
Setelah berkonsultasi dengan sang kuasa hukum, Malik dan Lena harus bisa menerima kenyataan kalau tak ada cara lain yang dapat dilakukan untuk meringankan hukuman sang putra.
Bahkan untuk mengajukan pembebasan bersyarat pun belum bisa dilakukan sebab Reiki harus menjalani ⅔ masa pidana. Artinya, kurang lebih sembilan tahun putra mereka harus berada di balik jeruji besi.
Setelah itu barulah mereka bisa mengajukan pembebasan bersyarat. Meski lama hukuman sudah berkurang dari yang seharusnya, tapi tetap saja itu bukan waktu yang sebentar.
“Untuk sekarang kita semua hanya bisa menunggu, Pak,” jelas Dodi pada Malik.
“Tapi sampai kapan?” tanya Lena.
“Kita lihat satu tahun kedepan ini, Bu, jika Pak Reiki bisa berkelakuan baik juga sopan siapa tau bisa kita ajukan. Apa lagi Pak Reiki dituntut dalam beberapa kasus yang berbeda, saya rasa salah satu dari hukumannya bisa diringankan jika dia mampu menjaga perilakunya selama di tahanan.”
Nafas kasar dibuang oleh Malik. “Baik kalau begitu. Terima kasih sudah membantu kami.”
“Sama-sama, Pak. Jika nanti kalian masih butuh bantuan saya untuk membebaskan Pak Reiki, saya siap membantu.”
Malik mengangguk.
“Untuk sekarang tugas saya sudah selesai. Kalau begitu saya undur diri.”
Malik pun mengulurkan selembar cek yang bertuliskan nominal bayaran pengacara itu atas jasanya.
“Saya terima, Pak,” ujar Dodi.
“Ya, sekali lagi terima kasih.”
“Semoga Pak Reiki tidak melakukan tindakan yang merugikan diri nya nanti. Kemarin saat kami bertemu saya pun sudah memperingatkannya.”
“Semoga. Nanti kami juga akan jelaskan ke dia soal peluang pembebasan bersyarat.”
Dodi mengangguk dan ia pun berdiri dari duduknya. “Saya pamit.”
__ADS_1
“Silahkan,” balas Malik dengan senyuman sekilas.
Kepergian pengacara itu, Malik mengusap kasar wajahnya.
“Lalu sekarang gimana, Pa?” tanya Lena.
“Yang jelas sekarang kita harus segera pindah, Ma.”
“Apa kita gak bisa bertahan di rumah ini dengan sisa uang yang kita miliki?”
“Mah, kita harus berhemat untuk membayar pengacara nanti pas Reiki mau dibebaskan.”
“Ck, ini semua salah, Papa. Kalau seandainya harta kita gak atas nama Reiki pasti kita gak akan jatuh miskin seperti ini.”
“Jadi sekarang Mama nyalahi, Papa?”
“Ya, terus salah siapa lagi kalau bukan karena Papa? Harta kita terpaksa harus dibagi dua sama Liora.”
Lena yang ditatap dengan tajam oleh sang suami, tertunduk takut juga merasa bersalah karena sudah menuduh sembarangan.
“Sekarang enak saja main salahin Papa, dasar egois,” geram Malik.
“Maaf, Pa,” pinta Lena. “Mama lupa.”
Malik berdiri dari duduknya dan berkata, “Mama sadar gak kalau ini semua karena Mama. Mama yang tidak bisa mendidik Reiki menjadi laki-laki baik. Membuat dia menyakiti dan menganiaya istrinya juga perempuan lain. Membuat Liora bersikap seperti sekarang karena sikap Mama padanya selama ini. Ini juga hukuman buat keluarga kita dari Tuhan atas perlakuan Mama terhadap menantu kita. Pokoknya ini semua bermula karena Mama.” Tunjuknya tepat mengarah ke wajah sang istri.
“Sebaiknya Mama itu sadar diri, ini malah mencari kesalahan orang lain. Kalau Mama masih belum sadar akan kesalahan Mama, sebaiknya Mama diam.” Usai menumpahkan kekesalannya, Malik pun pergi meninggalkan Lena seorang diri di ruang tamu.
...🍉🍉🍉🍉...
Janin yang tumbuh dan berkembang di rahim Liora kini sudah memasuki bulan ke tujuh. Sebagai calon orang tua baru, Wafi dan sang istri sudah mencatat keperluan serta kebutuhan untuk bayi mereka nanti.
__ADS_1
Kini, pasangan itu tengah berbelanja di salah satu mall terbesar di kota ini. Keduanya bergandengan tangan keluar dari salah satu toko perlengkapan bayi.
“Mau beli apa lagi?” Wafi bertanya pada istrinya.
“Gak ada sih, tapi aku mau lihat-lihat boleh?”
“Boleh. Mau lihat apa?”
“Mau lihat baju aja, tapi sayang gak bisa beli.”
“Kenapa?”
“Aku lagi hamil, Bee, kalau beli baju pasti ukurannya besar, ntar habis melahirkan gak kepake lagi.”
“Ya, udah beli ukuran biasa kamu pakai aja, nanti habis melahirkan bisa dipake ‘kan.”
“Boleh emang aku beli sekarang?”
“Boleh lah.”
Senyum lebar mengembang dibibir ibu hamil itu. “Ya, udah, kita ke toko itu.” Liora menunjuk toko pakaian yang ada di depan mereka.
Tiba disana, Wafi ikut memilih baju-baju yang mungkin saja disukai istrinya.
“Gimana kalau kita beli baju couple?” tawar Liora.
“Boleh.” Si penyidik pun setuju.
Pasangan itu tampak asik dan tersenyum bahagia di sela-sela kegiatan mereka. Wafi juga sesekali mengelus perut besar istrinya. Sesekali ia mengangguk setuju ketika Liora menyodorkan beberapa pakaian yang dipilih.
Dari luar toko sepasang mata memperhatikan mereka dengan tatapan tak suka juga penuh kebencian. Lena--ibunda Reiki itu merasa panas dingin saat melihat mantan menantu hidup bahagia, sedangkan sang anak kini menderita di balik jeruji besi.
__ADS_1
“Dasar wanita licik. Enak aja dia foya-foya pakai uang hasil kerja keras Reiki selma ini.” Wanita tua itu bergumam dengan wajah juteknya. Ia pun mengeluarkan ponsel dan mengarahkan kamera pada pasutri itu. “Reiki harus tau dan liat ini.