DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 25


__ADS_3

Liora memegang kepalanya yang terasa pusing setelah ditampar dengan keras oleh sang suami. Ia tak kehabisan akal. Sadar kalau ia dan Sena sudah ketahuan oleh Reiki, dengan cepat ia hubungi kembali nomor yang tadi memanggilnya menggunakan ponsel lain yang biasa dipakai untuk pelayanan cafe.


“Halo,” jawab Sena di seberang sana.


“Sena, kita ketahuan oleh Reiki dan sekarang dia pasti menemui kamu." Liora berkata dengan nafas memburu. Ia melangkah menuju dapur.


“Terus gimana sekarang, Mbak?” suara wanita itu terdengar cemas.


“Kamu cepat pergi dari sana dan kembali ke apartemen. Tunggu dia.”


“Kalau dia sampai celakai aku gimana?”


“Apapun yang dia lakukan tetap pada rencana. Jangan sampai buka mulut.” Liora berbicara sambil mencari pisau.


“Nanti dia bisa bunuh saya, Mbak.”


“Saya akan hubungi Wafi dan kamu harus bisa ulur waktu. Dia gak akan bisa membuktikan kita ke polisi. Sekarang saya punya rencana lain.”


“Apa itu?”


“Saya akan ledakkan ruko ini.” Liora memutus selang gas yang ada di dapur cafenya. Lalu dihidupkan microwave dengan suhu tertinggi. “Dan mengatakan kalau Reiki yang sudah melakukannya.”


“Mbak, gila?” teriak Sena di seberang sana.


“Terserah kalau kamu mau bilang saya gila. Yang penting ingat jangan sampai buka mulut.” Panggilan itu pun di putus. Ponselnya sengaja ditinggalkan di dapur dan Liora gegas berlari ke luar. Bersembunyi di balik tiang tembok demi menghindari ledakan. 


Akibat panas dari microwave percikan api pun menyambar gas yang sudah memenuhi ruangan. Ledakkan pun terjadi mengakibatkan beberapa benda terlempar. Bagian kaca yang pecah mengenai Liora. Dengan cepat api menyambar ke dalam cafe lantai dasar. 


Asap mengepul. Api sudah menjalar di langit-langit. Ruangan yang tadinya gelap kini bercahayakan merah. Hawa panas pun terasa seakan membakar kulit. Liora yang masih ada di dalam akhirnya ketakutan juga. Padahal tadi dirinya begitu berani. “Aku harus segera keluar sebelum mati,” ujarnya. 


Wanita itu mencoba merangkak mencari jalan keluar. Karena asap sudah memenuhi ruangan, ia sampai tak dapat melihat dengan jelas. Hingga orang-orang sekitar datang membantu. Tiba di area parkiran, langsung dihubungi Wafi memakai ponsel warga.


“Hallo,” jawab Wafi.


“Wafi, ini aku Liora. Reiki datang dan dia mencelakai aku. Juga membakar cafe.” Liora berkata sambil terbatuk-batuk.


“Apa?” Wafi yang ada di sebrang sana terkejut mendengarnya.


Dada Liora terasa sesak hingga sulit bernafas, ia pun jatuh pingsan. Warga yang mendampinginya mengambil ponsel dari tangan wanita itu dan menjelaskan apa yang sedang terjadi pada Wafi.


\=\=\=\=\=\=


Dari kantor polisi, Wafi kembali menemui Liora di Rumah Sakit. Keadaan wanita itu tak terlalu parah hanya saja ia sedikit sulit bernafas akibat terlalu banyak asap yang masuk kedalam paru-paru. Juga mengalami luka ringan akibat terkena pecahan kaca. Untuk sementara dia memakai oksigen sebagai alat bantu bernafas.


Anak buahnya yang berjaga di depan pintu ruang rawat memberi hormat ketika dirinya masuk. “Hai,” sapa Wafi.


Liora yang masih tampak lemah memaksakan senyum di bibir.


“Gimana?”


“Sudah mendingan.” Wanita itu menjawab dengan lemah.


Wafi pun duduk di samping ranjang.

__ADS_1


“Ini sudah mau subuh, kenapa kamu gak pulang?” tanya Liora.


“Aku khawatir sama kamu.”


“Aku gak papa, masih hidup.”


“Iya, tapi nyaris.” Polisi itu meringis.


Liora tersenyum kecut.


“Damkar berhasil memadamkan api,” ungkap Wafi.


“Syukurlah.”


“Tapi sepertinya untuk sementara kamu belum bisa membuka cafe. Akibat ledakan gas, seluruh kaca di lantai dasar pecah dan di lantai dua sebagian retak.”


“Bagaimana dengan tempat tinggalku?”


“Untuk lantai tiga aman. Apinya gak menjalar sampai sana.”


“Syukurlah. Setidaknya aku masih punya tempat tinggal.”


“Sebaiknya kamu tinggal di apartemenku dulu. Sampai cafe selesai diperbaiki.”


Kepala Liora menggeleng.


“Kenapa?”


“Apa kata orang nanti. Aku gak mau kamu terseret dalam kasus.”


Liora membuang nafas. “Bagaimana keadaan Sena?”


“Dia mengalami geger otak ringan akibat benturan yang keras, tapi sudah membaik.”


“Boleh aku menjenguknya?”


Wafi mengangguk. Ia berdiri untuk mengambil kursi roda lalu membantu Liora duduk di sana dan mendorongnya menuju ruang rawat Sena.


\=\=\=\=\=\=


“Kalian ngobrol dulu, saya tinggal keluar,” ujar Wafi. Setelah tiba di tempat Sena, polisi itu memberikan ruang untuk para saksinya.


Kepergian Wafi, Sena duduk menyilangkan kaki di atas ranjang. “Sebenarnya apa yang terjadi, Mbak?”


Liora menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi roda. “Sudut bibirnya terangkat. “Kamu benar! Saya gila. Dalam sekejap cafe saya berubah bak neraka.”


“Mbak, aku sampai panik saat dengar rencana itu di telpon. Mbak, kenapa bertindak sejauh ini sih? Itu mengancam nyawa Mbak sendiri loh. Terus gimana nanti Mbak mau jualan?”


“Kamu tenang aja. Saya sudah pikirkan semuanya. Reiki akan membayarnya nanti, lihat aja.”


Nafas panjang dihembuskan Sena. “Semoga deh. Aku gak tau jalan pikiran Mbak. Tapi aku berharap semoga semuanya berjalan sesuai sama apa yang Mbak harapkan.”


“Aamiin.”

__ADS_1


Tiba-tiba Wafi pun kembali. “Sudah ngobrolnya?”


Liora tersenyum dan mengangguk. “Aku mau balik ke ruangan.”


“Iya, kalian berdua masih harus istirahat.”


“Terima kasih sudah jenguk saya, Mbak,” ujar Sena.


“Iya.”


Di dorong Wafi, Liora kembali ke ruang rawatnya.


\=\=\=\=\=\=\=


Malik sudah menyewa tim kuasa hukum yang baru untuk menangani kasus sang putra. Atas permintaan Reiki lewat pengacaranya, polisi pun menyelidiki nomor yang diduga milik Sena.


“Nomor ini terdaftar atas nama Isti dan lokasi memang tidak jauh dari gedung apartemen Sena, Ndan,” jelas Alfinra pada Wafi.


“Bawa orangnya kesini untuk dimintai keterangan.”


“Siap, Ndan.”


Wafi pun memeriksa rekaman CCTV cafe Liora dan gedung apartemen dekat unit Sena berada. Keterangan yang diberikan oleh dua orang wanita itu terkait kedatangan Reiki memang benar. 


Jam makan siang pun tiba. Ia bergegas keluar dari balik meja kerja menuju Rumah Sakit. Siang ini Liora di perbolehkan pulang dan Wafi ingin menjemputnya. Tiba di tujuan, kakinya melangkah dengan cepat menuju ruang rawat.


“Sudah siap?” Wafi bertanya saat melihat Liora duduk di tepi ranjang.


“Iya. Aku sudah ketemu dokter dan suster juga sudah membantu menebus resep obat.”


“Jalan sekarang?”


“Boleh, tapi kita makan siang dulu. Kamu pasti belum makan siang kan?!”


“Aku sengaja jemput kamu dulu. Ayo!”


Wafi menggenggam tangan Liora dengan lembut dan membawanya keluar dari sana. Menuju parkiran dan masuk kedalam mobil. Hal itu menimbulkan getaran di relung hati sang calon janda.


“Kita makan siang di restoran dekat sini aja. Habis itu kita ke ruko kamu untuk ambil barang-barang baru ke apartemen aku,” ujar Wafi.


“Sebaiknya aku tinggal di rumah kontrakan saja,” kata Liora.


“Kenapa?”


“Aku gak mau menyusahkan kamu.”


“Aku gak susah, gak merasa repot.”


“Tapi, Waf-”


“Anggap saja ini bentuk perlindungan polisi untuk saksinya.”


“Emang boleh?”

__ADS_1


“Boleh lah. Lagian apartemen itu jarang dihuni. Aku kesana cuma sekali kalau pulang kantor sudah kemalaman. Biasanya aku tinggal di rumah saudara.”


“Ooh, ya, sudah kalau begitu.”


__ADS_2