DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 51


__ADS_3

“Kamu sudah makan?” tanya Wafi pada istrinya.


Liora menggeleng dengan wajah memelas.


“Aku juga belum. Kita pesan makanan aja. Kamu gak perlu masak.” Wafi mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan memesan makanan di aplikasi.


Liora merebahkan kepalanya di bahu sang suami. “Makasih, ya, udah datang buat aku.”


“Suami mana yang gak khawatir sama istrinya. Apalagi kamu gak kasih kabar, aku hubungi gak di angkat.”


“Hehehe, maaf, ya, Bee. Bukan bermaksud gitu. Aku cuma gak mau nanti kerjaan kamu jadi keganggu.”


“Kalau kejadiannya kayak tadi aku gak bisa abai, Yank. Mamanya Reiki itu udah kelewatan. Kamu sudah bukan menantunya lagi, tapi dia masih ringan tangan.”


“Udahlah, biarin aja. Biar orang-orang nanti yang kasih hukuman sosial sama Mama Lena.”


Polisi itu menatap istrinya. “Apa jangan-jangan kamu pura-pura pingsan ya, tadi? Biar orang kira itu orang tua sadis.”


Tawa Liora pecah sebab sang suami berhasil menebak sandiwaranya.


“Dasar kamu.” Wafi mengacak rambut sang istri. “Lama-lama kamu bisa jadi psikopat.”


“Enak aja. Aku gak gila tau,” elak Liora. “Aku masih waras.”


“Lagian gimana ceritanya sih sampai mamanya Reiki marah-marah gitu?”


Liora pun menceritakan pertemuannya tadi dengan mantan mama mertua.


Bel pintu pun berbunyi. “Sepertinya itu pesanan kita.” Wafi berdiri. Tak lama ia kembali dengan sekantong makanan.


“Kok cepat?”


“Aku pesan di restoran dekat sini aja.” Penyidik itu ke dapur untuk mengambil piring dan sendok juga air minum. “Habis ini aku balik lagi ke kantor jadi gak bisa lama-lama,” sambungnya.


Sang istri mengangguk.


“Kamu gak papa aku tinggal?”


“Gak papa, Bee. Habis ini aku mau tidur aja. Nungguin kamu pulang.”


“Iya, lebih baik istirahat.”


Keduanya makan satu piring berdua. Wafi menyuapi sang istri terlebih dahulu setelahnya barulah ia menyuap sendiri. Sesekali keduanya sama-sama tersenyum bahagia.


\=\=\=\=\=\=


Sebelum kembali ke kantor, Wafi singgah dulu di RUTAN. Tempat untuk terduga pelaku tindak pidana atau tersangka /terdakwa untuk ditahan selama proses penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang Pengadilan. Ia ingin menemui Reiki untuk memberi peringatan.

__ADS_1


Sampai di sana ia pun menunggu petugas memanggilkan terdakwa tersebut. Cuma lima menit, mantan suami dari istrinya kini duduk di hadapan.


“Ada apa?” Reiki bertanya dengan angkuh.


“Saya datang kesini ingin meminta Anda untuk memperingatkan kedua orang tua Anda. Terutama ibu Anda.” Wafi berkata dengan wajah dingin.


“Soal?”


“Tolong jauhi Liora.”


Kening Reiki mengernyit. “Kenapa?”


“Ibu Anda sudah melakukan penganiayaan terhadapnya tadi siang di salah satu restoran. Beruntung mantan istri Anda itu tidak melaporkan orang tua Anda ke pihak yang berwajib.”


“Cih, dia pantas mendapatkannya.”


“Dengar.” Wafi menatap tajam lawan bicaranya itu. “Saya peringatkan ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya Anda dan Orang tua Anda menyentuh istri saya.”


Mata putra Malik itu terbelalak mendengar pengakuan Wafi.


“Kurang ajar,” geramnya. “Jadi benar kalau selama ini kalian bekerja sama dalam memenjarakan saya.”


“Oh, kalau untuk soal itu saya profesional. Bukankah atasan saya sudah memberikan bukti pada kuasa hukum Anda?!” Wafi memangku tangan di dada.


“Gak mungkin kalian bisa menikah. Liora saja belum resmi menjadi janda.”


Reiki menggertakkan gigi. Ingin ia melayangkan satu pukulan di wajah polisi itu. Namun, tak mungkin karena itu nanti akan menambah masalah baru. “Jangan bangga memakai bekas saya.”


“Anda menghina istri saya?” tantang Wafi. Saya peringatkan sekali lagi. Jika Anda dan keluarga berani menyakiti Liora atau menghinanya, akan saya buat kalian semua berkumpul di penjara.”


Reiki tertunduk takut.


Wafi pun berdiri. Sebelum pergi ia mendekatkan wajah ke telinga Reiki dan berbisik, “Dia sudah menghapus bekas Anda di tubuhnya. Bahkan saya dapat merasakan keperawanannya.” Kemudian polisi itu tersenyum miring dan meninggalkan tahanan itu.


Reiki yang merasa sakit hati mengamuk dan menendang kursi serta meja yang ada di sana.


...🦉🦉🦉🦉...


 


Persidangan nokta pembelaan akhirnya digelar. Sebelum masuk ruang persidangan Reiki bertemu dengan kuasa hukum juga kedua orang tuanya.


“Ini surat pengakuan, Anda,” ujar Dodi.


Reiki kembali menyalin surat ketikan itu ke kertas kosong dengan tulisan tanganya.


“Sekalian Anda bisa tulis perminta maaf,” saran Dodi.

__ADS_1


“Gak,” sela Lena. “Kamu gak usah minta maaf segala.”


“Kenapa, Ma?” tanya Reiki.


“Buat apa, toh kamu juga bakalan tetap di penjara dan setelah ini kamu bakalan di hukum atas kasus lain. Jadi gak perlu lagi minta maaf. Itu merendahkan harga diri kamu namanya.”


Reiki mengangguk setuju.


“Sebagai bentuk rasa bersalah Pak Reiki, Bu,” ujar Dodi.


“Saya gak bersalah jadi buat apa saya minta maaf,” terang Reiki. “Saya ini korban, tapi kok jadi terdakwa.”


“Ya, sudah, terserah Anda saja lah.” Dodi pun malas berdebat dengan ibu dan anak itu sebab watak mereka berdua hampir sama. Gak mau kalah. Jika dinasehati merasa paling benar sendiri. 


“Mama kenapa larang Reiki minta maaf sih?” tanya Malik. “Biar kan saja, setidaknya orang dapat melihat kalau kita masih memiliki rasa kemanusiaan.”


“Gak perlu, Pa. Lagian orang-orang akan tetap membenci kita,” jawab Lena.


“Karena Mama gak mau mengaku salah. Makanya sampai sekarang Mama terus dibuli orang-orang di media karena tingkah Mama yang bikin malu itu.” Malik menjadi kesal.


“Mama gak peduli. Toh sudah sepantasnya Liora mendapatkan hal itu. Dia memang sengaja menjebloskan anak kita ke penjara, Makanya Mama serang.”


“Mama ada buki?”


“Gak, tapi dia ngaku sendiri.”


“Serius, Ma?” tanya Reiki. “Apa katanya?”


“Kalau dia bisa bikin kamu masuk penjara artinya dia juga bisa mendapatkan haknya.”


“Itu hanya kata-kata semata,” jelas Dodi. “Gak bisa dijadikan bukti. Hati-hati kalau bicara, Bu, nanti ibu bisa dituntut.”


Reiki mengangguk. “Iya, Ma, mendingan sekarang kita gak usah singgung Liora lagi. Kemari penyidik itu datang temui aku. Dia mengancam, kita bakalan di penjara kalau sampai ganggu atau hina istrinya.”


“Jadi Liora sama penyidik itu udah nikah?” Lena tak percaya.


“Iya, nikah siri. Dia ngaku sendiri.”


“Bisa dilaporkan itu ke atasannya,” celetuk Malik. “Dia bisa dipecat.”


“Aku setuju,” timpal Reiki.


“Kapolres di sini kakak sepupu penyidik itu. Jadi, kalian sekeluarga sepertinya salah cari lawan kalau mau lapor balik,” terang Dodi.


Reiki dan kedua orang tuanya tak bisa berkata-kata.


“Sebaiknya sekarang ikuti saja proses hukum yang berjalan dan jangan bikin masalah aneh-aneh lagi. Ini juga peringatan saya yang pertama dan terakhir buat Pak Reiki, Bu Lena, dan juga Pak Malik. Kalau gak, saya akan mengundurkan diri,” tambah Dodi.

__ADS_1


“Iya, Baik, Pak.” Malik dan keluarga mengangguk patuh.


__ADS_2