Dokter Jenius Pertama

Dokter Jenius Pertama
Bab 21. Melakukan Kejahatan Diam-diam


__ADS_3

Faisal benar-benar sangat berhati-hati. Bahkan, jika hanya ada sedikit risiko pun, dia juga akan membunuh orang tersebut sebelum terjadi sesuatu yang lebih parah.


Kelvin menghentikan tangannya. Dia mendongakkan kepala, lalu menatap Faisal yang tampak sangat waspada dan tersenyum, “Virus yang ada di dalam tubuh putra sulungmu sudah menyebar ke seluruh tubuh. Organ dalamnya bahkan hampir hancur karena virus. Kondisi tubuhnya saat ini lebih parah daripada adikku. Jadi, tempat untuk keluarnya virus itu tidak hanya jari saja, tapi juga dari kedua lututnya.”


Setelah Kelvin menjelaskannya, Faisal pun sudah tidak berkata apa-apa lagi.


Ekspresi wajah Faisal jauh lebih santai, tetapi dia masih tidak bisa benar-benar mempercayainya.


Pada saat ini, Kelvin menunjuk ke arah Atta yang berada di samping Faisal dan tersenyum berkata, “Di sini ada dia, kalau selama proses pengobatan aku melakukan sesuatu yang aneh, dia pasti bisa melihatnya.”


"Lagipula, barusan dia terus menatapku seperti ini, ya 'kan?" Kelvin menatap Atta dengan tersenyum sedikit.


Sangat jelas, perkataan Kelvin ini ingin memberitahu Faisal bahwa dia mendengar semua perbicaraan Faisal dan Atta barusan.


Faisal menyipitkan matanya. Lalu, dia pun tertawa terbahak-bahak.


"Baiklah. Karena kamu, dokter genius, sudah berbicara seperti itu, maka lakukanlah!"


Atta bisa berada di sini tentu saja untuk menghentikan Kelvin jika mendadak dia melakukan sesuatu selama proses pengobatan.


Jelas, Kelvin sejak awal sudah menebaknya begitu melihat Atta.


Kelvin membalikkan badan dan tak lagi berbicara. Selanjutnya, dia dengan cepat memasukkan dua jarum emas ke titik Heyang dan titik Xuehai di kedua lutut Morgan. Dia melakukannya sebanyak tiga kali.


Kemudian, pada saat bersamaan, Kelvin memasukkan jarum emas ke ujung jari dan ujung lutut Morgan untuk mulai mengalirkan darah.


Lalu, Alexander meletakkan sebuah baskom di bawahnya.


Tak lama kemudian, darah terus mengalir keluar. Bagi Kelvin, dalam darah tersebut juga tercampur dengan gas hijau dan warnanya jauh lebih pekat dibandingkan Kelly.


Darah pun mengalir keluar begitu saja.


Darah yang ada di wajah Morgan juga perlahan menghilang.


Ekspresi wajah Faisal juga semakin tidak enak. Jika terus seperti ini, belum juga penyakitnya disembuhkan, orangnya sudah keburu mati.


"Mengeluarkan darah seperti ini membutuhkan waktu berapa lama?" tanya Faisal.


"Satu menit," jawab Kelvin.


Mendengar itu, Faisal baru menghela napas lega. Akan tetapi, dia masih tidak tenang dan melihat Atta yang berdiri di samping dan terus mengamati Kelvin.


Tatapan mata itu tentu saja sedang menanyakan sesuatu kepada Atta mengenai apakah langkah yang dilakukan Kelvin ada yang aneh atau tidak.

__ADS_1


Atta melihat ke arah Faisal dan menggelengkan kepala yang berarti tidak ada masalah.


Setelah itu, Faisal baru benar-benar lebih tenang.


Kemudian, Kelvin berdiri, lalu berbalik badan dan berkata pada Faisal, "Aku sudah mengeluarkan virus yang ada di dalam tubuhnya, tak lama lagi dia akan sembuh."


Faisal yang sudah berusia lima puluh langsung merasa sangat bersemangat ketika mendengar informasi ini.


Akhirnya dia berhasil menyembuhkan penyakit putra sulungnya.


"Butuh berapa lama?!" Kedua mata Faisal tampak berbinar-binar.


"Satu tahun!" jawab Kelvin dengan jujur.


Ekspresi senang di wajah Faisal seketika membeku.


Satu tahun, ternyata masih membutuhkan waktu satu tahun.


Jika begitu, apa bedanya dengan orang koma. Seandainya ada cara yang bisa membuatnya untuk segera sadar ....


Kelvin seolah bisa membaca pikiran Faisal, lalu dia pun akhirnya membuka suara, "Aku bisa membuatnya segera sadar, tapi aku butuh satu barang."


"Barang apa?" tanya Faisal dengan buru-buru.


Faisal mengambil resep tersebut dan melihatnya, kemudian, memberikannya kepada Atta.


Atta menggelengkan kepala pada Faisal yang artinya tidak ada yang salah dengan resep ini.


Alexander mengambil resep tersebut. Lalu, dia menganggukkan kepala dan membalikkan badan keluar dari kamar.


Cara kerja Alexander dapat dikatakan sangat cepat. Dalam waktu kurang dari setengah jam, dia sudah membawa sebungkus ramuan herbal masuk.


"Rebus ramuan herbal ini hingga menjadi bubur obat. Setelah itu, berikan kepada pasien. Ingat! Hanya butuh sepuluh menit."


Alexander keluar lagi dengan membawa ramuan herbal tersebut. Agar tidak salah, kali ini Atta pun mengikuti Alexander keluar.


Sepuluh menit kemudian, Alexander dan Atta masuk ke dalam kamar. Alexander masuk dengan membawa semangkuk bubur obat.


Ketika mereka berdua masuk, Faisal mengerutkan kening dan menutup hidungnya, karena bubur ini sangat bau dan benar-benar membuat diri menjadi mual.


Alexander dan Atta juga mengerutkan kening menahan bau yang tidak enak ini. Hanya Kelvin seorang yang tampak baik-baik saja.


"Suapkan itu pada pasien," jawab Kelvin sambil menunjuk Morgan yang terbaring di kasur.

__ADS_1


Alexander membawa obat tersebut sambil menahan bau yang tidak enak. Lalu, dia menuangkan obat tersebut ke dalam mulut Morgan.


"Uhuk!"


Begitu obat tersebut dituangkan, Morgan yang awalnya tampak seperti orang mati itu pun mengeluarkan suara batuk.


Kemudian, dia perlahan-lahan membuka matanya. Lalu, memanggil kata 'ayah' dengan lemah begitu melihat Faisal.


Faisal pun tercengang.


Sebelumnya dokter mengatakan bahwa nyawa putra pertamanya hanya tersisa tiga hari lagi, tetapi saat ini dia sudah berhasil diselamatkan.


Ajaib, benar-benar ajaib.


Ekspresi wajah Faisal tampak bahagia, tangannya bahkan sampai gemetaran karena terlalu bersemangat.


Namun, dia segera memaksakan diri untuk tetap tenang dan memberikan tatapan isyarat pada Atta yang berdiri di samping.


Dia meminta Atta untuk memeriksa kondisi tubuh Morgan.


Atta maju dan memerika tubuh Morgan. Lalu, dia membalikkan badan dan berkata pada Faisal dengan penuh semangat, "Tuan Faisal, tuan muda pertama sudah sepenuhnya pulih."


Faisal tertawa, ini adalah tawaan paling tulus pertama kalinya selama beberapa tahun ini.


Akan tetapi, sebuah suara menghentikan suara tawa Faisal.


"Tuan Faisal, karena tuan muda Morgan sudah tidak apa-apa, apakah aku sudah bisa membawa adikku pergi?"


Faisal membalikkan badan. Orang yang sedang berbicara tersebut adalah Kelvin.


Kelvin melihat Faisal yang tampak begitu girang dan kembali berkata, "Dia hanya perlu beristirahat tiga sampai lima hari untuk kembali seperti orang normal. Jadi, sekarang aku sudah bisa pergi, 'kan?"


Faisal menarik kembali senyumannya dan melihat Kelvin dengan tatapan mata menyipit. Setelah terdiam beberapa saat, dia kembali tertawa.


Faisal melambaikan tangan, lalu memberikan sebuah isyarat 'mempersilakan' dan berkata, "Tentu saja, silakan."


Kelvin sudah tidak berbicara banyak lagi. Dia membalikkan badan dan pergi meninggalkan kamar Morgan.


Setelah Kelvin pergi, ekspresi wajah Faisal berubah serius kembali.


"Tuan, apakah kamu benar-benar membiarkan anak itu pergi begitu saja?" Alexander yang berdiri di samping segera maju dan bertanya.


Mata Faisal tampak berbinar dan berkata dengan dingin, "Tentu saja. Tentu saja dia harus keluar dari kediaman Keluarga Pasetrio dengan keadaan hidup. Tapi, kalau dia mati di luar sana, itu sudah tidak ada urusannya dengan kita. Mengerti?"

__ADS_1


Seketika, Alexander mengerti apa maksud Faisal. Dia menganggukkan kepala dan berkata, "Tunggu dia pergi dari kediaman Keluarga Pasetrio. Aku akan membawa beberapa anak buah dan memastikan agar dia mati tanpa ada urusannya sama sekali dengan Keluarga Pasetrio."


__ADS_2