
Puas melihat-lihat rumah baru yang akan mereka beli untuk di tempati nanti, Wafi dan Liora akhirnya menjatuhkan pada satu pilihan.
Rumah dengan halaman yang luas penuh dengan taman bunga juga ada kolam renang. Bagunannya sendiri terdir dari dua lantai. Dua kamar tidur di atas dan dua kamar tidur dibawah juga satu kamar untuk ART.
Untuk ruang tamunya cukup simpel saja berbataskan lemari hias barulah ruang keluarga untuk menonton TV dan bersantai. Dapur dan meja makan hampir berdekatan.
Semua sesuai dengan bayangan Liora selama ini.
“Kapan kita isi?” tanya Wafi.
“Ya, terserah kamu, aku sih ikut aja.”
“Memangnya kamu kapan mau pindah?”
“Terserah kamu, Bee, aku nurut.”
“Kalau soal ini nurut, tapi soal gugatan yang kamu ajukan kok gak mau nurut sama aku?”
“Please, deh, Bee. Itu dua hal yang berbeda.” Liora tampak kesal.
Wafi tak lagi membahas masalah itu. “Ya, udah, yuk, kita lihat-lihat furnitur.”
“Gak usah,” ketus Liora.
“Kenapa?”
“Kita pulang aja, aku gak mood.”
“Loh kok gitu? Kamu marah soal ucapan aku tadi.”
“Gak.”
“Ya, terus?”
“Udah, pulang aja. Kapan-kapan masih bisa melihatnya. Aku mau tidur, capek keliling dari tadi.”
Polisi itu akhirnya mengalah. Mereka masuk ke mobil dan menuju apartemen. Belakangan istrinya itu terlihat sensitif jika menyangkut soal gugatan harta gono-gini yang dituntutnya pada Reiki. Padahal sebagai suami dia hanya ingin mengingatkan saja.
“Mau beli sesuatu?” tawar Wafi.
“Gak.”
“Bener nih langsung pulang?”
“Iya.”
“Nanti pas nyampe pengen ini itu.”
“Ya, udah kalau kamu gak mau bantu beli, aku bisa pesan online aja.”
“Iya deh.”
Nafas kasar dibuang Wafi. Ia bingung akan letak kesalahannya dimana sampai membuat Liora begitu marah.
...🥝🥝🥝🥝...
“Kamu berangkat sendiri aja, ya,” kata Wafi.
“Iya.”
“Kalau kamu suka beli aja gak perlu ragu, nanti tagihan belanjanya kirim ke aku.”
Pasangan itu tengah menikmati sarapan pagi sebelum memulai aktivitas.
“Terus kapan kita pindah?” tanya Liora.
“Ya, kalau isi rumahnya sudah komplit, kenapa gak langsung tinggal di sana aja.”
__ADS_1
“Kalau nanti kakak kamu tanya gimana?”
“Dia gak akan tau kalau kita udah beli rumah.”
Istri penyidik itupun mengangguk. Usai sarapan, ia melepas kepergian suami nya dengan satu pelukan hangat. Setelahnya ia pun bersiap untuk pergi berbelanja isi rumah baru.
...🥬🥬🥬🥬...
Di temani Sena, Liora mulai memilih perabotan di salah satu toko furniture. Isi kamar, lemari, isi dapur, ruang tamu, ruang keluarga, TV, kulkas, dan lain sebagainya.
“Baru kenal dan langsung nikah ternyata kalian cocok juga, ya, Mbak,” ujar si model. “Beda usia lagi.”
“Ya, sebenarnya kami masih menyesuaikan diri sih, Sen.”
“Maksud, Mbak?”
“Rumah tanggaku yang sekarang memang lebih baik dari sebelumnya. Tapi, aku dan Wafi masih mencari celah dimana kami bisa mengerti satu sama lain. Aku orangnya keras dan Wafi belum tau soal itu, jadi kadang kami sering berdebat. Gak jarang Wafi sering pergi demi menghindari pertengkaran.”
“Contohnya?”
“Soal aku yang nuntut harta gono-gini sama Reiki, dia gak setuju.”
“Terus?”
“Ya, dari awal aku bertahan untuk mendapatkan itu. Jadi sia-sia perjuangan aku kalau kini gak aku tuntut.”
“Kenapa Mbak gak kasih pengertian sama dia?”
“Wafi itu gengsian. Kalau aku bahas masalah uang dia selalu pamerin penghasilannya, usahanya. Seolah-olah takut aku menganggapnya gak mampu kasih nafkah Jadi, itu kayak pembahasan sensitif. Aku lagi coba cari waktu yang pas aja.”
“Ternyata sulit juga, ya, Mbak.”
“Ya, begitulah.”
“Tapi kalian gak sampai bertengkar kan?”
“Sejauh ini sih gak. Beruntung Wafi gak kayak Reiki yang emosian.”
“Aamiin. Aku tau itu, makanya sekarang aku lagi cari waktu buat bahas masalah gugatan itu sama dia. Biar gak ada salah paham nantinya.”
Sena tersenyum. “Oke, sudah semua kan?”
“Kayaknya udah deh.”
“Habis ini kita kemana?”
“Mau lihat-lihat gorden sih.”
“Ayo, kalau gitu! Biar aku yang bayarin.”
“Eh, kok gitu.”
“Anggap aja hadiah dari aku atas pernikahan Mbak.”
“Bener nih?”
“Iya.”
“Aku terima, ya, soalnya gak baik menolak rezeki.”
“Hahaha, iya. Ayo!”
Kedua wanita itu beranjak dari sana setelah Liora menyelesaikan nota pembayaran.
...🌶🌶🌶🌶...
“Pembayarannya sudah dilunasi suami saya, ya, Mas,” kata Liora lewat sambungan telepon.
__ADS_1
Usai makan malam ia dan sang suami tengan menonton siaran televisi.
“Jadi kapan barangnya bisa dikirim?”
“ … “
“Kalau lemari di pasang dulu bisa gak?”
“ … “
“Oke, kalau begitu besok kita ketemu di sana.”
“ … “
“Baik, terima kasih, Mas.”
Panggilan itu diputus.
“Gimana?” tanya Wafi.
“Barangnya belum bisa di kirim semua besok jadi aku minta lemari dipasang duluan biar nanti pelan-pelan aku bisa bawa baju-baju kita kesana.”
“Terus kapan semua barangnya datang?”
“Paling telat satu minggu. Soalnya kan ada barang yang aku pilih itu warnanya gak ada di toko. Jadi mereka tunggu kiriman dari gudang dulu.”
“Ooh.”
“Oh, ya, Bee, tadi aku beli gorden dan Sena yang bayarin.”
“Kok dia yang bayarin?”
“Katanya sebagai hadiah buat kita.”
Wafi mengangguk. “Terus besok pagi kamu ke rumah?”
“Iya, soalnya orang perabotan mau pasang lemari, tempat tidur sama kitchen set.”
“Kamu lupa kalau besok sidang pembuktian?”
Liora menepuk jidatnya. “Oh, iya, ya, kok aku bisa lupa, ya. Kalau aku gak hadir boleh gak ya?”
“Kayaknya gak papa deh, asalkan saksi kamu pada hadir untuk memberikan keterangan.”
“Bi Idar udah aku pastikan tadi, katanya dia pasti datang.”
“ART di rumah Reiki waktu itu, ya?”
Liora mengangguk.
“Terus sekarang dia kerja di mana?”
“Kemarin katanya sih kerja di rumah orang tuanya Reiki. Tapi semalam sudah dipecat, soalnya rumah mereka mau dijual.”
“Ya, udah nanti kalau kita pindah bawa kerja sama kita aja. Buat bantu-bantu kamu di rumah.”
“Serius?”
“Iya.”
“Sebenarnya sih aku gak butuh-butuh amat. Cuma kasian kalau Bi Idar gak kerja.”
“Makanya bawa kerja sama kita nanti.”
“Makasih, ya.”
Wafi menguap. “Kita tidur, yuk! Aku udah ngantuk banget.”
__ADS_1
Sebenarnya Liora ingin menjelaskan alasannya untuk tetap menggugat harta gono-gini pada sang suami, tapi melihat lelaki itu tampak kelelahan ia pun mengurungkan niatnya. “Duluan sana.”
Sebelum masuk kamar, ia mematikan lampu utama ruang tengah baru menyusul Wafi yang sudah terlelap di atas kasur. Satu kecupan pun di berikan Liora di pipi suami setelahnya ia ikut memejamkan mata.