
"Lalu Papa harus apa sampai kamu mau membatalkan gugatan harta pada Reiki.” Malik bertanya dengan wajah penuh harap.
“Sadar diri, Pak. Ajak anak dan istri Bapak tobat. Ingat apa yang sudah kalian lakukan terhadap saya itu zalim namanya. Sekarang Allah sudah kasih kalian teguran, tapi sepertinya kalian memang bebal, masih aja gak sadar-sadar,” dengus Liora.
Malik semakin merasa malu. Ia dinasehati habis-habisan oleh mantan menantu.
Nafas panjang dibuang istri polisi itu. “Maaf, Pak, sebaiknya Bapak pulang dan lupakan soal tawaran yang bapak kasih tadi. Saya gak tertarik.”
Malik sadar kalau dirinya di usir secara halus. Ia pun bangkit dari kursi plastik yang diduduki. “Sekali lagi maafkan Papa kalau kamu tersinggung dengan permintaan Papa tadi.”
“Ya, pasti saya maafkan. Lain kali gak perlu datang temui saya lagi. Kalau benar-benar menyesal cukup taubat dan minta ampun sama Allah.”
Kepergian orang tua mantan suaminya, Liora berkali-kali menghembuskan nafas panjang. Ia benar-benar dibuat emosi dengan tingkah laku keluarga satu itu. “Gak anaknya, gak emaknya, gak bapaknya, sama aja. Gak berubah,” gumam wanita itu.
...🍇🍇🍇🍇...
Di apartemen, Liora menumpahkan kekesalannya dengan bercerita pada sang suami. Wafi sampai tertawa melihat raut wajah istrinya. Apalagi pipi yang belakangan terlihat berisi begitu menggemaskan saat istrinya bicara.
“Udah, tarik nafas yang dalam lalu buang,” saran polisi itu.
Liora mengikuti apa yang dikatakan suaminya. “Hhhaaahh, sumpah, ya, Bee, aku heran kok ada, ya, orang kayak gitu.”
“Udah, gak usah diambil pusing. Itulah manusia, kepala sama hitam tapi isinya gak sama.”
“Oke lah kalau dia gak mau ganti rugi. Tapi yang aku kesalkan itu dia minta aku gak tuntut harta gono-gini. Dasar gak sadar diri.”
Wafi mengusap punggung wanita itu. “Katanya tadi mau bicara. Soal apa?”
“Oh, itu besok aku sama anak-anak mau belanja buat kebutuhan cafe. Aku mau pinjam mobil, tapi nanti kamu berangkat kerjanya pake apa.”
“Ya, udah nanti aku telepon Kak Vira buat suruh supir anterin mobil besok.”
“Ah, gak enak aku. Kita aja jarang ke sana.”
“Lagian dia juga sibuk, Yank. Kalau mau kesana harus janjian dulu.”
“Ooh, gitu, ya.”
“Hhmm. Jadi besok mau di jemput kesini atau langsung ke cafe?”
“Jemput ke cafe aja. Paginya aku berangkat ama kamu.” Liora merebahkan badan di dada sang suami.
Wafi pun mencoba menghubungi sang kakak.
“Terus gimana sama pindahan kita?”
“Emang masih banyak barang yang mau kamu bawa?”
“Gak sih, cuma baju-baju aja sama printilan kecil.”
“Ya, udah beli aja, Sayang. Yang disini tinggalin aja. Siapa tau kita kangen pengen nginap di sini.”
Liora mengangguk setuju.
Wafi pun berbicara dengan sang kakak. Setelahnya panggilan mereka diakhiri. “Udah, besok pagi supir bakalan meluncur ke lokasi sama mobilnya.”
“Makasih, ya, Bee.”
__ADS_1
“Sama suami sendiri bilang makasih segala.”
“Ya, harus dong. Itu namanya menghargai.”
Wafi tersenyum. “Besok di kantor ada acara. Semua anggota harus bawa ibu bayangkarinya, aku pengen bawa kamu tapi belum bisa.”
Liora mengelus pipi sang suami sambil berkata, “Uuh kasihannya suamiku. Pasti nanti di sana kesepian.”
“Bukan kesepian aja, tapi aku jadi bahan ledekkan.”
“Sabar, ya. Sidang cerai bentar lagi kok.”
“Gimana kalau kita persiapkan pernikahan dari sekarang?”
“Bukannya kita nikah dinas dulu?”
“Iya, habis itu kita langsung nikah umum. Jadi gak perlu nunggu-nunggu.”
“Emangnya kamu bisa tetapin tanggal nikah dinas kita?”
“Gampang, itu nanti bisa diatur.”
Liora mengangguk setuju. “Oke, kalau gitu. Kapan kita ketemu WO?”
“Besok aku bicarakan dulu sama Mas Wahyu.”
“Oke.”
“Udah malam, tidur, yuk! Nanti kamu kecapekan lagi, terus demam.”
Wafi tertawa lebar. “Maaf, Yanm. Habis kamu bikin nagih sih.”
“Sulit aku bedainnya, antara nagih sama mesum kamu mah.”
“Hahaha.” Polisi itu menggendong istrinya memasuki kamar dan sama-sama merebahkan badan untuk segera menyelami alam mimpi.
...🍌🍌🍌🍌...
Usai menurunkan sang istri di cafe, Wafi gegas memacu kendaraanya menuju kantor polisi. Dia harus bertemu dengan atasan yang sekaligus kakak sepupu untuk membicarakan pernikahannya. Tiba di sana ia pun dipersilahkan masuk.
Sebelum duduk, suami Liora itu memberi hormat terlebih dahulu.
“Duduk,” perintah Wahyudi. “Ada perlu apa kamu pagi-pagi mau bicara?”
“Ini antara saudara dan juga bawahan sama atasannya, Mas,” tutur Wafi.
“Apa itu?”
“Bisa atur sidang nikahku?”
“Hhmm, kapan akta cerai istrimu itu keluar?”
“Dalam minggu ini.”
“Hhmm begini saja. Kamu lengkapi dulu persyaratannya dan serahkan pada Kasatker. Nanti di sana biar saya yang atur untuk diproses lebih cepat.”
“Nah, itu. Kalau nunggu pasti lama, makanya aku butuh cepat.”
__ADS_1
“Kenapa? Sudah hamil istrimu? Takut dikira hamil duluan.”
“Belum, Mas?”
“Ah, lemah sekali.”
“Ya, ampun, Mas. Ya, namanya juga belum rejeki.”
Wahyudi tertawa. “Aku aja dulu satu bulan langsung isi istriku.”
“Itu namanya memang rejeki, Mas.”
“Ya, sudah. Nanti aku usahakan.”
“Kalau bisa dalam bulan ini, Mas.”
“Iya. Bawel.”
“Biar bisa pamer, Mas. Ini aja males sebenarnya hadir. Pasti nanti jadi bulan-bulanan lagi,” kesal Wafi.
“Iya. Nanti habis acara aku bicara sama kepala satuan kerja. Tapi cepat siapkan syarat-syaratnya.”
Penyidik itu tersenyum lebar. “Makasih, Mas.”
“Dah, sana keluar. Bentar lagi istriku datang nanti dia dengar lagi dia. Bisa ember dia sama Vira.”
Wafi berdiri dan memberikan hormat dengan tegap.
...🍉🍉🍉🍉...
Setelah mendapatkan daftar persyaratan yang dibutuhkan untuk pernikahannya nanti, Wafi memutuskan untuk pulang. Di perjalanan ia menghubungi sang istri yang baru saja selesai berbelanja keperluan cafe.
“Aku jemput kesana, ya,” kata Wafi.
“Oke, aku tunggu.”
Panggilan itu diputus ia pun mengemudi dengan fokus. Tiba di tujuan Liora pun langsung masuk mobil sang suami. Meninggalkan cafenya dengan para karyawan.
“Udah selesai acaranya?”
“Belum sih, tapi aku udah males jadi pulang aja,” tutur Wafi. “Oh, ya, Yank, tadi aku sudah bicara sama Mas, Wahyu. Katanya dia bakalan bantu urus sidang nikah kita agar bisa dilakukan dalam bulan ini.”
“Alhamdulillah.”
“Nanti kita siapin persyaratannya, ya. ada beberapa dokumen yang diminta.”
“Oke. Bee, aku mau bicara.”
“Hhmm gimana kalau nanti aja di rumah. Aku lapar kita makan dulu.”
“Emang kamu gak makan di acara tadi?”
“Gak, males.”
“Ya, udah deh.”
Liora kembali mengurungkan niatnya untuk menjelaskan soal harta gono gini yang dituntutnya pada Reiki.
__ADS_1