
"Hancurkan! Hancurkan semuanya!"
Pada saat ini, ada seorang pria muda berjas putih mengarahkan sekelompok gengster untuk menghancurkan tenda Kelvin yang berada tidak jauh dari tenda.
Pria muda tersebut bernama Billy. Dia adalah seorang ahli bedah di Rumah Sakit Jakarta. Selain itu, dia juga memiliki identitas lain, yaitu keponakan dari Jaka, Presdir Rumah Sakit Jakarta.
Awalnya, Jaka berjanji kepadanya bahwa dia akan dipromosikan menjadi direktur ahli bedah dalam dua hari terakhir ini.
Billy sudah sangat bersemangat karena akan segera naik pangkat, tetapi dia tiba-tiba diberitahu bahwa rumah sakit ditutup selama tiga hari. Masalah kenaikan jabatan Billy pun akhirnya tertunda.
Sejak awal hatinya sudah membara. Lalu, ketika dia melihat Kelvin memasang tenda di depan pintu rumah sakit, kebetulan dia menjadikan Kelvin sebagai tempat pelampiasan.
Yang terpenting adalah Billy merasa bahwa ini adalah kesempatan yang baik baginya untuk berkontribusi. Karena baginya, kedatangan Kelvin ke rumah sakit untuk membuat keributan.
Dengan Billy menghancurkan tenda Kelvin, itu berarti sedang membantu pamannya, Jaka, untuk menyelesaikan sebuah masalah besar. Oleh karena itu, Billy langsung membayar sekelompok gengster dengan menghabiskan uang dua puluh juta.
“Hancurkan! Hancurkan sampai habis,” teriak Billy dengan semangat.
Ketua gengster itu berkepala botak, berbahu besar, berperut buncit dan memiliki bekas luka di wajahnya. Wajahnya juga tampak garang. Biasanya anak buahnya memanggilnya dengan sebutan Kak Baret.
Dengan diam berdiri saja, Baret sudah mampu membuat semua orang takut.
Baret perlahan berjalan ke depan tenda Kelvin dengan dikelilingi anak buahnya. Lalu, dia melihat Kelvin dengan belagu dan mengancam, “Kamu menghancurkannya sendiri atau kami bantu menghancurkannya?”
Belum sempat Kelvin berbicara, pasien-pasien yang berada di samping tenda sudah membelanya. Tidak mudah bagi mereka menemukan seorang dokter dengan keterampilan medis yang hebat dan juga mematok harga murah.
Bagaimana mungkin mereka akan membiarkan para gengster ini menghancurkan tenda?
Oleh karena itu, semua orang melawan dan berkata, “Tidak boleh, kamu tidak boleh menghancurkannya.”
“Atas dasar apa kamu menghancurkannya? Kami tidak setuju.”
“Kalau menghancurkan tenda, siapa yang akan memeriksa kami?”
__ADS_1
Semua pasien merasa keberatan dan mengeluh dengan tidak senang.
Namun, Baret sama sekali tidak peduli. Dia menoleh dan menatap sekelompok pasien tersebut dengan tatapan mata galak. Lalu, dia mengucapkan satu kata dengan dingin.
“Pergi!”
Dalam waktu kurang dari satu menit, pasien yang tadi menggebu-gebu pun pergi. Meskipun mereka tidak bersedia jika Baret menghancurkan tenda Kelvin, mereka lebih tidak ingin mempertaruhkan nyawa mereka.
Pada saat ini, Baret menoleh dan bertanya sekali lagi pada Kelvin, “Kamu mau menghancurkannya sendiri atau aku yang bantu kamu menghancurkannya?”
Tak jauh dari sana, Candra dan Nathan yang juga memasang tenda ikutan panik hingga berdiri.
Kelvin pun memberikan isyarat mata tenang pada Candra dan Nathan. Setelah itu, dia baru menoleh dan menatap balik tatapan Baret. Lalu, dia berkata, “Kamu bekerja untuk siapa?”
Baret tertegun sejenak. Dia tidak menyangka Kelvin akan bertanya seperti itu.
Setelah sadar dari lamunannya, Baret mulai merasa ragu. Jangan-jangan pemuda ini memiliki latar belakang yang sangat hebat?
Jika tidak, mana mungkin dia seorang diri berani berbicara dengan sikap begitu tenang pada mereka yang berkelompok?
Baret tidak memedulikan Billy. Dia malah menatap Kelvin dan menjawab pertanyaan Kelvin, “Kak Demon dari klub malam.”
Ketika Kelvin mendengar nama Demon, dia tertawa. Kak Demon berarti Demon anak buahnya Shendy.
Kelvin tiba-tiba mengeluarkan ponsel dan menyodorkan ponsel kepada Baret. Lalu, tersenyum berkata, “Telepon Demon dan beritahu dia bahwa namaku Kelvin. Baru setelah itu kamu ambil keputusan untuk menghancurkan tenda atau tidak.”
Baret melihat Kelvin menyodorkan ponsel padanya, ambil atau tidak ambil?
Seketika, Baret pun tercengang. Selama menjadi gengster beberapa tahun ini, pertama kalinya dia bertemu dengan masalah seperti ini.
Bagaimana kalau Kelvin benar-benar memiliki latar belakang yang hebat?
Tepat ketika Baret sedang ragu ingin mengambil ponsel tersebut untuk menelepon Demon atau tidak, Billy yang berada di samping sudah tidak bisa menahan diri.
__ADS_1
“Sial! Kalau kalian tidak mau menghancurkannya, aku yang akan menghancurkannya sendiri.”
Brak!
Setelah Billy memaki, dia melempar jarum, obat-obatan dan semua barang yang ada di tenda hingga berantakan.
Tak hanya itu, Billy bahkan menginjak barang-barang tersebut dengan sekuat tenaga. Di antaranya ada banyak sekali botol obat yang diinjak sampai hancur olehnya.
Baret hanya melihat Billy menghancurkan tenda Kelvin tanpa berniat untuk menghalanginya. Dia ingin melihat reaksi Kelvin. Dia ingin melihat apakah Kelvin hanya menakut-nakutinya saja atau bukan.
Jika Kelvin benar-benar memiliki latar belakang yang tidak biasa, bagaimana mungkin dia hanya diam saja dan membiarkan Billy semena-mena?
Pada saat ini, Kelvin melihat Baret sekilas sambil menggelengkan kepala dan menghela napas.
“Hah, kenapa kamu tidak percaya?”
“Jelas-jelas aku sudah memberi kesempatan untukmu. Sayangnya, kamu tidak mengambil kesempatan ini.”
“Apa boleh buat, kamu sendiri yang mencari mati.”
Kelvin menarik kembali ponselnya dan menelepon seseorang.
“Halo, aku Kelvin.”
“Tuan Kelvin, apakah ada urusan yang bisa aku bantu?”
“Shendy, coba tanya anak buahmu, Demon, apakah dia memiliki anak buah bernama Baret?”
“Aku tahu ini. Demon memang memiliki anak buah bernama Baret. Kenapa dia? Apakah dia mencari masalah pada Anda?”
“Um, dia membawa sekelompok orang untuk menghancurkan tendaku.”
“Apa?! Tuan Kelvin, Anda tunggu sebentar, aku dan Demon akan segera ke sana.”
__ADS_1
Kelvin tidak menelepon Demon, dia justru langsung menelepon bos klub malam, Shendy. Setelah Kelvin memberitahu alamatnya kepada Shendy, dia memutuskan panggilan telepon.
Kemudian dia tersenyum pada Baret dan berkata, “Sudah terlambat kalau menyesal sekarang. Kamu akan mengalami kesialan.”