Dokter Jenius Pertama

Dokter Jenius Pertama
Bab 39. Panggil Anak Buah? Panggil Lebih banyak


__ADS_3

Perkembangan Grup Nasution beberapa tahun ini sangat baik. Apalagi, Dimas, CEO perusahaan yang sudah berpihak pada Faisal, orang terkaya di Jakarta. Tentu perkembangan perusahaan semakin membaik.


Seluruh pasar bahan obat di Jakarta sudah di bawah kendali Dimas.


Setelah memiliki uang, ruang kantornya pun menjadi sangat mewah.


Grup Nasution terletak di tempat paling strategis di Jakarta.


Di bawah gedung Grup Nasution, Kelvin berjalan ke depan meja resepsionis dan berkata, "Beri laporan pada CEO kalian, katakan bahwa menantu dari Keluarga Wijaya datang mencarinya, ada urusan."


Setelah itu, resepsionis pun melakukan panggilan.


"Kata CEO kami, dia tidak ingin menemui kamu, kecuali minta istrimu yang datang." Selesai memutuskan panggilan, resepsionis menyampaikan perkataan Dimas pada Kelvin.


Tatapan mata Kelvin menjadi dingin. Dimas ini beraninya mempunyai ide untuk mendekati Kiara di hadapannya langsung.


Saat ini, Kiara sudah menjadi istrinya, siapapun tidak ada yang boleh merebutnya.


"Kamu beri tahu dia, nanti dia bisa bertemu dengan istriku," ujar Kelvin.


Resepsionis kembali menelepon. Lalu, dia mengangguk kepada Kelvin dengan maksud Kelvin dipersilakan masuk.


Kelvin pun masuk ke dalam dengan ekspresi dingin.


...


Ruangan kantor CEO.


Dimas bersender di kursi bos dengan kedua kaki diangkat ke atas meja.

__ADS_1


Wajahnya tampak memperlihatkan senyum sinis.


Kiara adalah putri dari Keluarga Wijaya dan dia sangat cantik. Sejak awal dia sudah mengincarnya. Hanya saja, karena dia adalah nona putri dari keluarga kaya kedua di Jakarta, dia tidak memiliki kesempatan. Oleh karena itu, dia pun tidak berani untuk mengincarnya.


Dia sering berfantasi tentang Kiara yang melayaninya. Saat ini, kesempatan itu sudah datang.


Faisal, orang terkaya di Jakarta ingin menjatuhkan Keluarga Wijaya, tentu saja keluarga kaya lainnya juga tidak akan ketinggalan dan menginginkan harta Keluarga Wijaya juga.


Keluarga Wijaya seketika pun menjadi goyah.


Di hadapan semua orang, Keluarga Wijaya saat ini adalah sepotong daging. Siapapun ingin memakannya. Sedangkan Dimas, dia tidak ingin apapun dari Keluarga Wijaya, karena dia hanya ingin mencicipi seperti apa Kiara.


Hehehe, dia baru saja berpikiran seperti itu. Akan tetapi, Kiara sudah mengirim suaminya yang murahan itu untuk datang sendiri ke sini.


"Klik!"


Emosi Dimas langsung naik dan berteriak, "Apakah kamu tahu tempat apa ini? Siapa yang menyuruhmu masuk?"


Tentu saja pemuda tersebut adalah Kelvin.


Kelvin tidak menjawab pertanyaan Dimas dan langsung menutup pintu kantornya, kemudian, berjalan santai ke hadapan Dimas dan duduk. Setelah itu, dia bekata, "Bukankah kamu yang menyuruhku masuk?"


Mata Dimas menyipit, "Kamu adalah suami murahan Kiara?"


Kelvin menganggukkan kepala.


Dimas mendengus dingin dan tatapan matanya sangat meremehkan Kelvin. Kemudian, dia menyalakan sebatang rokok dan menghembuskan asapnya keluar. Setelah itu, dia melempar korek api ke atas meja dan terlihat sangat angkuh ketika bertanya, "Kapan Kiara akan datang?"


Kelvin tersenyum, "Kamu maju mendekat sedikit baru aku memberitahumu."

__ADS_1


Dimas merasa bahwa Kelvin tidak akan mungkin seberani itu di wilayahnya sendiri. Oleh karena itu, dia merasa Kelvin tidak akan melakukan sesuatu padanya, jadi dia pun mendekat.


Ekspresi wajah Kelvin dingin.


Plak!


Kelvin tiba-tiba main tangan. Sebuah tinjuan langsung menghantam wajah Dimas hingga dia berteriak kesakitan.


Akan tetapi, Kelvin sama sekali tidak berhenti. Satu pukulan, dua pukulan, tiga pukulan .... hingga sepuluh pukulan baru Kelvin berhenti.


Tulang hidung Dimas bahkan sampai patah dan mulutnya penuh dengan darah.


"Beberapa pukulan barusan, hanya untuk bantu kamu mengusir pemikiran yang tidak seharusnya kamu pikirkan. Sekarang, saatnya membicarakan hal penting."


Kelvin mengambil rokok yang ada di atas meja tanpa rasa sungkan dan menyalakannya. Selanjutnya, dia menghembuskan asapnya dan berkata, "Buka harga, aku mau semua bahan obat yang kamu miliki."


Plak!


Kelvin menepuk selembar kertas di atas meja dan berkata, "Ini daftarnya."


Pada saat ini, Dimas bahkan merasa sakit saat bernapas. Tatapan matanya dipenuhi dengan api membara dan ingin rasanya dia membunuh Kelvin. Jadi, bagaimana mungkin dia akan melihat resep yang diberikan Kelvin.


Dimas merobek kertas yang tertulis resep tersebut hingga hancur, kemudian berteriak pada Kelvin, "Sialan! Percaya tidak aku akan memanggil anak buahku untuk membunuhmu!"


Kelvin dengan inisiatif mengambil ponsel Dimas yang ada di atas meja kepada Dimas, lalu mengayunkan tangannya dan berkata, "Telepon sekarang, jangan lupa panggil lebih banyak lagi. Kalau nanti baru mau membicarakan hal penting juga boleh."


Seketika, Dimas pun terkejut.


Sialan, sebenarnya manusia macam apa ini?

__ADS_1


__ADS_2