
Wafi hanya mengangguk.
“Waf?” panggil Liora.
“Apa, Li?”
“Kenapa kamu milih nikahin aku semalam?”
Wafi menghirup nafas dalam lalu memperbaiki posisi agar dirinya nyaman dan sang istri pun dapat berbaring dengan baik di sampingnya.
“Pertama, aku bisa aja bawa kamu ke kantor polisi, tapi buat apa? Toh penyidikan sudah selesai dan berkas perkara sudah dilimpahkan ke penuntut umum. Artinya, aku gak ada tugas dan tanggung jawab lagi dalam kasus Reiki. Kedua, kalau seandainya kamu yang ada di posisi Reiki dan sebaliknya, belum tentu aku bisa dapat bukti bahwa kamu gak bersalah atau dia sengaja fitnah kamu.”
Wafi berkata sambil memainkan rambut sang istri. “Ketiga, ini merupakan kesempatan buat aku karena kamu pastinya gak akan menolak. Aku yakin kamu akan memilih kita nikah daripada masuk penjara, padahal rencana kamu berjalan sukses. Dan yang terakhir, wanita licik, pintar, dan cerdas seperti kamu ini bahaya. Jadi, biar aku yang jadi pawangnya, karena kalau pria lain bisa ditipu habis-habisan.”
Liora tertawa lebar. “Aku kan bukan penjahat. Kalau orang jahat sama aku baru aku balas.”
“Lagian aku juga gak mau kamu sama orang lain.”
“Kenapa? Kan kita baru kenal tiga bulan belakangan. Itu pun ketemunya gak intens.”
“Kamu itu bikin aku ingat almarhum ibu. Kalau dekat kamu aku ngerasa nyaman, tenang.”
Liora mengeratkan pelukannya di pinggang Wafi. “Sama, aku juga nayaman dekat kamu. Kapan-kapan kita ziarah ke makan ibu kamu, ya.”
“Iya.” Wafi melabuhkan sebuah kecupan di dahi istrinya.
"Emang setelah tau kenyataannya, kamu gak kasihan gitu sama Reiki?"
Wafi memicingkan mata. "Gimana, ya. Sebagai penegak hukum seharusnya aku wajib mengungkapkan kebenaran. Tapi aku ingat luka-luka yang kamu terima. Dan hatiku gak terima."
"Kenapa?"
"Aku paling gak suka sama laki-laki yang main tangan. Sesalah-salahnya wanita gak harus dipukul. Masih bisa dibicarakan baik-baik. Kalau emosi, ya, ditinggal aja dulu. Makanya kemarin pas kamu tolak lamaran aku, aku pergi buat menenangkan diri."
"Ya, tapi kalau sekarang gak bisa gitu, Waf. Setidaknya bilang kalau kamu mau pergi. Jangan tinggalin aku tanpa penjelasan."
"Iya."
"Kita sama-sama belajar, ya, Waf. Aku gak mau gagal lagi."
"Iya, Sayang. Eh, kamu sudah kasih tahu Sena kalau aku tau soal persekongkolan kalian berdua?”
“Bahasanya.”
“Loh emang iya kan?!”
“Eh, tapi kamu udah hapus belum vidio kemarin? Bahaya itu?”
“Udah. Paham lah aku soal itu.”
“Berarti di sini ada kamera dong?”
“Oh, iya. Aku sampai lupa lepasinnya.” Wafi menepuk jidat.
“Ih, awasin cepat. Jadi aku mondar mandir dari tadi pakai baju haram ini kerekam dong?”
__ADS_1
“Gak papa. Jadi koleksi pribadi aku aja.”
“Ck, ih.” Liora memukul dada suaminya.
Penyidik itu memeluk istrinya dengan erat. “Kapan kamu urus surat gugatan cerai?”
“Kenapa?”
“Biar kita bisa nikah resmi.”
“Apa gak kecepatan. Gimana kalau kita tunggu persidangan kasus Reiki selesai?”
“Ya, udah kalau kamu maunya gitu.”
“Sekalian aku bisa pendekatan sama kakak kamu.”
Wafi mengangguk setuju.
“Sebagai abdi negara, sebelum nikah umum kamu pasti nikah dinas dulu. Emang gak masalah sama status aku?”
“Gak lah, Sayang. Asalkan ada akta cerai, boleh kok.”
“Emang kamu gak malu nikahin janda?”
“Malu kenapa coba? Mendingan nikahin janda rasa perawan daripada nikahin perawan rasa janda. Iya, gak?”
“Iya juga sih.”
“Pindah kamar, yuk! Aku mau lepas ini baju haram kamu.” Wafi berkata dengan gemasnya.
“Hahaha, ini untungnya nikah sama yang berpengalaman. Tau banget aku mau coba di tempat lain.”
“Sekalian coba posisi baru, gak?”
“Boleh.”
“Matiin dulu lampunya.”
Wafi gegas turun dari sofa. Mematikan lampu utama dan juga televisi. Kali ini mereka nikmati malam syahdu di bawah remang cahaya kota Jakarta yang sampai ke kaca apartemen.
\=\=\=\=\=\=
Pagi ini sepasang suami istri itu sedang bermain-main di dalam bathup sebelum memulai kegiatan. Saling membantu membersihkan diri, tapi juga memberikan sentuhan-sentuhan yang dapat membangkitkan gairah. Hingga berujung penyatuan diri.
Dirasa puas keduanya beralih ke shower untuk mandi bersih lalu sama-sama keluar dan berpakaian. Dari sana mereka beranjak ke dapur. Wafi membantu istrinya menyiapkan sarapan.
“Nanti aku bawa masakan buat kakak kamu, ya,” kata Liora.
“Boleh.”
Liora pun menampung tangannya di depan sang suami.
“Apa?” tanya Wafi.
“Uang belanja.”
__ADS_1
“Oh, iya, aku lupa.” Wafi merogoh saku celana untuk mengambil dompet. “Pinnya tanggal nikah kita kemarin.”
“Langsung diganti?”
“Iya, dong.” Wafi pun tersenyum.
“Bukan aku gak mau pakai uang aku dulu. Takutnya nanti kamu lupanya keterusan.”
“Gak papa, Sayang. Kalau aku lupa, ya, diingatkan baik-baik.” Wafi menjawab sambil mengunyah sandwich bikinan sang istri. “Lagian kan emang sekarang kamu tanggung jawab aku.”
Bibir Liora melengkungkan senyuman.
“Oh, ya, Sayang, mobil kamu gimana? Masih di garasi cafe?”
“Ga, udah aku anter ke showroom mobil bekas. Mau di jual.”
“Kenapa?”
“Buat tambah-tambah biaya pembangunan cafe.”
“Kok aku gak tau?”
“Yang menghilang selama dua minggu siapa.”
“Maaf, ya. Saat itu aku lagi kecewa.”
“Aku ngerti.”
“Nanti kalau kurang bilang ke aku, ya.”
“Iya.”
Usai menikmati sarapan, keduanya sama-sama bangkit dari meja makna. Liora melepas kepergian sang suami dengan sekilas pungutan di bibir. “Daa, suami.”
“Daa, istri,” balas Wafi.
\=\=\=\=\=\=
Tepat jam makan siang, Wafi segera keluar dari kantor menuju gedung apartemennya. Tiba di basement, ia pun menelpon sang istri untuk segera turun. Tak lama Liora pun tampak berjalan ke arah tempatnya menunggu.
“Hai, Baby,” sapa Liora ketika masuk mobil.
Wafi tersenyum. “Bawa apa?”
“Aku bawa nasi kari yang kata kamu rasanya sama kayak bikinin ibu kamu. Terus tempe kering teri sama gulai ikan,” tutur Liora.
“Kakakku pasti suka. Wafi membawa kendaraannya keluar dari tempat parkiran itu.
“Oh, ya, kakak kamu umurnya berapa sih?”
“Aku sama Kak Vira itu beda sepuluh tahun,” jelas Wafi.
“Jauh juga, ya.”
“Dia dokter kandungan di salah satu rumah sakit terbesar di sini. Terus suaminya itu seorang direktur di salah satu bank swasta.”
__ADS_1
Liora membulatkan mulutnya.