DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 32


__ADS_3

Sinar mentari pagi yang menembus kaca apartment membuat Wafi memicingkan mata. Laki-laki itu langsung menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Hendak bangkit, tapi badannya terasa berat. Ternyata Liora tidur dengan lelap di atas dadanya. 


Ia pun mencoba menggeser sedikit posisi untuk menghindari silau matahari. Untuk sesaat dinikmatinya wajah natural sang pencuri hati. Rasanya pagi ini begitu indah. Alangkah bahagia jika setiap hari ia bisa begini.


Mentari semakin tinggi, membuat ruangan itu mendapat sinar penuh. Liora yang merasakan silau segera menyembunyikan wajahnya di bawah ketiak Wafi.


“Gak bau, Li?” tanya Wafi.


“Hhmm?”


“Ketek aku gak bau?”


Liora mengangkat kepalanya dan melihat laki-laki itu dengan mata yang masih sipit. “Bau, tapi aku suka,” jawabnya dengan suara serak khas bagun tidur.


Wafi pun merasa gemas mendengarnya.


Liora pun mendudukkan dirinya lalu mengusap wajah. “Jam berapa?”


“Jam delapan.” Wafi menjawab setelah duduk dan melihat ponselnya. “Kenapa kamu tidur di sini?”


“Semalam kamu ketiduran dan aku masih lanjut nonton. Ya, udah aku ambil selimut biar kamu gak kedinginan dan aku ikut baring di sebelah kamu. Gak lama mataku juga berat. Males pindah jadinya bobok sini deh.”


Polisi ganteng itu tersenyum. Liora segera turun dari sofa besar itu. Namun, tangannya ditahan oleh Wafi.


“Will you marry me?” tanya Wafi.


Untuk sesaat Liora terdiam. Kemudian ia pun tertawa lebar. “Apa-apaan sih kamu. Pagi-pagi udah becanda.”


“Aku serius.” Wafi menatap wanita itu dengan tampang meyakinkan.


Liora masih tertawa. Melepaskan tangannya dari genggaman pria itu. "Aku cuci muka dulu. Sebaiknya kamu juga, biar gak asal ngomong.” Wanita itu pun melenggang ke kamarnya. Meninggalkan Wafi dengan rasa kecewa.


Tak lama istri Reiki keluar dari kamarnya. Ia pun tak menemukan Wafi di sofa. Sepertinya pria itu sedang di kamar mandi membersihkan muka. Langsung saja Liora menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. 


Asik menggoreng nasi di wajan, Wafi pun datang memeluknya dari belakang. 


“Kenapa kamu gak jawab permintaan aku?” tanya si penyidik.


“Yang mana?”


“Yang tadi.”


Liora tertawa kecil.


“I'm serious.”


“Masih banyak wanita diluar sana yang lebih pantas buat kamu.”


“Tapi aku maunya kamu.”


Liora membuang nafas kasar. Dimatikannya kompor lalu balik badan. “Hubungan kita ini akan sulit, Waf.”


“Tapi aku akan berjuang.”

__ADS_1


“Gak perlu.”


“Kenapa?”


“Karena aku gak pantas diperjuangkan.”


“Beri aku alasan yang tepat.”


Si wanita melepaskan dirinya dari kurungan tangan pria tinggi tegap itu. “Pertama aku janda dan itu akan sulit untuk karir kamu. Kedua, soal kasus yang sedang kamu tangani. Sudah pasti jika nantinya kita bersama orang-orang akan beranggapan kamu melindungi aku.”


Wafi menggeleng. “Itu lagi-itu lagi. Berapa kali aku harus jelasin sama kamu kalau status kamu itu gak akan jadi masalah. Dan soal kasus Reiki, pemeriksaan dilakukan dengan transparan. Bawahanku tau semuanya jadi mereka pasti bisa menilai aku dalam menangani kasus.”


“Lalu bagaimana dengan orang lain? Mereka pasti akan berspekulasi dan aku gak mau nama baik kamu rusak.”


“Sekarang kamu tinggal jawab.” Wafi memegang kedua bahu Liora dan menatapnya. “Mau atau tidak?” 


“Gak.”


Wafi melepaskan wanita itu. Ia pun mengambil ponsel dan dompet di atas meja ruang tengah lalu lekas keluar dari apartemennya. 


Liora terduduk di kursi meja makan. “Maafkan aku, Waf,” ucapnya sambil menutup wajah. Kemudian tangisnya pun pecah karena diakuinya ia pun sudah jatuh hati pada polisi gagah itu.


\=\=\=\=\=\=


Karena tindak pidana telah selesai disidik oleh penyidik maka hasil penyidikan diserahkan kepada penuntut umum. Berkas perkara yang diserahkan tersebut diterima dan dinyatakan lengkap (P21). Tahap selanjutnya adalah penuntutan yang menjadi tanggung jawab penuntut umum atau jaksa.


Selama proses itu pula Wafi tak menemui Liora atau menghubunginya, begitu pun sebaliknya. Sepertinya penyidik itu masih marah atas penolakan yang diberikan sang pencuri hati.


Keduanya saling menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing. Karena bagunan cafenya sudah bersih, Liora memutuskan untuk kembali tinggal di sana. Tak apa pembangunan sedang berlangsung. Ia hanya merasa tak enak hati masih berada di apartemen Wafi. Sementara pria itu dibuatnya kecewa. 


“Hai, Mbak.”


“Hai, masuk.”


Setelah menutup Pintu keduanya berjalan ke arah sofa ruang tamu.


“Ngapain kamu kesini?” tanya Liora.


“Kebetulan tadi aku ada pemotretan di lantai atas. Karena tau Mbak tinggal di gedung ini makanya mampir,” jelas Sena.


“Mau minum?”


“Gak deh. Aku udah kenyang,” tolak si model. “Oh, ya, aku kesini cuma mau tanya, apa persidangan sudah dimulai?”


Liora menghempaskan punggungnya ke sofa. “Entah lah, Sen.”


“Loh, Mbak, ga tau?”


“Dua minggu belakangan aku sibuk lihat perkembangan cafe. Lagi pula Wafi gak kasih informasi.”


“Gak tanya sama pengacara, Mbak.”


“Katanya dia juga lagi nunggu info dari Wafi.”

__ADS_1


“Kenapa? Apa dia tau tujuan, Mbak, deketin dia?”


Kepala Liora menggeleng. “Aku menolak lamarannya.”


“Apa?”


“Iya. Aku pikir dia bilang sayang itu hanya sekedar ungkapan rasa aja. Tapi ternyata dia benar-benar serius dan mau nikahin aku.”


“Waw, ternyata kamu hebat juga, ya, Mbak. Bisa bikin polisi itu baper beneran.”


“Aku merasa bersalah banget sama dia, Sen. Aku pikir gak bakalan sampai segitunya.”


“Ya, terus kenapa gak, Mbak, terima aja?”


“Kamu gila?” sosor Liora. “Mana mungkin. Aku ini janda gak akan bisa bersanding sama polisi. Lagian dia masih bujangan mana setuju keluarganya. Apa kamu gak sadar kalau aku ini kriminal.”


“Iya juga sih. Kalau dia sampai tau rencana kita selama ini, bisa habis kita, Mbak.”


“Makanya. Gak deh, Sen. Lebih baik gak berurusan lagi sama pihak berwajib. Intinya sekarang persidangan pasti bakalan di mulai. Kita sudah aman.”


Sena mengangguk setuju. “Terus gimana sama mantan kuasa hukumnya Reiki?”


“Dia mau memberikan keterangan di persidangan nanti soal malam dimana Reiki mendatangi kita.”


“Jadi?”


“Ya, sekali lagi, keberuntungan berada di pihak kita.”


Si model pun tersenyum lebar. “Ya, udah kalau gitu aku balik dulu. Masih ada pekerjaan lain.”


“Cie, yang sibukan sekarang banyak jobnya.”


“Alhamdulillah, Mbak. Pantes gak, ya aku nyebutnya?” Sena terkekeh.


“Hahaha, intinya syukuri aja dulu.” Liora menemani kepergian model itu hingga ke pintu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah berkas perkara dinyatakan lengkap atau P21 oleh kejaksaan, maka proses perkara akan masuk ke tahap berikutnya. Penyidik kepolisian akan menyerahkan tersangka dan barang bukti kepada kejaksaan yang dikenal dengan istilah pelimpahan berkas perkara Tahap II. Selanjutnya, akan dilakukan proses penuntutan, yaitu penyusunan dakwaan.


Hal itu membuat Wafi pulang sedikit larut malam ini. Ia, sampai dirumah pukul sepuluh. Lelah mendera, dihempaskannya badan diatas kasur sambil membuka laptop. Belakangan kegiatannya memantau Liora lewat vidio kamera tersembunyi yang di pasanganya waktu itu.


Dengan begitu rasa rindunya dapat sedikit terobati. Namun, malam ini ia tidak menemukan sang pencuri hati berada di tempat. Di putranya video dari tadi pagi hingga siang hari dan Wafi menemukan sesuatu yang membuat hatinya panas dan terbakar.


Rahangnya mengeras. Ia segera bangkit dengan laptop di tangan. Mengambil kunci mobil di atas meja dan langsung menancap gas menuju cafe dan Resto Liora. 


...----------------...


Gawat 😱😱😱 Liora ketahuan..


Kira-kira gimana nasib wanita itu?


Tinggalin jempolnya dong 👍 komen 💬 hadiah 🎁 bintang 🌟 lima juga, ya..

__ADS_1


Terima kasih...


__ADS_2