DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 67


__ADS_3

Tiba di luar gedung, Wafi menghembuskan nafas lega. Dua minggu lagi ia dan istri sirinya akan melangsungkan pernikahan resmi mereka. Undangan pun sudah disebar. Terlihat mendadak, tapi penyidik itu mampu menjelaskan alasannya pada beberapa atasan.


Pasangan itu pun sudah masuk kedalam mobil untuk menuju satu studio. Mereka akan melakukan sesi foto prewedding mengenakan baju kebanggaan polisi serta bhayangkari.


“Capek gak?” Wafi bertanya pada sang istri.


“Gak sih, tapi aku lapar.”


“Ya, udah kita makan siang dulu. Mau makan apa?”


“Aku lagi pengen makan ikan bakar.”


“Oke, kita cari tempat makan yang ada lesehannya.”


Wafi menjalankan mobil menuju satu restoran yang menyajikan olahan ikan yang sangat lezat. Turun dari mobil keduanya memilih duduk di saung yang dekat dengan kolam. Sembari menunggu pesanan mereka datang, Liora asik menebar pelet ke arah kolam. Ikan-ikan pun datang dan menyerbu makanan itu.


Wafi pun mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya. Ia benar-benar bersyukur bisa menikahi wanita secantik Liora yang kini tengah mengandung benihnya. Semakin hari kecantikan sang istri terlihat bertambah.


“Lihat kesini dong,” ajak Wafi.


“Ngapain sih, Bee?” Liora merasa malu.


“Buat koleksi aku lah. Nanti kalau di kantor lagi kangen aku bisa lihat video ini.”


“Kan bisa telpon.”


“Ia, sih, tapi aku pengen aja videoin kamu yang makin hari tambah cantik.”


Wajah ibu hamil itu tampak merona.


“Cie, yang bentar lagi bakalan resmi jadi Ibu Bhayangkari.”


“Udah deh, jangan godain aku,” rengek Liora.


Polisi itu tertawa. 


Pesanan mereka datang keduanya mengubah posisi duduk menghadap meja.


“Makan yang banyak,” kata Wafi. “Biar kamu dan anak kita kenyang.”

__ADS_1


“Nanti kalau aku gendutan gimana? Bisa-bisa baju buat resepsi kekecilan.”


“Gapapa, nanti kita fitting lagi aja. Yang penting kamu dan anak kita gizinya terpenuhi.” Wafi mengambilkan nasi dan lauk untuk sang istri, Mereka pun menyantap hidangan dengan tenang.


...🐸🐸🐸🐸...


Tak terasa, hari yang dinantikan pun tiba. Tepat hari jumat ini Wafi akan kembali mengucapkan janji suci. Kali ini disaksikan oleh keluarga dan tamu undangan. 


Acara akad nikah akan dilangsungkan tepat jam delapan pagi di salah satu masjid terbesar di kota Jakarta.   


Konsep dekorasi elegan islami menjadi pilihan pengantin itu. Dekorasi itu memunculkan unsur-unsur yang ada dalam pernikahan di negara Islam, seperti Arab atau Turki.


Ornamen-ornamen khasnya adalah tirai panjang yang digunakan sebagai background pelaminan, dan hanya menggunakan satu atau dua warna saja. Untuk mendapatkan kesan cerah, bunga-bunga berwarna kuning, putih, hijau, pink, dan merah, menjadi pilihan Liora.


Dilengkapi dengan pohon yang dikeringkan sebagai ornamen penghias lainnya.


Sejak dua hari kemarin, Wafi memilih tinggal di rumah sang kakak, sedangkan Liora menginap di hotel tempat acara resepsi nanti digelar bersama keluarga Fatih dan Kaina. 


Usai salat subuh tadi, dua keluarga sudah bersiap-siap di tempat masing-masing. 


Liora memilih mengenakan kebaya putih dengan aksen cape yang menjuntai indah. Kebaya yang dibuat dengan detail kerah hati tampak indah dengan struktur tulang yang menjadikan kebaya tampak kokoh saat dikenakan. Selain itu, detail lace yang cantik membuat tampilan kebaya secara keseluruhan terlihat semakin memesona. Membuatnya tampak anggun dengan tambahan kain batik sebagai rok.


Sedangkan, Wafi mengenakan beskap putih dan batik senada dengan sang istri siri. Lengkap dengan blangkon dan keris serta aksesoris pelengkap lainnya. Membuat ketampanan polisi itu semakin terpancar. 


Tepat jam tujuh pagi, semua bergerak menuju lokasi. Setengah jam sebelum acara dimulai pihak pengantin laki-laki dan perempuan sampai di sana dalam waktu yang bersamaan. 


Wafi pun gegas menyambut permaisurinya turun dari mobil. Liora menyambut uluran tangan lebar itu dan menapakkan kakinya seraya mengucapkan basmallah. Dalam hati ia rapalkan doa pada yang maha kuasa. Semoga ini adalah pernikahan yang terakhir untuknya dan sang suami siri.


Pengantin itu berjalan bergandengan memasuki masjid. Diikuti oleh keluarga yang datang. Tiba di depan meja ijab kabul Wafi menarik kursi untuk Liora duduk dan setelahnya barulah ia mendudukkan diri disebelah wanita itu. Kini mereka berhadapan dengan penghulu juga saksi.


Karena semua sudah hadir dan lengkap, acara sakral itu pun segera dimulai. Wafi pun membalas uluran tangan wali hakim dari Liora. Ijab pun diucapkan dan kabul pun dilafalkan.


Kata sah menggema di dalam masjid itu. Semua orang langsung menampungkan tangan ketika seorang ustad melafalkan doa di akhirnya dengan AL-fatihah. “Aamiin.”


Pasangan suami istri yang sah di mata hukum itu, kini sama-sama menandatangani surat pernikahan. Wahyudi sebagai kakak tertua di keluarga Wafi juga atasan, ikut membubuhkan tanda tangannya sebagai saksi atas pernikahan dari adik juga bawahannya itu.


Acara berjalan dengan lancar. Usai mendapatkan buku hijau dan merah, Wafi dan Liora saling menyematkan cincin berlian di jari manis pasangan. Tak lupa pengantin wanita membawa tangan suaminya untuk di salim. Begitu juga dengan mempelai pria, ia labuhkan satu kecupan hangat dan penuh cinta di dahi istrinya.


Penyerahan mahar pun di abadikan oleh tim fotografer. Wafi dan keluarga memberikan mas kawin berupa logam mulia senilai delapan juta rupiah yang pas dengan tanggal pernikahan. Itu pun atas permintaan Liora sendiri.

__ADS_1


Acara sakral itu pun akhirnya selesai. Pengantin baru itu dipersilahkan duduk di pelaminan kecil untuk menyambut dan menerima para tamu yang hadir pagi ini. Tak lupa sesi foto keluarga pun dilakukan sebelum mereka meninggalkan tempat.


...🦛🦛🦛🦛...


Usai salat jumat, para pria menyusul para wanita ke hotel tempat resepsi akan diadakan besok. Semuanya langsung duduk di salah satu meja yang sudah tersedia sajian menggugah selera.


Pengantin wanita yang belum sempat berganti pakaian, langsung membantu suaminya mengambil makanan. 


“Kamu udah makan?” Wafi bertanya pada istri sah.


“Udah, Bee, tadi sama yang lain.”


“Habis ini bawa istri kamu istirahat,”  timpal Vira.


“Iya, Kak,” jawab Wafi.


Kaina yang juga melayani suaminya ikut bertanya, “Kamu gak ada mual atau ngidam gitu, Li?”


Semua keluarga memang sudah tau akan kondisi pengantin itu yang tengah berbadan dua.


“Alhamdulillah gak ada, Mbak,” jawab Liora. 


“Gak pengen makan yang asem-asem gitu?” taya istri Wahyudi.


Kening Liora mengernyit. “Gak, ada, Mbak. Malah Wafi yang kemarin makan nanas muda.”


“Jadi kamu yang ngidam?” tanya Vira.


“Emang bisa gitu, ya, Kak?” Wafi pun balik bertanya.


“Bisa lah.”


“Enak, ya, Liora hamil bisa bagi-bagi keluhannya,” ujar istri Wahyudi lagi.


“Hamil lagi, yuk, Ma!” ajak Wahyudi.


“Kalau nanti Papa yang mual-mual sama tanggung capeknya sih, Mama mau.”


“Gak bisa dipindahin gitu, Dok?” Kapolres itu bertanya pada saudara sepupunya.

__ADS_1


__ADS_2