DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 75


__ADS_3

Sampai di tujuan mereka hanya berkeliling dan melihat-lihat beberapa toko. Merasa puas keduanya memutuskan untuk kembali pulang.


“Sen, kamu bisa antar aku ke rumah dulu, gak?” tanya Liora. Aku mau ambil beberapa pakaian.”


“Oke, gak lama kan, Mbak?”


“Gak kok, cuma bentar aja.”


Si model mengangguk setuju. Selama mengemudi matanya sesekali memperhatikan kaca spion samping untuk memastikan para polisi yang mengawal mereka masih ada. Namun, di tengah-tengah perjalanan sepertinya pengawal itu tak menyangka kalau mobilnya akan menuju rumah Liora jadinya mereka berpisah di persimpangan.


“Yah, Mbak, anak buahnya Pak Wafi kayaknya pisah deh sama kita,” jelas Sena.


Ketika itu pula Wafi menghubungi sang istri. “Ya, Bee?”


“ … ”


“Cuma pulang ke rumah ambil baju habis itu baru ke rumah Kak Vira.”


“ … “


“Oke.” Liora menutup panggilan itu.


“Mbak, kok gak langsung bilang sama Pak Wafi kalau kita pisah sama anak buahnya?”


“Aku gak mau bikin dia khawatir. Tenang aja, aku kirim pesan ke polisi tadi, ya, biar mereka putar balik dan temuin kita.”


Si model mengangguk setuju. 


Akhirnya, mobil sedan merah yang dikemudikan Sena tiba di halaman rumah Liora. Mereka sampai tepat saat hari sudah mulai sore.


Mereka pun masuk dan seperti basa, Liora tak mengunci pintu rumahnya.


“Mbak, aku tunggu di sini, ya.” Sena mendudukkan diri di sofa ruang tamu.


“Eh, temanin aku dong.” Liora menarik temannya itu untuk ikut masuk ke kamarnya dan Sena pun akhirnya ikut.


Liora mulai memilih beberapa pakaiannya dan suami di lemari lalu dimasukkan ke dalam koper kecil. Sena Sendiri tampak resah menunggu kedatangan polisi yang tadi menjaga mereka.


“Mbak, kok anak buahnya Pak Wafi gak nyampe-nyampe, ya?” tanya si model


“Mungkin mereka udah jauh kali, Sen, makanya putar balik lagi lama. Kamu tenang aja mereka pasti sampai.”


“Ya, udah deh. Udah beres?”


“Udah, cuma ini aja. Yuk, keluar.” 


Sena membantu ibu hamil it menarik kopernya keluar kamar, sedangkan Liora menutup pintu. Keduanya sama-sama melangkah hendak keluar rumah. Namun, baru saja tiba di ruang tengah Reiki sudah berdiri di sana. Matanya menatap tajam kedua wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya itu. “Akhirnya, aku menemukan kalian di waktu yang sangat tepat untuk membalaskan dendam ini.”

__ADS_1


Liora dan Sena terpaku dalam tegak mereka. Kedua wanita itu menelan saliva dan berusaha tampil tenang meski sebenarnya mereka sudah mulai ketakutan. 


“Gimana kamu bisa masuk?” Istri penyidik itu sepertinya lupa bahwa ia tadi tidak mengunci pintu rumahnya.


Reiki menyungingkan sudut bibirnya. “Apa itu penting?”


“Mau apa kamu?”


“Mau aku apa?” Senyum jahat terbit di bibir Reiki Alterio itu. “Aku mau bikin hidup kamu hancur.”


“Apa maksud kamu?” 


“Apa pun akan aku lakukan asalkan hal itu mampu membuat kalian merasa mau mengakhiri hidup ini.”


“Mau bunuh kami?” tantang Liora.


Reiki menggeleng. “Itu jelas tidak seru. Aku ingin kalian berdua menderita karena sudah membuat aku menderita di penjara.” Reiki melangkah maju.


“Itu karena ulahmu sendiri.” Liora pun melangkah mundur.


“Oh, ya? Bukannya itu karena rencana kamu.”


“Tapi itu juga takdir dari Tuhan. Kalau memang kamu tidak bersalah Tuhan pasti sudah menunjukkannya. Tapi kamu lihat sendiri kalau Tuhan berpihak padaku.”


Reiki melemparkan vas bunga yang ada di atas meja ke arah Liora. Beruntung tak mengenainya. “Jadi kamu mengakui kalau semuanya cuma sandiwara?” geramnya.


Liora tak menjawab.


“Hahaha, kamu gak akan bisa melindungi wanita licik itu. Jika aku harus melangkahi mayat kamu untuk menghancurkannya, maka aku tidak akan segan membunuh kamu.” Reiki berkata dengan wajah yang menakutkan. Ia sudah dikuasai amarah dan dendam.


“Silahkan! Tapi sebelum aku mati aku akan melindungi Mbak Liora.”


Reiki tertawa sinis.


“Harusnya kamu sadar, Rei,” kata Sena. 


“Sadar? Sadar karena apa?”


“Sadari semua perbuatan kamu selama ini. Bukan malah ingin membalas dendam pada kami.”


“Cih, bukannya kalian yang dendam padaku?! Kalian bersekongkol dalam memberikan keterangan palsu pada penyidik juga pengadilan agar aku dipenjara karena sudah menyakiti kalian.” Reiki mengangkat senjata api hasil rampasannya semalam dan menodongkan pada Liora juga sena. “Sekarang enak saja kalian menasehati aku, seakan-akan kalian tidak berdosa.”


“Oke, Rei, kami minta maaf,” sela Liora. Takut, istri penyidik itu mencoba menenangkan suasana. “Katakan apa yang bisa kami lakukan untuk kamu? Tapi please, jangan lukai kami.”


“Kalian berdua harus mengakui kebohongan yang sudah kalian lakukan demi membebaskan aku dari hukuman.”


Liora dan Sena saling melempar pandan dengan raut wajah bingung.

__ADS_1


Tak mendapat jawaban, Reiki melepaskan satu tembakan ke arah tembok. Membuat dua wanita di hadapannya itu mengedikkan bahu dan memejamkan mata karena terkejut juga takut.


“Oke, aku akan lakukan,” jawab Liora. 


Sena mengerutkan dahi karena tak paham dengan jalan pikiran temannya itu.


“Aku akan minta bantuan Wafi untuk membebaskan kamu dalam waktu dekat ini,” tawar Liora. “Apapun caranya, aku yakin dia pasti bisa.” Wanita hamil itu sedang berusaha mengalihkan perhatian mantan suaminya.


“Lakukan!” Reiki berteriak sambil menodongkan pistol pada mantan istrinya.


Dengan langkah gemetar Liora berjalan ke arah sofa diikuti Sena untuk mengambil ponselnya di dalam tas 


“Mbak, gimana ini? Kenapa dua polisi tadi masih belum sampai?” Sena berbisik.


“Aku gak tau, Sen,” balas Liora dengans uara pelan.


“Terus kita gimana?”


“Jangan bikin aku menembak salah salah satu dari kalian,” ancam Reiki.


Dua wanita itu pun memilih menutup mulut. 


“Hubungi dengan Video biar dia bisa melihat kalau buronan yang sedang dicarinya kini sedang menyandera istrinya.”


Liora berhasil menghubungi sang suami. Mereka tengah menunggu Wafi untuk mengangkat panggilan itu. Namun, hingga dering terakhir si polisi tak menjawab.


“Hubungi lagi!” perintah Reiki.


“Oke, aku akan coba lagi,” jawab Liora. Dalam hati wanita itu berharap sang suami segera menjawab telponnya. Setelah menunggu beberapa detik akhirnya Wafi mengangkat panggilan dari sang istri.


“Hallo, Sayang.”


Dengan wajah pucat dan takut Liora membalas sapaan sang suami,” Hallo, Bee.”


“Gimana? Udah sampai rumah Kak Vira?”


“Belum. Aku pulang ke rumah.”


“Kenapa pulang ke sana?”


Merasa waktunya terbuang, Reiki merampas benda pipih itu dari tangan Liora. “Hey,” sapanya. “Bagaimana? Apakah begitu sulit menemukan saya?”


Di dalam layar, wajah si penyidik langsung berubah marah juga terselip raut khawatir. “Dasar pengecut! Ternyata benar kalau kamu berusaha mengincar istri saya.”


“Ini demi kebebasan saya. Dengar, saya tidak mau berbasa basi. Jika kamu ingin menyelamatkan Liora dan kandungannya datang seorang diri. Jangan berani-beraninya membawa polisi jika kamu tidak mau istri kamu mati di tangan saya.” Reiki mengarahkan kamera ponsel ke arah Liora yang sedang ia todong dengan pistol.


Belum sempat Wafi member jawaban, Reiki memutus panggilan itu. Kemudian dia menyalakan mode video dan menekan tombol rekam. “Sekarang kalian harus akui apa yang sebenarnya terjadi pada malam kematian Milen.”

__ADS_1


“Tapi, Rei,” jawab Sena.


“Lakukan! Atau aku tembak kaki kamu itu agar lumpuh dan tak bisa berjalan lagi.” Reiki mengancam dengan mata melotot juga wajah merah padam.


__ADS_2