
“Cepat, cepat, berhenti, berhenti.” Rangga berteriak pada supir seperti orang gila.
Barusan dia melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri bahwa mobil Alexander menuruni jalan gunung.
Setelah itu, terdengar suara mobil mendarat di tanah.
Bagaimanapun, jalan gunung ini memiliki ketinggian beberapa meter, makanya kecepatan turun ke bawahnya sangat cepat.
Tanpa perlu dipertanyakan lagi, mereka pasti sudah mati.
Awalnya dia juga ingin meminta supir untuk berbelok di tikungan.
Namun, ketika dia melihat sebuah mobil diparkir di depan, dia baru mengerti kenapa Alexander tiba-tiba mengerem mendadak.
Hanya saja, karena kecepatannya terlalu cepat, mobil gagal berhenti dan malah meluncur dari jalan gunung dan jatuh di bawah gunung.
Rangga pun tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak dan mendesak supir untuk berhenti.
Gila! Apakah dia ingin mati?!
Rem mobil sudah ditekan sepenuhnya, tetapi mobil masih tidak bisa berhenti dan terus maju ke depan.
Pada saat ini, tubuh sopir juga sudah dibanjiri keringat dan semua orang gemetar ketakutan.
Rangga memakinya, lalu mengambil alir setir. Lalu, kakinya juga ikut menginjak rem mobil.
Citt!
Ban bergesekan dengan tanah, membuat suara yang keras.
Rangga menghela napas panjang, akhirnya mobil berhenti.
Tapi, dalam sekejap, dia panik lagi.
Mobil memang sudah berhenti, tetapi setengah dari badan mobil ini melayang di udara.
Jika pada saat ini, seseorang datang dan mendorong dengan pelan, dia pasti akan mati.
Dia melihat mobil Alexander yang ada di bawah. Pada saat ini, mobil itu sudah hancur berantakan dan seluruh mobilnya terbalik.
Orang-orang di dalam mobil tidak ada yang bergerak sama sekali. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi, mereka pasti sudah mati.
__ADS_1
Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Pengorbanan ini terlalu sia-sia.
Hanya saja semakin dia takut akan sesuatu, hal tersebut semakin mendekat. Dia melihat ada dua orang yang mendekat.
Rangga merasa cemas dan marah. Dua orang itu adalah Kelvin dan Kiara, sasaran yang mereka kejar barusan.
Sialan!
Pada saat ini, Kelvin perlahan berjalan menuju mobil Rangga.
Apalagi, setengah dari mobil Rangga melayang di udara. Jika Kelvin ingin Rangga mati, dia hanya perlu mendorongnya dengan pelan. Setelah itu, Rangga bisa hancur berkeping-keping.
Pada saat ini, dua mobil yang mengikuti mobil Rangga berhenti.
Tak lama, lebih dari belasan orang berpakaian hitam keluar dari mobil bersama-sama. Mereka terlihat sangat galak dengan senjata di tangan mereka. Kemudian, mereka langsung mengepung Kelvin dan Kiara.
Orang-orang ini memiliki lengan besar dan pinggang bundar dengan wajah garang. Hanya dengan melihat sekilas pun tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah terbiasa membunuh orang dan preman profesional.
Rangga menghela napas lega ketika dia melihat pemandangan ini.
Untung, kali ini dia membawa banyak orang. Setelah mereka menyingkirkan Kelvin, mereka bisa menarik mobilnya kembali.
Tatapan mata Rangga ke Kelvin menjadi dingin lagi.
Saat ini, Rangga hanya ingin Kelvin mati sesegera mugkin.
Mengenai Kiara, dia akan menikmatinya terlebih dahulu. Lagi pula, kakaknya juga tidak akan bisa bertahan hidup.
Setelah belasan orang berpakaian hitam mendengar ucapan Rangga, mereka saling memandang sebentar. Kemudian, mereka mulai mendekati Kelvin dan Kiara selangkah demi selangkah.
Kelvin menyipitkan matanya, ‘Memang ya kalau anak orang terkaya di Jakarta pasti bisa langsung
menemukan begitu banyak anak buah dalam sekejap.’
Meskipun Kiara adalah putri dari Keluarga Wijaya, dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan selalu tenang dalam menghadapi situasi apapun.
Akan tetapi, dia tidak pernah bertemu dengan begitu banyak preman, jadi seketika dia sangat takut hingga menarik lengan baju Kelvin.
Kelvin merasakan kegugupan Kiara. Dia menepuk tangan Kiara dengan lembut dan berkata, “Jangan takut, tutup matamu. Semua akan segera baik-baik saja.”
Pada saat ini, Kelvin memberi Kiara rasa aman yang besar.
__ADS_1
Selama ini, Kiara selalu terlihat sangat kuat, tapi kali ini dia merasa seperti gadis kecil.
Perkataan Kelvin dengan mudah meyakinkannya. Ini adalah perasaan yang tidak pernah diberikan oleh ayahnya.
Kiara benar-benar menutup matanya.
Saat dia menutup matanya, Kiara merasakan hembusan angin bertiup melewatinya. Dia tahu, Kelvin sudah maju. Setelah itu, terdengar suara jeritan yang tiada henti. Semua orang menangis dan meminta ampun.
“Sudah, kamu sudah bisa membuka matamu.” Kali ini suara Kelvin yang terdengar.
Kiara membuka matanya dan melihat lebih dari belasan orang berpakaian hitam tergeletak di tanah dengan luka serius dan tampak meratapi.
Akan tetapi, Kelvin malah berdiri di depannya tanpa terluka sama sekali.
Kelvin yang menghadapi semua orang ini sendirian?
Meskipun dia sudah samar-samar menebak bahwa hasilnya akan seperti ini, dia tetap masih terkejut ketika dia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Ternyata Kelvin begitu hebat dalam berkelahi.
“Kelvin, katakan padaku dengan jujur, apa pekerjaanmu dulu?” Kiara menatap mata Kelvin, mencoba mencari jawaban dari mata Kelvin.
“Tentu ketika pertama kali kamu melihatku yaitu membuka klinik,” kata Kelvin jujur.
Kiara memutar bola matanya ke arah Kelvin, lelucon macam apa ini?
Seandainya hanya pemilik klinik, bagaimana bisa Kelvin memiliki keahlian mengemudi dan keahlian bela diri yang begitu hebat?
“Kelvin, aku peringatkan kamu ya! Kamu dan aku sudah menikah. Kalau sampai kamu berani membohongi aku, aku tidak akan mengampuni kamu!” Kiara tiba-tiba menjadi serius, kekuatan Nona besar Keluarga Wijaya kembali dalam sekejap.
“Aku tidak akan berbohong padamu.” Kelvin menatap wajah Kiara dan berkata dengan serius.
Baru saat itulah alis berkerut Kiara menjadi rileks.
Tiba-tiba suara mobil bergetar terdengar. Kelvin menghadap ke arah suara itu berasal dan menatap Rangga yang berada tidak jauh.
Pada saat ini, wajah Rangga ketakutan hingga pucat pasi. Rangga tidak menyangka bahwa belasan preman yang dia rekrut akan kalah begitu saja melawan Kelvin dan dalam waktu sesingkat itu. Bahkan, tak sampai satu menit.
Sebenarnya Kelvin ini manusia atau setan?!
Rangga pun merasa takut begitu merasakan pandangan Kelvin. Pada saat ini, dia hanya merasa ngeri terhadap kelvin.
__ADS_1
“Kelvin, a … apa yang ingin lo lakukan?” ujar Rangga dengan panik.
Kelvin tersenyum, lalu perlahan berjalan menghampiri mobil Rangga. Kemudian, dia menggunakan tangan untuk menepuk pelan mobil tersebut sambil setengah bercanda, “Gue lagi mempertimbangkan, mau mengantar lo untuk mati atau tidak.”