DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 76


__ADS_3

Sena tampak bingung. Ia juga bertanya-tanya apa benar Liora akan melakukan hal itu. 


“Aku akan minta bantuan Wafi untuk membebaskan kamu dalam waktu dekat ini,” tawar Liora. “Apapun caranya, aku yakin dia pasti bisa.” Wanita hamil itu sedang berusaha mengalihkan perhatian mantan suaminya.


“Lakukan!” Reiki berteriak sambil menodongkan pistol pada mantan istrinya.


Dengan langkah gemetar Liora berjalan ke arah sofa diikuti Sena untuk mengambil ponselnya di dalam tas 


“Mbak, gimana ini? Kenapa dua polisi tadi masih belum sampai?” Sena berbisik.


“Aku gak tau, Sen,” balas Liora dengan suara pelan.


“Terus kita gimana?”


“Jangan bikin aku menembak salah salah satu dari kalian,” ancam Reiki.


Dua wanita itu pun memilih menutup mulut. 


“Hubungi dengan Video biar dia bisa melihat kalau buronan yang sedang dicarinya kini sedang menyandera istrinya.”


Liora berhasil menghubungi sang suami. Mereka tengah menunggu Wafi untuk mengangkat panggilan itu. Namun, hingga dering terakhir si polisi tak menjawab.


“Hubungi lagi!” perintah Reiki.


“Oke, aku akan coba lagi,” jawab Liora. Dalam hati wanita itu berharap sang suami segera menjawab telponnya. Setelah menunggu beberapa detik akhirnya Wafi mengangkat panggilan dari sang istri.


“Hallo, Sayang.”


Dengan wajah pucat dan takut Liora membalas sapaan sang suami,” Hallo, Bee.”


“Gimana? Udah sampai rumah Kak Vira?”


“Belum. Aku pulang ke rumah.”


“Kenapa pulang ke sana?”


Merasa waktunya terbuang, Reiki merampas benda pipih itu dari tangan Liora. “Hey,” sapanya. “Bagaimana? Apakah begitu sulit menemukan saya?”


Di dalam layar, wajah si penyidik langsung berubah marah juga terselip raut khawatir. “Dasar pengecut! Ternyata benar kalau kamu berusaha mengincar istri saya.”


“Ini demi kebebasan saya. Dengar, saya tidak mau berbasa basi. Jika kamu ingin menyelamatkan Liora dan kandungannya datang seorang diri. Jangan berani-beraninya membawa polisi jika kamu tidak mau istri kamu mati di tangan saya.” Reiki mengarahkan kamera ponsel ke arah Liora yang sedang ia todong dengan pistol.

__ADS_1


Belum sempat Wafi memberi jawaban, Reiki memutus panggilan itu. Kemudian dia menyalakan mode video dan menekan tombol rekam. “Sekarang kalian harus akui apa yang sebenarnya terjadi pada malam kematian Milen.”


“Tapi, Rei,” jawab Sena.


“Lakukan! Atau aku tembak kaki kamu itu agar lumpuh dan tak bisa berjalan lagi.” Reiki mengancam dengan mata melotot juga wajah merah padam.


Sena melihat Liora dan wanita hamil itu mengangguk setuju.


“Oke.” Sena menceritakan kejadian sebenarnya sesuai versi yang ia ketahui di hadapan kamera. 


Reiki yang merasa puas mengembangkan senyuman lebar di bibirnya. Namun, tangannya tak berhenti mengacungkan pistol pada dua wanita itu. “Sekarang giliran kamu,” kataya pada Liora.


Liora hanya diam dalam tegaknya.


“Lakukan!” hardik Reiki. “Atau aku tembak anak kamu.”


“Oke, tapi apa gak sebaiknya kita tunggu Wafi. Bukannya kamu ingin dia juga mengetahui kebohongan yang aku lakukan?! Sampai saat ini Wafi gak tau apa-apa soal itu.”


Reiki tapak termakan umpan. Laki-laki itu mulai ragu, ia berpikir sejenak, sedangkan Liora jujur ia benar-benar takut. Bernafas saja rasanya tercekat. 


“Oke, kita tunggu. Setelah dia datang kamu harus mengakui kalau kamu sudah membohongi polisi juga hakim. Dan jangan lupa katakan kalau bukan aku yang membunuh Milen,” ujar Reiki.


Tak lama menunggu, Wafi akhirnya tiba. Ia masuk sambil mengangkat kedua tangan di udara. 


Reiki memastikan keadaan di luar rumah. Memeriksa setiap sudut halaman dari balik jendela. Benar saja kalau polisi itu datang seorang diri tanpa polisi lainya. “Bagus. Sekarang Anda harus mendengarkan sesuatu hal yang mungkin dapat mengejutkan, Anda.”


Wafi mengangguk sambil melirik sang istri yang tampak mengedipkan mata dengan pelan. 


Reiki menodongkan kembali pistolnya pada wanita hamil itu dan satu tangan menyalakan kamera ponsel. “Sekarang akui semuanya.”  


“Tolong jangan lukai istri saya,” mohon Wafi.


Reiki menyungingkan sudut bibirnya. “Setelah Anda mendengarnya bicara, saya yakin Anda akan membencinya.”


“Oke, saya akan dengarkan tapi tolong kita selesaikan dengan cara baik-baik.”


“Benarkah? Apakah Anda akan mengirimnya ke penjara karena sudah memberikan kesaksian palsu dan sudah membuat saya dihukum atas perbuatan yang tidak saya lakukan.”


“Saya akan bertindak sesuai prosedur juga pasal yang mengatur.”


“Baik, saya pegang omongan Anda,” tantang Reiki.

__ADS_1


“Sekarang turunkan pistol itu dan biarkan Liora bicara.”


Reiki menurunkan tangannya. Jujur saja kalau ia juga sudah lelah dari tadi mengacungkan senjata api itu.


“Li, sebaiknya kamu katakan apa yang dimaksud Reiki.”


Liora mengakui perbuatannya di hadapan kamera. Ia tak lagi merasa takut dan khawatir pada Wafi, karena jelas pria itu sudah tahu semuanya sebelum mereka menikah.


Usai pengakuan sang istri, Wafi mendekati Liora. “Kamu benar-benar membuat saya kecewa.” 


Sena sendiri tampak bingung dengan pasangan yang kini ada di hadapannya itu.


“Sekarang ikut saya ke kantor dan jelaskan semuanya di sana.” Wafi menarik tangan istrinya untuk di bawa ke kantor polisi. “Pak Reiki, Anda juga ikut dengan saya”


Reiki kembali menodongkan pistolnya. “Tidak, saya tidak akan ikut dengan Anda sebelum wanita itu benar-benar di proses.”


“Oke, kalau begitu serahkan rekaman yang tadi Anda ambil.” Wafi menampungkan tangannya ke hadapan mantan suami sang istri.


Mantan pengusaha sukses itu tampak ragu.


“Jika, Anda memang ingin bebas, maka percayakan pada saya.” Penyidik itu berusaha meyakinkan. “Saya pasti akan profesional seperti dulu.” 


“Baiklah.” Putra Malik Alterio menyerahkan buktinya pada sang penyidik.


“Sekarang Anda bisa kembali pulang ke rumah orang tua Anda dan segera bawa pengacara ke kantor polisi.”


“Baik. Dan wanita itu juga harus Anda bawa.” Reiki menunjuk Sena.


Wafi mengangguk. Ia menarik dan membawa Liora juga Sena untuk keluar dari rumah.


Reiki merasa senang karena rencananya berhasil. Ia bisa membuktikan kalau dirinya bukanlah pembunuh. Dengan hati gembira pria itu melangkahkan kaki untuk menyambut kebebasan. Namun, baru saja ia tiba di teras, anggota polisi dan TNI sudah mengepungnya juga menodongkan senjata api. Tentu saja hal itu membuat Reiki kaget.


“Reiki,serahkan diri Anda, atau kami tembak.” Wafi berdiri dibalik barisan anak buahnya dengan gagah berani.


Raut wajah putra Malik Alterio itu berubah marah. Ia juga mengangkat senjata yang ada di tangan. 


“Jika sekali lagi Anda berani melepaskan tembakan maka jangan salahkan kalau salah satu timah panas anggota saya bersarang di dada Anda.”


Tersudut sudah Reiki Alterio. Baru saja ia ingin merayakan kebebasan, tapi kini ia harus segera kembali menyerahkan diri. “Bangsat!” umpatnya. “Sialan, ternyata kalian sengaja menjebak saya.”


Wafi menyungingkan senyum kemenangan. “Maaf kalau saya memberikan Anda harapan. Semua berkat ide Liora.”

__ADS_1


__ADS_2