
Di luar gedung persidangan, Puri langsung menghampiri mantan menantunya dan memukul kepala Reiki dengan sepatu nan dikenakan.
“Heh, dasar pembunuh,” hardik ibu Milen itu.
Para petugas kepolisian langsung mengamankan tahanan.
“Lihat saja, saya akan ajukan banding dan memastikan kamu mendapatkan hukuman berat.”
“Silahkan, kami gak takut,” tantang Lena.
“Oh, sekarang kamu berani nantangin saya? Saya bikin bangkrut baru tau rasa.”
Ibunda Reiki itu wajahnya langsung pias dan mundur. Bagaimanapun dia lebih takut kehilangan harta yang dimiliki saat ini. Apalagi kasus yang menimpa sang putra membuat keuangan mereka semakin menipis membayar jasa pengacara.
“Ck, dasar matre, takut miskin tapi masih mau ngelawan,” cibir Puri. “Kenapa diam? Gak berani?”
“Besan, tolong maafkan kelakukan istri saya,” sela Malik.
“Gak usah manggil-manggil besan lagi. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa,” timpal Joko. “Pak Malik, besok silahkan datang ke kantor untuk memutuskan tentang perusahaan kita.”
“Baik, Baik Pak Joko saya pasti akan datang dan terima keputusan Anda dengan senang hati.”
Joko menyunggingkan sudut bibirnya. “Bagus.”
Hal itu jadi sorotan bagi para awak wartawan dan media juga tontonan menarik buat Liora.
“Ayo!” Wafi menarik tangan istrinya untuk pergi dari sana.
“Bentar, aku mau lihat itu dulu.”
“Udah gak usah dilihat. Itu orang-orang gak punya malu. Masak berantem depan umum.”
Wanita itu mengikuti langkah suaminya menuju mobil yang terparkir.
“Kita ke kantornya Fatih, ya?” ajak Wafi.
“Ngapain?” Liora bertanya sambil memasang sabuk pengaman.
“Mau tanya kapan persidangan kasus KDRT kamu bakalan digelar. Kalau bisa cepat, lebih baik biar kamu bisa gugat cerai Reiki.”
“Oh.”
“Atau mau gugat langsung aja?”
“Gak, aku tetap tunggu dia dihukum dulu, baru digugat. Biar gampang cerainya.”
Wafi mengangguk setuju.
“Emangnya kamu gak ke kantor?”
“Nanti habis dari sana.”
Mobil yang mereka naiki berjalan menuju alamat kantor Fatih. Setengah jam berkendara mereka sampai di tujuan. Pasutri itu turun dan langsung masuk.
“Duduk,” ajak Fatih.
Wafi dan Liora duduk di sofa panjang.
“Gimana? Kapan persidangan Liora bakalan digelar?” tanya Wafi.
“Minggu depan.”
__ADS_1
“Berapa lama?”
“Hhmm, kalau Reiki gak ada pembelaan pasti kita masuk sidang pembuktian dan langsung putusan.”
“Artinya, satu bulan baru bisa diputuskan.”
Wafi mengangguk.
“Oke, kalau gitu setelahnya Liora bisa ajukan gugatan cerai kan?”
“Gugatan cerai biasanya bakalan di proses satu bulan sampai sidang pertama. Jadi, besok saya akan masukan gugatan Mbak Liora ke pengadilan agama biar nanti setelah sidang KDRT diputuskan kita gak nunggu”
“Bagus itu.” Wafi setuju.
“Gugatan harta gono-gininya gak lupa kan, Pak Fatih?” tanya Liora.
“Sesuai pesan Mbak Liora.”
Istri penyidik itu tersenyum, sedangkan suaminya menatap heran.
“Ya, udah kalau gitu kami balik,” ujar Wafi.
“Oke, nanti kalau ada kabar, saya sampaikan.”
“Makasih.”
Wafi dan istrinya bangkit dari duduk dan keluar dari sana masuk mobil.
“Berapa nominal kamu gugat Reiki?” Wafi bertanya sabil menjalankan roda empatnya.
“Kenapa?” tanya Liora.
“Cuma sedikit. Anggaplah itu hak aku selama jadi istrinya.”
“Berapapun uang yang nanti kamu dapatkan simpan aja. Kalau butuh apa atau mau apa, bilang sama aku. Aku mampu memenuhi semua kebutuhan dan keinginan kamu.”
“Iya, Bee. Santai aja. Kamu kok dingin gitu ngomongnya.”
“Gak papa.”
“Kamu gak suka?”
“Kalau aku bilang iya, emang kamu bakalan batalin?”
Liora memilih diam tak menanggapi.
Wafi yang sudah tau jawabannya pun tak lagi bertanya. Kereta mereka sampai di halam parkiran cafe. “Jangan pulang dulu. Tunggu aku jemput.”
“Iya.” Sebelum turun Liora membawa punggung tangan suamiya untuk di kecup. “Aku turun assalamualaikum.” Terakhir di pipi.
“Waalaikumsalam” jawab Wafi. Hatinya yang tadi memanas langsung padam akibat perbuatan sang istri. Bagaimana dia bisa marah jika wanita itu pandai merebut hatinya.
...🐸🐸🐸🐸...
Atas keputusan dewan direksi perusahaan, Malik resmi dipecat dan tak lagi menjabat di kantor sendiri. Meski begitu dia masih dapat memantau perkembangan.
Kini Joko yang akan memimpin perusahaan yang mereka gabungkan ketika sang anak Reiki resmi menikah dengan Milen.
Rekan bisnis juga mantan besannya itu tampak tersenyum penuh kemenangan. Malik pun cuma bisa tertunduk pasrah. Mau tak mau dia harus terima. Protes pun tak ada gunanya sebab dia tak punya pilihan lain.
Biarlah asalkan perusahaan tak dipecah belah dan dia masih dapat keuntungan untuk biaya hidup.
__ADS_1
“Selamat, Pak Joko.” Malik mengulurkan tangan pada mantan mertua anaknya.
Joko tak menanggapi. Dia malah membusungkan dada dan berpangku tangan. “Terima kasih, tapi saya tak butuh ucapan selamat dari orang tua pembunuh,” katanya dengan sombong.
Malik merasa terhina. Dengan cepat ia tarik tangan yang terulur dan memilih segera pergi sebelum semakin direndahkan. Di dalam mobil, ayah Reiki itu meneteskan air mata.
Tak ada lagi tempat untuknya mengadu. Semua teman dan keluarga tak peduli akibat tingkah laku sang anak yang buat malu. Kini, ia tak tahu mau taruh dimana muka yang selama ini selalu menengadah ke atas.
Ditambah dengan sikap sang istri yang semakin mencoreng arang di mukanya. Membuat Malik tak berani muncul di hadapan umum saking malunya.
“Gara-gara anak bodoh itu,” umpatnya. “Sekarang kita kembali jatuh miskin.” Malik menjalankan keretanya kembali ke rumah.
Setibanya di kediaman, pria berusia 68 tahun itu langsung menghempaskan badan di sofa.
“Gimana, Pa?” tanya Lena.
“Papa dipecat, Ma. Papa gak punya posisi apa-apa lagi di kantor.”
“Terus?”
“Ya, mau gak mau kita cuma tinggal tunggu laporan keuangan tiap bulan aja terus terima keuntungan deh.”
“Kalau si Joko itu nanti tipu kita gimana?”
“Resiko.”
Lena tampak tak terima.
“Ini semua gara-gara Mama tau gak,” tuduh Malik.
“Kok Mama sih, Pa.”
“Iya lah. Coba aja kemarin Mama gak nantangin Bu Puri pasti Papa gak bakalan di pecat.”
“Tau ah,” kesal Lena.
“Sekarang kita harus hidup hemat sampai Reiki keluar dari penjara.”
“Apa?”
“Kenapa? Kok Mama kaget gitu?”
“Kita aja gak tau Reiki bakalan dihukum berapa tahun. Kalau seandainya lebih dari sepuluh tahun bisa gila Mama, Pa.”
“Gila kenapa? Gak bisa shoping dan beli barang-barang branded?”
“Iya lah.”
“Memangnya Mama mau pamer sama siapa sih? Bukannya teman-teman arisan Mama itu udah gak mau Mama gabung lagi?”
“Ya, setidaknya Mama jaga gengsi dong, Pa.”
“Makan tuh gengsi Mama.” Malik pun jadi marah. “Papa akan jual rumah ini untuk tabungan biaya hidup kita kedepan.”
“Loh, kok dijual?” Lena keberatan.
“Mah, rumah sebesar ini makan biaya besar. Bayar listriknya aja perbulan bisa 50 juta. Lebih baik disimpan, Ma.”
“Rumah Reiki kan ada, Pa.”
__ADS_1