DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 64


__ADS_3

Wafi keluar dari ruang kerja sang kakak. Setelah bertanya pada suster, ia gegas mencari tempat istrinya dirawat.


Liora yang sudah sadarkan diri melihat ke arah pintu yang terbuka. Tampak suaminya mendekat. Air matanya langsung luruh membasahi pipi. “Kamu jahat,” isaknya sambil memukul dada bidang suaminya.


Wafi menahan tangan itu sambil berkata, “Nanti berdarah loh. Ini lagi di infus.”


“Biarin aku gak peduli,” kesal Liora. “Aku benci kamu.”


Si polisi membawa istrinya ke dalam dekapan. Mengelus surai hitam Liora dengan lembut. Sesekali dilabuhkan kecupan sayang. “Maafin aku, ya.”


“Kalau marah, ya, marah aja, tapi jangan gak pulang,” isak Liora.


“Aku kerja, Sayang.” Wafi merangkum wajah sang istri sambil di sekanya air mata yang terus mengalir. “Nanti aku cerita, ya. Sekarang makan dulu. Kasihan anak kita, dia pasti kelaparan.”


“Anak kita dari mana.” Liora menghentikan tangisnya. “Orang hamil aja belum.”


Wafi duduk di pinggir kasur. “Loh bukannya kamu sudah cek, ya?”


“Iya tadi di rumah, tapi lupa lihat hasilnya. Aku buru-buru ke persidangan.”


Bibir penyidik itu melengkung sempurna. “Kamu hamil dan kata dokter jalan enam atau tujuh minggu.”


“Hah? Serius?”


“Iya. Tadi aku nemu alat yang kamu pakai di wastafel. Aku bingung itu apa dan aku tanya Kak Vira. Setelah dijelaskan aku buru-buru susul kamu ke cafe. Ternyata disana kamu pingsan.”


“Aku pusing.”


“Pasti gak makan, ya, semalam. Tadi di rumah aku lihat makanan masih utuh dan baunya udah basi.”


“Aku nungguin kamu. Tapi gak pulang-pulang. Gak kasih kabar lagi,” kesal ibu hamil itu.


“Maaf, ya.” Wafi mengelus pipi istrinya. “Sekarang makan dulu.” Si penyidik mengambil bubur yang disediakan pihak Rumah Sakit lalu menyuapi Liora dengan penuh kasih sayang.


...🍇🍇🍇🍇...


Setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, Liora pun diizinkan pulang ke rumah oleh kakak iparnya. Tak lupa Vira meresepkan obat juga vitamin untuk dikonsumsi istri adiknya itu. Tiba di rumah, Wafi menuntun istrinya berjalan ke kamar.


“Bee, aku mau di sofa aja biar bisa nonton TV,” ujar Liora.


Polisi itu pun setuju. Ia juga ikut duduk di samping sang istri.


“Sekarang cerita, kenapa kamu gak pulang semalam,” tuntut Liora.


“Aku harus keluar kota, Yank, buat tangkap buronan kasus pembunuhan. Kalau aku masih andelin anak buah, takutnya nanti gagal lagi. Kebetulan dia masih dekat-dekat sini, jadi sorenya kami langsung bergerak ke lokasi.”


“Terus, kenapa gak kasih kabar ke aku?”


“Jujur aku marah. Makanya aku gak kabarin kamu. Aku berharapnya kamu yang telepon. Tapi pas udah sampai di sana aku benar-benar lupa buat kasih kabar karena kita lagi koordinasi. Setelah penangkapan selesai aku mau hubungi kamu, tapi HP ku mati.”


“Kenapa gak pinjam ponsel anak buah kamu?”


Wafi menggaruk kepala.” Hehehe, aku gak hafal nomor kamu.”


Liora mencibir.

__ADS_1


“Kami sampai di kantor jam tiga. Proses laporan, terus antar tahanan ke penjara. Dari sana aku cuma tidur satu jam. Pagi udah kerja lagi. Makanya aku pulang siang.”


“Lain kali jangan gitu. Bikin aku khawatir tau.”


“Iya, maaf, ya. Istriku jadi gak makan gara-gara nungguin aku.” Wafi meluruskan kaki istrinya di atas paha untuk bisa di pijitnya. “Mulai sekarang kamu di rumah aja, ya.”


“Cafe aku gimana?”


“Kan ada karyawan kamu.”


“Kalau nanti gak ada yang atur gimana?”


“Cari aja manager buat atur dan urus cafe. Nanti biar aku yang gaji.”


“Bener?”


“Iya.”


“Oke, deh”


“Kamu harus banyak istirahat, soalnya kita mau ada pesta pernikahan.”


“Iya, aku ngerti kok. Keluarga kamu gak mungkin gak adain pesta dan gak mungkin juga diundur sampai aku melahirkan.”


Wafi tersenyum mekar. “Nanti kalau anak kita lahir, kamu maunya dipanggil apa?”


“Abi sama Ami aja kali, ya. Soalnya aku udah biasa panggil kamu Bee. Biar gak beda jauh gitu.”


“Aku setuju aja.”


“Oke, mau dibikinin apa?”


“Apa aja yang penting kamu yang masak.”


“Siap.” Sebelum beranjak Wafi mengecup pipi dan perut rata istrinya. “Tunggu, ya, Abi mau masak buat kamu sama Ami.”


Pasangan itu tersenyum bahagia.


...🌽🌽🌽🌽...


Setelah bercakap-cakap lewat sambungan telepon dengan Fatih, Wafi menyusul sang istri yang sudah berbaring diatas kasur.


“Gimana, Bee?” tanya Liora.


“Tadi aku udah bahas sama Fatih soal kedatangan kita besok. Semoga keluarganya mau membantu kita, ya.”


“Aamiin. Maaf, ya, aku bikin repot. Gara-gara aku gak punya keluarga pernikahan kita jadi sulit deh.”


“Sebenarnya gak juga. Cuma masak sih kamu gak ada walinya. Makanya nanti kita minta bantuan keluarga Fatih, ya.”


Liora mengangguk.


“Gimana persidangan tadi?”


“Lancar. Gugatan langsung diputuskan.”

__ADS_1


“Sama gugatan harta?”


“Iya.”


“Maaf, ya, sebelumnya aku gak pernah tanya alasannya sama kamu.”


“Aku juga minta maaf karena gak jelasin ke kamu dari awal.”


“Ya, udah, sekarang cerita. Apa alasannya.” Wafi membawa sang istri untuk menyandar di dada bidangnya.


“Dulu pas aku sama Reiki udah nikah. Dia bujuk aku untuk jual tanah sama rumah warisan dari kedua orang tuaku. Awalnya aku gak mau. Tapi dia terus desak aku sampai kasih aku bayangan kisaran harganya. Dia juga kasih saran kalau dengan uang itu aku bisa buka cafe. Karena memang itu cita-cita ku jadi, ya, aku setuju. Ditambah dia janji bakalan balikin uang itu dan dikasih lebih.”


“Terjual berapa?”


“Waktu itu ada tiga M lebih lah. Aku dikasih sedikit buat modal buka cafe dan selebihnya buat tambah modal usahanya.”


“Terus?”


“Ya, alhamdulillah perusahaannya makin maju. Dia sibuk di kantor, aku sibuk di cafe.”


“Terus kenapa dia bisa sampai nikah lagi?”


“Aku gak kunjung hamil. Terus tiba-tiba mamanya jodohkan dia sama anak rekan bisnisnya, yaitu Milen. Kebetulan Milen juga suka sama Reiki. Dia gak masalah Reiki udah punya istri jadi deh mereka nikah.”


“Udah lama nikah ama Reiki kok kamu gk hamil-hamil?”


“Gak tau juga. Mungkin Reiki bermasalah kali. Soalnya Milen juga gak hamil.”


Wafi menganggukkan kepala. “Artinya aku tokcer juga,ya.”


“Gimana gak jadi. Orang hampir tiap malam digempur.” Liora berkata dengan wajah kesal.


“Emang dulu Reiki gak tertarik gitu sama kamu?”


“Dulu aku gak secantik ini. Belum ngerti merawat diri. Setelah dia menikah baru aku ke salon. Makanya setelah dia talak aku Milen jadi cemburuan. Takut Reiki tergoda sama aku.”


“Ooh, artinya dia nikah sama kamu cuma ngincer harta orang tua kamu.”


“Mungkin.”


“Itu ada perjanjian gak kalau dia bakalan balikin uang warisan kamu?”


“Ada. Udah aku kasih sama Pak Fatih.”


“Ooh. Semoga hak kamu kembali, ya.”


“Aamiin.”


“Aku gak akan larang lagi kalau memang itu alasannya.”


“Makasih, ya, Bee.”


“Iya, Sayang. Tidur, Yuk! Aku ngantuk berat, seharian belum tidur.”


“Iya, ya. Aku sampai lupa.”

__ADS_1


Wafi mematikan lampu utama kamar dan menyalakan lampu tidur. Setelahnya ia berbaring sambil memeluk sang istri. Pasutri itu sama-sama memejamkan mata untuk menyambut hari esok.


__ADS_2