
"Apa-apan ini?” hardik Reiki pada Wafi. “Kenapa malah saya yang dijadikan tersangka? Saya gak mungkin membunuh istri saya sendiri.”
“Tapi kami punya bukti kalau Anda-lah yang sudah mencelakai korban hingga dia meregang nyawa,” jelas Wafi.
Reiki tertawa sinis. “Bukti apa? Mana? Jangan mengada-ngada kalau Anda tidak bisa menunjukkannya pada saya.”
“Kami mempunyai alat bukti yaitu keterangan saksi dan juga ahli. Saya rasa itu sudah cukup.”
“Keterangan saksi, siapa? Liora!? Pasti dia memberikan keterangan palsu.”
“Lalu bagaimana dengan Anda sendiri?” Wafi menantang pria di depannya itu. “Anda juga memberikan keterangan palsu.”
Wajah Reiki tampak panik. “Bagian mana?” Intonasi suaranya mulai rendah.
“Tentang Sena. Anda katakan kalau wanita itu merupakan teman dari korban. Ternyata dia merupakan selingkuhan Anda,” terang Wafi. Penyidik itu pun memangku tangannya di dada lalu berkata, “Sekarang jelaskan apa maksud Anda berbohong.”
Nafas panjang ditarik Reiki. Dia sepertinya tersudut dan tak bisa mengelak.
“Tidak bisa menjelaskannya?”
“Oke. Reiki menyerah. “Iya, benar dia selingkuhan saya. Tapi kenapa saya sampai jadi tersangka hanya karena menutupi hal itu?”
“Bukan karena hal itu Anda kami tahan, tapi karena keterangan yang diberikan Sena dan Liora sama. Artinya, mereka berdua memberikan keterangan yang sebenarnya, sementara Anda memberikan keterangan palsu bahkan sampai menuduh Liora yang membunuh korban. Nyatanya Anda sendiri yang sudah membunuh Milen.”
Garis di kening Reiki pun muncul. Dia tak menyangka kalau Sena ternyata menghianatinya. “Gak, gak mungkin Sena memberikan keterangan yang sama dengan Liora. Pasti mereka sudah bekerja sama.”
Wafi tertawa. “Bukannya Anda yang mengajak saudara Sena untuk bekerja sama!? Menawarkannya keuntungan agar bisa memberikan keterangan yang dapat memberatkan Liora.”
“Maksud Anda apa? Jangan asal nuduh!”
Anak buah Wafi memutar rekaman keterangan yang diberikan Liora waktu itu juga surat perjanjian yang mereka tekan bersama-sama.
‘Sial!’ Reiki mengumpat dalam hati.
“Sekarang Anda mau berkata apa lagi?” tanya Wafi.
Dada Reiki tampak naik turun menahan emosi. Dia marah dan murka karena Sena ternyata mengkhianatinya. “Saya butuh pengacara.”
__ADS_1
“Oke. Orang tua dan kuasa hukum Anda sedang dalam perjalanan.” Wafi menepuk bahu suami Liora itu. “Silahkan pikirkan cara untuk bisa bebas sampai mereka tiba,” bisiknya di telinga Reiki. Kemudian penyidik itu pun keluar dari ruangan interogasi.
\=\=\=\=\=
Liora mengisahkan tentang kejadian malam itu pada kedua orang tua Milen seperti apa yang diceritakannya di kantor polisi kemarin. Dengan raut wajah sendu serta rasa bersalah ditambah air mata palsu membuat aktingnya sukses meyakinkan Puri dan Joko.
“Untuk itu saya datang kemari ingin menyampaikan permintaan maaf karena saya gak menolong Milen ketika berhasil keluar dari rumah,” katanya diiringi isak tangis.
Puri dan Joko merasa sedih. Mereka tak menyangka kalau menantu kesayangan tega berbuat seperti itu.
“Pa, coba hubungi Pak Malik,” kata Puri.
“Baik, Ma.”
Joko menempelkan ponselnya di telinga. Nada sambung terdengar, tapi tak ada jawaban dari besannya. “Gak di angkat, Ma.”
“Mungkin beliau sedang di kantor polisi, Om,” jelas Liora.
“Kamu tau dari mana?”
“Saya dapat info dari kuasa hukum saya. Kebetulan dia selalu up date akan perkembangan kasus dan melaporkannya pada saya.”
Joko mencoba lagi menghubungi keluarga menantunya, tapi tetap sama tak ada jawaban.
“Sebenarnya sudah dari awal saya ingin menjelaskan masalah ini sama Om dan Tante. Tapi karena kalian sangat percaya pada Reiki, saya gak berani. Makanya setelah Reiki jadi tersangka baru saya memberanikan diri.” Liora mengusap lelehan air mata di pipinya. “Sungguh sampai sekarang saya menyesal, Om, Tante. Walau Milen sudah merebut suami saya dan gak pernah bersikap baik sama saya, tapi saya gak pernah dendam. Saya ikhlas dia menikah dengan Reiki makanya saya mau bercerai.”
“Kami juga minta maaf karena termakan ucapan Reiki. Kalau dari awal kami tahu bajingan itu ternyata membawa selingkuhannya ke rumah, pasti kami akan marah besar,” tutur Joko.
“Untuk menebus rasa bersalah saya terhadap Milen, saya akan memberikan keterangan yang sebenar-benarnya agar Reiki menebus perbuatannya di penjara.”
“Harus!” timpal Puri. “Dia sudah berbohong sama kita, Pa, sudah mengkhianati putri kita dan bahkan sampai membunuhnya. Mama mau Reiki harus mendekam di penjara. Dihukum seberat-beratnya.” Puri pun histeris. Dia tak bisa menerima kenyataan yang dikatakan oleh Liora.
Joko memeluk istrinya itu. Jujur dia pun terpukul saat mendengar penuturan istri pertama dari menantunya. Namun, dia harus tetap tegar dan kuat demi mendapatkan keadilan untuk sang anak. “Mah, Mama harus kuat. Kita gak boleh lemah. Sekarang kita harus melawan keluarga Malik.”
“Mama setuju, Pa.”
Liora yang tertunduk sesekali melirik sepasang suami istri di depannya itu sambil berpura-pura meneteskan air mata.
__ADS_1
“Liora, apa kamu kenal dengan selingkuhannya Reiki itu?” tanya Joko.
“Saya gak kenal dengan dia, Om. Kami hanya ketemu di malam itu saja. Kalau Om dan Tante ingin bertemu dengan dia, mungkin penyidik bisa membantu karena dia juga jadi saksi di kasus ini.”
“Oke, baiklah. Terima kasih atas kedatangan kamu dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada kami. Kalau kamu gak bicara mungkin kami masih akan terus dibohongi Reiki dan keluarganya.”
“Sama-sama, Om. Terima kasih juga sudah menerima niat baik saya.” Wanita itu pun menyeka pipinya yang basah kemudian bangkit dari sofa. “Kalau begitu saya permisi. Semoga Om dan Tante bisa tabah dan kuat dalam menghadapi masalah ini.”
Joko pun ikut berdiri, sedangkan istrinya masih terpukul dan hanya bisa menangis dan meratapi nasib sang putri. “Mari saya antar ke depan.”
\=\=\=\=\=\=
“Anda gak bisa menahan klien saya,” ujar Kani pada Wafi.
“Kenapa tidak. Kami punya bukti yang kuat.”
“Syarat penahanan seorang tersangka harus memiliki dua alat bukti dan dua barang bukti.”
“Kami memiliki dua alat bukti, yaitu keterangan saksi dan ahli juga sidik jarinya saudara Reiki.”
“Tapi, Anda gak punya barang bukti. Jadi, kami akan mengajukan penangguhan penahanan.”
“Saya sebagai jaminannya,” celetuk Malik. “Kalau perlu akan saya tambah dengan uang.”
“Silahkan diajukan dan tunggu keputusan dari kami. Untuk sekarang saudara Reiki akan kami tahan,” tutur Wafi.
Malik sepertinya murka karena putranya tak bisa dibawa pulang hari ini juga. “Baik.” Kemudian ayah Reiki itu pun berdiri. “Saya mau bertemu dengan anak saya dulu.”
Wafi memerintahkan anak buahnya untuk mengantarkan Malik bertemu dengan putranya.
“Pah, tolong aku, Pa,” pinta Reiki. “Aku gak bersalah dan aku gak mau di penjara.”
Malik mengangguk lalu memeluk putranya itu. “Papa akan menangguhkan penahanan kamu. Selama kita menunggu keputusan polisi kamu harus sabar. Papa juga akan cari cara lain untuk bisa membuktikan kamu gak bersalah.”
“Makasih, ya, Pa.”
“Ya, sudah. Papa pulang dulu.”
__ADS_1
“Titip salam buat mama.”
Malik mengangguk dan pergi bersama Kani meninggalkan sang anak.