DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 63


__ADS_3

Liora tersenyum lebar lalu menghampiri mantan mama mertuanya. “Sekuat apapun Mama mengelak dan menolak, harta itu akan jatuh ke tangan aku.”


“Cih, yakin sekali. Memangnya kamu punya bukti apa sampai hakim mau mengabulkan gugatan itu?”


“Apa Mama lupa kalau dulu setelah aku dan Reiki menikah kami menandatangani surat perjanjian?! Saya berikan rumah beserta tanah warisan almarhum orang tua saya demi mengembangkan bisnis yang di bangunnya. Jadi, sekarang saya berhak atas apa yang sudah di dapat Reiki,” tegas Liora.


Lena tertunduk malu. Ia seakan lupa pada jasa sang menantu dalam kesuksesan sang putra. Mulutnya yang tadi banyak bicara kini tertutup rapat. 


Melihat hal itu Liora tersenyum sinis penuh kemenangan. Ia melangkah dengan angkuh meninggalkan kedua orang tua Reiki, memecah kerumunan para pencari berita menuju mobil Fatih yang sudah menunggunya.


“Saya antar kembali ke rumah?” tanya Fatih.


“Antar ke cafe saja, Pak Fatih.” Liora menjawab dengan lesu.


Melihat kliennya yang tak baik-baik saja, Fatih pun sedikit khawatir. “Mbak, gak papa?”


“Hanya pusing aja. Tadi pagi gak sarapan.”


Fatih mengangguk dan menjalankan roda empatnya menuju cafe Liora.


...🍒🍒🍒🍒...


 


Wafi baru saja kembali dari luar kota tepat jam tiga pagi lalu langsung memproses beberapa berkas-berkas penangkapan yang dilakukan. Belum juga pulang ke rumah, pagi pun sudah menjelang dan ia pun kembali bekerja di kantor. 


Kini setelah semua urusannya selesai barulah ia pulang ke rumah.Tampangnya tampak sangat lelah dan kusut akibat kurangnya istirahat. Tiba di kediaman ia tak menemui sang istri. 


Kakinya langsung melangkah ke arah kamar, tapi hidangan di atas meja makan yang tertutup tudung saji menarik perhatiannya. Ia pun memeriksa makanan itu. Karena dimasak kemarin sore, baunya sudah tak sedap lagi dan Wafi yakin sang istri pasti menunggunya semalam.


Gegas ponselnya di hubungkan ke pengisian daya. Setelah benda pipih itu menyala, ia langsung mencari kontak sang istri dan menghubunginya. Panggilan pertama tak di jawab. Ia pun mencoba lagi. Sama,tak juga diangkat.


Wafi pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu baru menyusul istrinya ke cafe. Tiba di kamar ia langsung melepas baju yang sudah tak nyaman di badan dan masuk ke kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar terasa segar.


Namun, ketika ia keluar dari bilik shower, matanya menangkap sebuah mangkuk kecil di atas wastafel dengan satu alat kecil di dalamnya. Jari-jarinya mengangkat benda pipih dan tipis itu. Sebagai laki-laki ia benar-benar tak paham akan kegunaan benda itu.


Ia pun keluar kamar dengan handuk yang melilit di pinggang juga rambut basah. Dilihatnya ponsel yang sedang di cas, tak ada panggilan balasan dari sang istri. Penasaran dengan apa yang ditemukan, ia kembali menghubungi Liora.


Namun, tak juga dijawab. Akhirnya, polisi itu memutuskan untuk menghubungi sang kakak lewat video call.


“Ya,” jawab Vira di balik sana.


“Kak, aku mau tanya,” ujar Wafi.

__ADS_1


“Iya, apa?”


Wafi mengarahkan kamera belakang ponselnya pada benda yang ada di genggaman. “Ini apa sih?”


“Oh, itu tespek,” jelas Vira. Wanita itu langsung membelalakkan matanya. “Punya siapa? Jangan bilang punya Liora.”


Wafi sedikit kelabakan. “Gak, tadi nemu di kamar mandi hotel,” elaknya.


“Ooh, itu alat buat tes kehamilan.”


“Tes kehamilan?”


Vira mengangguk. Wanita itu menjelaskan sambil menjalankan kesibukannya di balik meja kerja.


“Iya, kalau garisnya dua artinya positif hamil, tapi kalau garisnya satu itu negatif. Artinya gak hamil.”


Wafi menatap kembali benda sebesar lidi itu. Dua garis merah terlihat nyata di sana. Tanpa mengucapkan kata, panggilan video langsung dimatikan dan ia gegas kembali ke kamar untuk berpakaian.


Keluar dari rumah dengan tergesa-gesa, polisi itu memacu roda empatnya dengan kecepatan tinggi. Di perjalanan ia terus mencoba menghubungi sang istri, tapi tetap tak diangkat juga. Hatinya mulai cemas dan khawatir. Takut kalau-kalau Liora kenapa-kenapa.


Tiba di parkiran, ia keluar dari mobil dan berlari memasuki cafe. “Pak Wafi,” sapa Susi.


“Istri saya mana?” Penyidik itu bertanya dengan raut wajah tegang.


“Hah, istri?”


“Oh, Mbak Liora lagi istirahat di atas.”


Langkah lebar diambilnya menaiki tangga menuju lantai tiga. Tangan kekarnya langsung meraih handle dan membuka pintu. Tampak sang istri tergolek di atas lantai. Dengan cepat Wafi menghampiri. 


“Li, Liora, sadar, Sayang,” ucapnya sambil menepuk pipi sang istri.


Khawatir akan kondisi istri dan calon anaknya, polisi itu langsung membawa Liora turun. Para karyawan yang sedang beres-beres tampak bingung melihat sang atasan terkulai lemah dalam pangkuan Wafi.


“Tolong buka pintu mobil saya,” ujar Wafi.


Aldi dengan cepat membuka pintu cafe juga berlari ke arah mobil Wafi.


Selama di perjalanan, polisi itu tak henti-hentinya mengecup punggung tangan Liora. Tujuannya yaitu membawa sang istri ke Rumah Sakit tempat sang kakak bertugas.


...🥝🥝🥝🥝...


Setelah memeriksa keadaan Liora, Vira pun keluar dari ruang UGD. “Kita bicara di ruangan kakak,” tegasnya.

__ADS_1


“Terus Liora gimana?” tanya Wafi.


“Suster akan bantu pindahkan ia ke ruang rawat.”


Wafi mengangguk dan mengikuti sang kakak dari belakang. 


“Ini yang kamu bilang gak ngapa-ngapain?” Vira menumpahkan amarahnya pada sang adik. “Ternyata benar dugaan kakak kalau kalian sudah tinggal satu atap dan sekarang Liora hamil.”


“Kami sudah menikah,” ungkap Wafi.


Dokter kandungan itu terdiam.


“Kami nikah siri tiga bulan yang lalu.”


Vira mendudukkan dirinya di kursi kebesaran. “Kenapa?”


“Karena Liora terus mengelak kalau aku ajak nikah resmi.”


“Memangnya kamu gak bisa sabar dalam meyakinkannya?”


Wafi tertunduk. “Maaf, Kak, aku gak bisa tahan lebih lama lagi. Bagaimanapun kami sama-sama dewasa.” Ia sengaja memberikan alasan itu agar sang saudara tak lagi mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


Nafas kasar dibuang Vira. “Liora dehidrasi dan dia gak makan.”


“Terus gimana kandungannya?”


“Untungnya gak masalah.”


“Kira-kira berapa usianya?”


“Kakak gak tau kapan terakhir dia datang bulan. Tapi kalau dilihat dari ukurannya, antara enam atau tujuh minggu.”


Wafi mengangguk. 


“Pantes kamu terlihat buru-buru kemarin.”


“Aku baru tau tadi, Kak.”


“Terus apa Mas Wahyu tau kamu sudah nikah siri?”


Polisi itu mengangguk.


Vira menggeleng tak percaya. “Secepatnya pernikahan kalian harus digelar. Jangan sampai orang-orang tau. Meski kamu sudah sah dimata agama, tapi tetap aku gak mau kehamilan Liora jadi arang di wajah keluarga kita.”

__ADS_1


“Iya.”


“Sekarang sana, temui istrimu dan beri dia makan.”


__ADS_2