
Saat ini, Patricia bersandar ke dinding dengan posisi tampak menawan di depan pintu klinik.
Melihat tatapan mata Kelvin, Patricia berpura-pura takut dan berkata, "Aduh, jangan menatapku seperti itu, aku takut."
Kelvin tersenyum dingin.
"Kamu yang melakukan sesuatu terhadap pabrik farmasi Keluarga Wijaya, 'kan?" tanya Kelvin dengan dingin.
Patricia tersenyum sambil berjalan maju ke depan. Di tubuhnya ada aroma yang sangat harum dan sangat mudah membuat orang menjadi mabuk. Akan tetapi, Kelvin malah diam saja karena energi spiritual di dalam tubuhnya bisa tetap membuatnya tampak tenang.
Patricia sedikit terkejut karena Kelvin tidak bereaksi sama sekali terhadap aroma di tubuhnya, jadi dia merasa sedikit kecewa.
Sebelumnya, dia selalu mengandalkan aroma harum di tubuhnya ini untuk mendapatkan hati para pria yang hebat. Akan tetapi, karena Patricia bukan orang yang biasa, dia segera menyesuaikan diri lagi.
Dia mendekati telinga Kelvin, lalu berbicara dengan suara yang hanya didengar olehnya dan Kelvin saja, "Tentu saja aku yang melakukannya. Nanti masih ada banyak pasien yang akan kambuh karena mengonsumsi obat dari pabrik Keluarga Wijaya dan saat ini ranjang di klinik sudah penuh lho! Sekalipun keterampilan medismu hebat, memang kamu sanggup mengobati begitu banyak orang? Aku akan memberitahumu satu informasi lagi, nanti akan ada pasien dan keluarga pasien yang tak terhitung jumlahnya pergi demo untuk menghancurkan Keluarga Wijaya. Coba bayangkan saja adegan tersebut, pasti sangat spektakuler."
"Oh iya! Kenapa aku bisa sampai lupa, penyakit koroner pasti bisa membuat orang mati, 'kan? Nanti kalau ada ratusan bahkan ribuan orang yang mati, istrimu dan mertuamu pasti harus masuk penjara juga, 'kan?" Patricia tiba-tiba berekspresi seolah-olah terkejut dan berkata dengan suara rendah.
"Oh tidak, sebagai menantu Keluarga Wijaya, kamu juga mempunyai tanggung jawab itu lho! Jadi, kamu juga harus masuk penjara. Ah, aku rasanya tidak rela kalau harus melihatmu masuk penjara," ujar Patricia lagi.
Kemudian, Patricia berjalan mundur beberapa langkah dan kembali berdiri di posisi semulanya sambil tersenyum menutup mulutnya. Orang yang tidak tahu mungkin akan mengira bahwa Patricia dan Kelvin adalah sepasang kekasih yang sedang bisik-bisik.
Kelvin tersenyum dingin di dalam hatinya. Dia kurang lebih sudah tahu temperamen wanita ini.
Jika dia merasa bahwa semuanya berada di bawah kendalinya, dia akan mempermainkan Kelvin seperti yang dia lakukan pada Kelvin barusan. Akan tetapi, ketika situasinya berada di luar kendalinya, maka dia akan marah. Misalnya seperti apa yang terjadi di ruang tamu Keluarga Wijaya sebelumnya, ketika dia gagal mempermainkan Kelvin dan malah dipermalukan balik oleh Kelvin.
"Mungkin saja, aku benar-benar bisa menyembuhkan semua pasien," ujar Kelvin sambil tersenyum.
Patricia tercengang sejenak dan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"Oh ya? Kalau begitu, aku akan menunggu dan melihat hasilnya. Tapi, aku tetap ingin mengatakan satu hal, aku berharap pertemuan kita berikutnya bukan di rumah sakit ya." Selesai Patricia berbicara, dia langsung membalikkan badan dan pergi.
__ADS_1
Di balik perkataannya, tentu ada ancaman pada Kelvin.
"Kelvin, kalau aku tidak salah lihat, wanita ini sepertinya anak angkat Faisal, 'kan? Dia datang ke sini untuk membicarakan apa padamu?" tanya Candra sambil berjalan mendekat dan melihat punggung Patricia yang pergi menjauh.
Pembicaraan Kelvin dan Patricia barusan hanya bisa didengar oleh mereka berdua, jadi Candra dan yang lainnya tidak mendengar pembicaraan mereka berdua.
Nathan juga melihat ke arah mereka, dia juga penasaran apa yang dikatakan wanita tersebut pada Kelvin.
"Katanya, setelah ini akan ada semakin banyak pasien yang kambuh karena mengonsumsi obat yang diproduksi oleh Keluarga Wijaya. Lalu, akan ada ratusan bahkan ribuan pasien dan keluarga pasien yang akan pergi demo kepada Keluarga Wijaya. Nanti, setelah banyak orang yang mati, aku dan Keluarga Wijaya harus masuk penjara," jawab Kelvin dengan jujur.
Ekspresi wajah Candra terkejut dan kepikiran satu kemungkinan. Semua ini dilakukan oleh mereka? Kelvin tahu apa yang ada di pikiran Candra dan menganggukkan kepala.
Candra benar-benar sangat terkejut. Bagaimana bisa mereka begitu kejam? Hanya demi menjatuhkan Keluarga Wijaya, mereka bahkan menjadikan puluhan ribu nyawa sebagai taruhannya.
"Prioritas utama kita sekarang adalah menyembuhkan semua pasien," ujar Kelvin tiba-tiba.
Meskipun Patricia melakukan sesuatu terhadap pabrik farmasi Keluarga Wijaya hingga membuat obat Keluarga Wijaya mengalami masalah, tapi mereka tidak punya bukti untuk membuktikannya.
Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengatasi kesulitan saat ini adalah dengan menyembuhkan semua pasien yang kambuh karena mengonsumsi obat yang diproduksi oleh Keluarga Wijaya.
"Apakah kamu sanggup untuk mengobati mereka semua?" Candra merasa bahwa Kelvin sudah gila.
Meskipun keterampilan medis Kelvin hebat, tapi di sini ada ratusan pasien dan terus bertambah.
Apakah ini bisa diobati semua?
Kelvin menggelengkan kepala dan berkata, "Kalau menggunakan akupuntur, tentu saja tidak akan bisa. Tapi, aku memiliki resep yang bisa digunakan untuk membuat pil obat dan sangat manjur untuk menyembuhkan penyakit jantung koroner."
Kelvin mengambil pen dan kertas, kemudian menulis resep tersebut dan memberikannya pada Candra.
"Luar biasa!" Candra tertawa terbahak-bahak. Kemudian, dia menyerahkan resep tersebut kepada Nathan dan memberi perintah padanya.
__ADS_1
Nathan menganggukkan kepala dan mulai sibuk dengan membawa resep tersebut. Barusan dia sudah mendengar percakapan antara Kelvin dan Candra. Pada saat ini, Keluarga Wijaya sedang berada dalam bahaya dan tidak bisa ditunda-tunda.
Tak lama kemudian, Nathan keluar dengan membawa sepiring pil obat. Lalu, memberikan pil obat tersebut kepada pasien yang dibantu dengan para staf lainnya.
"Eh? Aku sudah sembuh. Dadaku sudah tidak sakit lagi!"
"Aku juga merasa sudah sembuh!"
"Wah, dewa sekali!"
" ... "
Pasien yang sudah memakan obat tersebut sudah terkendali dengan baik, bahkan merasa jauh lebih bersemangat.
Pasien yang belum makan malah menjadi panik dan berteriak, "Aku juga mau makan obat!"
Candra langsung berteriak pada Nathan, "Cepat bikin lagi!"
Nathan tampak tak berdaya dan berkata, "Sudah tidak ada bahan obatnya lagi."
"Saat ini, di mana ada tempat jual bahan obat?" tanya Kelvin.
“Sekarang, hanya ada satu orang yang dapat menghasilkan bahan obat dalam jumlah banyak dan waktu singkat. Orang tersebut bernama Dimas Nasution. Dia mempunyai usaha bahan obat dan menantu dari keluarga kaya kedua ...," ujar Candra dengan ekspresi muram.
"Hanya saja, beberapa waktu lalu, Dimas sudah berpihak pada Faisal dan memilih untuk menjatuhkan Keluarga Wijaya. Kita tidak mungkin bisa mendapatkan bahan obat darinya," ujar Candra yang kembali menghela napas.
"Belum tentu." Kelvin segera menulis selembar catatan, kemudian memberikan kepada Nathan dan berkata, "Kamu pergi ke rumah mertua Dimas dan berikan ini padanya. Ini sangat penting."
Nathan mengambil kertas tersebut, lalu mendongakkan kepala ke arah Kelvin dan berkata, "Lalu, kamu?"
Kelvin menyipitkan mata dan berkata, "Aku mau pergi menemui Dimas secara langsung."
__ADS_1