
Merasa geram, Reiki mendorong Liora dengan kuat hingga tersungkur di lantai. Diambilnya alat komunikasi sang istri di atas meja untuk mencari sesuatu di dalam sana yang bisa dijadikan sebagai bukti kalau dia tidak bersalah.
Namun, Liora mencoba merebutnya. “Kembalikan!”
“Gak akan!” Reiki mengangkat tinggi-tinggi benda pipih itu.
“Mau apa kamu dengan ponselku.” Liora bertanya sambil meraih ponselnya.
“Buat mencari bukti kalau kamu dan Sena bekerja sama dalam memberikan keterangan palsu.”
“Cari saja. Sampai kapanpun kamu gak akan mendapatkannya.” Liora tau, akan sulit baginya untuk bisa mengambil handphone itu dari tangan sang suami. Dirinya tak kehabisan akal. Diambilnya kursi lalu dilemparkan ke dinding kaca cafe hingga membuat kaca itu retak. Lampu di dalam cafe yang sudah padam membuat tempat itu terlihat gelap. Jadi, orang-orang dari luar tak dapat melihat apapun.
“Hey, apa yang kamu lakukan?” heran Reiki.
“Aku akan hancurkan cafe ini dan membuat seolah-olah kamulah yang sudah memporak- porandakannya.” Liora berkata sambil menendang dan menjatuhnya meja serta kursi cafenya.
“Dasar gila.” Reiki menghentikan aksi istrinya itu.
“Iya, aku gila. Sekarang kembalikan ponselku atau kamu akan semakin terjebak dalam kasus ini.” Liora menantang sang suami dengan tatap tajam.
Benar, apa yang dikatakan istrinya. Bisa-bisa ia kembali terjebak dalam permainan Liora. Reiki pun akhirnya mengalah. Ketika ia hendak menyerahkan ponsel yang ada di tangan, sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenal tertera di layar. Merasa penasaran, panggilan itu pun di angkatnya.
“Hallo, Mbak. Reiki tadi datang ke apartemen saya dia mengira kalau saya khianati. Tapi saya sudah jelaskan kalau saya takut sama polisi. Sepertinya dia percaya.”
Mendengar suaranya saja Reiki tau kalau itu adalah sang mantan selingkuhan. Ternyata benar dugaanya kalau selama ini Liora dan Sena bekerja sama. Ia langsung memutus panggilan itu.
Plak…
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Liora. Rasanya sakit, perih, dan panas. Bahkan telinganya sampai berdenging untuk beberapa saat.
“Benar-benar licik,” geram Reiki. “Apa yang kamu tawarkan pada wanita murahan itu sampai dia mau membuang keuntungan yang aku berikan?”
Liora tertawa seakan mengejek suaminya. Ia pun menyeka sedikit darah di sudut bibir lalu berkata,” Kamu akan membayar ini.”
__ADS_1
Emosi sudah membakar jiwa. Apinya menyala hingga ke ubun-ubun. Dada Reiki tampak naik turun menahan amarah yang hendak meledak. Namun, ia tak mau salah langkah. Hingga akhirnya satu tamparan kembali dilayangkan. Membuat Liora terlempar ke samping dan kepalanya membentur meja. Wanita itu pun langsung jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.
Tak terima dibohongi, Reiki kembali menuju kediaman Sena
\=\=\=\=\=\=\=
Setelah melakukan panggilan dengan Liora menggunakan ponsel orang lain, Sena kembali ke apartemen. Reiki yang baru saja turun dari taxi melihat kalau wanita itu buru-buru masuk ke gedung hunian. Ia pun dengan gegas mengejarnya. Tepat saat sang mantan selingkuhan tiba di unitnya, lift yang membawanya pun terbuka. Dengan cepat Reiki mencegat.
“Kok kamu balik lagi?” tanya Sena.
“Masuk!” Reiki berkata dengan tatapan tajam sambil mendorong wanita itu.
Sena pun ketakutan. Dengan tangan gemetar dia membuka kunci pintu dan masuk. “Ada apa lagi kamu datang kesini?”
Reiki menunjukkan ponsel Liora yang dibawanya. “Katakan kalau ini nomor kamu.”
Sena menggeleng.
“Kamu kan yang tadi menghubungi Liora. Mengatakan kalau aku datang. Untuk apa? Untuk memperingatkannya? Jawab!” bentak Reiki
Reiki memukul dinding di samping Sena berdiri. “Kamu bisa aja menonaktifkan dan menyembunyikannya.” Ditariknya rambut belakang wanita itu. “Sekarang katakan dimana kamu menyimpannya!”
Sena meringis kesakitan. “Aku gak menyembunyikan apa-apa.”
Kesal karena sang mantan tak mau berkata jujur, Reiki membenturkan kepala Sena ke dinding. “Masih mau berbohong kamu?”
“Ampun, Rei, aku gak bohong,” pinta Sena. Wanita itu memohon dengan air mata. Dirinya ketakutan dan cemas kalau-kalau Reiki akan membunuhnya.
Sekali lagi, Reiki membenturkan kepala Sena ke dinding. Berharap wanita itu akan menyerah dan mengatakan yang sebenarnya. Namun, ia dikagetkan dengan suara dobrakan pintu dari pihak yang berwajib.
“Saudara, Reiki, Anda, kembali kami tahan karena melakukan penganiayaan terhadap saksi,” ujar Satya.
“Seharusnya kalian tangkap wanita itu,” tunjuk Reiki pada Sena. “Bukan saya. Saya hanya sedang mencari bukti tentang dia yang sudah memberikan kesaksian palsu,” jertitnya.
__ADS_1
“Silahkan jelaskan di kantor.” Satya membawa putra Malik itu keluar dari gedung apartemen dan membawanya kembali ke tahanan dengan mobil polisi.
IPDA Tari selaku Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak yang menjadi korban atau saksi membawa Sena keluar dari huniannya untuk segera diobati di Rumah Sakit
\=\=\=\=\=\=
“Lepasin saya,” teriak Reiki. Ia duduk di kursi interogasi dengan tangan diborgol ke belakang.
“Kenapa, Anda, melakukan tindakan yang sangat bodoh?” tanya Wafi.
Reiki mendengus. “Dua saksi yang Anda percayai ternyata sudah menipu. Mereka berdua bekerja sama dalam memberikan keterangan palsu. Dan saya hanya sedang mencari buktinya.”
“Kenapa tidak Anda serahkan saja pada pihak yang berwajib.”
“Karena kalian tidak mempercayai omongan saya,” triak suami Liora.
“Lalu dengan mencelakai Liora dan Sena, apakah Anda sudah mendapatkan buktinya?”
“Periksa ponsel yang kalian geledah tadi. Itu ponsel Liora, saya terpaksa merampasnya. Ada nomor tak dikenal dan itu saya jamin nomor yang dipakai Sena untuk berkomunikasi dengan Liora.”
“Kenapa, Anda, bisa yakin?”
“Karena saya sendiri yang menerima panggilan itu.” Reiki membuang nafas panjang. Menurunkan emosi yang tinggi. “Saya memang selingkuh, saya memang mematikan rekaman CCTV setelah kepergian Milen ke Bali. Saya akui juga kalau saya sempat menghasut Sena untuk memberikan keterangan palsu. Tapi saya benar-benar bukan pembunuh. Bukan saya yang mendorong Milen dari tangga.”
Wafi melihat kejujuran di mata pria itu ditambah dengan rasa putus asa. “Lalu siapa yang sudah menyebabkan korban meninggal dunia.”
“Saya akan ceritakan yang sebenarnya.”
...----------------...
Mana nih like 👍 dan komennya 💬? Pada diam" aja bacanya 😔. Tinggalin jejak dong biar author semangat up datenya...
Kasih setangkai bunga mawar 🌹kek atau secangkir kopi ☕ ☺😊
__ADS_1
Nnti kalau author semangat kita cary up deh...