
“Itu juga mau Papa jual buat bayar denda persidangan nanti," jelas Malik.
“Terus kita tinggal di mana?”
“Kita cari rumah kecil yang sederhana.”
“Ya, jangan yang kecil juga dong, Pa. Ya, setidaknya setengah dari rumah kita ini lah.”
“Mama lebih penting gengsi tapi kita gak makan atau turunkan gengsi tapi kita masih bisa makan enak tiap hari?”
Ibunda Reiki itu tampak berpikir.
“Mau Mama setuju atau tidak, Papa tetap akan jual rumah ini.” Setelah berkata malik pun berdiri dan pergi meninggalkan sang istri.
...🍒🍒🍒🍒...
Hari ini Wafi membawa istrinya mengunjungi beberapa tempat usaha. Yang pertama toko peralatan motor dan yang kedua sebuah bengkel motor nan cukup besar juga lengkap.
“Banyak penghasilan gini kenapa masih jadi polis?” tanya Liora.
“Keluarga dari ayahku kebanyakan jadi abdi negara. Makanya aku juga tertarik pengen jadi polisi,” jelas Wafi.
“Terus siapa yang urus usaha kamu ini?”
“Ada orang kepercayaan. Nanti tiap bulannya dia bakalan kasih laporan keuangan.”
“Ooh.”
“Terus ada usaha apa lagi?”
“Ya, palingan di beberapa kota aku buka cabang aja sih.”
“Ternyata kamu pebisnis yang sukses juga ya.”
“Alhamdulillah.”
“Tapi aku gak masalah sih. Mau kamu pebisnis atau seorang polisi aku gak begitu peduli sama profesi atau pekerjaan kamu. Yang penting bisa bertanggung jawab sebagai suami dan gak banyak tingkah kayak Reiki.”
Wafi yang duduk di kursi kerjanya, membawa sang istri ke dalam pangkuan. “Kenapa?”
“Untuk uang aku bisa cari sendiri. Kalaupun kamu misalnya punya penghasilan kecil aku bisa bantu-bantu. Tapi aku gak terima di khianati apalagi sampai main tangan segala.”
“Tapi aku yang gak mau kamu sampai ikut membiayai rumah tangga kita.”
“Kenapa? Gengsi, ya, kamu?”
“Bisa dibilang begitu. Rasanya harga diriku gak ada di mata kamu.”
__ADS_1
“Tapi aku gak berpikiran begitu.”
“Iya, sih. Tapi tetap aku gak mau. Uang kamu simpan aja. Seperti yang aku bilang, mau apa, minta jangan sungkan karena aku mampu.”
“Iya deh.”
Wafi mencubit gemas pipi istrinya. “Kita pulang, yuk! Cuaca mendung kayaknya mau hujan. Mending kita panas-panasan di rumah.”
“Hhhuuh, maunya,” ledek Liora.
“Dingin, Yank. Lagian mumpung aku libur bisa manja-manjaan sama kamu.”
“Ya, udah, ayok!” Liora turun dari paha sang suami. Mereka keluar dari ruang kerja itu menuju mobil yang terparkir.
Benar saja, ketika mereka sampai di apartemen hujan deras pun turun. Percikan air membasahi kaca gedung itu.
“Kalau kita beli rumah, kamu maunya yang kayak gimana?” Wafi bertanya sambil memeluk sang istri dari belakang. Mereka menikmati curah hujan dari jendela kamar.
“Aku sih suka yang minimalis aja. Fasilitasnya juga yang perlu-perlu aja, biar rumahnya gak penuh sama perabotan.”
“Kenapa?”
“Biar nanti kalau punya anak mereka gak asik sendiri di kamar. Kalau mau nonton kita bisa nonton sama-sama di ruang keluarga.”
“Aku paham maksudnya.”
“Apa?”
“Batul. Soalnya aku ngerasa banget gimana kesepian tanpa keluarga. Mereka ada tapi kita kayak orang asing.”
“Ya, udah. Gimana kalau minggu besok kita cari rumah?”
“Aku sih ikut kamu aja.”
“Oke, nanti aku coba cari developernya dulu buat bikin janji.”
Liora mengangguk.
“Tapi sekarang kita bikin anaknya dulu.” Wafi langsung mengangkat sang istri menuju ranjang. Membuat Liora tertawa lebar
...🥭🥭🥭🥭...
Sidang dakwaan atas kasus KDRT yang dilakukan Reiki terhadap istri pertamanya sudah digelar. Karena tak ada eksepsi atau keberatan yang diajukan, maka sidang pun ditutup. Akan dilanjutkan minggu besok dengan agenda pembuktian.
“Karena Pak Reiki tidak mengelak atas tuduhan yang dilayangkan Mbak Liora, artinya setelah sidang besok kita langsung masuk ke sidang putusan,” jelas Dodi pada kedua orang tua Reiki.
“Artinya anak saya langsung dijatuhi hukuman begitu?” tanya Lena.
__ADS_1
“Iya, Bu. Kita tak ada nota pembelaan karena Pak Reiki sudah mengakui perbuatannya tadi.”
“Kenapa Reiki pakai ngaku segala sih.”
“Kalau Pak Reiki gak mengaku bisa-bisa dia dijatuhi hukuman berat, Bu. Apalagi mantan istrinya punya bukti kuat dan nyata,” jelas Dodi.
“Terus sidang perceraian mereka gimana?” tanya Malik.
“Mbak Liora sudah daftarkan gugatannya di pengadilan agama. Setelah sidang putusan kasus ini, gugatannya pasti langsung dikabulkan oleh pengadilan agama, sebab Pak Reiki terbukti bersalah.”
“Terus, dia jadi gugat harta gono gini?” Lena penasaran.
Dodi mengangguk. “Mbak Liora menggugat harta gono gini serta ganti rugi atas perbuatan yang dilakukan Pak Reiki selama ini sebesar 5 milyar rupiah.”
“Apa?” Malik dan istrinya memekik tak percaya.
“Itu bukan minta ganti rugi, tapi memeras,” kesal Lena.
“Untuk itu saya gak bisa berkomentar, Bu.”
“Apa nanti hakim akan mengabulkan?”
“Kita lihat nanti alasannya menuntut sebesar itu. Kalau logis dan masuk akal, bisa jadi dikabulkan hakim. Tapi kalau tidak, ya, mungkin hanya satu persen dari jumlah gugatan saja.”
Orang tua Reiki dibuat tak tenang. Mereka akan jatuh bangkrut jika memang hakim mengabulkan tuntutan mantan menantu.
“Ya, sudah kalau begitu saya kembali ke kantor, Pak, Bu,” izin Dodi.
Malik mempersilahkan pengacara itu pergi.
“Pah, kalau sampai Liora menang, bisa-bisa kita jatuh miskin. Percuma kita jual rumah ini kalau hasilnya buat bayar tuntutan wanita iblis itu.”
“Berdoa, Ma, mudah-mudahan saja hakim gak mengabulkan itu.”
“Emangnya Tuhan bakalan ngabulin doa-doa kita? Kan selama ini kita gak pernah sholat.”
Malik terkejut mendengar hal itu. Benar apa kata istrinya. Ketika senang dan berada di atas dia dan keluarga seakan tak butuh pertolongan dari Yang Maha Esa lalu kini ketika ditimpa masalah juga ujian baru ingat pada-NYA.
“Makanya coba solat sekarang, Mah, siapa tau Tuhan masih mau berbaik hati sama kita.”
Lena tampak ogah ogahan. “Memangnya Papa gak malu?”
“Ya, mau bagaimana lagi.”
“Tapi Mama gak yakin Tuhan bakalan dengar doa kita.”
“Kenapa Mama selalu seperti itu sih? Belum apa-apa sudah tau hasilnya bagaimana.”
__ADS_1
“Tapikan selama ini tebakan Mama benar.”
Malik membuang nafas kasar. “Ah, terserah Mama saja lah. Papa pusing.” Ia pergi meninggalkan sang istri sendirian.