DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 61


__ADS_3

Dari restoran mereka menuju apartemen. Mumpung masih sore Wafi mengajak istrinya itu untuk pindah ke rumah baru mereka. Keduanya langsung mengemasi pakaian yang tinggal sedikit di lemari kedalam koper.


“Biar besok aku gampang pulang pergi untuk urus persyaratan nikah kita,” jelas Wafi.


“Oh, iya deh.”


“Soalnya nanti aku harus ke rumahnya Kak Vira dulu buat ambil beberapa dokumen.”


“Iya, santai aja, Bee,” ujar Liora. “Kamu kok ya, buru-buru kelihatannya.”


“Biar cepat, Yank. Aku juga dikasih waktu senggang sama Mas Wahyu buat urus pernikahan kita. Kamu pilih-pilih dulu WO nya dan bikin janji.”


Liora hanya mengangguk. Dari lantai 8 mereka turun dan menuju rumah yang belakangan sudah dipersiapkan Liora untuk di tinggali. Mereka tiba disana tepat saat azan magrib berkumandang.


Keduanya langsung membersihkan diri dan menunaikan solat magrib. Tak lupa keduanya memohon ampun atas kebenaran yang mereka tutupi. Setelahnya barulah mereka beranjak untuk makan malam. 


Dari meja makan pasangan itu berpindah ke ruang tengah untuk bersantai. Liora tengah asyik mencari-cari kontak wedding organizer untuk mempersiapkan pernikahan keduanya nanti.


“Udah, Bee, aku sudah kirim janji untuk ketemu,” jelas wanita itu. “Katanya kapan kita bisa langsung aja datang ke kantor mereka.”


“Besok aku lihat jadwal di kantor.”


“Kalau pekerjaan kamu gak bisa ditinggal aku bisa urus sendiri kok, Bee.”


“Bisa, kok, Yank. Lagian aku juga mau bantu kamu lah. Ini kan pernikahan kita untuk yang terakhirnya. Jadi aku mau memastikan semuanya sempurna.”


Liora hanya tersenyum.


“Besok aku urus persyaratan nikah kita dulu.”


“Kenapa buru-buru gitu sih, Bee? Emang gak bisa kamu santai dikit?”


Wafi menggenggam tangan istrinya. “Aku takut kamu hamil. Ntar dikira hamil diluar nikah lagi. Gimana pun aku gak bisa pakai tanggal nikah siri kita. Kan kita sidang nikah dulu di kantor dulu, jadi nanti di buku nikah pakai tanggal baru.”


“Bukannya kakak sepupu kamu itu udah tau, ya?”


“Iya, tapi kan gak mungkin yang lain tau juga.”


“Ooh.”


“Ngomong-ngomong hamil, kita ke kamar, yuk!”


“Ngapain?”


“Usaha.”


“Katanya takut jadi sebelum nikah resmi.”


“Ya, kalau jadi dalam waktu dekat orang juga gak akan curiga kali, Yank.”


Liora tertawa.

__ADS_1


Wafi menaik turunkan alisnya. “Sekalian cobain kasur baru.”


“Ayo, kalau gitu.” Liora berdiri. “Tapi sholat isya dulu.”


“Iya.” Wafi mengikuti langkah sang istri dari belakang.


...🥦🥦🥦🥦...


Pagi sekali sebelum ke kantor Wafi sudah tiba di kediaman saudaranya. Sengaja agar bisa ketemu dengan sang kakak untuk membahas persiapan pernikahannya.


“Hari ini aku urus persyaratan dulu di kantor. Nanti kalau butuh apa-apa tolong di bantu,” kata Wafi.


“Terus gimana sama Liora? Dia kan gak punya keluarga,” tanya Vira.


“Nanti aku mau ketemu Fatih. Kebetulan dia pengacara Liora. Mudah-mudahan Fatih mau bantu untuk jadi wali dari bagian keluarga Liora.”


“Gak coba cari keluarganya yang lain dulu.”


“Gak, Kak.”


“Kenapa?”


“Lama. Lagian keluarganya jauh semua.”


“Terus kenapa? Kamu kok kesannya buru-buru sih, Waf.”


“Ya, lebih cepat lebih baik kan, Kak?”


“Iya, tapi gak gini juga.” Vira memicingkan matanya. “Jangan bilang kalau kalian-”


“Lah terus kenapa kamu kayak ketakutan gitu?”


“Mana? Biasa aja aku.”


Vira masih tak percaya. “Kapan ketemu WO-nya?”


“Kenapa?”


“Biar Kakak yang bantu urus sama Liora. Belakangan Kakak kayaknya terlalu bebasin kamu deh, kayaknya.”


“Ya, ampun, Kak. Curigaan amat sih.”


“Karena tampang kamu itu bikin kakak curiga, Waf. Besok kakak mau ketemu calon istri kamu.”


“Buat apa? Liora sibuk urus cafenya karena mau buka lagi.”


“Terserah Kakak dong mau apa.”


“Iya, nanti aku bilangin kalau ketemu.”


“Ya,udah sana ambil dokumennya di ruang kerja Kakak. Habis itu kunci lagi pintunya. Kakak berangkat dulu.”

__ADS_1


“Iya. Hati-hati di jalan.”


...🍈🍈🍈🍈...


Karena kesibukan yang mereka jalani, tak terasa sidang perceraian Liora akan digelar besok pagi.


Untuk persiapan pernikahan sudah diserahkan Wafi dan Liora pada Wedding Organizer. Jadi, mereka tinggal duduk manis menunggu laporan tentang perkembangannya.


Sedang sarapan, Liora menerima panggilan dari pengacaranya.


“Baik, Pak Fatih, besok saya pasti akan datang.”


Setelahnya panggilan itu pun berakhir.


“Kemana?” tanya Wafi.


“Sidang gugatan cerai.”


“Ooh, jadi apa kamu tetap tuntut hak kamu sama Reiki?”


“Iya lah. Kan dia sudah janji.”


“Berapa?”


“Lima Milyar.”


Wafi menggantung suapnya.


“Kenapa?”


“Seharusnya aku yang tanya,” balas si penyidik. “Untuk apa uang sebanyak itu buat kamu? Sedangkan aku mampu ngasih lebih dari itu.”


“Aku gak peduli kalau kamu mampu ngasih aku dua kali lipat dari itu. Yang aku pedulikan Reiki memberikan hak aku,” tekan Liora.


“Gini aja deh. Kamu batalkan tuntutan itu, biar aku yang ngasih kamu uangnya.”


Liora melepaskan sendok yang ada di genggaman hingga berdenting keras dengan piring. “Gak, aku gak mau. Aku juga gak akan terima kalau kamu yang ngasih.”


“Li, sebaiknya kamu dengar kata aku.”


“Ini perjuanganku jadi kamu gak usah ikut campur,” tegas Liora. “Kamu pikir buat apa aku bertahan di neraka itu kalau bukan untuk ini. Aku bisa saja pergi tanpa surat cerai, tapi gak sebelum aku mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku.”


“Kamu kenapa jadi emosi sih? Aku bicara baik-baik tapi kamu pakai nada tinggi sama aku. Jangan mentang-mentang kamu lebih tua dari aku kamu bisa seenaknya, ya.”


Liora terdiam dalam duduknya.


“Aku ini suami kamu, Liora, jadi tolong di hargai sedikit. Bukan aku gak mau mengerti soal perjuangan kamu.”


“Buktinya kamu emang gak mau ngerti. Emangnya kamu pernah tanya apa alasan aku kekeh tuntut harta itu? Gak kan! Kamu malah membanggakan usaha, bisnis dan penghasilan yang kamu miliki. Seolah-olah aku ini janda yang beruntung nikah sama perjaka kaya raya.”


Dahi Wafi mengernyit.Tak mau dirinya ikut memakai nada sopran, ia memilih menyudahi perdebatan itu. Berdiri dari kursi, memasukkan ponsel kedalam saku celana dan meraih kunci mobil. “Aku berangkat kerja,” izinnya.

__ADS_1


Tanpa menunggu balasan dari sang istri, polisi itu melenggang keluar rumah.


Liora yang ditinggal begitu saja langsung mengeluarkan tangis yang sejak tadi ditahan. Merasa lega setelah menumpahkan kegalauan, wanita itu beranjak dari meja makan. Membersihkan piring kotor lalu bersiap berangkat menuju cafe.


__ADS_2