
Pagi ini semua orang bersiap menghadiri sidang ketiga, yaitu pembuktian atau pemeriksaan alat dan barang bukti.
Wafi sebagai suami Liora hadir untuk menemani istrinya itu dalam memberikan kesaksian nantinya. “Kamu gak takut memberikan keterangan palsu padahal disumpah loh.”
“Sebelumnya aku sudah meminta ampun pada pemilik alam semesta ini. Dan di hadapannya aku sudah mengakui kesalahanku. Apapun hukuman yang diberikannya nanti, aku siap.” Liora berkata dengan yakin.
“Baiklah kalau begitu.” Wafi memegang kedua bahu istrinya. “Sebagai suami aku hanya mengingatkan, perbuatan kamu ini jelas salah. Tapi kamu juga hanya manusia biasa yang ingin melindungi diri sendiri. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku akan selalu ada disamping kamu.”
“Terima kasih.” Liora memeluk suaminya itu.
“Ayo, kita jalan!”
Mereka bergandengan menuju area parkiran.
🐽🐽🐽🐽
Di Halaman gedung persidangan, para pemburu berita sudah ramai menunggu di sana. Mereka rela datang pagi-pagi demi mendapatkan informasi yang kini tengah diikuti oleh semua orang.
Kasus kematin Milen belakangan mendapatkan sorotan dari para netizen karena melibatkan seorang model dan selebgram cantik, yaitu Sena.
Baru saja ia tiba di sana, semua orang mulai mengerumuninya.
“Mbak, minta keterangannya sedikit,” ujar salah satu wartawan.
Bersama road managernya, Sena melewati orang-orang itu tanpa sepatah kata.
Tak lama, Liora dan Wafi pun tiba. Mereka juga diberondong dengan berbagai macam pertanyaan. Mantan istri pertama Reiki itu juga bungkam seribu bahasa. Memilih segera masuk ke ruang persidangan.
Begitu juga dengan keluarga Milen. Namun, mereka dengan senang hati menjawab dan memberikan keterangan yang diinginkan para media.
Lain lagi dengan kedua orang tua Reiki. Mereka memilih masuk pintu belakang demi menghindari sodoran kamera dan pertanyaan yang hanya menambah panas hati.
Akhirnya, sidang pun dimulai. Hakim ketua sudah membuka jalannya persidangan dan membacakan agenda hari ini. Sebelum memasuki acara pembuktian, hakim ketua mempersilahkan terdakwa supaya duduknya berpindah dari kursi pemeriksaan ke kursi terdakwa yang terletak disamping kanan penasehat hukum.
Hakim ketua bertanya kepada penuntut umum apakah sudah siap menghadirkan saksi-saksi pada sidang hari ini. “Bagaimana Penuntut Umum, sudah siap dengan alat-alat bukti saudara?”
Penuntut Umum pun menjawab, "Sudah Majelis Hakim.”
“Alat bukti apa saja yang saudara ajukan?”
__ADS_1
“Kami akan mengajukan barang bukti yang kami beri tanda P-1 s/d P-4 dan 2 orang saksi serta 2 orang ahli Majelis Hakim.”
Karena para saksi sudah hadir dan siap, hakim segera memerintahkan pada jaksa penuntut umum untuk menghadirkan saksi seorang demi seorang kedalam ruang sidang.
Saksi yang pertama kali diperiksa adalah Liora. Namun, petugas membawa kedua saksi ke ruang sidang dan dipersilahkan duduk di kursi pemeriksaan untuk disumpah terlebih dahulu.
“Apakah saksi memiliki hubungan dengan terdakwa?” tanya Hakim ketua.
“Iya, Pak Ketua. Saya dan terdakwa mantan suami istri,” jawab Liora.
“Kenal, Pak Ketua. Kami memiliki hubungan khusus,” jawab Sena.
Hakim ketua meminta dua orang wanita itu untuk bersedia mengucapkan sumpah atau janji sesuai dengan agamanya. Istri Wafi Mahawira itu berdiri diikuti oleh Sena. Mengucapkan sumpah dengan Alquran di atas kepala mereka. Dalam hati keduanya tahu hal itu sangatlah salah. Namun, sekali lagi mereka memohon ampun. Bukan hanya mempermainkan hukum dunia, tapi mereka juga sudah mempermainkan agama. ‘Ampuni hambamu ini ya, Allah.’
“Kepada saksi Sena, sudara silahkan meninggalkan ruang sidang dan menunggu untuk dipanggil kembali. Namun sebelumnya kami ingatkan kepada saudara untuk tidak berkomunikasi terkait dengan perkara ini, saudara mengerti?”
“Mengerti, Pak Hakim,” jawab Liora.
Liora pun mulai diperiksa. Wanita itu diajukan beberapa pertanyaan terkait kejadian di malam itu. Malam yang mengakibatkan Reiki menjadi tedakwa atas kematian Milen.
Ia pun menceritakan semuanya sesuai dengan yang diberikannya waktu di kantor penyidik. Hal itu membuat Reiki merasa muak pada mantan istri pertamanya.
“Jadi kalian belum resmi bercerai?”
“Lalu kenapa Anda tidak pergi dari rumah?”
“Saya tidak bisa pergi begitu saja karena suami dan istri keduanya mau saya tetap menjalankan tugas di rumah itu.”
“Jadi kamu ditahan untuk dijadikan pembantu, begitu?”
“Kurang lebih begitu, Pak Hakim.”
“Apa selama itu terdakwa pernah melakukan tindakan kekerasan terhadap saudara atau istri keduanya?”
Air mata palsu mulai diteteskan oleh Liora. “Kepada saya, pernah, Pak Hakim.Tapi pada istri keduanya tidak sama sekali.”
Reiki semakin geram melihat aksi istri pertamanya di kursi pemeriksaan. Dalam hati dia mengutuk wanita itu bahkan sampai ingin mencekiknya. Namun, mau dikata apa, semua hanya bisa ia lakukan dalam khayalan saja. Kalau benar dilakukan bisa habis dirinya dijatuhi hukuman.
Wafi sendiri yang duduk di bangku penonton tak tau kata apa yang tepat untuk menggambarkan istrinya itu. Begitu hebatnya Liora berakting, begitu pintarnya menciptakan suasana, dan begitu licik dalam merangkai rencana. Ia kagum, tapi tak bisa bangga karena apa yang dilakukan istrinya itu adalah kejahatan.
__ADS_1
“Apa penyebabnya?”
“Karena saya tidak menuruti perkataan istri keduannya.”
Merasa sudah cukup, Hakim ketua pun memanggil saksi berikut.
Liora pun dibawa petugas untuk beranjak dari posisi yang akan digantikan oleh Sena. Saat melewati Reiki, ia menyunggingkan sudut bibir. Tersenyum jahat, licik, dan penuh kemenangan. Membuat mantan suaminya berdiri dengan dada naik turun.
Wafi yang merasa istrinya dalam bahaya pun ikut berdiri. Ia hanya ingin memastikan Liora aman. Bagaimanapun Reiki bisa saja kehilangan akal sehatnya dan membunuh wanita itu.
“Saudara terdakwa,” panggil Hakim. “Tolong duduk dengan tenang disamping kuasa hukum saudara.”
“Maaf, Hakim ketua,” ujar Reki. Ia pun kembali duduk.
Sena kini sudah duduk di bangku kesaksian. Hakim pun mulai mengajukan pertanyaan.
“Apa saudara kenal dengan terdakwa?”
“Kenal, Pak Hakim.”
“Apa hubungan kalian?”
“Saya dan terdakwa teman dekat bisa dibilang pacaran.”
“Apa saudara tau kalau dia mempunyai dua istri?”
“Tau, Pak Hakim.”
“Berapa lama kalian menjalin hubungan terlarang itu?”
“Kurang lebih tiga atau empat bulan, Pak Hakim.”
“Selama itu apa terdakwa pernah memukul saudara?”
“Tidak, Pak hakim hanya saja setelah kami ketahuan dan saya berbicara jujur pada istrinya pada malam kejadian itu, dia memukuli saya.”
“Sekarang tolong berikan kesaksian saudara tentang kasus ini.”
Sena pun menceritakan karangannya dengan sendu dan tetesan air mata kepalsuan. Hal itu semakin membuat bara emosi di dada reiki menyala.
__ADS_1
“Baik, cukup sampai disini,” ujar Hakim ketua.
Sena dibawa petugas untuk beranjak dari posisinya. Tak lupa ia memberikan senyum kemenangan terhadap mantan selingkuhan. Reiki pun memalingkan wajahnya.