Dokter Jenius Pertama

Dokter Jenius Pertama
Bab 37. Tamu yang Tak Diundang


__ADS_3

Klinik Keluarga Mulyono.


"Kakek, bagaimana ini? Kondisi pasien semakin parah dan semakin banyak. Kita tidak sanggup menangani ini semua," ujar Nathan.


Pada saat ini, Nathan yang sibuk menerima pasien pun kewalahan hingga bagian belakang punggungnya basah kuyup.


Beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba, banyak pasien penyakit jantung koroner datang ke klinik. Kondisi mereka semua mendadak menurun karena mengonsumsi obat yang diproduksi oleh Keluarga Wijaya. Bahkan, orang yang datang semakin banyak hingga semua tempat tidur dipenuhi oleh pasien.


Yang lebih menakutkan adalah kondisi orang-orang ini memburuk terlalu cepat dan beberapa orang sudah pingsan beberapa kali. Jika bukan karena keterampilan medis Candra yang sangat baik, pasti sudah banyak orang yang mati.


Pada saat ini, Candra pun mengerutkan kening. Dia sama sekali tidak menyangka hari ini akan datang begitu banyak pasien. Dan semuanya karena mereka mengonsumsi obat yang diproduksi oleh Keluarga Wijaya.


Sebenarnya apa yang terjadi pada Keluarga Wijaya?


"Berikan mereka air jahe," perintah Candra pada Nathan.


Pada saat di telepon tadi, Kelvin mengatakan bahwa air jahe dapat meringankan kondisi pasien. Dia tidak pernah mendengar pernyataan seperti itu. Akan tetapi, kondisi sudah seperti ini, jadi dia hanya bisa mencobanya saja karena pasien terlalu banyak. Dia sama sekali tidak mampu menanganinya.


Apalagi, kondisi pasien ini jauh lebih serius dari yang dibayangkannya, jadi dia sudah tidak sanggup menahan ini semua.


Seandainya perkataan Kelvin itu manjur, maka bisa memberikan sedikit waktu untuknya dan pasien.


Nathan tercengang dan segera tersadar dari lamunannya. Dia pun menelepon sebuah kedai mie yang ada di dekat sana.


Selama itu adalah perintah dari kakek, Nathan pasti akan melakukannya. Tak lama, pemilik kedai mie yang ada di sekitar sana membawakan satu tong besar air jahe ke klinik.


Nathan langsung menginstruksikan staf lain yang ada di dalam klinik untuk mengambil mangkuk kayu dan kemudian menuangkan air jahe ke pasien satu per satu.


"Lho? Apa ini? Kenapa setelah meminumnya aku merasa jauh lebih baik dan sepertinya tidak begitu sakit lagi."


"Aku juga merasa jauh lebih baik. Obat apa ini? Aku masih ingin meminumnya."

__ADS_1


"Obat ini manjur sekali. Tapi kenapa asam sekali seperti air jahe."


" ... "


Setelah pasien di klinik minum air jahe tersebut, seketika mereka merasa jauh lebih baik dan rasa sakit di dada mereka langsung menghilang.


Jeritan rasa sakit yang sedari tadi tak berhenti, seketika semuanya menghilang. Kondisi para pasien untuk sementara ini sudah bisa dikontrol.


Nathan tercengang melihat kondisi ini dan wajahnya langsung berubah bahagia.


Ekspresi wajahnya pun tampak sangat mengangumi Candra.


"Kakek, kenapa kamu bisa tiba-tiba kepikiran menggunakan air jahe?"


Candra menggelengkan kepala dan berkata, "Bukan aku yang memikirkannya, tapi Kelvin yang memberitahuku melalui telepon."


Ekspresi Nathan membeku. Baru saja, dia dengan bangga berpikir bahwa hanya seorang dokter terkenal seperti kakeknya saja yang bisa memikirkan cara seperti itu. Akan tetapi sekarang, kakek memberitahunya bahwa Kelvin yang memberitahunya. Seketika, dia tidak bisa menerimanya karena berbeda jauh dengan apa yang ada dibayangannya.


"Jumlah pasien terlalu banyak dan aku tidak bisa mengendalikan kondisinya. Kelvin bilang bahwa dia akan segera datang, jadi seharusnya dia punya cara," ujar Candra tiba-tiba dan dibalik perkataannya, dia merasa malu pada Kelvin.


Tepat ketika Nathan sedang melamun, dia melihat kakeknya tiba-tiba tersenyum dan berjalan ke arah luar klinik. Ekspresi tersebut seperti melihat sebuah harapan. Kemudian, Nathan pun melihat pemuda yang dipersilakan masuk oleh Candra ke dalam klinik. Pemuda tersebut adalah Kelvin. Pantas saja kakek begitu ramah.


"Pak Candra, bagaimana kondisi pasien sekarang?" tanya Kelvin sambil berjalan masuk ke dalam klinik.


Setelah mengetahui bahwa ada banyak kondisi pasien yang memburuk setelah mengonsumsi obat yang diproduksi oleh Keluarga Wijaya, Kelvin mulai beraksi secara terpisah dengan Reno dan Kiara.


Reno dan Kiara pergi ke pabrik farmasi untuk menghentikan produksi obat dan mencari tahu penyebabnya, sedangkan Kelvin datang ke klinik untuk mengobati pasien.


Candra menggelengkan kelapa dan melihat ke arah pasien yang berkumpul di klinik, "Kondisinya tidak terlalu baik. Aku sudah mengikuti arahan kamu tadi dengan memberikan air jahe pada pasien. Kondisinya saat ini memang terkendali, tapi tak lama kemudian masih bisa kambuh."


Kelvin menganggukkan kepala. Keefektifan air jahe hanya berlaku satu kali. Jika sebelumnya sudah minum sekali, maka tidak akan ada efek lagi.

__ADS_1


"Aaah!"


TIba-tiba terdengar sebuah jeritan. Kelvin melihat ke arah suara itu berasal dan melihat seorang pria paruh baya yang berbaring tidak jauh di atas ranjang sedang berteriak kesakitan. Dahinya penuh keringat, raut wajahnya bahkan sampai berkerut, terlihat sangat jelas bahwa ada rasa sakit yang menyakitkan menyerang dirinya.


Kelvin melihat bahwa vitalitas pada pria paruh baya itu berangsur-angsur menghilang. Kondisinya sudah mencapai tingkat yang tidak bisa terkendali dan dia akan segera mati. Oleh karena itu, dia harus segera diobati.


"Pak Candra, jarum."


Selesai Kelvin berbicara, Candra langsung memberikan kantong jarum yang selalu dibawanya kepada Kelvin.


Kelvin langsung mengambil jarum sepanjang sepuluh sentimeter dan menusuknya di telinga, hidung dan dahi pasien. Selanjutnya, dia mengeluarkan jarum sepanjang dua belas sentimeter dan menusuknya di dada pria paruh baya tersebut.


Candra yang melihatnya dari samping pun tampak tercengang. Orang lain memang tidak bisa melihat metode pengobatan yang dilakukan oleh Kelvin, tapi dia bisa. Metode tersebut adalah teknik Akupuntur peremajaan. Ini juga merupakan metode jarum yang hanya tercatat dalam buku medis kuno, dengar-dengar teknik tersebut bisa menghidupkan orang yang sekarat.


Saking semangatnya, Candra sampai gemetaran.


"Fiuh!" Kelvin menghela napas panjang, lalu menarik keluar jarum yang ada di tubuh pria paruh baya tersebut dan berkata pria tersebut, "Bagaimana perasaan kamu sekarang?"


"Aku merasa sepertinya aku sudah sembuh." Pria paruh baya tersebut juga tidak berani percaya.


Barusan dirinya merasa kesakitan seperti sudah sekarat dan kapan saja bisa mati, tetapi setelah ditusuk beberapa jarum oleh pemuda ini, dadanya sudah tidak merasa sakit dan napasnya juga menjadi lancar.


Dia benar-benar sudah sembuh.


"Um!" Kelvin melambaikan tangan untuk mengisyaratkan pria paruh baya tersebut untuk pergi.


Pria paruh baya tersebut pergi meninggalkan klinik dengan bahagia.


Kelvin menyeka keringat yang ada di dahinya. Ketika menyembuhkan pria paruh baya barusan, itu membutuhkan banyak energi fisik dan mental dirinya.


"Wah! Luar biasa! Hebat, hebat! Hanya dengan beberapa jarum saja sudah bisa menyembuhkan pasien penyakit jantung koroner. Tapi, sepertinya kamu harus menghabiskan banyak tenaga untuk melakukan pengobatan dengan jarum. Aku bahkan bisa melihat kalau kamu sampai berkeringat. Ckckck! Lagi pula, pasien di sini tak hanya satu orang, nanti akan semakin banyak lagi. Masih ada ribuan, puluhan ribu, bahkan ratusan ribu. Apakah kamu sanggup menyembuhkannya dengan jarum?" ujar Faisal.

__ADS_1


Seorang tamu yang tak diundang tiba-tiba muncul di klinik.


Tatapan mata Kelvin menjadi dingin karena orang yang datang adalah Faisal dan Patricia.


__ADS_2