DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 74


__ADS_3

Sadar kalau dua orang di hadapannya itu berkilah, Wafi memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa seluruh rumah.


“Reiki gak ada di sini,” kata Lena. “Kenapa masih diperiksa juga.”


“Gak mungkin dia gak kesini. Dari wajah kalian saja jelas saya dapat membaca kalau dia baru saja dari sini.”


Malik tertunduk, sedangkan Lena memalingkan wajah.


“Ndan, kami menemukan bekas pakaian kotor di keranjang,” ujar salah satu polisi.


Wafi menghampiri anak buahnya untuk melihat pakaian itu lalu memperlihatkannya pada Malik dan Lena. “Ini pasti pakaian Reiki.”


“Itu pakaian saya,” jawab Malik.


Wafi tertawa sinis. “Dari ukurannya sudah jelas berbeda. Kalau mau berkilah yang pintar sedikit.”


Malik Alterio membisu.


“Sekarang katakan dimana Reiki atau kalian berdua nanti akan kami tuntut karena sudah melindungi tahanan kabur,” ancam Wafi.


“Oke, saya gak tau dia kemana,” jawab Malik. “Saya sudah berusaha menahannya di sini, tapi istri saya yang membiarkan Reiki lari.”


“Pah,” seru Lena.


“Papa sudah tua, Ma. Papa gak mau menghabiskan waktu di penjara.”


“Terus Mama gimana?”


“Kalau Anda katakan Reiki kemana, kami akan pertimbangkan,” balas Wafi.


Lena tapak bigung. Di satu sisi dia tak mau sang anak masuk penjara lagi, tapi disisi lain dia juga takut menghabiskan waktu senja dalam jeruji besi.


“Dia kabur lewat pintu belakang. Saya gak tau dia kemana.”


“Bohong,” geram Wafi.


“Benar! Tadi dia cuma ambil pakaian dan uang saja.”


“Seret beliau.” Wafi memerintahkan anak buahnya untuk membawa Lena.


“Dia menuju pelabuhan.” Akhirnya Lena keceplosan.


Wafi tersenyum lebar. “Tetap di rumah dan jangan keluar kota sampai kami menemukan Reiki."


...🍎🍎🍎🍎...


Wafi geram karena merasa di bodohi oleh ibundanya Reiki. Sudah sampai subuh mereka patroli dan memeriksa pelabuhan juga seluruh kapal, tak ada tanda-tanda Reiki menyelinap untuk kabur disini.


“Jadi, gimana, Ndan?” tanya salah satu anak buahnya.

__ADS_1


“Tetap jaga-jaga di sini. Saya pulang dulu untuk memastikan keadaan istri saya. Nanti pagi saya kembali ke kantor.”


“Baik, Ndan.”


Wafi memutuskan untuk menemui sang istri. Ia menaiki mobil dan menjalankan roda empat itu menuju kediaman sang kakak. Tiba disana ia disambut oleh ART.


“Masih belum ada yang bagun, Bi?”


“Sepertinya belum, Den.”


“Makasih. Kalau gitu saya ke kamar.”


“Iya.”


Kaki jenjangnya melangkah menuju kamarnya dulu dimana sekarang sang istri tengah berada di sana. 


Liora yang baru saja selesai sholat subuh langsung berdiri menghampiri dan memeluk sang suami ketika daun pintu kamar terbuka. “Alhamdulillah, kamu udah pulang.”


Wafi membalas pelukan itu. “Aku gak mau kamu khawatir, makanya aku pulang sebentar. Nanti aku balik kantor lagi, ya.”


“Iya. Kamu udah makan?”


“Belum. Aku mandi dulu habis itu sholat. Kita sarapan bareng.”


“Ya, udah sana. Aku tunggu.”


Sambil menunggu suaminya bersih-bersih, Liora melipat mukenah yang masih dipakai lalu merapikan ranjang yang berantakan akibat semalam tidurnya begitu gelisah.


“Gimana, Waf?” tanya suami Vira.


“Habis ini saya harus balik lagi cari tahanan yang kabur,” jawab Wafi.


“Terus mantan suaminya Liora itu gimana?” tambah Vira.


“Masih buron, Kak. Makanya aku harus cari dia. Kalau belum ketangkap juga aku gak tenang.” Wafi berkata sambil menggenggam erat tangan istrinya.


“Pokoknya kamu harus hati-hati, ya. Ingat sekarang Liora lagi hamil. Jangan sampai ….” Vira tak lagi melanjutkan ucapannya.


“Jangan berpikir yang aneh-aneh gitu,” sela Rahmat. “Kamu jangan bikin Liora jadi parno. Harusnya kamu berdoa dan kasih dukungan sama Wafi juga Liora.”


“Iya, Mas. Tapi sebagai kakak juga aku ini istri dan ibu pasti tau apa yng tengah dirasakan Liora sekarang.”


“Makanya dampingi dia. Jangan kamunya ikutan menduga-duga hal-hal buruk yang belum tentu terjadi.” Rahmat menasehati istrinya.


Vira pun mengangguk.


“Ya, sudah. Sebaiknya kita sarapan dulu.”


Dua pasang suami istri itu menikmati hidangan di atas meja dengan tenang.

__ADS_1


...🥑🥑🥑🥑...


Merasa bosan di rumah iparnya, Liora di izinkan sang suami untuk menyibukkan diri di cafe. Tentunya dengan penjagaan dari dua orang anak buahnya yang ditempatkan di depan ruko. Setelah menurunkan sang istri, Wafi meninggalkan pesan pada anak buahnya juga satpam untuk berjaga-jaga dan memperhatikan pengunjung yang datang. Ia tak mau kecolongan kalau Reiki sampai berhasil menemui istrinya.


Merasa yakin keadaan cafe cukup aman, polisi itu pun gegas pergi untuk mencari tahanan yang lolos semalam. Liora pun mulai menyibukkan diri demi menghalau rasa takut dan juga khawatirnya akan sang mantan suami. Berada di sini ia sangat yakin kalau Reiki tidak akan berani melakukan sesuatu yang dapat mencelakainya sebab keadaan cafe cukup ramai 


Tepat jam makan siang, Sena pun datang ingin mengetahui soal informasi keberadaan mantan pacarnya dari sang sahabat. Dua wanita itu kini duduk di sudut ruangan dengan pandangan yang lepas ke arah luar.


“Jadi, sampai sekarang Pak Wafi masih cari Reiki, ya, Mbak?” tanya Sena.


“Ya, begitulah.” Sesekali ibu hamil itu melemparkan pandangannya ke arah luar.


 “Semalam pas Mbak kasih kabar aku juga ketakutan.”


“Terus?”


“Aku langsung hubungi managerku. Jadi sekarang aku tinggal sama dia di apartemen.”


“Tapi semalam Wafi juga udah kirim anak buahnya ke sana.”


“Iya, sih, Mbak. Ada dua orang polisi yang jaga-jaga depan unitku. Tapi tetap aja aku takut.” Sena menyeruput minuman yang disajikan Liora tadi.


“Semoga Wafi segera menemukan bajingan itu. Kalau dia masih berkeliaran di luar sana, jujur aku gak tenang.”Liora berkata sambil membuang nafas panjang.


“Sama aku juga.”


Kedua wanita itu sama-sama menikmati makanan mereka. Liora sesekali memperhatikan lingkungan di sekitarnya. “Sen, gimana kalau habis makan ini kita ke mall,” ajaknya.


“Mbak, serius?”


Istri si penyidik itu menganggukkan kepala.


“Katanya takut kalau Reiki bakalan mencelakai kita, tapi kok masih ajak aku ke mall?”


“Aku stress, Sen, kalau keadaannya begini terus. Rasanya tertekan, jadi mau cari hiburan dikit lah.”


“Gak, deh, Mbak. Aku takut ntar Pak Wafi marah lagi sama aku kalau Mbak sampai kenapa-kenapa.”


“Ayolah, Sen. Bentar aja, habis itu kita pulang.”


“Mending, Mbak, izin dulu sama suaminya.”


“Kalau izin pasti gak boleh. Lagian kita di jaga anak buahnya Wafi, pasti aman kok.”


Si model tampak berpikir.


“Please, mau, ya.” Liora menampilkan wajah ibanya.


“Oke, tapi cuma bentar aja. Habis itu kita pulang.

__ADS_1


Liora meganguk dan kedua wanita itu keluar dari balik meja lalu menuju area parkiran.


  


__ADS_2