
Mereka pun sampai di lantai tiga. Bagunan itu tak seluas dua bagunan di bawahnya. Dari tangga lantai dua mereka menyusuri balkon menuju pintu. Barulah Wafi menurunkan istrinya untuk membuka kunci.
“Gimana kalau malam ini kita nginep disini aja,” ajak Liora.
“Boleh. Kita juga belum pernah tidur di sini ‘kan?”
“Hhmm seingat aku emang gak pernah deh.”
“Ya, udah. Kita di sini aja dulu. Nanti kalau kamu mau pulang bilang aja. Aku sih ikut.”
Liora langsung memeluk sang suami ketika mereka sudah didalam. “Gak nyangka bakalan nikah lagi dalam waktu dekat terus dapat suami baik lagi. Aku bersyukur bisa ketemu kamu.”
“Tapi dulu nolak ‘kan,” ledek Wafi.
“Aku nolak kamu karena awalnya aku gak yakin. Aku juga takut kalau rahasia aku terbongkar kamu malah jadi ilfeel.”
Wafi tertawa sambil mengelus punggung istrinya itu. “Setelah ini aku harap lupakan hal itu, ya. Biarkan dia menjadi rahasia sampai kita mati.”
“Kenapa?” Liora mendongakkan kepala untuk menatap suaminya. “Kamu takut ketahuan melindungi aku?”
“Iya, aku takut kamu dipenjara. Kalau aku yang dihukum gak masalah, tapi kalau kamu? Aku gak sanggup rasanya kalau kita pisah. Bagaimana nanti anak kita? Aku gak tega melihatnya jauh dari kamu, ibunya. Jadi jangan ungkit hal itu lagi.”
Liora mengeratkan pelukannya. “Iya, besok setelah gugatan harta gono-gini selesai aku mau menemui Sena dan mengatakan hal yang sama padanya.”
“Aku setuju. Semua demi kebaikan kita.”
“Semoga Tuhan gak menghukum keluarga kita,ya, Bee, atas kebohongan yang aku lakukan.”
“Aamiin. Kita berdoa saja, ya.”
Pasangan itu pun larut dalam rasa sesal juga takut terhadap sang pencipta.
...🥭🥭🥭🥭...
Liora dan Wafi menjalani kehidupan rumah tangga mereka dengan bahagia. Setiap waktu ada saja warna baru yang melengkapi hari keduanya. Senyum pun tak pernah luntur dari bibir sang penyidik di tiap pagi.
Ia benar-benar bersyukur bisa menikah dengan wanita seperti Liora. Wanita cantik yang juga pintar dan mandiri ditambah bertanggung dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
Waktu pun bergulir dengan cepat. Proses gugatan harta gono-gini yang diajukan Liora ternyata sampai di sidang putusan. Fatih sebagai kuasa hukum juga mewakili kliennya menghadiri persidangan pagi ini seorang diri.
“Menetapkan harta sebagaimana tersebut dibawah ini adalah harta bersama (gono-gini) dari Penggugat dan Tergugat yang diperoleh selama perkawinan, yaitu:A.
Menghukum Penggugat dan Tergugat untuk melaksanakan pembagian harta bersama (gono-gini) tersebut masing-masing berhak mendapatkan (setengah) bagian atau 50% (lima puluh persen) bagian dari harta bersama (gono-gini);menurut hukum bila terjadi perceraian maka Harta Bersama (Gono Gini) tersebut dibagi 2 (dua) antara PENGGUGAT dan TERGUGAT.” Hakim ketua pun mengetuk palu setelah putusan dibacakan.
Fatih pun menghelas nafas lega atas keberhasilannya dalam memenangkan kasus. Sidang ditutup, suami dari Kaina itu lekas keluar dari gedung pengadilan dan segera meluncur ke alamat rumah Liora dan Wafi.
Tiba di tujuan ia disambut senyum ramah oleh si tuan rumah.
__ADS_1
“Sampai juga,” sambut Wafi.
“Akhirnya setelah sidang berkali-kali kita mendapatkan putusannya,” seru Fatih.
“Masuk dulu.” Wafi merangkul temannya itu menuju ruang tamu. Mereka duduk di sofa besar saling bersebelahan.
“Liora resmi mendapatkan setengah harta dari Reiki Alterio. Yang totalnya ada enam Miliar lebih. Itu melebihi jumlah tuntutan yang diajukan.”
“Kok bisa?” tanya Wafi.
“Ya, bisalah, Fatih gitu loh.” Ayah sambung dari Kama dan Klila itu menepuk dadanya dengan bangga.
“Cieileh, sombong banget sih lo.”
“Hahaha, itu memang hak istri lo. Di perjanjian yang mereka tanda tangani, Reiki memang menyatakan akan membagi separuh penghasilannya denga Liora. Meski Liora hanya menuntut atas penjualan harta warisan orang tuanya, tapi pengadilan memutuskan secara adil.”
“Bukannya kamu bilang kalau jumlah tuntutan yang kamu bayangkan itu lima miliar?” Wafi bertanya pada sang istri.
“Setelah aku piki-pikir, aku mengubahnya,” jelas Liora.
“Oke, untuk pembagiannya nanti aku kasih rincian.”
“Itu dalam bentuk benda atau uang, Pak Fatih?” tanya Liora.
“Ada yang berupa benda ada juga yang berupa uang.”
“Siap. Nanti sekretaris saya akan kirim kesini.”
“Terima kasih banyak atas bantuan Pak Fatih selama ini.”
“Sama-sama. Saya pun senang membantu. Apalagi sekarang kita sudah seperti keluarga.”
“Gue juga mau bilang makasih banyak sama lo, Tih,” tambah Wafi.
“Ah, kayak sama siapa aja lo. Santai aja, Bro.”
Wafi mengangguk. “Gimana kalau sekarang kita makan siang dulu. Kebetulan Liora habis masak.”
“Boleh, gue juga lapar habis sidang.”
Mereka bertiga melangkah ke meja makan.
...🍉🍉🍉🍉...
Di dalam penjara sana, Reiki tampak tak terima mendengar berita kemenangan sang mantan istri yang berhasil memenangkan gugatan harta gono gini.
Ia semakin membenci Liora bahkan dendam yang mulai bersarang di dalam hati kian tumbuh membesar.
__ADS_1
“Pokoknya saya gak rela kalau dia mendapatkan harta saya sepeser pun,” geram Reiki.
“Tapi mau bagaimana lagi, Pak,” jawab Dodi. “Mantan istri Anda memiliki surat perjanjian yang Anda tanda tangani. Itu cukup menguatkan gugatannya.”
“Bagaimana bisa dia menang hanya karena sebuah surat yang tak memiliki kekuatan hukumnya?”
“Tidak memiliki kekuatan hukum bagaimana, Pak. Jelas-jelas goresan tangan Anda ada di sana mengenai materai. Artinya, surat itu sah dimata hukum.”
Kening Reiki mengerut. “Seingat saya perjanjian itu tidak pakai materai.”
“Tapi kenyataannya ….” Dodi mengangkat kedua tangan.
Putra dari Malik Alterio itu mengusap kasar wajahnya. “Lalu bagaimana dengan pembagian harta itu?”
“Jelas harta yang Anda miliki harus dibagi dua, sesuai dengan isi surat perjanjian. Juga pengacara mantan istri Anda menambahkan gugatan ganti rugi atas ruko Bu Liora yang sempat Anda ledakkan.”
Merasa geram, Reiki memukul meja dengan sangat keras. Nampak buku-buku jarinya keluar saking eratnya pria itu mengepalkan tangan. “Asal Anda tau, kalau saya tidak pernah meledakkan rukonya. Wanita itu gila, dia sendiri yang melakukan itu semua demi menjebak saya.”
“Maaf, Pak, untuk masalah itu saya tidak bisa berkata banyak. Kalaupun Anda merasa benar kita tidak punya bukti. Mau tidak mau kita harus membayarnya. Jika tidak, hukuman Anda akan bertambah.”
“Sial.” Reiki mengumpat sambil menendang kaki meja. Dadanya tampak naik turun akibat menahan amarah juga emosi yang tak terluapkan sepenuhnya. “Berapa saya harus membayar ganti rugi itu?”
“Satu M dan persidangannya akan digelar minggu depan.”
“Apa?” Mantan suami Liora itu membelalakkan matanya karena tak percaya. “Itu bukan ganti rugi namanya, tapi pemerasan.”
“Tapi pengacara Bu Liora melampirkan bukti-bukti biaya renovasi ruko yang sudah selesai dilakukan, Pak.”
“Lalu?”
“Memang benar jumlahnya segitu. Jadi kita tidak bisa mengelak atau mengajukan keberatan.”
“Jadi setelah ini saya gak punya apa-apa lagi?”
“Setelah harta Anda dibagi dengan Bu Liora juga membayar seluruh denda persidangan dan bayar ganti rugi, Anda dan keluarga hanya memiliki sisa harta sekitar satu setengah miliar.”
“Bangsat,” umpat Reiki. “Benar-benar wanita kurang ajar,” geramnya. “Bisa-bisanya dia membuat saya jatuh miskin seperti ini.”
“Saya harap Anda tidak melakukan tindakan bodoh setelah ini, Pak.”
“Enak saja kamu Anda menasehati saya seperti itu. Setelah semua perjuangan yang saya lakukan, wanita itu dengan mudahnya menghancurkan dan merampas semua yang saya miliki. Gak bisa, saya pasti akan membalas semua perbuatannya.”
“Silahkan! Itu urusan Anda, tapi setidaknya Anda harus menunggu sampai masa tahanan Anda habis dan itu bukan waktu yang singkat.”
Nafas kasar dibuang Reiki.
“Saya hanya ingin menyampaikan hal itu. Setelah semua urusan Anda selesai tugas saya pun beres. Jika nanti ada hal yang perlu saya sampaikan lagi saya akan menemui orang tua Anda,” ujar Dodi. “Kalau begitu saya pamit.” Pengacara itu berdiri dari duduknya sambil menenteng tas yang berisi dokumen penting. Ia melenggang keluar tahanan meninggalkan kliennya yang kini tampak frustasi.
__ADS_1