
Kelvin mendongakkan kepala melihat Reno dan berkata, "Sebelumnya Anda berkata bahwa Faisal sejak awal sudah ingin bekerja sama dengan keluarga lain untuk menjatuhkan Keluarga Wijaya, hanya saja selalu tidak ada kesempatan. Sebenarnya penghalangnya apa?"
Reno berkata, "Belakangan ini akan ada gubernur baru yang menjabat di Jakarta. Dengar-dengar gubernur baru ini tidak suka dengan orang yang sudah melakukan kejahatan. Dia paling benci dengan orang yang memiliki kekuasaan dan menindas orang kecil. Faisal sama sekali tidak tahu pemikiran gubernur baru tersebut, jadi dia tidak berani menyentuh Keluarga Wijaya."
Kelvin tertegun dan seketika mengerti.
Gubernur baru tidak suka pada orang yang melakukan kejahatan dan orang yang menggunakan kekuasaan untuk menindas orang kecil.
Akan tetapi, seorang putra orang terkaya malah dipaksa berlutut hingga mati oleh seorang dokter kecil.
Situasi berbalik.
Keluarga Pasetrio yang awalnya orang terkaya di Jakarta berubah menjadi sekelompok orang lemah. Sedangkan Kelvin menantu dari Keluarga Wijaya, maka semua orang akan mengira bahwa Keluarga Wijaya-lah yang menyalahgunakan kekuasaan.
Bagaimanapun, menantu dari Keluarga Wijaya sudah mendesak putra keluarga orang terkaya hingga mati.
Siapa yang menindas siapa, sudah jelas terlihat.
Apalagi, gubernur baru tersebut baru tiba di Jakarta, tentu saja dia akan menyalah artikan keadaan ini seperti itu.
Keluarga Wijaya akan dicap sebagai keluarga yang sudah menindas.
Selama gubernur baru tersebut menutup mata sebelah ketika melihat Keluarga Pasterio melawan Keluarga Wijaya, itu berarti Keluarga Wijaya dalam bahaya.
Apabila memang seperti itu, Faisal benar-benar orang yang sangat licik.
Kelvin memberi tahu pemikirannya pada Reno dan yang lainnya. Seketika raut wajahnya berubah drastis.
Apabila memang seperti itu, berarti Keluarga Wijaya dalam bahaya.
"Ini hanya tebakanku saja," ujar Kelvin.
__ADS_1
Nathan yang sedari tadi dicuekin di samping tiba-tiba menyela untuk membantah dan berkata, "Lagi pula, tadi kamu juga sudah mengecek Rangga dan dia sudah tidak bernyawa. Bagaimana kamu bisa menyimpulkan bahwa Rangga tidak mati?"
"Kalau bisa menghentikan vitalitas, memang tidak bisa dicek." Candra menjelaskan dari samping.
"Tapi, bagaimana mungkin ada orang yang bisa melakukan hal itu sampai menghentikan vitalitas. Kek, kamu saja tidak bisa," gumam Nathan tidak senang.
Candra menggelengkan kepala dan berkata, "Aku tidak bisa, bukan berarti orang lain juga tidak bisa."
Dia melihat sekilas ke arah Kiara yang berdiri di samping, lalu melirik Kelvin dan berkata, "Sama seperti penyakit mematikan Kiara. Aku tidak mampu menyembuhkannya, tapi bukankah Kelvin bisa menyembuhkannya?"
"Tapi, tadi dia juga sudah mengecek Rangga dan dia juga tidak berhasil menemukan apapun," ujar Nathan lagi.
Apa yang dikatakan Nathan memang benar, jadi Kelvin tidak membantahnya. Ketika dia mengecek kondisi Rangga barusan, dia memang tidak memikirkan kemungkinan hal ini. Lagi pula, sekalipun memang kepikiran, dia juga tidak bisa menemukan apapun berdasarkan kemampuannya saat ini.
Akan tetapi, sekarang berbeda. Baru saja, dia mencari warisan leluhur di benaknya. Kemudian, menemukan cara untuk menghentikan vitalitas dan kembali membuatnya bekerja.
"Apakah itu hanya tebakan atau bukan, aku bisa mengujinya," ujar Kelvin tiba-tiba.
"Pak Candra, apakah kamu ada jarum?" tanya Kelvin tiba-tiba pada Candra.
Candra menganggukkan kepala, lalu menyerahkan kantong jarum kepada Kelvin dengan ekspresi bingung.
Kelvin menerima kantong jarum tersebut, lalu mengeluarkan sebuah jarum sepanjang sepuluh sentimeter. Kemudian, berkata pada Candra, "Pak Candra, Nanti aku akan mencoba untuk menghentikan vitalitas aku. Setelah itu, Anda bantu aku untuk mengecek apakah aku masih bernapas atau tidak. Kalau aku benar-benar tidak bernapas sama sekali, putuskan vitalitasnya. Setelah itu, tolong gunakan jarum ini untuk menusuk meridian aku dua inci. Lalu, ulangi sebanyak tiga kali. Nanti vitalitas aku akan bekerja kembali dan aku akan tersadar."
"Bagaimana kalau kamu tidak sadar kembali?" Nathan menyela pada saat yang tidak tepat.
Candra menoleh dan memelototi Nathan dengan kesal. Seketika, Nathan pun berjalan mundur beberapa langkah dan menundukkan kepala terdiam.
Pada saat ini, Kiara yang sedari tadi tidak berbicara pun melangkah maju dan berteriak pada Kelvin, "Tidak boleh!"
Perkataan Nathan barusan membuatnya terdengar tidak nyaman. Akan tetapi, memang tidak bisa dipungkiri, perkataan Nathan barusan menyadarkannya.
__ADS_1
Benar, bagaimana kalau tidak bangun?
"Tidak apa-apa. Aku yakin akan hal ini," ujar Kelvin sambil tersenyum.
"Tidak boleh! Kamu milikku, aku tidak bisa melihat sesuatu terjadi padamu. Lagi pula, ini hanya tebakanmu saja, ada kemungkinan Rangga benar-benar sudah mati."
Sikap Kiara yang begitu tegas membuat hati Kelvin merasa hangat. Akan tetapi, dia masih ingin menguji hal ini.
Setelah mengujinya, Kelvin baru bisa tahu apakah Rangga benaran mati atau mati suri.
Berdasarkan pemahamannya pada Faisal, dia pasti bisa melakukan rencana licik ini.
Faisal adalah sosok orang yang sangat ambisius, yang dia pentingkan hanyalah keuntungan.
Apabila Rangga berlutut pada Kelvin, Faisal bisa mendapatkan kesempatan untuk menyelamatkan putra sulungnya. Akan tetapi, Rangga malah langsung mati di depan Kelvin dan semua orang. Kalau begitu, apa yang bisa Faisal dapatkan?
Ketika Faisal melawan Keluarga Wijaya, dia bisa mendapatkan kepercayaan dari gubernur baru di Jakarta. Jika hanya ingin membuat Kelvin berada di jalan buntu, Faisal tidak akan mungkin rela untuk membiarkan putranya mati begitu saja, dia hanya perlu membuatnya mati suri.
Ini hanya analisis Kelvin terhadap karakter Faisal. Dilihat dari tindakan Faisal sebelumnya, dia selalu ingin mendapatkan keuntungan terbesar dengan pengorbanan terkecil. Bagaimanapun, Faisal adalah seorang pengusaha.
Jika Faisal benar-benar memalsukan kematian Rangga dengan menghentikan vitalitasnya, maka tebakan Kelvin sangat mungkin benar.
Faisal sengaja menggunakan kematian palsu Rangga untuk menjebak Keluarga Wijaya.
Kelvin tiba-tiba melakukan aksinya dengan menusuk jarum tersebut ke lehernya.
Kiara bahkan tidak sempet untuk menghentikannya.
Di depan mata Kiara, dia melihat Kelvin memejamkan mata dan terjatuh ke tanah.
Candra buru-buru mengikuti arahan yang diberi tahu Kelvin sebelumnya. Dia berjongkok dan mulai mengeceknya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, dia berkata, "Tidak ada napas."