Dokter Jenius Pertama

Dokter Jenius Pertama
Bab 4. Mendesak Nikah


__ADS_3

Setelah bengong beberapa saat, Kelvin menggelengkan kepalanya dan mengembalikan kartu bank itu kepada Kiara.


"Maaf, aku tidak bisa menerimanya."


Sebuah kilatan kagum melintas di mata Kiara. Di dalam lubuk hatinya paling dalam, dia semakin mengagumi Kelvin.


Entah apa yang dipikirkan oleh Kiara, dia tiba-tiba menghela napas dan tatapan matanya terlihat seperti sangat sedih, “Lo jangan salah paham. Sebenarnya, gue butuh bantuan lo.”



Ruang tamu kediaman keluarga Wijaya.


Kepala keluarga Wijaya, Reno Wijaya, sedang duduk di kursi utama. Ekspresi wajahnya sangat masam dan suasana di seluruh ruang tamu tampak sangat tegang.


“Tuan Reno, kontrak pernikahan ini sudah dibuat oleh kedua keluarga kita. Jika Nona Kiara tidak dapat ditemukan, bukan hanya keluarga Pasetrio saja yang akan malu."


Di sisi lain, ada seorang lelaki tua berjas sedang duduk sambil menatap Reno dengan setengah tersenyum.


Meskipun dia berbicara dengan lembut, kata-katanya penuh dengan ancaman.


Lelaki tua ini adalah Alexander Pasetrio, asisten dari keluarga Pasetrio, orang terkaya di Jakarta.


Alexander menerima telepon dari Tuannya dan mengetahui bahwa nona besar dari keluarga Wijaya yang memiliki kontrak pernikahan dengan keluarga mereka menghilang. Oleh karena itu, dia datang untuk menangani masalah ini.


Mendengar kata "kontrak pernikahan", ekspresi wajah Reno menjadi semakin masam.


Belum lama ini, keluarga Wijaya dan keluarga Pasetrio membuat kontrak pernikahan antara Kiara, nona besar dari keluarga Wijaya dengan Morgan, putra sulung dari keluarga Pasetrio.


Namun kontrak pernikahan ini bukanlah pernikahan biasa, melainkan pernikahan dua orang yang akan segera meninggal.


Nona besar dari keluarga Wijaya, Kiara sakit parah dan akan segera meninggal. Semua orang dengan posisi tertinggi di Jakarta mengetahui hal ini.


Hal yang sama juga berlaku untuk putra sulung dari keluarga Pasetrio, orang terkaya di Jakarta, dia juga sakit parah dan akan segera meninggal.


Oleh karena itu, kedua pihak sepakat untuk melangsungkan pernikahan dua orang yang akan segera meninggal ini.


Undangan pun sudah tersebar luas.


Namun, saat ini, Kiara malah menghilang.


Kalau sampai tidak dapat menemukannya, maka pernikahan antara kedua keluarga ini akan menjadi lelucon besar.


“Aku sudah mengirim orang untuk mencarinya.”

__ADS_1


Reno menghela napas panjang, memikirkan bahwa putri kesayangannya itu akan menikah dengan cara seperti ini. Hatinya terasa sangat sakit.


Tapi, ini mungkin akan menjadi akhir yang terbaik untuk putrinya.


Lebih baik ada seseorang yang dapat menemaninya daripada pergi sendirian meninggalkan dunia ini.


“Kalau begitu aku akan menunggu di sini untuk kabar baik itu,” ujar Alexander tersenyum sambil menyesap teh.


Pada saat ini, seseorang masuk dengan tergesa-gesa dan melaporkan kepada Reno, "Tuan Reno, nona besar sudah pulang.”


Reno yang awalnya sedang sedih tiba-tiba duduk tegak, “Di mana dia?”


Selesai berbicara, ada seorang pria dan seorang wanita berjalan masuk ke ruang tamu.


Mereka adalah Kelvin dan Kiara.


"Ayah, penyakitku sudah sembuh."


Kiara tiba-tiba buka suara sambil menunjuk Kelvin yang berada di sebelahnya. Reno tertegun sejenak, kemudian wajahnya menunjukkan ekspresi senang dan hampir melompat kegirangan.


“Nak, apakah yang kamu katakan benar?” Reno sudah sering berharap dan bermimpi bahwa putrinya akan kembali sehat. Tapi, begitu putrinya mengatakan langsung padanya, dia malah merasa ini seperti bukan kenyataan.


Dokter terkenal di seluruh negeri sudah mencoba mengobati penyakit putrinya, tetapi mereka tetap tidak mengetahui apa penyebabnya.


"Bagus, bagus, bagus."


Reno gemetar karena merasakan kegembiraan dan air matanya pun mengalir.


Dia menangis bahagia.


Putrinya tidak pernah berbohong sejak dia masih kecil, jika dia mengatakan satu ya satu, dua ya dua.


Putrinya saja sudah berkata demikian, berarti dia benar-benar sudah sembuh.


Reno menyeka air mata dari sudut matanya dengan lengan bajunya, dia sudah menunggu lama untuk hari ini.


"Yah, aku mau memperkenalkan seseorang ke Ayah. Dia adalah penyelamatku dan juga tunanganku."


Kiara kembali membuka suara dan menunjuk Kelvin yang berdiri di samping.


Ketika dia mendengar kata penyelamat, Reno tersenyum bahagia dan dia sudah berpikir tentang bagaimana harus berterima kasih kepada Kelvin. Tetapi ketika dia mendengar kata tunangan, dia tercengang, kemudian dia menatap bingung ke arah Alexander yang berdiri tidak jauh darinya.


Alexander juga menoleh untuk melihat.

__ADS_1


Ketika Alexander melihat Kiara yang sekarat itu sudah bisa berdiri sehat, wajahnya memerah, dia menyipitkan matanya dan sedikit terkejut.


Mungkinkah dia sudah sembuh?


“Uhuk, uhuk. Tuan Reno, karena Nona Kirana sudah ditemukan, pernikahan antara dua keluarga kita sudah dapat berjalan seperti biasa, ‘kan?"


Alexander tiba-tiba terbatuk dan menatap Reno dengan pandangan mata dingin. Dia memaksa Reno untuk membuat keputusan.


Ekspresi wajah Reno juga menjadi tidak senang dalam sekejap, dia malah membantah kembali dengan kesal, “Alex, putriku sudah sembuh. Mungkinkah dia akan menikah dengan putra sulung keluarga kalian?”


"Dengan segala hormat, aku tidak ingin putriku menjadi janda."


Reno menunjuk ke Kelvin dan berkata, "Terlebih lagi, kamu baru saja mendengar bahwa putriku sudah memiliki tunangan."


"Kontrak pernikahan antara keluarga kalian dan keluargaku sudah berakhir."


Reno sudah membuat keputusan, perkataannya sudah sangat tegas dan tidak bisa disangkal.


Duk, duk, duk!


Alexander mengetuk meja dengan tangannya yang sudah tua itu.


Setelah beberapa saat, dia terkikik, suaranya melengking hingga membuat orang bergidik.


“Tuan Reno, apakah kamu ingin membatalkan pernikahan ini?"


“Iya, lalu kenapa?” Reno juga langsung bersikap dingin dan memalingkan wajahnya.


Cangkir teh yang ada di atas meja pecah dan menghasilkan suara yang sangat keras, membuat anak buah keluarga Wijaya bergegas ke ruang tamu.


“Tuan Reno!”


“Tuan Reno!”


“Tuan Reno!”


"..."


Alexander langsung dikelilingi oleh anak buah keluarga Wijaya.


Suasana di ruangan seketika menegang.


“Hahaha, Tuan Reno, kenapa harus repot-repot bertengkar hebat seperti ini? Aku punya solusi. Kamu tidak perlu menikahkan putrimu ke putra sulung keluarga kami yang sekarat itu. Bahkan juga tidak perlu membatalkan kontrak pernikahan di antara dua keluarga.”

__ADS_1


__ADS_2