DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 35


__ADS_3

Kelopak matanya terbuka. Liora melihat sisi ranjang sudah kosong. Artinya, sang suami pasti sudah bangun. Ia pun bangkit dari atas kasur meraih kemeja Wafi yang teronggok di bawah ranjang lalu mengenakannya. 


Ia keluar dari kamar. Membawa kaki mulusnya melangkah menuju dapur untuk mencari sosok yang semalam menikahinya.


“Morning,” sapa Wafi. Pria itu sedang menata makanan di meja. 


Liora memeluk suaminya itu dan Wafi melabuhkan sebuah kecupan hangat di dahi istrinya. 


“Aku pikir kamu udah berangkat kerja,” ujar Liora. Ia pun duduk di kursi meja makan.


“Rencananya gitu. Tapi ingat semalam kamu habis kerja keras pasti pagi ini kelaparan jadi aku masakin omelet,” terang Wafi.


Liora tersenyum. “Makasih, ya.”


“Oh, ya, baju kamu yang basah sudah dikeringkan di mesin cuci. Tunggu bentar lagi pasti bisa di pakai.”


“Udah mandi?”


“Udah.”


“Kenapa gak pakai baju?”


“Belum dipakai takut kotor pas masak.” Wafi pun ikut memakan masakan yang dibikinnya. Pria itu sengaja bertelanjang dada usai membersihkan diri.


Kepala Liora mengangguk. Ia pun meneguk habis air putih yang baru saja diberikan sang suami.


“Nambah lagi?”


“Gak. Cukup.”


“Nanti dari kantor aku singgah di cafe buat ambil baju-baju kamu, ya.”


“Kamu tinggal ambil koper yang kemarin aja. Belum aku bongkar.”


“Oke.”


Wafi meraih tangan Liora membawa wanita itu untuk duduk di pangkuannya. “Untuk sementara kita tinggal di sini dulu, ya.”


“Mau tinggal di mana aku gak masalah, Waf.”


Wafi membelai lembut pipi sang istri dan turun ke leher hingga dada yang tak berpenghalang itu


Liora menepuk tangan lebar suaminya. “Nakal.”


“Hahaha, habisnya bikin aku tergoda.”


“Kerja dulu sana.”


“Kasih semangat dulu dong.”


Liora mengecup sekilas bibir penyidik itu. 


Merasa gemas Wafi pun ******* dengan rakus. Hanya sebentar lalu dilepaskannya. “Aku gak sabar nanti malam, mau makan kamu lagi,” ujarnya sambil meremas bokong sang istri.

__ADS_1


“Aaww,” ringis Liora.


Wafi pun tertawa lebar. “Pakai ini aja, ya, sampai aku pulang.”


“Enak aja, bisa-bisa aku masuk angin,” kilah Liora. Wanita itu sesekali menyendok makanan ke mulutnya dan menyuapi sang suami.


Wafi mendudukkan kembali istrinya di kursi.” Habisin sarapannya, aku mau pakai baju dulu.”


Liora mengangguk. Tak lama terdengar Wafi memanggilnya. Ia pun bergegas kembali ke kamar. “Ada apa, sih, Waf?”


“Ini darah apa?” Wafi menunjuk noda darah di atas sprei. “Kamu gak lagi datang bulan kan? Gak mungkin juga darah virgin.”


“Nanti aku jelasin,” jawab Liora. “Udah sana berangkat. Aku mau mandi.”


Wafi mengenakan kemeja yang diambilnya dari lemari. Liora pun membantu sang suami memasang kancing bajunya.


“Aku pulangnya agak malam, ya,” ujar Wafi.


“Makan siang gak kesini?”


“Kayaknya gak. Soalnya mau menangani kasus baru dan TKP-nya jauh.”


Liora hanya mengangguk. 


 


“Sebelum pulang aku ke rumah Kak Vira dulu ambil beberapa pakaian baru ke cafe.”


“Ya tinggal bilang aja kalau aku udah nikah semalam.”


“Jangan deh.”


“Kenapa?”


“Aku gak siap. Bilang aja kamu nginap sini atau apa.”


“Terus gimana aku mau kenalin kamu?”


“Bilang aja kita lagi pacaran. Menurutku itu lebih baik. Biar kakak kamu gak kaget dan kami bisa saling mengenal.”


Wafi mengangguk setuju.


“Dah rapi.”


“Makasih istriku.” Wafi berkata sambil memeluk Liora dan wanita itu pun tertawa. Ia masih tak menyangka dalam semalam statusnya berubah jadi istri seorang penyidik. Bahkan ia pun belum sempat menyandang status janda.


“Aku berangkat,” pamit Wafi.


“Iya.”


\=\=\=\=\=\=


Karena bukti dan tersangka sudah diserahkan pada penuntut umum. Kini tim kuasa hukum Reiki sedang mencari bukti untuk pembelaan klien mereka. Termasuk mencari bukti soal kedekatan Wafi dan Liora. Itu pun mereka lakukan karena kecurigaan putra Malik Alterio itu sendiri.

__ADS_1


“Kalau bukti itu kita dapat maka kita bisa tuntut penyidik itu ada main dengan saksi. Bisa juga mereka bekerja sama dalam kasus ini,” kata Malik. “Kita juga bisa laporkan dia pada atasannya.”


“Sampai sekarang kami masih berusaha, Pak,” jelas Dodi, kuasa hukum Reiki yang baru.


“Secepatnya harus didapat sebelum persidangan dimulai. Dengan begitu penyidikan bisa diulang.”


“Siap, Pak.”


“Lalu bagaimana dengan perjanjian kerjasama perusahaan saya dengan Pak Joko? Apa kita bisa menuntutnya karena memecah perusahaan secara sepihak?”


“Kalau menurut isi perjanjian yang kalian sepakati beliau bisa dikenakan hukuman karena melanggar isi surat itu. Tapi, kalau sampai Pak Reiki terbukti bersalah maka mereka bisa saja menang, Pak. Sudah pasti permohonan mereka dikabulkan majelis hakim karena pemimpin perusahaan ini melakukan tindakan kriminal.”


Malik membuang nafas panjang. “Lalu apa ada solusi?”


“Dari ada dipecah lebih baik serahkan saja perusahaan pada Pak Joko. Dengan begitu Bapak masih akan mendapatkan keuntungan dari saham. Kalau sampai di pecah dan berdiri masing-masing, bisa-bisa Bapak jatuh bangkrut.”


Malik mengangguk. 


“Coba bicarakan lagi dengan Pak Joko sebagai rekan bisnis, Pak. Siapa tau beliau mau memikirkan ulang keputusannya. Saya rasa beliau juga akan rugi kalau perusahaan kalian dipecah. Pasti akan banyak kerjasama dengan perusahaan lain jadi berantakan.”


“Oke, nanti saya coba datang ke rumahnya.”


“Kalau begitu saya kembali ke kantor, Pak,” izin Dodi.


“Baik.” Malik mengantar kepergian pengacara itu keluar dari ruang kerjanya. Ia pun kembali duduk di meja kerja. Memikirkan kembali saran yang diberikan Dodi tadi. 


Tak dipungkiri memang sejak perusahaan mereka bergabung Joko sangat berjasa sekali dalam mencari dan membawa banyak relasi. Ia dan Reiki hanya tinggal berjuang menjalin kerja sama. 


Kepalanya terasa kusut, Malik memutuskan untuk pulang ke rumah. Membujuk istrinya untuk mau berkunjung ke rumah besan dan bicara baik-baik demi masa depan perusahaan.


\=\=\=\=\=


“Gak, Pa, mama gak mau ngemis-ngemis ke keluarganya Milen,” tolak Lena. Ibunda Reiki itu baru saja sembuh dari penyakitnya satu bulan yang lalu. Meski disarankan dokter untuk bisa bersikap tenang, tapi tetap saja sifatnya yang suka emosian tak dapat diubah.


“Ayolah, Ma, ini demi masa depan perusahaan juga Reiki.”


“Memangnya apa gak bisa cari solusi lain. Gengsi tau, Pa.” Lena berkata dengan angkuh. “Lagian anak kita itu tidak bersalah seharusnya mereka yang minta maaf sama kita.”


“Apa Mama mau perusahaan kita bangkrut?” Malik bertanya dengan nada yang sedikit tinggi. “Kalau sampai kita gak punya uang lagi sama apa kita bayar pengacara untuk membela Reiki.”


Lena terdiam.


“Sekali-kali Mama tuh coba pikirkan sebab dan akibat dari sikap egois Mama ini. Jangan mau menang sendiri,” seru Malik.


“Ya, Mama, gak mau merendahkan harga diri kita di depan besan, Pa.” Lena mulai melunak. “Kalau nanti kita malah di usir gimana?”


“Dicoba dulu, Ma. Ini belum juga pergi udah balik. Mama yang suka begitu makanya punya pikiran kalau orang itu sama semuanya. Keluarga besan itu baik. Papa yakin mereka pasti akan menerima kita. Kemarin-kemarin mereka cuma emosi makanya marah besar.”


“Ya udah, iya, Mama ikut.”


“Nanti Papa coba hubungi orang rumahnya. Kalau mereka ada kita ke sana. Ingat,Ma, kita datang baik-baik mau minta maaf dan bicara. Jangan bikin mereka kesal dengan wajah dan sikap sombong Mama itu.” Malik memperingati sang istri.


“Iya, iya,” sungut Lena.

__ADS_1


__ADS_2