DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 41


__ADS_3

Wahyudi menepati janjinya. Ia memberikan sang adik sepupu izin cuti selama tiga hari kedepan. Penyidik itu pun senang. Ia dapat menghabiskan waktu berdua bersama istri tercinta.


Tiba di rumah dia langsung mencari Liora di dalam kamar. “Yank,” panggilnya.


“Iya, Bee,” sahut Liora dari kamar mandi.


Wafi pun menghampiri. Ia berdiri di ambang pintu sambil mengibas-ngibaskan dua tiket ke Raja Ampat. “Honeymoon.”


Liora yang sedang berendam dalam bathup hanya membulatkan mulut.


“Kok, kamu reaksinya biasa aja? Gak happy gitu.”


“Percuma juga, orang aku lagi datang bulan.”


“Yyaah.” Wafi melorotkan bahunya. “Baru datang?” 


Si istri menganggukkan kepala.


“Berapa lama biasanya?”


“Seminggu.”


“Lama amat, Yank.”


“Lah, aku bisa apa.”


“Terus percuma dong cuti aku.”


“Ya, kalau kamu mau kita tetap berangkat buat jalan-jalan aja. Tapi kalau gak, ya, di sini aja. Habisin waktu di apartemen.”


Wafi tampak berpikir.


“Emang gak bisa cutinya diundur?”


“Gak, Yank.” Wafi memelas.


“Coba tanya dulu ama kakak kamu itu. Siapa tau dia ngerti. Minggu depan aja kita berangkatnya.”


“Minggu depan gak bisa, Yank. Kamu bakalan hadir dipersidangannya Reiki.”


“Oh, udah sidang pembuktian, ya?”


“Iya.”


“Ya, udah. Habis sidang aja kita berangkatnya.”


“Oke lah. Nanti aku tanya lagi.”

__ADS_1


Liora keluar dari dalam bak mandi beralih ke bilik shower. Wafi yang tak tahan melihat lekuk tubuh istrinya itu ikut masuk kedalam sana.


“Ngapain, Bee?” 


“Mandi lah.”


“Awas kalau nakal, ya,” ancam Liora.


Wafi tersenyum jahat.


“Waf, jangan sembarangan kamu. Gak boleh tau.”


“Iya, iya.”


“Tapi kamu bisa bantu aku kan?” Pria itu bertanya sambil membawa tangan sang istri menyentuh miliknya.


Liora tersenyum menggoda. “Pastinya.”


\=\=\=\=\=\=


Siang ini Liora mengajak Sena untuk bertemu di apartemennya. Model yang kini namanya sudah terkenal itu sampai ketika Liora dan suami baru saja selesai menyantap makan siang.


“Siang, Pak Wafi.” Sena menyapa penyidik itu dengan sedikit gugup.


“Siang juga,” balas Wafi. “Mau ngobrol-ngobrol?”


“Ya, kebetulan hari ini jadwal saya sedikit luang jadi main kesini. Sudah lama gak ketemu Mbak Liora.”


Sena mengangguk canggung.


“Sayang, aku balik kantor lagi, ya.” Wafi berpamitan pada istrinya. Tak lupa mereka saling mengecup pipi kanan dan kiri. Penyidik itu pun beranjak dari sana.


“Yuk, Sen,” ajak Liora. Mereka berpindah menuju ruang tamu.


“Mbak, Pak Wafi itu sering kesini? Kalian makin dekat, ya?” Sena penasaran akan hubungan Liora dengan polisi itu.


“Bukan dekat lagi, Sen, tapi udah jadi suami,” ungkap Liora.


“Apa?” Sena terkejut. Ia sampai menutup mulutnya karena tak percaya. “Kalian udah nikah? Kapan?”


Kejadian malam, dimana Wafi mengetahui kebohongan mereka diceritakan Liora pada rekan kejahatannya itu. Bahkan bagaimana pernikahannya berlangsung juga ia tuturkan.


“Tapi, apa Mbak gak curiga kalau nanti hal ini dimanfaatkannya?” tanya Sena.


“Maksud kamu?”


“Bisa aja kan penyidik itu cari bukti lebih untuk ditunjukkannya di pengadilan nanti.

__ADS_1


Liora tampak berpikir. “Tapi kayaknya gak, deh, Sen. Kalau emang iya, bukti video yang didapatnya waktu itu sudah cukup untuknya menyeret kita ke kantor polisi dan membuktikan kalau Reiki gak bersalah. Dengan begitu dia bisa langsung naik pangkat. Tapi gak dilakukannya. Artinya dia memang beneran tulus sama aku.”


“Syukurlah kalau memang seperti itu.” Sena bernafas lega.


“Gimana buat persidangan nanti? Apa kamu siap bermain drama lagi?”


“Pasti dong, Mbak. Bahkan aku udah ga sabar rasanya lihat reaksi Reiki nantinya.”


Sudut bibir Liora terangkat. “Sama, aku juga. Terus aku juga penasaran sama Mama Lena. Kira-kira gimana ,ya, reaksinya kalau anak kesayangannya itu dinyatakan bersalah.”


“Yah, kita lihat besok aja lah, Mbak.”


Liora mengangguk sambil menatap Sena. “Sekarang bisa dibilang kamu sudah sukses, Sena. Lalu apakah kamu masih ingin merusak rumah tangga orang lain?”


Wanita dengan tinggi 175 itu menunduk. “Setelah kejadian malam itu, aku menyesal, Mbak. Mungkin itu juga peringatan buat aku karena aku salah. Tapi ternyata Tuhan begitu baik padaku. Dia mempertemukan aku dengan Mbak dan juga berkat rencana Mbak, karirku jadi cemerlang.” Nafas panjang dibuang Sena. “Sekarang aku mau berubah jadi pribadi yang lebih baik lagi, Mbak. Aku sudah menyesali apa yang aku lakukan dan ini adalah kesempatan kedua yang diberikan Allah. Jadi, aku mau memanfaatkannya sebaik mungkin.”


“Bagus itu. Meski kita gak begitu dekat, tapi itu juga harapanku buat kamu. Sebagai sesama wanita aku juga ingin kamu menemukan kebahagiaan sejati.”


“Aamiin. Terima kasih banyak, Mbak.”


“Sama-sama, Sena. Terimakasih juga kamu mau berdiri di sampingku dengan resiko yang begitu besarnya.”


“Aku hanya berpikir kalau sampai kita ketahuan, maka itu merupakan balasan atas perbuatan burukku selama ini. Tapi ternyata, seperti yang aku bilang tadi, Allah memberiku kesempatan kedua.”


“Iya.”


“Lalu setelah persidangan kasus Milen apa Mbak akan menuntut Reiki atas perbuatannya selama ini?”


Istri penyidik itu termenung sejenak. “Entahlah, Sen. Setelah rencana kita ini berjalan sukses dan Wafi juga memilih melindungi aku. Aku kok jadi merasa jahat banget kalau mau menuntut Reiki. Rasanya terlalu berlebihan. Sudah cukup dia menderita dipenjara karena tuduhan yang tak dilakukannya. Mungkin aku akan mencabut laporan.”


“Lalu bagaimana dengan perceraian kalian?”


“Pasti akan aku urus. Mungkin aku hanya akan tuntut harta gono-gini saja. Anggaplah itu hakku selama menjadi istrinya.”


“Aku juga berpikir begitu, Mbak. Kayaknya juga bakalan cabut laporan atas penganiayaan yang dilakukannya. Biarlah, cukup dia mendapatkan hukuman atas kematian Milen.”


“Setelah sidang putusan mungkin aku dan Wafi akan mengurus pernikahan resmi kami. Dan aku mau memulai hidup baru, Sen. Lepas dari bayang-bayang Reki selamanya.”


“Aku juga begitu, Mbak. Gak mau lagi berurusan dengan Reiki atau terlibat dengan masalah yang berhubungan dengannya.”


Liora mengangguk setuju.


“Gimana kalau mulai sekarang kita sahabatan?” tanya Sena. “Kayaknya kita cocok. Aku juga butuh seorang kakak yang dewasa, baik, pintar, dan juga licik.”


“Hahaha, baiklah.” 


Keduanya saling berjabat tangan.

__ADS_1


“Mulai sekarang kita berdua saling menyimpan rahasia satu sama lain sampai mati. Termasuk kasus besar ini,” tutur Sena.


“Baik.” Mereka pun tertawa dengan riang.


__ADS_2