DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 21


__ADS_3

Joko tiba di rumah keluarga Reiki membawa emosi yang membara sejak tadi. Dipukulnya dengan keras daun pintu rumah besannya karena sudah tak sabar ingin segera menumpahkan amarah.


“Pak Joko,” sapa ART.


“Mana Malik?”


“Tuan pergi ke kantor polisi, Pak.”


“Kalau istrinya?”


“Ada di dalam. Tapi sepertinya beliau kurang enak badan.”


“Panggilkan! Saya mau bicara.”


“Baik.”


Joko pun masuk. Tiba di ruang tamu dia berdiri sambil berkacak pinggang menunggu kedatangan si pemilik rumah.


“Joko,” sapa Malik yang baru saja pulang.


“Dasar keluarga pembohong!” geram Joko.


Kening Malik mengernyit heran. Dia tak mengerti kenapa besannya tiba-tiba marah. “Ada apa ini, Besan?”


“Ada apa. Jangan pura-pura gak tau kamu, ya. Ternyata selama ini kamu dan anak kamu itu bekerja sama.” Tunjuk Joko mengarah tepat ke wajah Malik.


“Bekerja sama dalam apa?”


“Menutupi kebusukan Reiki.”


“Kebusukan apa?”


“Dia selingkuh!” berang Joko. “Dia yang sudah membunuh Milen karena menemukannya tidur dengan wanita lain. Karena dia takut saya akan memutus kerja sama perusahaan kita, maka dibunuhnya Milen.”


“Apa?” Lena yang baru tiba di sana pun terkejut mendengarnya. “Gak mungkin Reiki melakukan hal itu.”


“Gak mungkin bagaimana?! Jelas-jelas putra kalian bersalah. Kalau tidak, mana mungkin dia jadi tersangka dan kalian sengaja menutupinya dari saya dan istri.”


“Pak, mendingan kita duduk dulu,” ajak Malik. “Kita bicarakan baik-baik. Ada kesalah pahaman di sini.”


“Salah paham di mananya?”


“Bukan saya gak mau ngabarin ke Besan soal penangkapan Reiki. Kami semua terkejut jadi gak kepikiran untuk menyampaikan hal itu. Yang ada dalam kepala cuma bagaimana cara untuk membebaskan Reiki. Itu saja. Saya gak bermaksud untuk menutupinya.”


“Alah, bohong!” Joko mengibaskan tangannya. “Mulai sekarang saya gak akan percaya sama kalian. Segera mungkin saya akan memisahkan perusahaan kita. Gak sudi rasanya perusahaan saya di urus oleh orang yang sudah membunuh anak saya satu-satunya.”


“Pak, sebaiknya kita tunggu dulu kasus ini selesai. Siapa tau polisi salah menduga, bisa saja kan!”


“Anda pikir polisi itu bodoh?” Joko menggeleng tak percaya. “Akan saya pastikan putra kalian yang bajingan itu mendekam di penjara dan dihukum seberat-beratnya.” Setelah berkata, Joko pun melenggang pergi tanpa kata permisi. 

__ADS_1


Lena yang sudah tertekan akibat penangkapan anaknya tadi pagi, jatuh pingsan mendengar pernyataan besannya itu.


“Mama,” seru Malik.


\=\=\=\=\=\=


Di lantai tiga cafenya, Liora tak dapat berhenti tersenyum. Langkah awalnya berhasil dalam mempengaruhi keluarga Milen. Memecah hubungan baik mertuanya dengan keluarga madu. Dia yakin dengan begitu rencananya untuk menjebloskan Reiki ke penjara akan semakin mulus sebab secara tak langsung ia mendapat dukungan dari Puri dan Malik.


“Saya gak perlu repot-repot mengenalkan kamu pada orang tua Milen. Mereka sendiri yang akan mencari kamu. Dengan begitu saya tetap bersih,” kata Liora pada Sena.


“Setelah ini giliran saya beraksi,” sahut Sena.


“Tunggu saja. Sebentar lagi mereka pasti akan menghubungi kamu. Penyidik itu akan menuntut mereka untuk bertemu dengan kamu.”


Sena menggeleng tak percaya. “Kamu benar-benar hebat, Mbak. Saya sempat takut kalau rencana ini akan gagal saat tau kamu dipanggil untuk kedua kalinya.”


Liora yang tadinya berdiri di jendela ruang tengah kini beralih duduk ke sofa. “Itu merupakan bagian dari rencana. Wafi itu penyidik yang pintar. Kasus seperti ini bukan hal baru baginya. Jika di awal aku memberikan keterangan yang rapi dia bisa saja curiga.”


“Kenapa dia bisa curiga?”


“Bayangkan kalau kamu ingin ujian, pasti anak yang nilainya seratus sudah belajar dan mempersiapkan segalanya. Tapi jika nilai kamu rata-rata artinya kamu hanya menjawab sesuai dengan apa yang kamu ketahui.”


Sena mengangguk. “Saya paham. Selanjutnya bagaimana?”


“Ikuti saja alurnya. Jika nanti ada yang gak sesuai, saya akan beri kamu informasi secepatnya.”


“Lalu bagaimana dengan perjanjian kita? Apa, Mbak yakin bisa mendapatkan keuntungan dari kasus ini?”


“Oke. Saya akan tetap dalam jalur. Tapi saya masih sedikit ragu dengan rencana Mbak yang memanfaatkan penyidik itu.”


“Kenapa?”


“Kalau seandainya, dia tau gimana?”


“Gak akan.”


“Semoga.” Sena pun berdiri dari duduknya. “Kalau begitu saya kembali ke apartemen. Saya sudah kembali menjalankan pemotretan.”


“Bagus. Dengan seperti itu semua akan tampak normal dan satu lagi tetap hati-hati. Saya yakin Malik akan berusaha menangguhkan penahanan anaknya.”


“Kenapa gak minta penyidik itu untuk menolak permintaan ayahnya Reiki itu.”


“Gak, kita gak boleh ikut campur sampai kesana. Wafi bisa curiga. Berdoa saja semua sesuai harapan kita.”


Mantan selingkuhan Reiki pun mengangguk. “Saya turun, ya, Mbak.”


“Ingat baju seragam ini harus kamu lepas di tempat lain sebelum masuk apartemen.”


“Iya, saya paham. Untuk menghindari CCTV kan!?”

__ADS_1


“Pintar.”


Sena pun turun dari lantai tiga. Dia datang menyamar sebagai karyawan dan kini keluar dari cafe Liora lewat pintu belakang dimana biasanya karyawan lain juga akan lewat sana.


\=\=\=\=\=\=\=


Malamnya, Wafi pun datang ke rumah Joko. Dia ingin menyampaikan soal Reiki yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Namun, laki-laki itu terkejut saat orang tua Milen mengeluarkan kata-kata sumpah serapah terhadap menantu kesayangan. Awalnya dia mengira akan sulit untuk menjelaskan, tapi sepertinya dia tak perlu bicara banyak karena Joko dan istri sudah tahu semua.


“Om, mau kamu tolak penangguhan penahanannya Reiki,” ujar Joko.


“Saya dan tim pertimbangkan dulu,” sahut Wafi.


“Untung saja Liora datang dan menceritakan semuanya. Kalau gak, mungkin sekarang kami masih mengira kalau bajingan itu gak bersalah.”


“Liora?” Dahi Wafi mengerut.


“Iya. Istrinya Reiki yang pertama, yang di tuduhnya pembunuh Milen.”


“Untuk apa dia datang?”


“Katanya dia merasa bersalah gak tolong Milen waktu itu. Jadi dia minta maaf sama saya dan mamanya Milen,” jelas Joko. “Saya pun jadi merasa bersalah karena percaya begitu saja sama omongan Reiki dan ikut menuduhnya. Padahal anak itu kelihatan tulus sekali. Dia juga tampak sangat menyesal.”


Wafi hanya mengangguk.


“Oh, ya, bisa Om minta nomornya Sena?”


“Om, tau Sena dari Liora juga?”


“Iya. Om hanya ingin bertemu dengan Sena dan bertanya kenapa dia sampai mau bersama Reiki padahal sudah beristri dua. Cuma itu saja.”


“Baik. Nanti saya kirimkan.”


“Terima kasih.”


“Iya, Om. Kalau begitu saya pulang. Ini sudah larut malam.”


Joko dan Wafi sama-sama bangkit dari sofa. Mereka berjalan keluar rumah menuju mobil yang terparkir.


“Gimana reaksi Tante saat mendengarkan penjelasan Liora?”


“Pastinya sangat terkejut dan terpukul. Tapi sekarang dia mencoba menerima.”


“Semoga Tante baik-baik saja.”


“Aamiin. Terima kasih doanya,” balas Joko sambil menepuk lengan Wafi.


“Saya jalan, Om.”


“Ya, hati-hati.”

__ADS_1


Wafi pun masuk kedalam mobil. Sebelum keluar pekarangan rumah Joko tak lupa di bunyikannya klakson.


__ADS_2