
"Nona, sekarang harus bagaimana? Situasi sepertinya lebih parah daripada yang kita bayangkan."
Di luar pintu belakang, Jaka terengah-engah sambil bertanya ada Patricia. Jaka juga ikut berlari keluar dari pintu belakang Rumah Sakit Jakarta.
Jika dia masih tetap tinggal di sini dengan situasi di luar seperti barusan, mungkin dia bisa dibunuh hidup-hidup. Patricia tidak berbicara dengan ekspresi serius.
Situasi saat ini benar-benar sangat tidak menguntungkan bagi Keluarga Pasetrio. Hari ini, reputasi Rumah Sakit Jakarta menjadi buruk karena aksi Kelvin yang disengaja itu.
Orang-orang Jakarta sudah menaruh curiga yang parah terhadap Rumah Sakit Jakarta. Mereka bahkan juga sangat marah. Dan Kelvin sudah mengumumkan pendirian rumah sakit pengobatan tradisional yang besar kemungkinannya akan menggantikan Rumah Sakit Jakarta.
Kali ini, Patricia benar-benar dirugikan oleh opini publik.
Selama ini, opini publik dimatanya sama sekali tidak penting. Karena dia merasa bahwa tidak peduli seberapa besar opini publik, semua itu bisa dihilangkan begitu saja.
Akan tetapi, saat ini Patricia baru tahu bahwa ternyata ada kalanya opini publik tiba bisa dihilangkan begitu saja.
“Apakah perlu mengutus orang untuk membubarkan sekelompok orang itu?” Jaka memberikan saran.
“Tidak bisa.” Patricia menggelengkan kepala dan langsung menolak.
Patricia tahu apa maksud Jaka. Jaka ingin menakut-nakuti sekelompok orang itu seperti yang dilakukan para gangster sebelumnya.
Alasan kenapa para gangster itu bisa menakuti sekelompok orang itu karena kemarahan di hati sekelompok orang ini belum terprovokasi. Sementara saat ini, semua kemarahan di hati sekelompok orang tersebut sudah terprovokasi.
Sekarang, jika para gangster berani menakuti sekelompok orang itu, yang ada para gangster itu bisa dicabik-cabik.
“Satu-satunya cara saat ini adalah bagaimana membuat opini publik berada di tangan kita,” ujar Patricia menganalisis.
"Begini, kamu segera menyebarkan berita dan mengatakan bahwa kita akan mengadakan konferensi pers. Kita harus bisa membersihkan nama baik Rumah Sakit Jakarta pada konferensi pers kali ini.”
Ekspresi Jaka terlihat seperti ingin menangis. Saat ini, semua orang sudah meneriaki Rumah Sakit Jakarta sampai di titik ini, bagaimana cara membersihkannya?
“Kalau mau membersihkan nama baik sendiri, kita tidak harus memulainya dari diri sendiri, tapi bisa juga dari sisi mereka.”
“Mereka bisa mengubah dari yang tidak bermasalah menjadi bermasalah, berarti kita juga bisa mengubah dari yang bermasalah menjadi tidak bermasalah.” Patricia memicingkan mata dan sudah memiliki rencana di dalam hatinya.
“Terobosan ini ada pada Candra dan cucunya. Mereka berdua diakui sebagai orang yang membantu Kelvin. Selama mereka berdua menyerang Kelvin dan membuktikan bahwa apa yang terjadi di Rumah Sakit Jakarta hari ini adalah jebakan dari Kelvin, maka Kelvin akan dimaki dan dihajar oleh semua orang.”
Kedua mata Jaka berbinar.
Ajaib!
Nona Patricia memang hebat, bisa memecahkan masalah secepat ini.
“Kamu yang bertanggung jawab untuk mengurus masalah konferensi pers. Aku akan mencari orang lain untuk mengatasi Candra dan cucunya.”
Patricia memberikan perintah kepada Jaka. Seseoraong muncul di benak Patricia. Jika orang tersebut yang maju, Candra dan cucunya pasti akan berkhianat dan melawan Kelvin.
Hanya saja, sayang harus menggunakan orang yang berbakat.
__ADS_1
…
Malam hari.
Rumah sakit Keluarga Mulyono juga sudah waktunya tutup. Pekerja di rumah sakit juga sudah pergi.
Candra yang sudah menjaga tenda seharian baru saja pulang dan minum seteguk the. Akhirnya dia bisa beristirahat sebentar. Akan tetapi, ketika memikirkan kembali kejadian di depan gerbang Rumah Sakit Jakarta tadi, dia mau tak mau merasa kagum pada Kelvin.
Tanpa memerlukan waktu kurang dari satu hari, Kelvin sudah bisa membuat nama baik Rumah Sakit Jakarta hancur. Bahkan, dia mendapatkan kepercayaan dari seluruh masyarakat Jakarta dan berhasil mempromosikan pendirian rumah sakit pengobatan tradisional.
Kali ini, rumah sakit tersebut ada kemungkinan menggantikan Rumah Sakit Jakarta.
Hebat. Sangat hebat.
Candra menghela napas, untung dia bergabung dengan Kelvin karena jikalau sendiri dia tidak akan sanggup.
“Hah, aku harus sekali.”
Pada saat ini, terdengar suara cucunya, Nathan.
Candra menoleh dan melihat Nathan mengambil sebotol minuman, lalu meneguknya. Nathan juga baru pulang dari berjaga tenda.
Candra menatap Nathan yang sedang minum. Akan tetapi, semakin melihat, dia semakin kesal. Jelas-jelas usia mereka kurang lebih sama, kenapa Kelvin bisa begitu hebat. Jika melihat cucunya dan dibandingkan dengan Kelvin, dia benar-benar seperti orang bodoh.
“Nathan, ke sini. Kakek ingin mengatakan sesuatu padamu.” Candra tersenyum manis pada Nathan.
Nathan meletakkan minumannya dan menghampiri Candra dengan senang.
“Nathan, menurutmu bagaimana dengan masalah di depan gerbang Rumah Sakit Jakarta hari ini?” tanya Candra sambil menatap Nathan.
Begitu mendengar perkataan ini, Candra langsung mengancungkan jempol dan berkata dengan ekpresi kagum, “Kak Kelvin benar-benar sangat luar biasa.”
Candra tersenyum kecut.
Sebelumnya, cucunya ini sangat meremehkan Kelvin. Sekarang dia malah terus memanggilnya dengan sebutan kakak.
“Sudah tidak ada lagi?”
“Tidak ada lagi!”
Plak!
Candra menempeleng kepala Nathan dan memaki berkata, “Aku menyuruhmu ikut Kelvin untuk belajar sesuatu darinya. Ini yang kamu pelajari?”
Raut wajah Nathan tampak sedih.
“Kakek, kamu sendiri saja belum tentu bisa seperti Kelvin. Tapi, kamu masih memarahi aku.”
Perkataan Nathan ini seketika membuat Candra seperti tersedak.
__ADS_1
Plak!
Candra yang sadar dari lamunannya kembali menempeleng kepala Nathan.
“Bocah sialan, kamu ….”
Candra hendak memberi pelajaran pada Nathan, tetapi ekspresinya berubah saat dia baru akan main tangan. Karena pada saat ini, muncul sosok tamu tak diundang di rumah sakit.
“Bagaimana kalau aku yang membantumu untuk memberi pelajaran kepada cucumu?”
Orang yang berbicara tersebut adalah sosok lelaki tua berpakaian hitam dan wajahnya tersenyum datar.
Hiat!
Lelaki tua berpakaian hitam itu sangat cepat, dia langsung menangkap Nathan ke tangannya secepat kilat.
Kemudian, sebelum Candra sempat bereaksi, lelaki tua berpakaian hitam itu membuka mulut Nathan dan memasukkan pil ke dalam mulutnya.
Setelah melakukan semua ini, lelaki tua berpakaian hitam itu mendorong Nathan.
Candra melangkah maju dengan cepat dan menopang Nathan. Lalu, dia menoleh dan menatap lelaki tua berpakaian hitam itu marah. Setelah itu, dia berkata dengan marah, "Siapa kamu? Apa yang baru saja kamu berikan kepada cucuku?”
Lelaki tua berpakaian hitam itu tersenyum misterius dan menjawab dengan jujur, “Kamu bisa bisa memanggilku Tuan Angga dan tentu saja aku memberikan obat beracun untuk cucumu.”
Apa?
Raut wajah Candra berubah drastis. Ini pertama kalinya dia merasa semarah ini semenjak dia pensiun dan pindah ke Jakarta.
“Kakek, aku merasa tidak enak. Aku merasa kesulitan bernapas.”
Wajah Nathan sampai berkerut kesakitan dan dia terengah-engah. Dia memegang lehernya dengan kedua tangan, seolah ingin menarik sesuatu yang menghalangi pernapasannya.
Melihat Nathan yang seperti itu, Candra merasa sakit hati dan sangat marah.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Candra sambil menggertakkan gigi.
Angga tertawa dan berkata, “Mudah saja, aku ingin kamu melawan Kelvin.”
“Aku ingin kamu bersikeras mengatakan bahwa apa yang terjadi pada Rumah Sakit Jakarta ini adalah jebakan dari Kelvin.”
“Mengenai bukti bahwa Kelvin menjebak Rumah Sakit Jakarta, itu masih dalam proses pembuatan.”
Candra sudah mengerti. Angga ini diutus oleh Keluarga Pasetrio.
Candra memicingkan mata dan terdiam.
Melihat Candra yang tidak berbicara, Angga pun tersenyum dan berkata, “Tentu saja, kamu juga bisa memilih untuk menolak. Tapi, di dunia ini tidak ada orang yang bisa menawarkan racunku ini.”
“Kalau tidak percaya, kamu bisa mencobanya.”
__ADS_1
“Oh ya, aku dengar keterampilan medis Kelvin sangat hebat. Kamu bisa menyuruhnya untuk mencoba menawarkan racun dari tubuh cucumu itu.”
“Aku sangat menantikan.”