DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 58


__ADS_3

Sebelum ke kantor, Wafi mengantar istrinya terlebih dahulu ke rumah baru yang dibeli kemarin.


“Nanti siang kamu jangan lupa makan, ya,” pesan Wafi. “Aku gak pulang soalnya mau lihat TKP.”


“Oke, kamu juga ya.” Liora pun turun setelah bersalaman dengan sang suami.


Wafi meninggalkan halaman rumah itu dan Liora langsung masuk. Karena rumah yang mereka beli itu baru, jadi untuk cat dinding tak perlu diganti. Mereka juga suka dengan paduan warna yang sudah ada. Tinggal di hias dengan sedikit pajangan dan penataan furniture yang pas, pasti rumah itu akan terlihat hidup.


Melihat halaman yang begitu luas, Liora mulai mencari jasa pembuat taman yang dapat mempercantik rumahnya lewat website. Setelah di dapatnya ia langsung meminta orang itu untuk datang.


Ia begitu semangat dalam mendekorasi rumah baru itu seperti yang selama ini diinginkan. Tinggal di rumah mewah Reiki tak membuatnya bahagia, malah seakan hidup bagaikan di neraka.


Kini, meski Wafi bisa memberikannya sebuah istana kerajaan , ia tak berminat sama sekali. Justru rumah berukuran sedang inilah yang membuatnya tinggal dengan nyaman.


...🥘🥘🥘🥘...


Bukti-bukti yang diberikan Liora untuk kasus KDRT cukup banyak dan kuat. Mulai dari bukti visum, gambar luka yang diterima dari Reiki, video bagaimana ia dipukul dan di tentang oleh laki-laki itu, sampai bahasa-bahasa kasar yang dilontarkan sang madu juga mama mertua di sajikan ke pengadilan.


Hal itu membuat Reiki dan kedua orang tuanya tak dapat berkutik. Mereka tertunduk malu melihat hal itu diputar di persidangan. Bahkan di rekam oleh awak media juga wartawan. 


Hilang sudah wibawa yang selama ini dijaganya di depan rekan bisnis, hilang sudah harga diri yang selalu dijunjung tinggi di depan semua orang. Kini, mereka tak lagi dipandang, tak lagi dipuji, tak lagi di agung-agungkan. 


Bahkan mungkin mereka jauh lebih rendah dari orang-orang yang selama ini selalu dianggap remeh. Usai sidang ditutup, Reiki keluar dari gedung pengadilan dengan kepala tertunduk dan gegas memasuki mobil tahanan.


Ia sudah tak punya muka untuk di ditunjukkan pada awak media dan wartawan. Begitu pula dengan Malik dan Lena. Mereka mendapatkan julukan keluarga kejam dari orang-orang. Hal itu semakin membuat keluarga Malik dibenci bahkan dimusuhi masyarakat. 


“Iiihh, Mama kesal sama Liora,” geram Lena. “Kok bisa-bisanya sih dia punya rekaman gitu.”


“Ya, mungkin diam-diam dia taruh HP nya saat Mama datang,” jawab Malik.


“Dasar menantu kurang ajar.”


“Ma, yang kurang aja itu Mama sama Reiki. Melihatnya saja tadi, Papa gak nyangka loh kalau Mama sampai segitunya memperlakukan dia.”

__ADS_1


“Kok, Papa salahin Mama sih?” Lena bersungut ia memangku tangan di dada dan menghempaskan punggung di sandaran kursi mobil.


“Ya, kalau seperti tadi caranya Mama menegur dia, jelas itu salah. Kenapa harus pakai kekerasan sih? Emangnya gak bisa diomongin baik-baik?”


“Liora itu ngelawan,” ketus ibunda Reiki.


“Wajar kalau dia ngelawan karena Mama memperlakukannya kayak pembantu. Selama ini Papa pikir dia benar-benar menantu yang kurang ajar seperti yang Mama ceritakan, tapi ternyata Mama yang bikin dia seperti itu.”


Lena terlihat dangkol sekali pada sang suami.


“Sebaiknya Mama minta maaf deh sama Liora.”


“Ih, ngapain, ogah. Sampai kapan pun Mama gak akan pernah minta maaf sama dia.”


“Ya, sudah, artinya memang apa yang kita alami sekarang itu hukuman dari Tuhan.”


“Mama gak percaya. Semua ini tuh kerjaan wanita iblis itu. Memangnya dia siapa, sampai Tuhan mau menghukum kita hanya gara-gara Mama menyakitinya?”


“Silahkan, pergi aja sendiri!”


...🍊🍊🍊🍊...


Sibuk mengisi rumah baru, tak terasa hari pun berlalu begitu cepat. Liora mulai kelelahan akibat terlalu bersemangat untuk bisa pindah secepatnya. 


“Beneran gak papa?” Wafi bertanya sambil menempelkan tangannya di dahi sang istri.


“Cuma panas dikit, nanti aku minum paracetamol habis itu istirahat. Pasti nanti mendingan.”


“Kalau rasanya makin gak enak telpon aku, ya, kita ke Rumah sakit aja.”


“Iya. Oh, ya, aku boleh titip kunci cafe yang baru. Nanti kasih aja ke Aldi dia udah nunggu di sana. Anak-anak katanya mau mulai bersih-bersih biar cafe cepat buka.”


Wafi mengangguk. “Kalau gitu aku berangkat, ya.”

__ADS_1


“Iya, nyetirnya hati-hati.”


“Pasti sayang.” Satu kecupan didaratkan polisi itu di dahi sang istri. “Daa.”


Liora membalas dengan lambaian tangan. Setelah suaminya masuk lift, ia kembali ke dalam unit apartemen. Hari ini adalah sidang putusan kasus KDRT yang dilaporkannya. Jadi, wanita itu sedang menunggu kabar dari sang kuasa hukum.


Untuk menghalau rasa bosannya. Liora memutuskan untuk mengemasi pakaiannya dan suami kedalam koper. Sesuai rencana dengan Wafi mereka akan pindah dua hari lagi. 


Asik menyibukkan diri, ponselnya terdengar berdering. Dengan cepat Liora menjawabnya.


“Hallo?”


“Kita menang, Mbak,” ujar Fatih. “Mantan suami Anda dijatuhi hukuman lima tahun penjara dan denda sebesar 15 juta rupiah.”


Istri polisi itu bernafas lega. “Lalu kapan sidang perceraian saya di gelar?”


“Nanti saya kabari. Soalnya Reiki juga ada agenda persidangan lanjutan, itu tuntutan dari saksi lain.”


“Oh, iya, sidangnya Sena.”


“Mungkin sidang perceraian akan di gelar terlebih dahulu baru gugatan harta.”


“Oh, ya, gak masalah kok. Kalau begitu akasih banyak, ya, Pak Fatih.”


 “Sama-sama, Mbak.”


Sambungan terputus dan Liora pun merasa puas. Karena hatinya sudah tenang, ia pun memutuskan tidur. Istirahat sejenak untuk mengembalikan tenaga dan semangat.


...🍉🍉🍉🍉...


Wafi sengaja pulang lebih awal dari biasanya. Ia khawatir akan kesehatan sang istri. Di jalan polisi itu singgah sebentar di salah satu restoran untuk membeli makanan kesukaan Liora.


Tiba di apartemen ia tak menemukan sosok yang selalu menyambutnya dengan senyum manis. Gegas kakinya melangkah menuju kamar.

__ADS_1


__ADS_2