
"Kelvin, apa maksud kamu? Apakah kamu sedang menantangku? ujar Patricia dengan wajah dingin.
"Kamu bisa menganggapnya seperti itu." Terdengar suara Kelvin dari balik telepon yang tampak acuh tak acuh.
Patricia menjawab dengan acuh tak acuh, “Hmph! Kelvin, apakah kamu masih belum mendapat pelajaran dari kejadian sebelumnya?”
“Apakah kamu benar-benar mengira bahwa hanya berdasarkan bukti yang dilontarkan oleh George, kamu sudah bisa menghancurkan Keluarga Pasetrio?”
“Hal ini paling-paling hanya membuat rumah sakit Keluarga Pasetrio ini tidak beroperasi beberapa hari saja dan tidak akan berdampak terlalu besar bagi kami.”
“Oh? Kebetulan sekali. Yang aku inginkan justru membuat rumah sakit Keluarga Pasetrio tidak beroperasi beberapa hari. Kalau begitu, tunggu saja.” Setelah Kelvin mengatakan hal itu, dia langsung memutuskan panggilan telepon.
Akan tetapi, rasa percaya diri dari ucapan Kelvin membuat Patricia mengerutkan kening.
Jelas-jelas Kelvin tahu bahwa dengan bukti ini saja dia tidak akan bisa menghancurkan Keluarga Pasetrio. Akan tetapi, dia malah menunjukkan rasa percaya diri seperti ini seolah kemenangan sudah berada di tangan dia.
Sebenarnya apa yang ingin Kelvin lakukan?
Perasaan pasif seperti ini membuat Patricia menjadi gelisah dan tidak bisa setenang sebelumnya.
Sialan!
Kelvin pasti sengaja, dia pasti ingin melihatnya seperti ini.
Pada saat ini, ponsel Jaka yang sedari tadi berdiri di samping dan tidak berani bersuara itu berdering. Namun, Jaka tidak berani mengangkat karena Patricia ada di tempat.
Patricia menoleh dan berkata dengan sinis, “Angkat.”
Setelah itu, barulah Jaka mengangat telepon. Ketika Jaka memutuskan panggilan telepon, raut wajahnya berubah menjadi sangat tidak enak.
Dia mendongakkan kepala melihat Patricia dan berkata, “Nona, barusan kantor istana memberikan perintah agar rumah sakit kita tutup sementara selama tiga hari. Setelah masalah selesai diselidiki, kita baru boleh beroperasi kembali.”
Plak!
Patricia langsung menepuk meja sambil memicingkan matanya. Ternyata benar seperti ini. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kelvin. Rumah sakit akan tutup sementara.
Selanjutnya, Kelvin akan melakukan apa?
__ADS_1
Patricia samar-samar merasa tidak tenang.
Duk!
“Nona, Presdir, gawat. Di depan pintu rumah sakit ada beberapa dokter praktik yang mendirikan tenda agar orang bisa berobat. Saat ini, semua pasien sudah ke tempat mereka untuk berobat.” Orang yang sebelumnya memberikan laporan kembali lagi dan masuk ke dalam dengan panik.
Sebuah kilatan cahaya terlihat di mata Patricia. Akhirnya dia tahu apa yang ingin Kelvin lakukan.
Ternyata dia sedang membuat rencana ini.
Ternyata Kelvin mengambil kesempatan untuk menarik perhatian pasien ke tempatnya selama Rumah Sakit Jakarta tidak beroperasi beberapa hari ini. Dia ingin memutuskan sumber ekonomi Keluarga Pasetrio.
Seandainya Rumah Sakit Jakarta milik Keluarga Pasetrio tidak memiliki pasien satu orang pun, lantas bagaimana rumah sakit masih bisa beroperasi?
Hmph!
Ternyata dia sudah menyiapkannya dengan matang. Akan tetapi, Patricia juga tidak akan percaya sepenuhnya bahwa Kelvin bisa merebut semua pasien rumah sakit hanya dalam waktu tiga hari.
Hanya saja, apabila Kelvin benar-benar berhasil melakukannya, rumah sakit benar-benar dalam keadaan gawat.
Tidak bisa, demi menghindari ini, Patricia harus tetap pergi untuk mengeceknya.
…
Di pinggir jalan seberang pintu masuk Rumah Sakit Jakarta ada beberapa tenda kecil yang dipenuhi orang. Orang-orang yang mengerumuni tenda tidak seperti biasanya, hampir semuanya memakai baju rumah sakit.
Orang-orang yang mengerumuni tenda adalah pasien.
“Dokter sakti, coba periksa aku. Aku merasa dadaku sesak dan kesulitan bernapas.”
“Periksa aku juga. Tangan kiriku selalu merasa keram, sekali keram bisa puluhan menit.”
“Dokter sakti, aku ….”
Pada saat ini, ada banyak pasien di tenda Kelvin yang sedang memberitahu Kelvin tentang situasi mereka sendiri.
Kelvin tersenyum karena orang-orang ini hanya sakit biasa. Dengan melihat sekilas dari energinya saja sudah terlihat.
__ADS_1
“Pegang yang benar. Seratus ribu sekali pengobatan dan penyakitmu akan sembuh.”
“Peganglah, punyamu sedikit lebih ribet, jadi harus dua kali pengobatan, dua ratus ribu.”
“ … “
Kelvin dengan cepat menulis resep dan satu per satu memberikannya pada beberapa pasien agar mereka bisa mengambil obat di klinik Candra. Di sana ada orang yang bertanggung jawab untuk mengurusnya.
Setelah beberapa pasien menerima resep obat, mereka semua terkejut karena mengetahui bahwa penyakit mereka hanya membutuhkan uang kurang dua ratus ribu untuk berobat.
Perlu diketahui, mereka perlu menghabiskan uang jutaan di Rumah Sakit Jakarta untuk menyembuhkan penyakit mereka.
Beberapa pasien menangis dan meratapi Kelvin yang begitu baik hati. Beberapa pasien bahkan tak henti berterima kasih pada Kelvin hingga berlutut. Setelah menunjukkan rasa terima kasih pada Kelvin, mereka pun mengambil resep dan beranjak pergi.
Kelvin tersenyum melihat pemandangan pasien pergi.
Jika dihitung dengan beberapa pasien barusan, hari ini pasien yang datang berobat sudah lima puluh orang. Kelvin menoleh melihat dua tenda lainnya yang ada di samping.
Candra dan cucunya, Nathan.
Mereka berdua jika digabungkan juga kurang lebih memiliki lima puluh orang pasien. Lalu, pasien yang datang berobat semakin banyak.
Apabila situasi terus berlanjut seperti ini, Kelvin yakin bisa membuat seluruh Rumah Sakit Jakarta kosong dari pasien dalam waktu kurang dari tiga hari.
Rumah Sakit Jakarta tidak beroperasi selama tiga hari, tetapi kondisi pasien di rumah sakit tidak bisa ditunda. Oleh karena itu, Kelvin sengaja memasang tenda di depan pintu rumah sakit sebagai tempat untuk praktik. begitu, pasien juga mudah untuk berobat.
Benar saja, Rumah Sakit Jakarta baru tutup sebentar, tendanya seketika sudah dipenuhi oleh pasien. Melihat situasi Kelvin yang menerima pasien, mau tak mau harus dikatakan bahwa Rumah Sakit Jakarta menipu.
Selama ini pasien tidak berdaya dan hanya bisa membayar biaya pengobatan saja.
Apa yang ingin dilakukan oleh Kelvin tidak hanya membuat rumah sakit gelap Keluarga Pasetrio bangkrut, dia ingin merusak kondisi yang ada saat ini dan memecahkan masalah kesulitan masyarakat Jakarta untuk berobat dan biaya pengobatan yang mahal.
Karena Kelvin tak hanya seorang dokter, tetapi juga seorang dokter yang memiliki hati nurani.
“Hancurkan tenda mereka! Siapa yang menyuruh kalian untuk memasang tenda di depan pintu rumah sakit kami?”
Ketika Kelvin sedang menerima pasien, sekelompok orang tiba-tiba menyerang dengan ganas ingin menghancurkan tenda Kelvin.
__ADS_1
Tatapan mata Kelvin menjadi dingin. Apakah orang-orang ini ingin mencari mati?