
"Kita kemana, Waf?” tanya Liora. “Ini bukan jalan ke kantor polisi.”
“Kamu bilang pilihan ada di tangan aku 'kan? Dan aku memilih menikahi kamu. Kini keputusan ada ditangan kamu. Kalau kamu gak mau, artinya kita ke kantor polisi. Kalau kamu mau, artinya kamu bisa lanjutkan rencana kamu itu.”
Liora membuang nafas kasar.Tanpa dijawab pun sudah pasti ia memilih mau dinikahi Wafi. Mana mungkin ia menolak. Alsannya? Sudah pasti karena mulai ada cinta, tapi yang paling utama karena ia tak mau di penjara. Ia tak akan merusak drama yang sudah berjalan dengan sempurna.
Mobil sedan hitam Wafi kini memasuki sebuah persimpangan dan berhenti disalah satu rumah petak sederhana. Ia pun turun kemudian membuka pintu dan membawa Liora untuk ikut. “Assalamualaikum,” ujarnya di depan rumah itu.
Daun pintu pun terbuka, ia disambut oleh seorang pria tua. “Waalaikumsalam, Nak Wafi.”
“Pak ustad.” Wafi menyalami tangan ustadz itu diikuti Liora.
“Mari masuk.”
Mereka pun masuk. Di dalam sudah ada dua orang pria dan satu orang wanita, yaitu istri dari ustad itu sendiri.
“Saksinya sudah ada,” ujar ustad itu.
“Mulai sekarang aja,” ujar Wafi. Ia membawa Liora duduk di sebelahnya. Mereka semua kini duduk di satu meja bundar dan saling hadap-hadapan.
“Apa maharnya?” tanya ustadz tersebut.
Wafi merogoh saku celananya. Dikeluarkan dompet ternyata ada uang pecahan seratus ribu dengan jumlah delapan ratus ribu. “Ini saja, Pak.” Uang itu pun diserahkan ke tangan Pak Ustad.
“Sebelumnya saya tanya dulu, apa calon istri kamu setuju saya jadi walinya?” tanya Pak ustad.
Wafi menatap wanita di sampingnya dan Liora menganggukkan kepala.
“Baiklah kalau begitu mari kita mulai saja."
__ADS_1
Sebelum ijab kabul, istri Pak ustad tadi memberikan selendang pada Liora untuk menutup kepalanya.
“Bismillahirohmanirohim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Liora Gantari dengan mahar uang senilai delapan ratus ribu rupiah dibayar tunai.” Pak Ustad menyentakkan tangannya di ujung kalimat.
“Saya terima nikah dan kawinya Liora Gantari dengan mahar tersebut, tunai,” balas Wafi dengan lantang.
Dua pria yang ditunjuk Pak Ustad sebagai saksi dari pihak laki-laki dan perempuan juga istri dari ustad itu sendiri mengatakan sah.
“Alhamdulilah.” Ustad itu pun mengangkat kedua tangannya seraya membaca doa begitu pula dengan sepasang suami istri yang kini duduk di hadapannya. “Aamiin.”
Wafi dan Liora sama-sama mengusap wajah mereka.
“Meski pernikahan kalian ini tidak sah dimata hukum, tapi ingat kalian sudah mengikat janji di mata Allah. Artinya, apa kewajiban suami dan istri harus dijalankan,” terang Pak Ustad.
“Iya, Ustad.” Wafi mengangguk. Kemudian pria itu pun berdiri di ikuti Pak Ustad tadi. Mereka menuju teras rumah. Entah apa yang dibicarakan tak lama ia pun kembali memanggil sang istri. “Kita pulang.”
Sebelum pergi, Liora mengembalikan selendang tadi pada istri Pak ustad lalu berkata, “ Terima kasih, Buk.”
“Aamiin.” Liora pun memberikan senyuman simpul.
Sepasang suami istri baru itu pun masuk kedalam mobil dan Wafi membawanya menuju apartemen.
\=\=\=\=\=\=
Wafi meletakkan kunci mobilnya di atas rak yang ada di dekat pintu. “Aku mandi dulu,” ujarnya dengan nada datar. Ia melangkah menuju kamar.
Liora hanya terpaku di dekat pintu. Wanita itu masih tak menyangka kalau keadaan akan seperti ini. Banyak pertanyaan yang muncul di benaknya termasuk apakah pernikahannya tadi benar-benar sah di mata Tuhan.
Namun, seingatnya meski belum berpisah secara hukum, Reiki pernah menjatuhkan talak secara lisan. Hanya saja ia tetap bertahan di rumah itu demi mendapatkan tanda tangan di atas suart gugatan cerai serta hak yang ingin diperjuangkan.
__ADS_1
Dibuangnya nafas kasar oleh Liora. 'Bismillah, jika pernikahan ini tidak sah maka hamba rela menanggung dosa dan jika pernikahan kami sah maka ridhoilah ya Allah,' pintanya dalam hati.
Ia berjalan menuju kamar sang suami. Tiba didalam Liora tak menemukan Wafi. Hanya kemeja yang teronggok di atas kasur juga celana di atas lantai. Pasti suaminya sedang di kamar mandi. Ia pun menyusul kesana. Dipeluknya punggung lebar yang basah itu. “Terima kasih. Aku melakukan ini semua untuk melindungi diriku dari fitnahny Reiki.”
Wafi membalik badannya. Mereka kini tengah berdiri dibawah guyuran shower. “Aku juga gak tau harus apa. Aku mencoba berpikir tapi gak bisa. Otak dan hatiku terus saja mengatakan kalau aku mencintai kamu.”
Liora menyambar bibir basah suaminya. Keduanya terlibat pungutan panas. Wafi pun mengangkat sang istri ke dalam gendongan dan wanita itu melingkarkan kakinya di pinggang kokoh sang suami.
Air yang mengalir di tubuh menambah sensasi nikmat dari cumbuan mereka. Dengan sedikit tergesa-gesa Wafi membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuh sang istri. Kemudian kembali di gendongnya menuju kamar dengan lidah yang saling membelit.
Dihempaskan tubuh mereka di atas kasur. “Hai, pelan-pelan.” Liora berbisik sambil mengusap rahang suaminya.
Wafi menormalkan nafasnya yang memburu sambil menatap sang istri dengan kabut gairah.
“I'm yours. Tapi perlahan dan nikmati." Liora berkata sambil menatap dalam mata pria yang baru saja sah menjadi suaminya.
Laki-laki itu pun setuju. Ia mulai menurunkan ritme permainan yang baru saja dimulai. Ditelisiknya tubuh sang istri dengan tangan dan bibir yang dingin, membuat Liora merasakan sedikit geli.
Dari wajah turun ke leher mulus Liora. Meninggalkan beberapa tanda bahwa kini wanita itu sudah menjadi miliknya. Bagian dada pastinya tak akan terlewatkan. Membuat Liora melengkungkan punggung saking nikmatnya.
Wafi pun suka akan hal itu. Ia pun memainkan jarinya di bawah sana. Membuat istrinya mengeluarkan suara serak yang terdengar sexsi di telinga. Liora mencapai pelepasan pertama. Badannya melengkung jari-jarinya meremas surai hitam sang sami.
“Sekarang tunjukkan keahlianmu.” Wafi berbisik di telinga sang istri.
Liora berpindah ke atas tubuh kekar itu. Jari lentiknya mengikuti setiap garis yang terukir di badan Wafi. “Kamu maunya aku mulai dari mana?”
“Terserah, aku pasrah.”
Namanya pernah berumah tangga pastinya Liora berpengalaman. Tanpa diminta ia tahu harus berbuat apa. Tak hanya permainan Lidah, tangannya pun begitu lihai. Hingga Wafi seakan mau meledak.
__ADS_1
“Mau menu utama?” goda Liora.
Inginnya sudah di ubun-ubun dengan cepat Wafi membalik posisi. Perlahan tapi pasti dituntunnya diri memasuki sang istri. Ia mengerang hebat. Ternyata surga dunia begitu nikmat.