
“Ya, gue harus cerita soal apa?” Wafi bingung. “Gak ada yang perlu gue bagi ama dia.”
“Kata siapa gak ada. Contohnya aja soal latar belakang keluarga lo. Kenapa lo bisa sampai jadi polisi.”
“Dia gak tanya.”
Fatih kembali tertawa lebar. “Wanita itu mikir pakai perasaan. Mereka akan mengira kalau kita gak percaya sama dia ketika kita gak terbuka. Jadi, kalau lo mau Liora terbuka soal prinsipnya sama lo, mending mulai sekarang lo banyak cerita sama dia.”
Polisi itu mengangguk paham. “Lo sekarang jadi konsultan pernikahan, ya?”
“Gak juga. Ya, gue banyak belajar dari klien juga dari istri gue. Kadang gue suka diskusi sama dia soal klien yang mau cerai. Mungkin menurut orang lain gue gak seharusnya membahas masalah pekerjaan sama istri, tapi menurut gue itu justru hal yang menyenangkan. Kami bisa saling tukar pikiran. Kadang kita sebagai pria gak tau apa yang dirasakan istri, soalnya kita banyak mikir pake logika.”
“Contohnya?”
“Misal, lo pulang malam terus gak lo kasih kabar. Pikir lo, ah, nanti di rumah bisa jelasin kenapa pulang telat. Tapi cewek dia bakalan khawatir.”
“Kenapa?”
“Ya, pikirannya udah kesana-kemari. Kita kenapa-kenapa lah.”
“Ooh.”
“Jadi sekarang lo paham?”
“Ngerti.”
“Nah, mulai sekarang coba lo mulai sering cerita ama dia. Soal kegiatan di kantor atau bahas hari ini ada kasus apa. Pasti nanti dari sana Liora akan menilai lo dalam menghadapi satu masalah. Suatu saat ketika dia sedang butuh pendapat dari seseorang, gue jamin dia bakalan minta pendapat suaminya.”
“Makasih banyak. Masukan lo benar-benar bikin gue jadi tenang.”
Fatih menepuk punggung polisi itu. “Gue senang bisa bantu lo. Gue doain semoga kalian jodoh selamanya.”
“Aamiin,” jawab Wafi dengan kencang.
“Dah, sana mending lo pulang. Gue mau ada klien bentar lagi.” Fatih berkata sambil melirik jam di tangannya.
“Kapan-kapan gue main ke rumah lo.”
“Kabarin aja. Gue pasti di rumah.”
“Sekarang lo jadi bapak-bapak rumahan?”
“Hahaha, Dari pagi sampai sore gue udah di kantor malamnya gue habisin sama keluarga.”
“Wah, lo banyak berubah sekarang.”
“Emangnya dulu gue kenapa? Gue juga anak rumahan.”
“Ya, tapi setelah cerai lo kan jadi sibuk banget. Bahkan jarang di rumah.”
“Ya, lo tau lah alasan dibalik itu semua.”
Wafi mengangguk. “Sekali lagi makasih banyak.”
“Iya.”
__ADS_1
“Kalau gitu gue ke kantor.”
“Gak pulang?”
“Ada sedikit kerjaan yang mau diselesaikan dulu.”
“Oke.” Keduanya sama-sama berdiri dan keluar dari ruangan itu. Fatih pun mengantar temannya sampai teras kantor.
...🌱🌱🌱🌱...
“Sini,” Wafi mengajak istrinya duduk di pangkuan setelah Liora selesai membersihkan meja makan.
“Ada apa?”
“Aku mau cerita sesuatu.”
“Soal?”
“Kamu ingat gak kalau aku pernah bilang suaminya Kak Vira kerja di salah satu Bank swasta.”
Liora mengangguk.
“Bank swasta itu sebenarnya milik orang tuaku. Jadi, setelah Ayah dan ibuku meninggal, mereka mewariskannya pada aku dan Kak Vira.”
“Ooh. Kok baru cerita sekarang? Kamu takut kalau aku tau bakalan aku manfaatin?!”
“Haha, bukan gitu, Sayang.” Wafi merapikan anak rambut istrinya. Ternyata benar kata sahabatnya tadi, Liora menduga dirinya tak mau terbuka. “Maaf, ya, aku gak cerita. Aku pikir kamu gak mau tau soalnya kamu gak tanya.”
“Males tanya-tanya,” ketus Liora.
“Kenapa?”
“Heh, aku gak gitu kok. Mungkin karena kita baru jadi aku bingung aja mau cerita dari mana. Apalagi kita udah nikah, jadi aku kira kamu bakalan tanya.”
“Aku orangnya gak suka tanya-tanya kalau orangnya gak cerita.”
Dirangkumnya wajah sang istri. “Maaf, ya, kalau aku gak terbuka sama kamu.”
Istri penyidik itu mengangguk.
“Mulai sekarang aku bakalan cerita apapun sama kamu. Kalau kamu mau tanya gak usah ragu, aku pasti bakalan jawab.”
“Terus, kamu punya usaha apa lagi? Kok aku lihat transferan tiap bulan banyak gitu?”
Wafi tampak berpikir. “Gimana kalau besok pas libur kita lihat-lihat usaha aku.”
“Di mana?”
“Yang dekat sini aja.”
“Apa tuh?”
“Salah satunya toko perlengkapan motor yang waktu itu kita kunjungi.”
Liora memukul lengan suaminya itu. “Tuh kan, kamu emang gak mau terbuka sama aku. Kenapa gak bilang dari awal.”
__ADS_1
“Ya, aku pikir kamu gak peduli.”
“Tau ah.” Liora bangkit dan menghentak-hentakkan kakinya menuju kamar.
“Yank.”
“Terus ngapain sekarang kamu mau cerita?”
“Tadi aku ketemu Fatih dulu sebelum ke kantor.”
“Ngapain?” Liora bertanya sambil merangkak ke atas kasur.
“Cuma sharing aja.”
“Lebih suka sharing ama orang lain dari pada istri sendiri.”
“Fatih itu sahabat aku dari SMP, Yank. Dia bukan orang lain.”
“Tau, ah, bikin kesal.” Liora menarik selimut dan menutup dirinya.
“Yank, jangan ngambek dong.” Wafi berusaha membujuk sang istri.
“Terserah aku,” kata Liora dari dalam selimut.
Wafi ikut merebahkan badan di belakang punggung sang istri. Ia memeluk erat wanita itu meski Liora terus menyikutnya. Hingga akhirnya mereka pun tertidur.
...🌵🌵🌵🌵...
Hari yang dinanti pun tiba, yaitu hari dimana sidang putusan digelar. Pagi ini keluarga Milen datang dengan harapan mereka begitu juga dengan keluarga Reiki.
Liora di temani suaminya datang ke persidangan, sedangkan Sena tak ikut sebab model itu sedang di luar kota.
“Kayaknya aku yakin kalau pembelaan Reiki dikabulkan deh,” bisik Wafi.
“Ya, kalau memang begitu palingan keluarga Milen ajukan banding,” balas Liora berbisik.
“Tapi kalau banding pasti bakalan di tolak.”
“Kita lihat nanti aja.”
Keduanya duduk dengan tenang ketika Majelis hakim memasuki ruangan dan persidangan pun dimulai.
“Diberitahukan kepada seluruh peserta sidang bahwa agenda sidang hari ini adalah pembacaan Putusan Akhir oleh Majelis Hakim, untuk itu diingatkan kepada saudara Penuntut Umum, Terdakwa maupun Penasihat Hukum Terdakwa untuk memperhatikan putusan yang akan dibacakan,” ujar Hakim ketua.
“Mengadili: Pertama, menyatakan terdakwa Reiki Alterio tersebut di atas, terbukti secara sah dan meyakini bersalah melakukan tindak pidana Pembunuhan yang tidak disengaja. Kedua, menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 5 tahun.” Palu pun diketuk Hakim ketua sebanyak tiga kali.
Reiki dan keluarganya tersenyum lega sebab pembelaan yang mereka lakukan kemarin membuahkan hasil, sedangkan keluarga Milen langsung berdiri karena tak terima.
“Bagaimana penuntut umum?” tanya Hakim ketua.
“Atas permintaan keluarga korban melalui penasihat hukum mereka, kami mengajukan banding, Majelis Hakim.”
Majelis hakim pun bermusyawarah. “Baik, diberitahukan kepada Penuntut Umum, Terdakwa maupun Penasihat Hukum terdakwa bahwa batas untuk mengajukan upaya hukuman adalah 7 hari sejak putusan ini dibacakan oleh Majelis Hakim.”
Penuntut Umum dan Penasehat hukum Reiki mengangguk paham.
__ADS_1
Sidang ditutup dan selesai. Majelis Hakim meninggalkan ruangan.
Liora dan Wafi tampak biasa saja sebab mereka sudah menduga hal itu.