
"Nomor kamu di identifikasi anggota saya menghubungi nomor salah satu saksi kami yang bernama Liora. Apa kamu kenal?”
“Oh, Mbak Liora. Iya, saya tau. Pemilik cafe dan Resto Liora kan?!”
Si penyidik menganggukkan kepala. “Jam 23.15 kamu melakukan panggilan ke nomor pribadi Liora. Untuk apa?”
“Setiap mau berangkat kuliah saya sarapan di cafe Mbak Liora. Nah karena sering ketemu ya, kami lumayan dekat. Jadi sejak saya magang dan pulang larut malam saya juga pesan makan malam di sana. Biasanya saya pesan pas cafe mau tutup nanti di kirim lewat karyawannya yang ngekos di sebelah saya.”
“Namanya?”
“Susi.”
“Kenapa gak pesan lewat pelayanan?”
“Saya biasanya pesan lewat Mbak Liora langsung biar responnya cepat.”
“Terus?”
“Panggilan pertama dan kedua gak di angkat, baru panggilan ketiga di jawab. Tapi gak ada suaranya. Saya ngomong pesan makanan kayak biasa terus teleponnya mati. Gak lama setelah itu Mbak Liora telpon lagi pakai nomor cafenya. Dia bilang kalau ponselnya di ambil orang dan minta maaf kalau dia gak bisa bikin lagi pesanan saya soalnya Susi sudah pulang duluan.”
Wafi menerima keterangan itu lalu dia pun menunjukkan foto Sena. “Kamu kenal dengan wanita ini?”
Isti melihat gambar itu. “Oh, ini kan model endorse-an itu, kalau gak salah sih. Saya pernah lihat dia promosikan barang di sosial media.”
“Apa malam itu kalian ketemu?”
“Ya, gak lah, Pak. Ngapain? Kenal aja gak.”
“Tapi dia tinggal di gedung apartemen dekat dengan kosan kamu.”
“Lalu?”
“Apa kalian pernah ketemu?”
“Gak.” Isti menjawab sambil menggelengkan kepala.
Merasa cukup Wafi pun menyudahi introgasi. “Terima kasih. Kamu boleh pergi nanti anak buah saya akan carikan taxi di depan.”
Isti tersenyum lebar. “Makasih, ya, Pak.”
“Sama-sama.”
Wafi menyandarkan punggungnya ke kursi. Apa yang dikatakan Reiki tentang Liora dan Sena tidak terbukti. Namun, dirinya masih saja terusik mengingat pengakuan si tersangka tadi malam. Dimana, putra Malik Alterio mengakui semua kebohongannya dan menceritakan kejadian yang sebenarnya menurut versi dia.
Menatap matanya saja Wafi yakin kalau laki-laki itu berkata jujur. Tak seperti pertama kali saat dia memberikan kesaksian. Ada kebimbangan. Di satu sisi hatinya ingin mempercayai Reiki, tapi di sisi lain semua bukti mengatakan kalau pria itu memang bersalah. Haruskan dia mencari tahu sendiri?
\=\=\=\=\=\=
Sebelum pulang dari kantor, Wafi menghubungi Liora. Menanyakan pada wanita itu apakah dia butuh sesuatu.
“Tadi aku turun ke supermarket di lantai bawah jadi kamu gak perlu repot-repot beli apa-apa lagi,” tutur Liora.
__ADS_1
“Kalau gitu aku jalan ke sana, ya.”
“Iya.”
Panggilan di putus, mobilnya dibawa menuju apartemen. Wafi tiba di sana saat langit sudah gelap. Ia pun langsung masuk.
Liora yang sedang menata makanan dimeja, melihat kedatangan pria itu. “Pas sekali. Kita makan dulu?”
“Kamu masak?” tanya Wafi.
“Iya. Kenapa?”
“Kenapa gak istirahat aja?”
Keduanya sama-sama mendudukkan diri di kursi meja makan. “Aku biasa sibuk di cafe. Jadinya bosan kalau di kamar terus.”
Liora membantu Wafi mengisi piring dengan nasi dan lauk. “Oh, ya, tadi karyawanku pada telepon dan mereka pengen jenguk. Gak papa kalau besok mereka ke sini?”
“Gak papa lah.”
“Aku harus izin dulu sama pemilik rumah, dong.”
“Anggap aja rumah sendiri. Jadi gak perlu izin segala.”
“Makasih.” Liora pun tersenyum. “Makan dulu, yuk. Nanti lanjut ngobrol lagi.”
Keduanya menikmati makanan mereka dalam diam. Hingga piring mereka kosong, Liora mengemasinya dan meletakan di wastafel.
“Boleh. Aku cuci piringnya kamu yang keringkan.”
Wafi setuju.
“Oh, ya, gimana keadaan Sena. Aku sampai lupa bilang ke dia kalau sudah pulang.”
“Tadi kata bagian LPSK dia mengalami mimisan. Jadi dilakukan pemeriksaan lanjut, seperti CT scan. Ternyata ada pendarahan di otaknya," terang Wafi.
“Operasi dong?”
“Kata dokter sih gak parah jadi bisa ditangani dengan terapi obat.”
“Ooh.”
Wafi melirik wanita yang berdiri di sampingnya itu. “Kenapa kamu pengen tau keadaannya?”
“Kami berdua sama-sama korban. Salah kalau aku peduli sama kondisinya?”
“Gak sih. Aku ngerti.”
“Waktu Reiki datang dia ngancam aku. Bilang aku harus menuruti apa katanya kalau gak mau berakhir seperti Milen.”
“Terus?”
__ADS_1
“Ya, aku gak mau. Kami berdebat dan akhirnya dia marah lalu memukul aku sampai kepalaku terbentur meja dan pingsan.”
“Kapan kamu sadar?”
“Aku merasa mulai kepanasan dan sulit bernafas. Katika membuka mata semua ruangan sudah penuh dengan asap dan api menjalar di langit-langit. Aku merangkak keluar. Beruntung warga datang menolong.”
“Ya, aku sudah minta keterangan dari warga sekitar.”
Liora membilas tangannya lalu menghadap pada Wafi. “Kali ini aku masih beruntung. Entah bagaimana nanti.”
Si polisi meletakkan piring terakhir di tempatnya lalu memegang kedua bahu Liora. “Hei, lihat aku!”
Liora mengangkat kepalanya, menatap Wafi dengan mata sendu.
“Mulai sekarang aku bakalan jagain kamu.”
“Tapi gimana kalau nanti orang mengira kamu gak profesional. Bisa saja hal ini dijadikan Reiki sebagai bukti untuk menuntut kamu agar keluar dari kasus ini.”
“Percaya sama aku. Kamu gak perlu memikirkan hal itu.”
“Aku cuma gak mau nama baik kamu jadi rusak, Waf.”
“Gak akan.”
Liora mengangguk.
Wafi mengusap sudut bibir wanita itu yang masih tampak lebam. Rasanya dia begitu ingin membawa Liora keluar dari masalah yang kusut ini. Melepaskannya dari penderitaan dan memberikan sedikit kebahagiaan.
Mata keduanya bertemu tatap hingga tanpa sadar mereka saling menautkan bibir. Hanya sejenak.
“Sorry, aku terbawa suasana,”jelas Wafi.
Liora dengan beraninya kembali mencumbu laki-laki itu. Sedikit rakus hingga Wafi membawanya duduk di atas meja dapur. Untuk sesaat mereka saling menikmati manisnya bibir juga lidah yang membelit satu sama lain. Hingga nafsu pun mulai menguasai tangan polisi itu sudah memegang bagian dada Liora dan turun ke leher jenjangnya.
“Aahh… satu ******* lolos dari bibir merah muda si wanita.
Hal itu menyadarkan keduanya. Dengan nafas yang memburu mereka terdiam sejenak dalam tatapan yang terpaku. Kemudian Wafi pun memeluk calon janda itu. “Love you.”
Liora mengangguk di bahu Wafi. “Sebaiknya kamu pulang.”
“Seharusnya begitu.” Wafi berkata sambil meregangkan pelukannya. “Besok pagi sebelum ke kantor aku kesini.”
“Gak usah. Kalau mau kesini pas jam makan siang aja. Aku bakalan masak buat kita.”
“Oke.” Diturunkannya Liora dari atas meja lalu keduanya melangkah menuju pintu.
“Hati-hati di jalan,” kata Liora.
“Pasti. Nanti sampai rumah aku kabari.”
Liora mengangguk dan melepas kepergian penyidik itu dengan senyuman manis.
__ADS_1