DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 72


__ADS_3

Mendapat pengaduan dari sang ibunda tercinta tentang sang mantan istri yang kini hidup harmonis bersama suami barunya membuat Reiki semakin merasa tak terima. 


Di tambah sejak ayahnya memberitahukan kalau ia tak dapat bebas dalam waktu singkat, laki-laki itu sering uring-uringan di dalam penjara, pikirannya kadang tak fokus pada pembina yang ada di lapas.


Kehidupan yang terasa tak adil itu membuatnya frustasi. Emosinya tidak stabil jika mendapat teguran dari sipir penjara. Hal itu membuat ia mendapatkan penilaian buruk akibat tingkah lakunya.


Mendekam di dalam tahanan membuatnya merasa tertekan karena tak bisa menikmati hidup seperti sedia kala. Bahkan rasa amarah yang membara di dalam hati terus berkobar menyalakan api dendam.


Hal itu membuat ide gila mulai bermunculan dalam benak. Ditambah hasutan dari beberapa tahanan lainnya membuat Reiki membulatkan tekad untuk bisa kabur dari dalam penjara.


“Pokoknya saya ikut kalau kalian ada rencana,” ujarnya.


“Yakin lo mau ikut kita-kita?” tanya salah satu tanahan.


Mantan suami Liora itu meganguk penuh keyakinan.


“Oke,  kita punya rencana, tapi lo juga harus ikut.”


“Baik. Apa itu rencananya?”


“Lo haru rusak beberapa kabel lampu di sudut-sudut yang tidak kelihatan petugas.”


“Terus kalian?”


“Kami akan memantau juga mengalihkan perhatian petugas. Kalau lo berhasil kita akan bawa lo keluar dari sini.”


“Oke, gue siap.”


Dua orang tahanan itu tersenyum lebar dan mengangguk. Mereka tak perlu repot-repot mengotorkan tangan karena sudah ada sukarelawan yang mau mengajukan diri. Jika rencana nantinya tak berhasil maka mereka pun bisa lempar batu sembunyi tangan.


“Nanti kita akan kasih kode. Kalau aman artinya lo harus lakukan rencana kita.”


“Siap.” Reiki menjawab dengan penuh keyakinan juga penuh harapan akan kebebasan.


...🥦🥦🥦🥦...


Tak…


Gelas yang baru saja dipakai Liora untuk minum tiba-tiba saja retak dan terbagi dua di bagian tengah.


Ibu hamil itu langsung merasa heran juga cemas. Ia takut kalau-kalau itu merupakan sebuah pertanda buruk. Dari dapur, ia gegas melangkah menuju kamar. Mengambil ponsel di atas meja dan langsung menghubungi sang suami.


Namun, baru saja di dering pertama, telinganya menangkap suara deru mesin mobil memasuki halaman rumah. Dengan cepat ia keluar dari kamar menuju teras.


Wafi yang baru saja mematikan mesin mobil, lekas turun dan menghampiri sang istri. “Kenapa? Kok nelpon aku?”

__ADS_1


Nafas lega dibuang Liora. “Gak papa. Tadi aku lagi minum, tiba-tiba gelasnya retak dan jadi dua. Aku pikir ada apa-apa sama kamu.”


Wafi melihat dirinya sambil merentangkan kedua tangan. “I,m fine.” Kemudian ia pun memeluk sang istri. “Mungkin itu cuma kebetulan aja. Gak ada apa-apa jadi jangan khawatir.”


Liora mengangguk di dada sang suami. “Syukurlah, semoga dugaanku salah.”


“Kamu terlalu percaya mitos. Masuk, yuk!”


Keduanya berjalan menuju kamar. 


“Tapi kamu serius kan, Bee, kalau di kantor gak ada masalah?” tanya Liora.


“Semua baik-baik saja, Sayang. Jangan mikir yang aneh-aneh begitu nanti kamu jadi stres.”


“Aku cuma mau memastikan aja.”


“Iya, aku paham. Tapi beneran gak ada yang perlu dikhawatirkan.” Wafi kembali myakinkan istrinya itu.


“Ya, sudah sana mandi. Bajunya aku siapin.”


“Oke, aku bersih-bersih dulu.”


Melihat punggung lebar suaminya hilang di balik pintu kamar mandi, Liora tetap tak dapat menyembunyikan ras kekhawatirannya. Ia pun mencoba menghubungi Sena.


...🥬🥬🥬🥬...


“Barang belanjaan kemarin sudah sampai?” tanya Wafi.


“Udah, Bee, tadi udah aku pilah pilih dan aku antar ke laundry buat di cuci.”


“Kenapa gak di cuci Bi Idar aja?”


“Kasihan beliau, Bee, aku jadi gak tega.”


“Iya juga sih. Lumayan banyak, ya, kemarin kita beli bajunya si kecil.”


“Iya, mana tempat jemurnya juga gak ada lagi kalau dicuci disini.”


Wafi melirik jam yang ada di dinding. Hari menunjukkan pukul setengah sepuluh. “Ke kamar, yuk!”


“Ayo!” balas Liora.


“Tapi kamu belum minum susu. Aku bikin dulu kamu duluan ke kamar.”


Senyum bahagia mengembang di wajah Liora. “Makasih, Bee.”

__ADS_1


“Iya, Sayang.” 


Keduanya sama-sama berdiri dari sofa dan melangkah ke arah yang berbeda.


Tiba di kamar, ibu hamil itu duduk menyandar di kepala ranjang sambil meluruskan kakinya. Tak lama sang suami pun tiba membawakan segelas susu hamil hangat rasa stroberi.


“Dibuat dengan penuh cinta buat kamu dan anak kita.” Wafi mengulurkan glas itu pada istrinya.


“Hahaha, kamu bisa aja.”


“Loh, emang benar.”


“Iya, aku tau. Sekali lagi makasih.”


Polisi itu mengangguk. Di minum habis itu kita tidur.”


“Aku boleh nonton dulu, gak pakai tab. Belum ngantuk.”


“Yaudah, tapi jangan kemaleman tidurnya.”


“Iya. Kamu tidur duluan aja. Pasti capek seharian ini ‘kan?!”


“Tiap hari pasti capek, Yank, tapi kalau udah sampai rumah disambut oleh istri dengan senyuman teduhnya juga dengan perut besarnya ini, aku jadi semangat lagi.” Merasa gemas, Wafi mendaratkan sebuah kecupan di perut Liora.


“Bentar lagi ada aku dan anak kita yang bakalan nungguin kamu pulang.”


“Iya. Aku jadi gak sabar nunggu dia lahir. Kira-kira mirip siapa, ya?”


“Mirip kita berdua, dong.”


“Kalau cewek aku maunya mirip kamu, biar cantik kayak ibunya.”


“Aamiin. Kalau cowok mirip kamu, ya, biar ganteng juga kaya ayahnya.”


Wafi mengangguk sambil tersenyum.


“Dah, tidur sana.”


Direbahkannya kepala di samping paha sang istri dan satu tangannya memeluk perut buncit Liora, Wafi pun mulai memejamkan mata.


...🍒🍒🍒🍒...


Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat lima puluh menit. Waktunya pergantian shift jaga malam di lapas X. Hal itu dimanfaatkan oleh Reiki juga dua teman satu selnya untuk melancarkan aksi.


Ia mulai merusak beberapa kabel serta jalur listrik di dalam sel hingga menyebabkan korsleting dan api pun mulai menyala. Hal itu membuat semua napi mulai panik dan ketakutan. 

__ADS_1


Ada juga yang memanfaatkan keadaan dengan membakar kasur beserta sprei untuk membuat keadaan semakin kacau dengan begitu mereka memiliki peluang untuk kabur.


Para petugas yang tadinya sedikit lengah,jadi kalang kabut saat api sudah menyambar bagian-bagian tahanan. Mereka mulai menjalankan protokol keselamatan. Sirine tanda kebakaran pun menyala.


__ADS_2