
Berkas perkara pun mulai disusun untuk diserahkan pada penuntut umum. Selama proses itu Wafi dan timnya sedikit sibuk, membuat penyidik itu tak memiliki waktu untuk bisa bertemu dengan Liora.
Meski status hubungan mereka tak jelas. Namun, keduanya semakin dekat. Liora yang juga sibuk dengan pembangunan ulang cafenya sesekali menanyakan kabar pria itu lewat sambungan telepon atau mengirimkan makan siang.
Rencananya malam minggu kali ini mereka akan menghabiskan waktu berdua di apartemen. Sebenarnya Wafi ingin mengajak wanita itu jalan-jalan. Namun, Liora menolak karena takut nanti ada yang melihat kedekatan mereka dan itu akan menimbulkan spekulasi.
“Kita nonton aja. Kebetulan aku ada film baru.” Liora berkata ketika Wafi menghubunginya.
“Oke. Nanti dari kantor aku pulang dulu mau ganti baju,” balas Wafi.
“Masih kerja? Bukannya ini hari libur.”
“Ya, begitulah. Gak bisa bilang libur. Aku mau kasus ini secepatnya selesai. Biar kamu tenang.”
“Makasih, ya.”
“Iya. Sekarang kamu di mana? Masih di cafe?”
“Gak sih, aku lagi di restoran. Meeting soal pembangunan cafe sama pihak kontraktornya. Terus ketemu Sena, deh. Dia habis meeting juga.”
“Ya, udah lajut sana. Aku juga lanjut kerja.”
“Iya. Sampai jumpa nanti.”
“Oke. Daa.”
“Bye.”
Liora mematikan panggilan itu.
“Cciiee,” goda Sena.
“Apaan sih,” elak Liora.
“Ngaku aja, Mbak, kalau emang suka sama Pak Wafi.”
Liora hanya tersenyum.
“Kebetulan kita ketemu disini, ya.”
“Iya. Terakhir ketemu di RS, habis itu gak saling kasih kabar lagi. Gimana kondisi kamu?”
“Makin membaik tapi masih menjalani terapi obat sih.”
“Bagus kalau gitu.”
Sena membuang nafas panjang. “Untung, ya, Mbak, penyidikan sudah selesai.”
“Tapi kita masih harus hati-hati, Sen. Aku yakin tim kuasa hukumnya Reiki pasti masih berusaha mencari celah untuk bisa membuktikan kerja sama kita.”
Sena mengangguk. “Terus apa rencana Mbak selanjutnya?”
“Pas konferensi pers yang dilakukan orang tuanya Reiki kemarin, aku baru tau kalau pengacaranya diganti.”
“Oh, ya. Aku gak begitu tau.”
“Dan aku mau temui Pak Kani itu. Mau tau alasannya berhenti jadi kuasa hukumnya Reiki. Padahal mereka sudah kerjasama dua tahun loh.”
“Pasti ada sesuatu deh, Mbak,” tebak Sena.
“Iya, makanya aku mau ketemu pengacara itu dulu. Kalau rasanya dia bisa dimanfaatkan di persidangan nanti, kenapa gak.”
Sena bertepuk tangan. “Mbak, benar-benar hebat. Aku salut dan gak berani berkhianat.”
“Kenapa?”
“Bisa-bisa aku dibuat mendekam di penjara juga.”
“Pasti. Kalau kamu bikin aku dipenjara maka kamu juga akan aku seret. Makanya jangan main-main sama aku.” Liora meneguk kopinya yang sudah dingin. “Lagian berkat rencanaku ini kamu jadi sukses kan.”
__ADS_1
Kepala Sena mengangguk setuju. Ia mengakui hal itu. “Sekarang tawaran pemotretan banyak yang datang. Belum lagi di undang ke stasiun TV. Podcast di youtuber terkenal. Endors-san juga melimpah. Aku gak mau bilang ini berkah karena aku mendapatkannya di atas penderitaan Reiki juga dengan cara yang salah. Tapi yang pasti aku bersyukur.”
Sudut bibir Liora terangkat. “Anggap saja kamu lagi beruntung kenapa tidak dimanfaatkan.”
“Iya.”
“Kalau gitu aku jalan dulu.”
“Aku juga mau pemotretan.”
Dua wanita itu sama-sama bangkit dari kursi.
“Kali ini biar aku yang baya, Mbak,” kata Liora.
“Oke. Makasih, ya. Aku keluar duluan.”
Sena mengangguk dan keduanya berjalan menuju arah yang berbeda.
\=\=\=\=\=\=
Jam tujuh malam Wafi tiba di apartemennya. Liora menyambut pria itu dengan hati senang.
“Ngapain kamu pakai baju serba hitam segala sih?”
“Aku cuma mau menghindari CCTV aja. Takutnya nanti ada yang curiga.”
“Huh, katanya gak masalah.”
“Iya sih. Cuma aku gak mau nantinya kasus ini makin panjang gara-gara timnya Reiki menemukan bukti kedekatan kita.”
“Ooh. Iya juga.”
Keduanya melangkah menuju ruang tengah.
“Banyak amat cemilannya.” Wafi berkata ketika mendudukkan diri di sofa.
“Film apa?”
“Top Gan.”
“Kenapa gak nonton di bioskop aja?”
“Aku lebih suka nonton di rumah sih.” Liora mematikan lampu utama ruangan itu agar suasana bioskop dapat terasa dan ia pun menghempaskan bokongnya di sofa.
Wafi pun membawanya bersandar di dada dan menerima suapan cemilan dari calon janda itu. “Kamu udah makan?”
Film pun mulai.
“Udah. Tadi pas kamu chat mau makan malam di rumah aku juga makan. Rencananya mau makan bareng.”
“Sorry, ya. Soalnya aku gak enak belakangan gak makan di rumah. Padahal kakak sudah masak.”
“Gak papa. Aku ngerti kok. Lagian tadi aku juga cuma pesan makanan.”
“Tumben gak masak.”
“Capek. Habis lihat cafe terus meeting. Belum lagi aku ke tempatnya Pak Kani.”
“Pengacaranya Reiki yang lama?”
Liora mengangguk sambil fokus menonton Film.
“Ngapain?”
“Cuma cari-cari informasi aja kenapa dia gak dampingi Reiki lagi.”
“Terus?”
“Kamu sekedar mau tau atau menyelidiki aku?” Liora bertanya sambil menatap pria itu.
__ADS_1
“Ya, udah aku gk tanya lagi deh.”
“Mau minum gak?”
“Boleh.”
“Mau apa?”
“Kopi aja.”
“Tunggu sebentar.” Liora menekan remot untuk menghentikan film di TV berlanjut. Ia pun melangkah ke dapur.
“Kasih susu,” ujar Wafi.
“Susu apa?” sorak Liora.
“Sapi.”
Tak lama Liora pun kembali dengan segelas kopi susu. “Aku pikir susu apa.”
Wafi meneguk minumannya lalu meletakkan gelas diatas meja. “Jangan mesum kamu,” katanya di depan wajah istri Reiki.
“Siapa yang mesum. Kamu kali yang mesum.”
“Kamu.”
“Emangnya kamu tau apa yang aku pikirkan?”
“Aaaha.” Wafi mendekatkan wajahnya ke wanita itu.
“Apa?”
Mata Wafi menunjuk ke arah dada Liora dan wanita itu pun mengikutinya.
“Kalau ini di cicip langsung aja.” Liora berbisik di telinga penyidik itu.
Keduanya pun tertawa dan mereka saling menautkan bibir. Wafi membawa calon janda itu duduk di atas pangkuannya. Untuk beberapa saat keduanya larut dalam cumbuan nikmat mereka yang dapat mengobati rindu.
“Mmmppphh … “ Liora melepaskan cumbuan Wafi.
“Why?”
“Kita nonton lagi aja. Kamu mesum,” kata Liora. Setelahnya ia kecup bibir polisi itu dan turun dari pangkuannya.
Wafi menatap wanita yang kini duduk di sampingnya dengan gemas. Sesekali menggigit bibir bawahnya. “Kamu nakal.”
“Kok gitu?” Liora kembali melanjutkan filmnya tadi.
“Kamu sengaja pancing-pancing aku.”
“Bukan mancing, tapi ngetes.”
“Lalu?”
“Gak lolos.”
Wafi merebahkan kepala di atas paha Liora dan membenamkan wajahnya di perut wanita itu. “Aku tidur di sini, ya?”
“Eh, gak ada. Kamu harus pulang.”
“Capek, Li,” rengek Wafi.
“Oke. Tapi pintu kamar bakalan aku kunci.”
“Kenapa?” Wafi bertanya sambil mengangkat kepala.
“Bisa-bisa kamu masuk ke kamar aku.”
Si penyidik hanya tersenyum simpul lalu memutar badannya menghadap TV. Usapan yang diberikan Liora di kepalanya membuat ia teringat akan kebiasaan sang bunda dulu yang selalu mengusap kepalanya sebelum tidur. Hal itu pun membuat Wafi perlahan-lahan memejamkan mata dan menuju alam mimpi.
__ADS_1