aku tidak merasa seperti itu?”
Pada saat ini, teman sekolah yang terus menunggu di depan ruang gawat darurat berjalan ke arah kerumunan orang. Setelah melihat Leni dalam keadaan baik, dia pun menghela napas lega.
Hanya saja, dia melihat sekilas ke arah George yang berdiri tidak jauh dari sana dan terus memuji dirinya sendiri. Dia merasa bahwa orang yang benar-benar menyelamatkan Leni bukanlah George.
Dia justru merasa Kelvin lebih ada kemungkinan itu.
Kelvin hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaannya.
“Permisi, apakah Anda anggota keluarga dari gadis yang kecelakaan mobil itu? Apakah yang kamu gendong di belakang adalah gadis yang mengalami kecelakaan mobil?” Pada saat ini, beberapa wartawan yang tidak dapat mewawancarai George pun mewawancarai Kelvin sebagai gantinya.
Beberapa wartawan seolah seperti menemukan emas, mata mereka tampak berbinar. Lalu, mereka dengan penuh semangat bertanya, “Kalau begitu, bisakah Anda menjelaskan secara rinci proses penanganan yang dilakukan Dokter George terhadap gadis yang kecelakaan mobil itu?”
Begitu perkataan tersebut terlontarkan, semua pandangan mulai tertarik pada Kelvin.
Semua orang sangat penasaran terhadap cara apa yang digunakan oleh Dokter George hingga bisa menyelamatkan seorang gadis sekarat karena kecelakaan.
Jaka, Presdir Rumah Sakit Jakarta juga terlihat sangat penasaran dan melihat ke arah Kelvin.
“Oh!”
Kelvin tidak langsung menjawab pertanyaan wartawan, melainkan dia melihat ke arah George dan bertanya pada George, “Apakah kamu yakin ingin aku mengatakannya?”
George sama sekali tidak terlalu berpikir banyak dengan perilaku Kelvin yang seperti itu. Dia justru mengira bahwa Kelvin sedang bertanya padanya apa yang harus dikatakan untuk memamerkan keterampilan medisnya yang luar biasa.
__ADS_1
Dia menganggap Kelvin sedang berinisiatif untuk menyenangkannya.
“Haha, jangan khawatir, katakan saja yang sebenarnya,” ujar George sambil tersenyum.
“Baiklah!” Kelvin berbicara seolah tampak menyesal. Kemudian, dia berkata, “Karena ini permintaanmu sendiri, maka aku akan memenuhinya.”
Selanjutnya, Kelvin mengeluarkan ponsel dan memutar sebuah rekaman.
“Kamu tidak boleh pergi.”
“Kamu harus mengatakan pada orang-orang di luar bahwa aku yang berhasil menangani gadis ini. Dia harus tetap tinggal di sini.”
“Dan juga, kamu harus membayar biaya pengobatan dua ratus juta.”
“ … “
Semua orang bisa mendengar bahwa pemilik suara dari rekaman tersebut adalah George.
Isi dari rekaman tersebut adalah percakapan yang terjadi ketika Kelvin memasuki ruang gawat darurat. Termasuk percakapan George dengan Presdir Jaka. Selesai rekaman tersebut diputar, semua orang tercengang dan langsung berseru.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Yang berhasil menangani gadis kecelakaan tersebut bukan Dokter George?”
“Kenapa kedengarannya Dokter George sedang merebut jasa dan memaksa orang untuk mengaku bahwa dia yang berhasil menyembuhkannya? Tidak tahu malu.”
“Presdir Jaka juga sama tidak tahu malunya dengan Dokter George. Tidak tahu diri.”
“ … “
Seketika, Dokter George yang sedari tadi dipuji oleh semua orang, kini sudah menjadi cibiran semua orang.
Pada saat ini, Kelvin mendongakkan kepala menatap George yang terkejut dan tersenyum berkata, “Dokter George, aku sudah selesai menjelaskan. Apakah kamu merasa puas?”
__ADS_1