DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 68


__ADS_3

“Pertanyaanmu aneh, Mas,” jawab Vira. “Kalau bisa mah mungkin ibu-ibu gak akan keberatan kali hamil tiap tahun.”


Semua yang ada di ruangan itu pun tertawa lebar. Suasana bahagia sangat terasa hingga semua orang tak henti mengembangkan senyuman di bibir. Hingga makanan habis satu persatu mulai meninggalkan meja makan. 


“Waf, gue sama Kaina dan anak-anak ke kamar dulu,” pamit Fatih.


“Oke. Lo gak pulang kan?”


“Gak lah.”


Liora berdiri dari kursi menghampiri anak-anak Kaina dan Fatih. “Ini si gembul mau bobok, yah?”


“Iya, udah kenyang habis makan waktunya tidur siang,” jawab Kaina.


“Kakak sama Abangnya mana, Mbak?”


“Tadi dijemput sama Om-nya. Mereka bosan katanya jadi di ajak main ama Adit.”


“Ibu mana?”


“Beliau pulang dulu, biasa urus tanamannya,” kekeh Kaina.


“Oh, ya udah. Nanti malam kita kumpul di sini lagi, ya.”


“Iya.”


“Ddaa, sayang.” Terakhir Liora mengecup kedua bayi gemas Kaina dan Fatih.


Kepergian pasangan itu, Wafi pun berpamitan pada keluarganya yang masih tinggal. “Semua, aku sama Liora juga ke kamar dulu.”


Semua mempersilahkan. 


“Ingat,ya, Waf, jangan bikin istrimu kecapean,” pesan Vira.


Wajah pengantin baru itu pun memerah. “Iya,” jawab Wafi. “Dah, kami duluan.”


Tiba di kamar presidential suite yang disiapkan khusu oleh pihak hotel untuk pasangan itu, Liora tampak kagum dan takjub akan kemewahan nan tersaji. “Jujur ini kali pertama aku merasakan tidur di hotel,” katanya.


“Selama ini?" tanya Wafi.


“Gak pernah. Kalaupun pernah cuma hotel biasa yang murah.”


“Memang dulu waktu kamu nikah sama Reiki gimana?”

__ADS_1


“Cuma pernikahan sederhana jadi banyak yang gak tau kalau Reiki udah nikah. Tapi ketika dia menikah sama Milen, keluarganya mengadakan pesta besar-besaran. Mereka menginap di hotel sedangkan aku duduk diam di rumah.”


Wafi menghampiri sang istri yang tengah berdiri sambil memandangi hamparan kota jakarta dari kaca kamar mereka. “Sekarang kamu punya aku, lupakan masa lalu kamu dan buka lembaran baru.”


“Makasih, ya, Bee, kamu mau menerima masa lalu aku.”


“Gak ada yang salah dari mas lalu kamu.”


Liora tersenyum bahagia. Ia beruntung bisa dipertemukan takdir dengan laki-laki sebaik Wafi.


“Sekarang kita ganti baju, yuk! Habis itu kamu istirahat. Kasihan anak kita nanti dia kecapekan.” Wafi berkata sambil mengelus perut sang istri.


“Bantuin, ya, buka kondenya.”


“Iya.”


...🐺🐺🐺🐺...


Ditempat lain, Lena yang melihat berita pernikahan seorang anak pemilik bank swasta dengan mantan menantunya, merasa geram dan marah. Ia tak terima jika nasib Liora begitu beruntung.


“Apa sih yang dilihat pria itu dari Liora? Cuma janda miskin yang gak punya apa-apa kalau gak nikah sama Reiki,” umpatnya.


“Ya, mungkin ini balasan dari Tuhan kali, Ma, setelah dia hidup menderita bersama kita,” ucap Malik.


“Cih, memangnya dia wanita solehah. Masih banyak wanita lain yang pantas sama laki-laki itu, kenapa harus Liora.”


Lena pun terdiam.


“Benar kata Liora, Mama itu gak pernah berubah setelah apa yang sudah menimpa kita. Seharusnya Mama introspeksi diri, minta maaf, bukannya malah semakin membenci atau menganggap Liora itu jelek. Dia memang bukan wanita solehah, tapi setidaknya dia jauh lebih baik dari kita, Ma.”


“Lebih baik dari mananya?” Lena masih tak terima.


“Seharusnya Mama beruntung dia gak ikut melaporkan Mama atas penganiayaan yang Mama lakukan padanya selama ini. Dia bisa saja melakukan itu, membuat kita sekeluarga mendekam di penjara. Toh suaminya yang sekarang polisi dan keluarganya juga berpangkat tinggi. Kita sudah tak ada arti apa-apa lagi, Ma. Kita sudah kalah jauh dari mantan menantu kita.”


Ibunda Reiki itu memalingkan muka ketika dinasehati sang suami.


“Lagian dia gak miskin. Dia yang sudah membantu kita sampai ke titik ini. Kalau bukan karena dia rela berkorban, menjual harta warisan keluarganya, Papa dan Reiki pasti akan jadi pengusaha biasa. Jadi, seharusnya Mama berterima kasih. Bukan malah menghina dia.” 


“Tapi kan kita semakin bangkit itu sejak Reiki nikah sama Milen, Pa, sejak perusahaan kita bergabung dengan perusahaan Pak Malik. Jadi buat Mama yang paling berjasa itu, ya, Milen.”


Malik menggelengkan kepala. “Ma, untuk sampai ke titik itu siapa yang bantu keuangan kita kalau bukan Liora.”


“Tapikan Papa dan Reiki bekerja.”

__ADS_1


Malik berdiri dari duduknya. “Sudahlah, capek ngomong sama Mama. Susah sama orang yang mata hatinya sudah ketutup.” 


Lena mencibir. “Biarin. Besok Mama mau ketemu Reiki dan bilang soal ini supaya dia mau memperjuangkan hartanya untuk gak di bagi sama wanita licik itu.”


“Terserah.” Malik memilih pergi meninggalkan sang istri.


...🐥🐥🐥🐥...


Keesokan harinya, setelah makan siang, pengantin baru juga para keluarga mulai bersiap untuk acara resepsi yang akan digelar sore nanti. 


Liora, mulai berhias diri dibantu seorang MUA terkenal. Wanita itu memilih tata rias dengan rona pink manis yang membuatnya terlihat segar.


Gaun resepsi kali ini dibuat anggun dengan aksen cape yang menjuntai indah oleh sang desainer. Itu pun sesuai dengan apa yang dimau sang pengantin wanita. Sekujur gaun dihiasi dengan payet kristal, dan mutiara yang amat cantik. Dengan tiara dan rambut yang disanggul indah, Liora sukses terlihat bak ratu sungguhan.


Untuk alas kaki, wanita itu menjatuhkan pilihan pada kitten heels elegan. Pilihan ini dirasa tepat, karena tumit heels yang rendah akan memudahkannya saat bergerak dan berjalan juga lebih terasa nyaman mengingat dirinya yang tengah berbadan dua.


Sedangkan Wafi sedang bersiap mengenakan baju baktinya. Pria itu tampak gagah dan berkarisma setelah semua lambang pangkat yang sudah di dapatnya terpasang. Terakhir ia pun mengenakan topi kebanggaan. Polisi itu menatap pantulan dirinya di cermin dan bibirnya mengembang sempurna penuh bangga juga bahagia.


Setelah persiapan selesai dilakukan, pengantin itu berjalan hendak memasuki ballroom tempat acara digelar. Sebelum menuju pelaminan mereka berjalan melewati gapura yang terbuat dari susunan pedang. Biasa disebut dengan Upacara Pedang Pora. Pasangan pengantin kemudian menyematkan cincin pernikahan di bawah gapura. Pakaian seragam Persatuan Istri Tentara (Persit) juga diberikan pada pengantin wanita.


Selanjutnya, Komandan Regu menyerukan perintah Tegak Pedang dan pembacaan puisi. Kemudian, sang pengantin dipersilahkan menuju ke pelaminan.


Wafi pun menggandeng dan menuntun Liora dengan penuh perhatian juga kasih sayang. Polisi itu memperhatikan setiap langkah istrinya agar tetap aman.


Para tamu undangan pun sudah mulai hadir. Banyak para perwira berpangkat yang datang untuk memberikan selamat serta doa bagi pasangan baru itu. 


Senyum bahagia tak luntur dari wajah Wafi dan Liora begitu juga dengan keluarga yang mendampingi. Acara berlangsung meriah. Semua tamu tampak larut dalam bahagia yang ditularkan pengantin baru itu.


Hingga malam pun menjelang resepsi pernikahan itu pun usai. Liora langsung mendudukkan dirinya di kursi pelaminan. 


“Capek?” Wafi bertanya dengan raut wajah khawatir.


“Iya,” jawab Liora lemah.


“Langsung ke kamar?”


“Boleh, tapi aku lapar.”


“Nanti makanannya diantar ke kamar aja.” Wafi pun berpamitan pada kedua keluarga untuk membawa istrinya istirahat.


Tiba di kamar, Liora mendudukkan diri di atas kasur setelah berganti pakaian dan membersihkan muka. Merasa kasihan, Wafi pun menyuruh sang istri makan dan ia memijat kakinya.


“Udah, Bee, mending kita tidur aja. Kamu pasti capek,” ajak Liora.

__ADS_1


“Tapi kamu pasti lebih capek, Yank,” ujar Wafi. “Kamu lagi hamil loh. Biar aku pijat kakinya sampai kamu ketiduran.”


Liora mengangguk dan merebahkan badan. Tak sampai lima menit ia sudah memejamkan mata dan menyelami alam mimpi. Melihat itu Wafi pun mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Setelahnya ia pun ikut berbaring dan melepas penat di sisi sang istri.


__ADS_2