DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 59


__ADS_3

“Loh, kok udah pulang?” Liora bertanya saat dirinya baru saja keluar dari kamar mandi.


“Aku pikir demam kamu makin parah makanya cepat pulang,” jelas Wafi. Ia menghampiri wanita itu dan memeriksa suhu tubuh istrinya dengan telapak tangan. “Udah gak panas lagi.”


“Kan tadi aku bilang, cuma panas dikit aja. Mungkin kecapekan.”


“Syukurlah. Ini tadi aku beli Mie gacoan sekalian juga makan malam.” Penyidik itu meletakkan bungkus plastik diatas meja rias.


Senyum sumringah terbit di wajah Liora. “Makasih, kebetulan aku juga lapar. Baru aja bangun tidur terus mandi. Rencananya mau masak tadi.”


“Gak usah, istirahat aja.” Wafi melepas kemeja yang melekat di badan lalu merebahkan diri di atas kasur. “Sudah dapat kabar dari Fatih?”


“Udah. Reiki dihukum sesuai dugaan kamu.” Liora berkata sambil memakai bajunya di dekat lemari. “Untuk sidang perceraian nanti bakalan di kasih kabar.”


“Bagus kalau gitu.”


“Oh, ya, Bee, tadi aku udah masukin separuh baju-baju kita ke koper. Besok kamu antar ke rumah, ya, sambil berangkat kantor.”


“Boleh. Besok kamu mau ke cafe?”


“Rencananya gitu.”


“Kapan mau dibuka lagi?”


“Nantilah aku diskusi dulu sama anak-anak. Mau catat apa aja yang harus dibeli lagi, terus mau nambah menu baru apa gak.”


Wafi mengajak istrinya itu untuk duduk di pinggir kasur dan Liora pun menurut. “Maaf, ya aku gak bisa bantu.”


“Gak papa, Bee, kamu kan sibuk kerja, aku ngerti kok.”


“Ya, tapi kamu jadi kecapekan, jadi demam.”


“Gak lah. Ini juga udah mendingan.”


Polisi itu mencubit gemas pipi istrinya. “Seneng banget punya istri pengertian.”


“Ya, namanya kamu itu abdi negara, ya, pasti harus melayani dengan baik.”


“Apa aku berhenti aja, ya?”


“Eh, jangan dong. Sayang tau.”


“Ya, kalau aku berhenti aku bisa bantu-bantu kamu di rumah, nah aku bisa kerja santai urus bisnis.”


“Gak usah, Bee, sayang loh. Lagian aku gak masalah kamu sibuk seharian asalkan benar-benar urusan pekerjaan. Malamnya toh kamu di rumah sama aku, itu udah cukup.”


Bibir Wafi melengkungkan senyuman. “Oke, deh. Kalau gitu aku mandi dulu.”

__ADS_1


“Sana, aku juga mau makan Mie. Dari dari wanginya udah menggoda buat di makan,” kekeh Liora. “Aku tunggu di sofa, ya, sambil nonton.”


“Iya,” sorak si penyidik yang sudah di kamar mandi.”


...🍓🍓🍓🍓...


 


Pagi ini Liora tengah membahas pembukaan cafe dan restorannya bersama para karyawan dan koki. Menghubungi kembali pemasok bahan-bahan mentah yang biasa suka mengisi kebutuhan dapur.


“Kalau mau bikin menu baru artinya kita harus testing dulu, Mbak,” ujar seorang koki.


“Oke, besok saya belanja dulu sebelum isi dapur kita kembali komplit,” jawab Liora.


“Sekalian kita beli alat tempur.”


“Juga piring, gelas dan lainnya,” tambah Aldi.


“Oke, catat aja apa yang mau kita beli.” Liora berkata sambil memeriksa catatannya.


“Mbak, kayaknya ada pelanggan deh,” ujar Susi.


Liora memutar badannya melihat ke arah pintu. “Itu bukan pelanggan.”


“Siapa?”


Semua karyawan mengangguk.


“Kalian lanjut aja diskusinya, saya samperin beliau.” Wanita itu menghampiri Malik yang berdiri di luar cafe. Dibukanya pintu kaca dan mengajak mantan mertuanya masuk. 


“Maaf, Pa, kita duduk di sini aja,” lontar Liora. Mereka duduk di meja kecil untuk pengunjung cafe dan saling berhadapan


“Gak papa.” Malik tersenyum simpul. “Gimana kabar kamu?”


“Alhamdulillah baik. Papa sendiri?”


“Seperti yang kamu lihat.”


Liora mengangguk. “Kalau boleh tau ada keperluan apa Papa kesini?”


“Papa mau minta maaf atas perbuatan kami sekeluarga terhadap kamu.”


“Untuk itu saya sudah memaafkan kok, Pa. Tapi, ya, namanya hukum pasti terus berjalan buat Reiki. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.”


Malik mengangguk setuju. Ia memperhatikan bagunan cafe milik sang menantu yang selama ini tak pernah ia kunjungi. Bahkan saat hangus terbakar pun ia seakan tak peduli meski sebenarnya itu bukan perbuatan Reiki, tapi setidaknya tunjukkan lah sedikit simpati. 


“Papa tadi ragu mau kesini. Papa pikir belum diperbaiki dan kamunya gak ada. Ternyata sudah berdiri kokoh,” ujar Malik.

__ADS_1


“Alhamdulillah, Pa, saya ada tabungan jadi secepatnya di bagun kembali.”


“Habis berapa?”


Liora terdiam sejenak. “Hhmm, kenapa?”


“Papa mau bayar ganti rugi.”


“Ah, gak perlu, Pa.”


“Kenapa? Papa ikhlas, toh ini juga karena ulah Reiki.”


Liora tau bagaimana sikap dan sifat kedua mertuanya. Ia tak yakin kalau Malik benar-benar mau mengganti rugi pembangunan cafe. Namun, ia mencoba berpikir positif, siapa tau mantan mertuanya yang ini sudah berubah. “Kalau benar begitu nanti saya kirim rinciannya bira jelas.”


“Baik, Papa tunggu.”


“Sebelumnya terimakasih banyak loh, Pa.”


“Sama-sama, tapi Papa harap kamu gak menggugat harta gono-gini sama Reiki.”


Istri penyidik itu terpaku dalam posisi. Ternyata dugaannya tak salah. Malik dan Lena tak berubah. Mereka menawarkan sesuatu karena juga ingin mendapatkan sesuatu darinya. “Kalau begitu Papa gak perlu repot-repot ganti rugi pembangunan cafe saya,” tegasnya.


“Kenapa?”


“Karena Papa gak ikhlas.”


“Loh kata siapa? Papa benar ikhlas, tapi Papa cuma minta gak perlu lagi tuntut harta apa-apa sama Reiki. Sudah cukup saja sampai di sini.”


“Kalau Papa beneran ikhlas seharusnya Papa gak minta balasannya dari saya.”


“Papa gak minta balasan.”


“Lalu itu tadi apa namanya?” Liora sedikit terbawa emosi.


“Papa cuma minta tolong aja.”


“Alah, sama aja itu namanya.”


“Memangnya kamu gak mau bantu Papa?”


“Maaf, Bapak bukan mertua saya lagi jadi saya berhak menolak untuk membantu Bapak.”


“Tolong lah, bagaimanapun kita pernah jadi satu keluarga.”


“Keluarga yang bagaimana dulu?” tantang Liora. “Memangnya Bapak pernah peduli sama saya ketika anak dan istri Bapak main tangan terhadap saya? Jangankan bertanya, melihat saja Bapak tidak. Seakan-akan saya hanya angin lalu di rumah itu. Sekarang Bapak bilang kita pernah jadi sebuah keluarga? Cih, saya muak mendengarnya.”


Malik tertunduk dengan rasa bersalah. “Itu kan masa lalu dan sekarang Papa sudah mencoba untuk memperbaiki. Tadi Papa juga sudah minta maaf dan kamu bilang sudah memaafkan. Jadi, janganlah ada dendam di antara kita.”

__ADS_1


“Terlambat!” sembur Liora. “Tidak ada lagi yang perlu diperbaiki. Enak saja Bapak bilang itu masa lalu, sampai sekarang bekasnya masih ada, ya, Pak, jadi jangan semudah itu Bapak melupakannya. Dan saya tegaskan, saya gak dendam, saya memang sudah memaafkan, tapi untuk melupakan saya gak bisa.”


__ADS_2