DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 69


__ADS_3

Sinar surya pagi menyapa sepasang suami istri yang sudah sah dimata hukum itu. Keduanya mengerjapkan mata kala silau mentari mulai menyentuh kelopak mata. 


Wafi tersenyum bahagia kala mendapati sang istri berusaha untuk bersembunyi dibalik lengannya. “Bagun, Yank, kita sarapan.”


“Aku masih ngantuk, Bee,” jawab Liora dengan suara khas bangun tidur.


“Makan dulu, kasihan anak kita kalau dia sampai kelaparan.”


“Gara-gara kamu, habis subuh minta jatah. Jelas aku masih capek,” sungut Liora.


“Hahaha, maaf, Sayang. Namanya juga pengantin baru.”


“Baru apanya. Anaknya udah jadi juga.”


“Ya, udah kita sarapan dikamar aja, ya.”


Istri penyidik itu menggelengkan kepala. “Kita kebawah aja. Gak enak sama yang lain. Mereka pasti nungguin kita.”


“Oke, kalau gitu kita mandi.”


“Kamu duluan sana biar aku siapin bajunya.”


Wafi setuju. Laki-lak itu menapakkan kakinya di lantai. Dari ranjang ia melangkah menuju bilik air, sedangkan sang istri beranjak menuju koper yang ada di dekat lemari. Menyiapkan baju ganti untuk suami dan dirinya. 


...🌵🌵🌵🌵...


Keluarga Wafi dan keluarga Fatih yang memang sudah saling mengenal sejak dulu tampak akrab di meja makan restoran hotel. Mereka bercengkrama sambil menikmati hidangan. Tak lama pengantin yang semalam baru saja mengadakan resepsi ikut bergabung.


“Kenapa telat?” tanya Vira.


“Liora kecapekan jadi bangunnya agak kesiangan,” jelas si penyidik. Ia pun menarik satu kursi untuk sang istri dan kemudian barulah ia mendudukkan diri.


“Mau bulan madu kemana?” tanya Wahyudi.


“Hhmm kayaknya kita gak ada rencana mau bulan madu, deh, Mas,” jawab Wafi.


“Kenapa?”


“Mengingat kondisi Liora yang masih hamil muda.”


“Oh, Ya udah nanti aja kalau mau baby moon bilang sama, Mas. Tak kasih tiket kemanapun kalian mau pergi.”


“Serius, Mas?” tanya Liora.


“Iya, memangnya tampang saya gak meyakinkan?”


“Bukan gitu. Masalahnya nanti Wafi dapat cuti gak?”


“Bisa, itu urusan gampang.”


Ibu hamil itu tersenyum lebar.


“Yuk, makan sarapannya,” ajak istri Wahyudi. “Hari ini semua sepakat mau pulang. Kalian kalau mau tetap di sini gak papa.”


“Kok gitu, Mbak?” tanya istri Wafi.

__ADS_1


“Ngapain lagi kami disini. Lah kalian enak bisa dua-duan. Lah kita ada anak yang mesti diurus. Tuh, Kaina aja udah kerepotan.”


“Ya, ampun, maaf, ya, Mbak,” ujar Liora pada istri Fatih.


“Gak papa. Kita senang bisa jadi bagian dari acara juga keluarga kamu dan Wafi. Cuma kasihan anak-anak, mereka mulai rewel,” jelas Kaina.


“Mungkin udah gak betah kali,” tambah Fatih. Gak senyaman di rumah.”


“Nanti kita antar pulang,” timpal Wafi.


“Eh, apa-apaan lo. Gak usah, lagian kita pulang juga sama supir. Kalian disini aja.”


“Gue gak enak, Tih.”


“Udah biar nanti Kakak aja yang anterin Fatih sekalian kami jalan pulang,” sela Vira.


“Makasih, ya, Kak.”


“Iya, kalian makan, ya, kami mau ke kamar beres-beres.”


Wafi mengangguk sedangkan Liora mengangkat jempolnya.


“Gimana? Kita mau pulang juga atau nginep disini lagi?”


“Pulang aja,” jawab Liora. “Aku juga mau lihat cafe.”


“Oke, makan yang banyak. Habis itu kita juga beres-beres.”


“Iya.”


Pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan resmi itu, dari hotel langsung  meluncur ke cafe dan Resto Liora. Si pemilik ingin melihat perkembangan usahanya setelah dibuka kembali sejak dua minggu yang lalu. 


Juga ini kali pertamanya ia lepas tangan sejak adanya manager cafe yang baru dipekerjakan untuk menjalankan tugas yang selama ini ditangani sendiri.


“Kira-kira cafe gimana, ya, Bee,” tanya Liora.


“Gimana apanya, Yank?” Wafi pun balik bertanya. Ia sesekali melirik sang istri yang duduk di samping sambil fokus mengemudi.


“Maksud aku tuh rame gak, ya? Pelanggan puas dan suka gak sama menu di cafe. Apalagi aku udah gak masuk dapur lagi. Takutnya nanti rasa masakan ada yang beda.”


“Serahkan semuanya sama tim kamu. Percaya, mereka pasti bisa.”


“Semoga aja. Biar aku tenang di rumah karena selama ini aku gak pernah ninggalin cafe. Semua harus berjalan sesuai aturanku.”


“Manager kemarin itu sudah berpengalaman, Yank. Pasti dia lebih tau dari kamu apa yang harus dilakukannya. Bahkan dia akan berbuat lebih demi kemajuan cafe dan restoran kamu supaya dia juga dapat bonus dan nama baik.” 


Liora tersenyum. “Iya, juga, ya. Ah, aku kok gak kepikiran kesana.”


“Kamu tuh gak percayaan orangnya.”


“Susah, Bee, apalagi kalau belum aku pastikan. Dari kemarin aku udah pengen ke cafe. Tapi kata Kak Vira gak boleh kemana-mana.”


“Iya. Lagian nanti kamu kalau ke cafe pasti kerja. Lupa kalau lagi hamil.”


“Ngomong-ngomong hamil, aku penasaran deh sama reaksinya mantan mama mertuaku. Dulu dia suka ejek aku mandul.”

__ADS_1


“Jangan mulai cari gara-gara kamu. Dah, biarkan saja.”


“Siapa yang cari gara-gara. Aku cuma mikir-mikir aja gitu. Kalau dia tahu aku hamil aku mau bilang ke dia kalau ternyata anaknya yang mandul karena sudah punya dua istri tapi gak kunjung punya anak dan aku yang baru beberapa bulan nikah sama kamu langsung hamil.”


“Jangan, ntar jadi gosip lagi kalau kamu hamil di luar nikah.”


“Ah, iya juga. Aku lupa.”


Mobil yang mereka naiki pun sampai di lokasi. Wafi memarkirkan kendaraannya dan setelah itu ia pun turun lalu membukakan pintu untuk sang istri.


“Terima kasih, Suami,” kata Liora.


“Iya, Sayang.”


Keduanya berjalan bergandengan memasuki cafe yang tengah ramai pelanggan. Tiba di dalam mereka disambut oleh manajer cafe.


“Gimana cafe, lancar?” tanya Liora.


“Seperti yang Ibu lihat,” jawab si Manager.


Kepala istri polisi itu mengangguk sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru restorannya yang sudah penuh.


“Kira-kira kamu ada saran lain atau butuh sesuatu buat memajukan cafe dan resto saya ini?”


“Kalau Ibu mau gimana kalau kita buka cabang baru saja?”


“Ide yang bagus. Tapi nantilah kita bicarakan.”


“Fokus sama kehamilan kamu dulu,” sela Wafi.


“Iya.”


“Bapak sama Ibuk mau makan siang? Kita ada menu baru bisa di cicipi dulu,” tawar si Manager.


“Boleh deh,” jawab Liora. “Tapi minta tolong Susi antar ke atas. Rumah saya masih aman ‘kan?”


“Sesuai permintaan Bapak, setiap malam di depan cafe ada satpam yang bertugas.”


Senyum lebar bergaris di bibir Liora. “Makasih, ya, kalau gitu saya dan suami ke ats dulu.”


“Siap. Nanti makanannya pasti diantar.”


Si manajer cafe itu mengantar kepergian bosnya sampai anak tangga pertama. Setelahnya Liora digendong sang suami menaiki lantai tiga.


“Lebay,” ujar mantan istri Reiki.


“Gak lah. Kamu lagi hamil.”


“Tapi aku jadi ingat pas awal-awal kita ketemu.”


“Iya, juga. Waktu itu kaki kamu lagi di gips.”


Tawa pun pecah dari mulut ibu hamil itu. “Waktu itu aku sengaja pelan-pelan buat menarik simpati kamu.”


“Tapi kamu berhasil dan sekarang kamu terjebak dalam rencana kamu sendir.”

__ADS_1


“Hahaha.”


__ADS_2