DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 36


__ADS_3

Sorenya kedua orang tua Reiki berkunjung ke rumah keluarga menantu. Tiba disana mereka disambut oleh ART.


“Mari masuk, Pak, Bu. Saya panggil Tuan dan ibu dulu. Mereka sudah tahu kedatangan kalian.”


“Makasih, Bik,” ujar Malik. Ia dan istrinya duduk di ruang tamu. Tak lama si tuan rumah pun tiba di sana dan mereka pun kembali berdiri.


“Ada apa Anda datang kesini?” Joko bertanya dengan wajah datar. 


“Apa kabar, Pak Joko? Lama kita tidak bertemu.” Malik menyapa sambil mengulurkan tangan. 


Namun, ayah dari Milen itu menepisnya dan berkata,” Gak perlu basa basi katakan saja maksud dan tujuan kedatangan kalian.”


Malik terpaksa memberikan senyum meski hatinya terasa sakit tak dihargai seperti itu. “Maksud kedatangan kami ingin bicara baik-baik dengan besan soal Reiki dan juga perusahaan kita,” jelas Malik.


Joko pun duduk bersama istrinya tak lupa menyuruh tamunya duduk kembali.


“Sebagai orang tua Reiki saya dan istri ingin meminta maaf atas perbuatan putra kami,” tutur Malik.


“Kalaupun kami maafkan hukuman tetap berlangsung,” sahut Puri.


“Kami hargai itu, Besan, dan kami akan mengikuti jalannya persidangan nanti.” Malik menyikut istrinya.


“Saya juga minta maaf kalau kemarin-kemarin masih membela Reiki,” ungkap Lena. “Saya hanya seorang ibu yang tak terima anaknya dituduh, itu saja.”


Puri tak memberi tanggapan. Tatapannya begitu sinis pada mantan besannya itu.


“Lalu apa lagi?” tanya Joko.


“Soal perusahaan kita, Besan. Menurut saya alangkah baiknya perusahaan kita tetap bersatu. Jika Anda tidak keberatan, saya siap turun jabatan dan Anda yang mengambil alih semuanya. Bagaimanapun ini bukan demi kebaikan atau keuntungan saya semata. Tapi demi menjaga hubungan baik dan kerja sama kita dengan rekan bisnis.”


Joko menghirup nafas panjang. Benar juga apa yang dikatakan Malik. Urusan bisnis dengan keluarga memang sulit untuk di campur adukkan. Sebagai pebisnis yang sudah berpengalaman ia tahu betul akan kerugian yang dialami jika perusahaan mereka jadi berpisah. 


Ibarat berdiri dengan satu kaki, pasti bisa hanya saja akan sulit untuk seimbang.


“Untuk sementara sampai persidangan Reiki selesai saya akan pikirkan ulang persoalan itu.”


“Terima kasih banyak, Besan. Saya menghargai keputusan yang besan ambil nanti.” Malik berkata dengan kepala yang sedikit menunduk. Meski hatinya berontak, tapi ia dipaksa oleh keadaan.


“Gak ada yang mau disampaikan lagi kan?” Puri bertanya dengan angkuh.


Malik dan Lena menggelengkan kepala.


“Kalau begitu silahkan pulang. Kami mau makan malam.”


“Oh, iya. Baik kalau begitu. Maaf kami sudah mengganggu waktunya.” Malik berdiri diikuti Lena dengan muka kusutnya.


“Permisi Pak Joko dan Bu Puri.”


“Iya,” jawab Joko.

__ADS_1


Orang tua Reiki itu keluar dari sana tanpa diantar oleh tuan rumah. Tiba saja di dalam mobil, Lena langsung menggerutu. “Papa lihatkan gimana perlakukan mereka. Kita di usir loh, Pa.”


“Ya, setidaknya kita diterima dengan baik, Ma. Maksud dan tujuan kita juga tersampaikan. Untuk sekarang kita memang akan selalu direndahkan oleh mereka.”


“Sumpah, ya. Nanti kalau Reiki bebas, terus bisa kembali ke perusahaan, Mama akan balas perbuatan dua orang itu,” geram Lena.


“Sudah lah, Ma. Sekarang pikirkan kesehatan jantung Mama. Jangan mikir mau cari musuh.” Malik menjalankan mobilnya kembali ke rumah.


\=\=\=\=\=


“Aku pulang,” sorak Reiki. Setelah dibukanya sepatu ia melangkah menuju kamar. Menyeret dua koper. Satu miliknya dan satu lagi milik sang istri.


“Pas banget,” ujar Liora ketika suaminya masuk. “Aku habis mandi mau ganti baju.”


Reiki mengulurkan satu paper bag ke istrinya itu. “Ganti pakai ini aja.”


Liora menerimanya dengan dahi mengerut. “Apa ini?”


“Buka aja.” 


“Lingerie?”


“Iya, tadi aku sempatin dibeli di bawah.”


“Buat apa sih? Orang juga dibuka nanti.” 


“Iya. deh.”


“Aku juga mandi dulu.” Wafi membuka bajunya.


“Aku tunggu di meja makan, ya.”


“Iya.”


Selesai memakai baju pemberian suami, Liora melangkah keluar kamar. Menata masakan yang tadi siap di olahnya. Tak lama sang suami pun menyusul dengan rambut basahnya.


“Cepat amat mandinya,”celetuk Liora.


“Nanti juga bakalan mandi lagi. Kan mau gerah-gerahan.” Wafi berkata sambil menaik turunkan alisnya.


“Dasar bocah mesum.”


“Ya elah, aku kamu bilang bocah? Gini-gini bisa bikin kamu hamil bocah.”


Liora tertawa.


“Besok kita ke rumah kakaku, ya.” Wafi berkata sambil mendudukkan diri.


“Jam?”

__ADS_1


“Paginya aku ke kantor dulu. Pas jam makan siang kita berangkat.”


Liora memberikan piring yang sudah di isinya dengan nasi dan lauk pada suami. “Habis itu kamu balik kantor lagi?”


“Gak. Kenapa?”


“Aku mau belanja beberapa kebutuhan kita.”


“Oke, dari rumah kakakku kita ke mall.”


Keduanya menyantap makan malam mereka dengan hikmat hingga selesai.


Kini sepasang pengantin baru itu menikmati waktu santai di atas sofa sambil menonton acara TV. Wafi yang berbaring dan Liora merebahkan badannya di atas dada bidang sang suami.


“Aku masih penasaran soal tadi pagi,” ujar Wafi.


“Oh, itu. Setelah Reiki nikah sama Milen aku gak lagi berhubungan sama dia. Aku bertekad bakalan cari laki-laki yang lebih dari dia. Makanya aku perawatan dan sampai melakukan operasi keperawanan.”


“Maksudnya?”


“Operasi selaput dara. Aku melakukan prosedur bedah plastik yang bertujuan untuk memperbaiki atau merekonstruksi kembali selaput dara yang telah robek.”


“Tujuannya?”


“Biar lebih menggigit aja gitu. Ya, setidaknya kamu gak rugi-rugi amatlah nikahin janda.”


Wafi mengangguk. “Jadi intinya aku masih dapat pengalaman melepaskan virgin gitu meski nikahin janda.”


“Ya, bisa dibilang begitu.”


“Emangnya kamu ada rencana mau nikah lagi ama yang masih bujang?”


“Iya, lah. Kan aku bilang mau dapetin yang lebih dari Reiki. Jujur hal itu aku lakukan sebagai bentuk ungkapan penyesalan aku nikah sama dia.”


“Emang kamu gak pernah bahagia selama nikah sama dia?”


“Gimana, ya. Awal-awal nikah tuh kita sama-sama berjuang. Dia berjuang bagun perusahaannya dan aku berjuang buka cafe kecil-kecilan. Eh, pas peruasahaannya mulai maju dia bertingkah. Mau nikah lagi sama Milen demi bersatunya dua perusahaan. Makanya pas dia nikah lagi, dia kasih aku modal buat buka cafe supaya setuju.”


“Kenapa gak minta cerai?” 


“Udah. Bahkan sampai berbusa mulut ku ini. Dia cuma jatuhkan talak aja setelah pernikahannya dan Milen selesai tapi gak mau tandatangani surat cerai.”


“Kenapa gak pergi aja dari rumahnya?”


“Bisa-bisa cafe ku di ambil dong. Gak mau aku. Kamu gak tau gimana perjuangan aku biar bisa punya cafe dan resto sebesar itu."


“Katanya kamu pernah di pukulin. Kenapa?” 


"Apalagi kalau gak adu mulut ama istri tercintanya. Milen itu suka cari-cari masalah, terus nanti drama seolah-olah dia yang tersakiti. Makanya aku kalau dirumah suka disuruh-suruh karena dia tau kalau aku gak mau Reiki pasti bakalan turun tangan."

__ADS_1


__ADS_2