Dokter Jenius Pertama

Dokter Jenius Pertama
Bab 45. Ajakan Negosiasi


__ADS_3

Pabrik Farmasi Keluarga Wijaya, kantor Manajer Pabrik.


Lampu dalam keadaan mati, karena sudah hampir malam, di dalam kantor pun sudah gelap.


Kreeek!


Seorang pria paruh baya tiba-tiba mendorong pintu dan masuk. Dia ternyata memiliki kunci. Akan


tetapi, dia tidak berani menyalakan lampu. Dia malah mengeluarkan senter yang kecil dan berjalan ke depan laci. Lalu, dia melihat sekeliling dengan cahaya senter.


Klik!


Lampu kantor tiba-tiba menyala dan ada orang berjalan masuk. Ketika pria paruh baya tersebut melihat dua wajah yang tidak asing itu, dia ketakutan hingga jatuh ke lantai.


“Tuan Reno… Nona Kiara … kalian … kalian kenapa bisa ada di sini?”


Pria paruh baya tersebut sampai gagap karena panik ketika melihat orang yang datang.


“Surya, seharusnya aku yang bertanya padamu,” ujar Reno sambil berjalan ke hadapan Surya dan menatapnya dingin.


Kiara sama sekali tidak sesungkan Reno. Selama ini temperamennya memang sangat jelek, terlebih dia sangat membenci orang yang berkhianat padanya.


Oleh karena itu, Kaira langsung buru-buru berjalan ke hadapan Surya. Kemudian, dia menarik kerah baju Surya dan menatap Surya dengan paksa.


“Keluarga Wijaya sudah sangat baik padamu. Kenapa kamu mengkhianati kami?”


“Um?”


“Apakah hati nuranimu dimakan anjing?”


Karena didesak dengan pertanyaan Kiara, Surya pun gemetar dan sekujur tubuhnya berkeringat dingin. Akan tetapi, dia malah terbata-bata dan tidak bisa mengatakan apa pun.


“Karena dia juga dipaksa.”


Pada saat ini, sebuah suara terdengar. Kemudian, seseorang masuk ke dalam.


Orang itu adalah Kelvin.


Kiara mendongakkan kepala melihat ke arah Kelvin dan bertanya dengan bingung, “Maksudmu?”


Kelvin melihat Surya sekilas dan berkata, “Kalau aku tidak salah menebak, keluarganya saat ini semua berada di tangan Keluarga Kaya Pasetrio.”


Surya mengangguk dengan berat dan berkata dengan ekspresi tak berdosa, “Aku … aku dipaksa.”


“Mereka menggunakan keluargaku untuk mengancamku. Aku … aku juga tidak tahu harus bagaimana.”


Setelah berbicara, Surya yang usianya kurang lebih seperti Reno langsung menangis.

__ADS_1


Kelvin menghela napas dan berkata, “Yap, aku mengerti kalau keluargamu dikontrol dan kamu juga terpaksa.”


Tiba-tiba, perkataan Kelvin berubah dan tatapan matanya menjadi dingin. “Tapi, ini bukan alasan untuk kamu berbuat jahat. Sekarang aku akan memberimu kesempatan untuk menceritakan semua yang kamu tahu.”


Begitu Surya mendengar hal itu, dia langsung panik dan berinisatif untuk berlutut di depan Kelvin. Dia meminta ampun, “Tidak bisa, aku tidak bisa mengatakannya. Kalau aku mengatakannya, keluargaku akan dalam bahaya.”


Kelvin menghela napas karena hal ini sesuai dengan dugaannya. Setidaknya saat ini, mereka tidak akan bisa mendapatkan informasi apa pun dari Surya.


“Kelvin, sekarang harus bagaimana?” tanya Reno yang membalikkan kepala untuk melihat Kelvin.


Beberapa waktu lalu, Kelvin mengatakan bahwa Surya merasa bersalah karena berbuat jahat. Oleh karena itu, ketika dia mendengar rumor Keluarga Wijaya sudah menemukan bukti, dia pasti akan kembali lagi untuk memeriksa apakah ada bukti yang tertinggal atau tidak.


Awalnya Reno tidak percaya, tetapi saat ini Surya benar-benar datang. Mau tak mau dia harus merasa kagum pada menantunya ini karena bisa menebak isi hati orang. Oleh karena itu, saat ini Reno seratus persen percaya pada kemampuan Kelvin.


“Untuk sementara ini jangan biarkan dia keluar dari pabrik farmasi,” ujar Kelvin.


Reno mengangguk dan melambaikan tangan pada pekerja pabrik farmasi yang ikut masuk ke dalam.


Beberapa pekerja tersebut mengangguk dan memukul Surya hingga pingsan. Tepat ketika mereka akan menyeret Surya ke bawah, ada beberapa orang yang masuk.


Begitu Kelvin menoleh, dia melihat dua satpam menyekap seorang pria yang berpakaian serba hitam dan memakai masker hitam. Orang tersebut membungkus dirinya dengan sangat rapat.


“Tuan Reno, Nona Kiara, Tuan Kelvin. Kami sudah meningkatkan pengawasan terhadap pabrik farmasi sesuai dengan perintah dari Tuan Kelvin, terutama di bagian ruangan mesin. Tapi, kami malah menemukan orang ini yang sedari tadi terlihat sembunyi-sembunyi.”


“Ketika kami maju untuk bertanya, dia malah balik badan dan lari. Karena merasa ada yang aneh, kami  langsung menyekap dia di lantai.”


Kelvin membuka kotak tersebut dan ekspresi mukanya langsung berubah.


Satpam tidak tahu apa itu, tetapi Kelvin tahu apa itu. Di dalam kotak tersebut ada bahan peledak berkekuatan tinggi.


Satpam mengatakan bahwa kotak ini diletakkan di ruangan mesin. Apabila ruangan meledak, maka seluruh pabrik farmasi dan pekerja yang ada di dalam akan hancur lebur karena ledakan.


Tentu saja, termasuk Kelvin.


Orang yang sangat membenci Kelvin, baru akan berani melakukan hal ini. Untungnya, dia sudah meminta satpam untuk meningkatkan pengawasan.


Sekelompok satpam ini bukanlah satpam biasa. Akan tetapi, Kelvin meminta Reno untuk mengutus pengawal profesional dari rumah Keluarga Wijaya ke sini dan mereka semua adalah seorang veteran.


“Lepaskan maskernya,” ujar Kelvin kepada dua satpam tersebut.


Ketika satpam melepaskan masker pria tersebut, Kelvin dan semua orang yang ada di lokasi terkejut. Mereka mengenal pria tersebut.


Hanya saja, saat ini tidak seharusnya pria ini muncul. Lebih tepatnya, tidak seharusnya muncul dengan identitas orang yang masih hidup.


Pria ini adalah putra kedua Faisal, yaitu Rangga.


Benar saja, Rangga saat itu hanya mati bohongan.

__ADS_1


Ketika Rangga tahu bahwa dirinya sudah ketahuan, dia langsung menggunakan identitasnya sebagai putra orang kaya untuk mengancam dan berkata, “Cepat lepaskan aku. Nanti setelah kembali, aku masih bisa mempertimbangkan untuk mengampuni kalian.”


Kelvin hanya merasa ini sebuah lelucon.


“Tuan Muda Rangga, kamu bahkan sudah datang untuk meletakkan bom ledakan dan menginginkan nyawaku. Apakah menurutmu aku akan melepaskan kamu?” tanya Kelvin dengan wajah dingin.


Rangga menolak untuk jujur, dia malah tertawa sinis dan berkata, “Hmph! Apakah kamu punya bukti kalau aku yang meletakkan bom itu?”


“Bom itu memang sudah ada di sana, jadi apa hubungannya denganku?”


“Aku sarankan agar kalian segera lepaskan aku. Kalau tidak, kalian akan mati dengan lebih mengenaskan.”


Rangga tiba-tiba melihat ke arah Kelvin dan berkata dengan menggertakkan gigi, “Terutama kamu.”


Kelvin dapat merasakan kebencian Rangga yang sangat dalam padanya. Akan tetapi, Kelvin malah tidak peduli dan berkata dengan acuh tak acuh, “Mungkin aku hanya bisa bilang kalau kamu bodoh.”


“Kamu yang meletakkan bom ini atau bukan, itu sama sekali tidak penting. Yang terpenting adalah kamu berada di tanganku.”


“Kamu jangan lupa, di mata semua orang kamu adalah orang yang sudah mati. Jadi, sekalipun aku membunuhmu sekarang, juga tidak ada masalah sama sekali.”


“Apakah ayahmu yang kaya raya tersebut tidak memberitahu kamu bahwa pada saat seperti ini kamu jangan sembarangan keluar dulu?”


Begitu perkataan ini terlontarkan, Rangga benar-benar panik. Di balik matanya hanya ada ketakutan yang mendalam.


“Kelvin … kamu … kamu jangan macam-macam.” Nada bicara Kelvin mulai gagap dan sedikit pun tidak ada aura seperti tadi.


Kelvin malah hanya menatap Rangga dengan tersenyum dan tanpa berkata apa pun.


“Bawa dia dan Surya ke bawah. Jangan sampai mereka kabur,” ujar Kelvin pada satpam tiba-tiba.


Satpam menganggukkan kepala, lalu menyeret Rangga dan Surya ke bawah.


Suara teriakan minta ampun dan ketakutan semakin mengecil, lalu perlahan menghilang.


Pada saat ini, telepon Kelvin berdering. Meskipun nomor tak dikenal, Kelvin tahu siapa yang meneleponnya. Patricia.


“Kelvin, ada yang ingin aku bicarakan padamu.”


Benar saja, begitu telepon terhubung, suara Patricia terdengar.


“Oh? Apakah di antara kita masih ada yang perlu dibicarakan?” Tolak Kelvin tanpa basa-basi.


“Kamu tahu apa yang mau dibicarakan. Aku akan menunggumu di Plaza Village besok siang. Sampai jumpa.”


Selesai berbicara, Patricia langsung memutuskan panggilan.


Kelvin mendengus dingin. Dia ingin lihat Patricia masih memiliki cara licik apa.

__ADS_1


__ADS_2