
Mereka pun sampai di salah satu mall terbesar di kota ini. Keduanya bergandengan tangan memasuki area yang menyediakan keperluan yang di cari Liora.
Dengan setia Wafi menemani sang istri memilah dan memilih. Menjawab pertanyaan Liora jika meminta pendapatnya. Ia pun mendorong troli yang kini sudah penuh dengan daftar belanjaan istri sirinya.
“Udah, Bee,” ujar Liora pada suaminya.
“Kamu manggil aku apa?”
“Bee.”
“Lebah?”
Liora mengangguk. “You sting like a bee,” bisiknya.
Wafi tertawa lebar
“Artinya ia lebah. Tapi biasanya dipakai buat panggilan sayang gitu. Masak panggil nama, sih. Gak seru, ah, dengarnya. Aku mau beda dari rumah tanggaku yang dulu.”
“Oke, deh. Kalau gitu aku panggil kamu apa, ya.” Wafi pun berpikir.
“Terserah maunya apa.” Liora membawa suaminya melangkah menuju kasir.
“Nanti deh aku pikirin. Tapi aku suka panggilan itu.”
Keduanya pun tertawa bahagia.
“Eh, beli baju tidur, yuk,” ajak Wafi.
“Buat siapa?”
“Kamu lah, tapi yang seksi.”
Liora paham akan maksud suaminya. Mereka pun mengubah melangkah menuju toko perlengkapan wanita.
\=\=\=\=\=
Pada hari ini sidang telah ditetapkan oleh Majelis hakim, sidang pemeriksaan perkara pidana di buka. Majelis hakim memasuki ruangan. Pejabat yang bertugas sebagai protokol mengumumkan. “Majelis hakim memasuki ruang sidang, hadirin dimohon untuk berdiri.”
Semua yang hadir dalam ruangan sidang tersebut, termasuk jaksa penuntut umum dan penasehat hukum berdiri. Begitu pula dengan kedua orang tua Reiki.
Hakim ketua membuka persidangan. “Sidang perkara pembunuhan No. 123/Pid.Sus/II/2015/Pengadilan Jakarta, Pada hari ini Senin, 23 Agustus 2022 atas nama terdakwa Reiki Alterio dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum.” Diikuti dengan ketukan palu sebanyak tiga kali.
__ADS_1
Hakim ketua meminta Penuntut Umum menghadirkan terdakwa ke ruang sidang. Petugas pun membawa terdakwa ke ruang sidang dan mempersilahkan terdakwa duduk di kursi pemeriksaan. Selanjutnya hakim mengingatkan pada Reiki agar memperhatikan segala sesuatu yang didengar dan dilihatnya dalam sidang ini.
Surat dakwaan pun dibacakan. Reiki didakwa atas pembunuhan biasa, pasal 338 KUHP.
Hakim ketua menanyakan pada kuasa hukumnya, apakah mengajukan keberatan(eksepsi) terhadap dakwaan jaksa penuntut umum.
“Ada majelis hakim,” jawab Dodi.
“Silahkan!” kata Hakim ketua.
“Terima kasih Majelis Hakim. Bahwa dengan rumusan tindak pidana yang dinyatakan Penuntut Umum, saksi Reiki bukanlah seorang terdakwa. Oleh sebab itu dakwaan penuntut Umum adalah dakwaan yang tidak cermat, kabur dan tidak jelas serta cacat hukum dan telah keliru menempatkan Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dalam dakwaannya. Logika hukumnya, adalah tidak masuk akal dan tidak logis menurut hukum seseorang (Reiki) didakwa melakukan tindak pidana, sementara orang lain yang melakukan tindak pidana hanya berstatus sebagai saksi. Maka dakwaan penuntut umum tidak saja mengandung cacat elementer, tetapi juga cacat yuridis dan sekaligus dakwaan yang tidak cermat, kabur dan tidak jelas. Seperti keterangan yang diberikan terdakwa bahwa ia tidak melakukan tindakan pembunuhan, maka kami minta dakwaan penuntut umum batal.”
Setelah pengajuan eksepsi dari penasehat hukum Reiki, hakim ketua memberikan kesempatan pada penuntut umum untuk mengajukan tanggapan atas eksepsi (replik) tersebut.
Penuntut umum memberikan tanggapan. “Menanggapi Nota Keberatan dari Penasihat Hukum terdakwa, kami berpendapat bahwa Surat Dakwaan kami sudah memenuhi ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 143 KUHAP mengenai syarat sahnya penyusunan Surat Dakwaan, Oleh karena itu kami tetap pada Dakwaan kami Majelis Hakim.”
Atas eksepsi dan tanggapan tersebut, selanjutnya hakim ketua meminta waktu untuk mepertimbangkan dan menyusun putusan sela. “Berdasarkan hasil musyawarah Majelis Hakim, sidang akan dilanjutkan 7 hari kedepan dengan agenda sidang Pembacaan Putusan atas Nota Keberatan oleh Majelis hakim. Untuk itu diingatkan kepada Penuntut Umum untuk hadir dan menghadapkan terdakwa pada sidang berikutnya, begitu pula dengan Penasihat Hukum.”
Penuntut Umum dan Kuasa hukum Reiki menjawab, ”Mengerti Majelis hakim.”
Majelis hakim meninggalkan ruangan sidang.
Malik dan Lena menghampiri sang putra yang kembai dibawa petugas menuju mobil tahanan. Tiba di luar mereka dihadang oleh pemburu berita.
Reiki hanya diam sambil digiring oleh petugas melewati kerumunan wartawan dan media.
“Reiki, apa alasan Anda selingkuh lagi padahal sudah punya istri dua?”
“Pak Reiki, apa anda merasa kalau ini karma karena sudah menghianati istri pertama?”
Mendengar pertanyaan itu, Reiki langsung menatap tajam semua orang yang menodongkan kamera padanya.
“Kalau ngomong jangan asal, ya, kalian,” ujar Lena. “Anak saya ini gak salah jadi karma apa yang didapatnya? Dia menikah lagi toh atas izin istrinya.”
“Sudah, Ma, jangan diladenin,” kata Malik.
“Tapi Mama gak terima, Pa, anak kita katanya dapat karma.”
“Sebaiknya kita pulang.” Malik gegas membawa istrinya masuk ke dalam mobil sebelum wanita itu bicara yang tidak penting pada media dan itu akan semakin memperburuk citra mereka.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tak terasa waktu pun berlalu dengan begitu cepat. Kehidupan rumah tangga Liora dan Wafi bak taman bunga yang mekar lalu dihinggapi ribuan kupu-kupu berwarna warni. Indah dan berwarna juga bahagia.
Pagi ini, selesai sarapan keduanya bersiap untuk memulai kegiatan. Wafi yang hendak berangkat kerja dan Liora menuju cafe melihat pembangunan yang sedang berlangsung.
Sedang berpakaian, Wafi dikejutkan dengan dering ponselnya di atas meja rias sang istri. Wajahnya tampak serius kala melihat nama yang tertera di layar.
“Siapa?” tanya Liora.
“Kapolres. Aku angkat dulu.”
Liora mengangguk.
“Selamat pagi, Komandan,” jawab Wafi
Entah apa yang dikatakan atasannya di seberang sana, pria itu tampak mengangguk sesekali menjawab dengan kata siap. Setelahnya panggilan itu pun usai.
“Kenapa?” Liora yang penasaran langsung menghampiri sang suami.
“Aku di minta datang ke kantornya.”
“Ada masalah apa?”
“Gak tau juga.”
Nafas panjang dibuang istri penyidik itu. “Pasti soal kita.”
“Kok kamu bisa bilang gitu? Siapa tau aja soal kerjaan.”
“Aku yakin ini pasti ulah papanya Reiki yang mencoba cari bukti soal kedekatan kita. Aku sadar waktu kita berangkat ke rumah Kak Vira ada satu mobil yang parkir gak jauh dari posisi kamu. Pas kita ke mall mobil itu juga ada dekat mobil kamu.”
Wafi pun ikut duduk di samping istrinya. “Udah, tenang aja. Gak akan ada masalah yang berarti kalau memang menyangkut hal itu.”
“Tapi, Bee, aku khawatir sama karir kamu.”
“Percaya sama aku.” Wafi meayakinkan istrinya dengan tatapan dalam dan genggaman hangat di tangan.
“Oke, deh.”
“Jalan skarang?”
“Ayo.”
__ADS_1
Keduanya keluar dari kamar dan turun dari unit apartemen.