
"Aku punya ponakan sepasang. Yang pertama cowok, namanya Nino kelas satu SD. Yang kedua cewek umur tiga tahun.”
“Kok, anak kakak kamu masih kecil-kecil?”
“Kakakku itu telat nikah. Samalah kayak aku. Semua bawahanku sudah menikah, ada yang udah punya anak dua. Lah aku, istri aja belum. Tapi sekarang udah.” Wafi berkata dengan senyum bahagia.
Istri si penyidik itu tersenyum kecut. “Sayang, ya, aku gak punya keluarga buat di kenalin ke kamu.”
“Eh, jangan sedih gitu. Sekarang keluarga aku juga keluarga kamu.”
“Aku cuma anak tunggal. Mamaku meninggal waktu aku kelas satu SMP. Sejak itu aku harus belajar mandiri karena papa sibuk bekerja di kantor. Waktu aku tamat SMA papa pun menyusul mama.” Liora bercerita dengan pandangan yang menerawang kaca jendela mobil.
“Memangnya gak ada gitu keluarga dari kedua orang tua kamu? Paman atau bibi?”
“Ada, tapi gak tau mereka pada di mana. Keluarga mama dan papaku tipe orang sibuk semua. Jadi mereka kayak kurang peduli gitu. Bahkan waktu mama meninggal, mereka gak datang buat jenguk dengan alasan pekerjaan gak bisa ditinggal.”
“Zaman sekarang memang banyak yang begitu.” Wafi pun menggenggam jari istrinya. “Sekarang kamu gak perlu sedih atau merasa sendiri lagi. Ada aku, aku bakalan ada terus di samping kamu.”
“Kalau boleh aku jujur, aku gak percaya dengan kata-kata kamu, Waf. Bukan maksud aku menyamakan kamu dengan Reiki. Tapi dulu dia juga bilang gitu, nyatanya?”
“Aku mengerti. Terserah kamu mau percaya atau gak. Aku bakalan buktiin ke kamu.”
Liora mengangguk dengan senyum simpul. Mobil yang membawa mereka pun tiba di halaman rumah bergaya klasik modern dengan taman yang hijau. Wafi pun turun dan mengajak istrinya untuk masuk.
“Akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga,” seru Vira. Wanita berusia empat puluh tahun itu menyambut adik iparnya dengan ramah dan terbuka. Ia bahkan langsung memeluk Liora. “Mari duduk,” ajaknya.
Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu.
“Wafi sering cerita soal kamu loh,” beber Vira.
“Oh, ya?” Liora tak percaya.
“Dari awal dia ketemu kamu sampai kasus yang menimpa kamu, semua dia ceritakan sama aku.”
“Mulai deh, ember,” celetuk Wafi.
“Gak papa dong. Biar Liora tau kalau kamu benar-benar tergila-gila sama dia.”
Liora tertawa. “Masak sih, Kak?”
“Ih, ga percaya. Bahkan dia sampai pantau kamu lewat CCTV waktu tinggal di apartemennya.”
Wafi dan istrinya mengulum senyum.
“Oh, ya, Kak, ini tadi aku sempat masak makan siang. Jadi, aku bawa kesini deh.” Liora memberikan rantag makanan yang sejak tadi dipegangnya.
__ADS_1
“Makasi banyak, loh.” Vira menerima dengan wajah berbinar. “Kata Wafi masakanmu rasanya mirip kayak masakan ibu aku. Yuk, kita ke meja makan. Aku udah gak sabar cicipinnya.” Kakak perempuan Wafi menarik Liora untuk berpindah ke meja makan.
Wafi pun mengikuti langkah kedua wanita itu dari belakang. “Anak-anak mana, Kak?”
“Kalau Nino lagi les, bentar lagi pasti nyampe rumah. Kalau Acipa bobok siang.”
“Bang Rahmat gak pulang makan siang?”
“Gak. Katanya di kantor lagi ada rapat penting.
“Kata Wafi, Kakak, dokter kandungan. Gak tugas hari ini?” sela Liora.
“Aku ambil libur buat bisa ketemu kamu.”
“Ah, jadi gak enak.”
“Dari kemarin aku udh desak Wafi buat bawa kamu kesini. Katanya tunggu penyidikan selesai.”
“Iya. Aku gak mau nanti orang mengira aku manfaatin dia.”
“Kita makan dulu, yuk,” ajak Vira.
Liora membantu Wafi mengisi piringnya setelahnya barulah ia mengisi piring sendiri.
Mereka pun menyantap makanan yang ada di atas meja.
“Aku seneng kalau masakan aku bisa mengobati rasa rindu kalian,” tutur Liora.
“Makasih, ya.” Vira mengelus tangan adik iparnya itu.
“Lain kali kalau Kakak mau, telpon aku aja biar dibikinin.”
“Oh, ya? Serius, gak bikin repot nanti?”
“Gak lah, Kak. Kan masakan ini ada di menu restoran aku.”
“Ooh. Oke deh, nanti tak langsung telpon kamu kalau aku kepegen banget.”
Liora mengangguk sambil tersenyum. Dari meja makan mereka beralih ke ruang keluarga. Disana Liora berkenalan dengan kedua keponakan suaminya. Lama bercengkrama tak terasa sore pun sudah menampakkan dirinya.
“Kalau gitu kami pamit dulu, Kak. Liora katanya mau belanja kebutuhan,” ujar Wafi.
“Kebutuhan apa?” selidik Vira. “Kalian gak tinggal satu atap 'kan?”
Liora membelalakkan matanya pada sang suami. “Gak kok, Kak. Aku cuma mau beli kebutuhan sehari-hari yang udah habis. Biasanya suka stok tiap awal bulan.”
__ADS_1
“Ooh. Aku pikir kalian tinggal di apartemennya Wafi. Ingat, ya, kalian jangan macam-macam sebelum sah,” pesan Vira. “Aku tau kalian berdua sudah dewasa. Tapi sebagai kakak aku wajib mengingatkan.”
“Iya, Kak.” Wafi mengangguk.
Vira mengantar kepergian pengantin baru itu hingga mereka masuk mobil dan keluar dari pekarangan rumah.
\=\=\=\=\=\=\=
“Hampir aja kita ketahuan,” cemas Liora.
“Ketahuan juga gak masalah kali, Sayang,” jawab Wafi. “Udah nikah sah juga, mau macam-macam gak masalah.”
“Aku gak mau bikin kakak kamu kaget, ya. Ntar dikiranya aku hamil duluan lagi.”
“Ya, gak lah. Emangnya aku laki-laki apaan.”
“Serius kamu belum pernah?”
“Kalau main solo, ya, pasti, Li. Tapi kalau sama perempuan gak.”
“Ooh.”
“Jadi, beli apa aja nanti nih?”
Liora mengeluarkan ponselnya dari dalam tas lalu memeriksa catatan yang tadi ditulisnya di sana. “Kita beli sprei buat ganti-ganti. Yang tadi aku cuci terus pakai lagi. Bahan-bahan dapur, kayak bumbu masakan sama panci-panci. Peralatan mandi ama sabunnya. Masak aku pakai sabun kamu, wangi cowok aku gak suka.”
“Terus apa lagi?”
“Sabun nyuci. Tadi aku terpaksa nyuci pakai sabun mandi.”
“Iya, deh. Kamu atur aja. Aku gak paham soal kebutuhan rumah tangga.”
“Pahammnya soal apa?”
“Kebutuhan aku tiap malam.” Wafi yang sedang menyetir pun terkekeh.
“Kamu, ya, mesum.”
“Namanya juga baru, Li. Kamu kan udah pernah, jadinya santai. Kamu juga gak malu-malu, suka nantangin.”
“Terus kamunya mau aku malu-malu gitu?”
“Gak. Kayak biasa aja, to the point. Aku suka. Tanpa aku minta kamu tau harus apa.”
Liora mengusap wajah suaminya dengan kelima jari. “Hhhuuu.”
__ADS_1
“Aku lagi nyetir, Sayang,” jelas Wafi.
“Iya, tau. Maaf.”